Semitioka
Iklan Rokok
Ignatius Haryanto ;
Peneliti Media
|
TEMPO.CO,
16 Maret 2014
|
Minggu-minggu
ini, jika kita melayangkan pandang ke sejumlah media luar ruang (billboard) produk rokok, kita
menemukan kalimat yang cukup mencolok, "Merokok Membunuhmu", dan
kemudian di sampingnya ada gambar seseorang yang sedang merokok dengan
bayang-bayang gambar tengkorak di belakangnya. Namun yang lebih besar
daripada dua tanda tersebut adalah "Gentlemen,
This Is Taste", mendampingi gambar seorang atau beberapa orang
lelaki yang menampilkan wajah riang gembira.
Sejumlah
media luar ruang yang berubah tersebut, bersama dengan sejumlah iklan rokok
di media lainnya, mencoba menyesuaikan dengan Peraturan Menteri Kesehatan
(Permenkes) Nomor 28 Tahun 2013 tentang Pencantuman Peringatan Kesehatan dan
Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau. Permenkes itu merupakan
turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang
Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Menghasilkan
Permenkes ini bukanlah pekerjaan mudah saat berhadapan dengan kekuatan besar
perusahaan-perusahaan rokok yang tak ingin dikekang ketat di sebuah negeri
yang langka. Mengapa langka? Karena Indonesia mungkin adalah satu dari
sedikit negara yang belum mau menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) keluaran WHO (World Health Organization).
Mereka
yang belajar tentang ilmu tanda (semiotika) pastilah tahu bagaimana membedah
elemen-elemen dari media luar ruang tersebut, dan bisa mencoba melihat apa
sebenarnya pesan utama yang mau disampaikan dari media luar ruang yang
besar-besar itu.
Di satu
sisi, peringatan kesehatan sangatlah jelas, "Merokok Membunuhmu". Namun, di sisi lain, tagline
bertuliskan "Gentlemen, This Is
Taste" jauh lebih besar daripada peringatan positif sebelumnya. Di
satu sisi ada gambar yang "mencoba menakut-nakuti" berupa gambar
seorang yang merokok dengan bayangan tengkorak di belakangnya, namun gambar
yang lebih besar menggambarkan wajah pria-pria riang gembira-walau tak
menggambarkan ia sedang merokok. Namun, di samping gambar tersebut, logo atau
nama perusahaan yang mensponsorinya sangatlah jelas.
Inilah
negeri yang sangat permisif pada perusahaan rokok, dan seolah dianggap
perusahaan rokok telah berkontribusi banyak bagi kehidupan masyarakat di
Indonesia (menyediakan lapangan pekerjaan, mensponsori kegiatan olahraga,
mensponsori kegiatan kebudayaan, belum lagi promosi yang sangat gencar terhadap
anak muda, dan lain-lain). Perusahaan yang sama ini juga yang diduga mencoba
menjegal aneka peraturan yang hendak membatasi ruang gerak rokok di ruang
publik.
Jadi,
apakah peringatan "Merokok Membunuhmu" dan gambar tengkorak yang
membayangi gambar orang yang sedang merokok tersebut cukup menyampaikan
pesannya? Menurut penulis, sih, tidak, karena esensi peringatan soal
kesehatan tersebut masih jauh lebih kecil daripada promosi besar-besaran
terhadap aksi merokok itu sendiri. Minggu lalu, ketika penulis sempat
menonton film di sebuah bioskop, hampir semua merek besar rokok tampil
sebelum film, seolah-olah berlomba menjejalkan pesan "Merokok Itu Keren" ketimbang "Merokok Membunuhmu". Iklan-iklan yang sekarang ini
bermunculan malah seolah-olah mempermainkan pembatasan yang ditujukan pada
dirinya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar