Sabtu, 01 April 2017

Homo Sapiens yang Sakit

Homo Sapiens yang Sakit
Ahmad Baedowi  ;   Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
                                             MEDIA INDONESIA, 27 Maret 2017


                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

JUDUL di atas bisa jadi merupakan arti sesungguhnya dari beberapa kata bahwa sebagai manusia kita merupakan makhluk pembelajar (homo sapiens) yang bisa jadi dalam kondisi sakit. Sakitnya para pembelajar seperti orangtua, para guru, atau siswa serta siapa saja yang masih sadar akan pentingnya berinteraksi, bisa jadi karena belajar merupakan proses pemanfaatan semua potensi manusia yang berpikir sekaligus merasakan.

Berpikir dan merasa ialah dua kendali yang melibatkan hati dan pikiran, sedangkan wadah untuk berpikir dan merasa ialah badan atau fisik manusia yang habitatnya selalu ingin mencoba, entah dalam bentuk bermain, bergerak, dan sebagainya.

Seseorang dikatakan sebagai pembelajar yang sakit karena hakikat belajarnya tidak terjadi keseimbangan antarahati, pikiran, dan kondisi badan.

Akibat yang muncul ialah menyedihkan, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan pada tingkat tertentu ialah kemunafikan yang suram karena penuh kepalsuan dan kebohongan.

Mungkin ini yang sedang terjadi dalam diri saya ketika badan ditimpa kesakitan luar biasa karena kanker, jangan-jangan itu merupakan akibat dari tidak seimbangnya hati dan pikiran dalam mengelola pengalaman belajar yang sungguh kompleks dan sulit menghadang interaksi antara keinginan yang ideal dan kenyataan yang sesungguhnya terjadi.

Terus merasa dan berpikir

Dalam pandangan para ahli hikmah, manusia disebut sebagai hewan yang berpikir (al-insaan hayawan al-naathiq).

Berpikir (think) itu kata kerja, sebuah kerja yang menggunakan otak (brain) agar manusia dapat menggunakan akal pikirannya (mind) dalam melakukan sesuatu.

Namun, menggunakan otak saja tak cukup. Karena itu, otak perlu penuntun.

Fungsi penuntun diletakkan di hati, sebuah benda yang tak jelas posisinya karena ketika kita mengatakan 'hati' kita selalu memegang bagian dada kita, tempat jantung dan paru-paru berada.

Hati, jika tak salah, letaknya di bagian belakang dan bawah perut.

Dalam bahasa agama, jika otak sudah dipadukan dengan hati, seseorang dapat disebut telah berakal (sensible), sebuah potensi yang membuat manusia berbeda dan disebut hewan yang berpikir, hewan yang memiliki otak paling lengkap dan sempurna.

Dalam laporan PubMed misalnya, sejak 1996 sampai dengan 2000, setiap tahun rata-rata dibuat sekitar 30.000 laporan penelitian dan karya ilmiah tentang otak.

Namun, ribuan ilmuwan tersebut masih mengatakan,

"There is more we do NOT know about the brain, than what we do know about the brain." (Masih banyak yang TIDAK kita ketahui tentang otak daripada yang telah kita ketahui tentangnya).

Betapa luas Tuhan menciptakan 'seonggok benda' bernama otak yang begitu rumit dan sempurna.

Seberapa besar pengetahuan kita dan guru-guru tentang otak?

Saya ingin membayangkan seorang tukang reparasi komputer, tentu dalam rangka menjaga profesionalitasnya akan sangat berhati-hati dalam memperbaiki dan mengisi berbagai jenis program ke dalam memori komputer.

Karena itu, sudah sepantasnya jika para guru memahami fungsi otak secara baik agar mereka memiliki kehati-hatian dalam memasukkan informasi berharga kepada anak didiknya.

Namun, sayangnya ini kenyataan, seseorang kadang berhasil di tempat terluar dari dirinya, tetapi gagal dalam mengelola kebutuhan kejiwaan anak-anaknya.

Perasaan sakit saya kali ini lebih banyak karena merasa gagal menjadi orangtua karena kurang hati-hati ketika dulu mencoba memasukkan memori dalam benak anak-anak.

Jangan-jangan ada ribuan orangtua seperti saya yang selalu memberikan memori negatif ke dalam relung jiwa dan pikiran anak-anaknya.

Hanya mencoba

Sebagai pembelajar, kesadaran sangat diperlukan untuk melihat bahwa kesalahan ialah hal mutlak yang bisa terjadi pada siapa saja.

Karena itu, meskipun menjadi orang yang sempurna ialah sebuah kemustahilan, mencobanya merupakan keinginan untuk terus belajar dari kesalahan.

Dalam mengajar, para guru jelas harus memiliki jiwa pantang menyerah dan terus mencoba meskipun itu salah.

Saya teringat penulis The Alchemist, Paulo Coelho, yang dalam kumpulan nasihat sederhana dan memikatnya Warrior of the Light: A Manual (2011), menulis "The warrior of the light is always trying to improve. A warrior of the light is always committed. He is the slave of his dream and free to act".

Sebagai sebuah catatan pendek tentang betapa pentingnya menerima kegagalan, menghargai kehidupan, dan mengubah jalan hidup untuk mengubah takdir seseorang, buku itu sarat akan pesan moral tentang laku spiritual seorang pejuang sejati.

Sebagai seorang ayah, penting bagi bagi saya untuk selalu mencoba menjadi figur yang dapat memberikan teladan tentang laku-spiritual seorang ayah, layaknya para pejuang sejati seperti pernah ditunjukkan oleh para tokoh, seperti Soekarno, Hatta, Tjokroaminoto, dan Agus Salim meskipun saya tidak akan mungkin menyamai peran mereka.

Dalam konteks pendidikan secara umum, saya selalu meminta para guru di Sekolah Sukma Bangsa untuk belajar dari perspektif Joseph Campbell dalam Hero's Journey, bahwa perjalanan hidup setiap pembelajar sejati pasti akan melalui enam tahapan penting.

Enam tahapan itu, yaitu innocence, the call, initiation, allies, breakthrough, dan celebration.

Sebelum seseorang dikatakan sebagai pahlawan, pasti mereka ialah orang biasa dan bersahaja (innocence).

Barulah ketika mereka merasa ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan merasa terpanggil (the call, beruf) untuk melakukan sesuatu, maka dimulailah perjalanan seseorang untuk menjadi pembelajar dan pejuang sejati.

Melalui sebuah usaha dan kerja keras serta melalui rintangan dan tantangan yang hebat (initiation), seorang calon pembelajar sejati pastilah membutuhkan teman satu visi dan misi (allies) untuk mencapai tujuan perjuangannya.

Dari pertemanan inilah diharapkan akan muncul berbagai ide dan terobosan (breakthrough) yang akan memudahkan seseorang mencapai sasaran dan tujuan yang dikehendaki.

Barulah setelah itu seseorang bisa dikatakan sebagai pembelajar sejati (celebration) karena dapat membuktikan dirinya berhasil dan bermanfaat bagi sesama bukan hanya karena kerja kerasnya secara pribadi, melainkan melalui sebuah kesepakatan dan bantuan teman-temannya.

Selain itu, pembelajar sejati juga penting untuk mengetahui dan menggunakan kata honesty meskipun sulit dilaksanakan.

Saya teringat penyanyi Billy Joel yang mendendangkan dengan penuh kesungguhan lagu honesty yang hits di era 1980-an.

Salah satu ungkapan yang menusuk akal dan hati soal honesty dalam lagu tersebut adalah ungkapan honesty is such a lonely word.

Kejujuran hanya sebuah kata tunggal, sendiri, kesepian, dan seolah memang tak punya kawan.

Kata ini dalam proses pendidikan kita memang berjalan sendiri dan kesepian karena tak dilekatkan pada persepsi siswa dan guru secara nyata dan sungguh-sungguh dalam proses belajar-mengajar.

Honesty (kejujuran) ialah pangkal segala akibat baik dan buruk kehidupan manusia. Jika diabaikan untuk dipraktikkan, dia akan berakibat negatif ke dalam seluruh aspek kehidupan kita. Sebaliknya, jika kejujuran menjadi landasan semua tindakan pembelajaran, praktik kecurangan, koruptif, perang, kerusuhan, dan sebagainya akan dengan sendirinya menghilang.

Pertanyaannya adalah sedemikian sulitkah menanamkan kejujuran kepada diri sendiri dan anak-anak kita di sekolah?

Jawabannya ialah, sangat sulit, jika itu dikembalikan kepada diri sendiri, anak-anak, keluarga, dan lembaga pendidikan.

Sebagai seorang ayah, selain kata maaf untuk semua anak-anak dan istri, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali berharap semoga ada kata maaf lainnya yang tumbuh atas kesalingtergantungan satu sama lain.

Wallahu a'lam bi al-sawab.