Energi
Positif Jokowi
Mimin Dwi Hartono ;
Koordinator
Jaringan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia (SID Net)
|
TEMPO.CO,
16 Maret 2014
|
Pencalonan
Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden membawa energi positif bagi bangsa di
tengah pesimisme publik atas calon-calon presiden dari partai politik lain.
Ia seakan hadir untuk menyelamatkan demokrasi Indonesia yang mencapai titik
nadir. Kehadiran Jokowi semoga merupakan tonggak untuk mengakhiri politik era
Reformasi yang kental dengan pencitraan, modal besar, dan korup.
Keputusan
Bu Mega selaras dengan aspirasi masyarakat umum yang mendukung Jokowi,
sekaligus menyangkal spekulasi bahwa Bu Mega masih berambisi sebagai capres.
Bu Mega berhasil menerjemahkan keinginan rakyat meskipun diwarnai dengan
dinamika politik internal partai yang kuat. Meskipun dicapreskan oleh PDI
Perjuangan, Jokowi telah menjadi capres rakyat Indonesia yang rindu pada
perubahan.
Jokowi
mempunyai rekam jejak yang baik dalam kinerja di pemerintahan, antikorupsi,
bersih dari catatan atas kejahatan terhadap hak asasi manusia, dan
menampilkan model kepemimpinan yang merakyat.
Pencapresan
Jokowi disambut dengan suka cita dan harapan yang tinggi oleh masyarakat
luas. Respons positif masyarakat di daerah-daerah dan di dunia media sosial
(Facebook dan Twitter) setidaknya membuktikan bahwa Jokowi didukung oleh
berbagai kalangan, dari kelas bawah, menengah, hingga atas.
Jokowi,
sebagai sosok yang sederhana dan merakyat, menjadi harapan adanya perubahan
nasib rakyat. Sosok Jokowi, yang layaknya seperti rakyat kebanyakan, membuat
rakyat merasa terwakili, termasuk mereka yang belum pernah bertemu secara
langsung. Setiap kata dan tindakan Jokowi seakan merepresentasikan kehendak
rakyat.
Negara
ini patut bersyukur karena pencapresan Jokowi akan menggairahkan pesta
demokrasi, khususnya yang terdekat adalah untuk memilih anggota DPRD/DPR/DPD
pada 9 April, dan pemilihan presiden-wakil presiden. Masyarakat pemegang hak
pilih diperkirakan akan antusias dalam mempergunakan hak pilihnya.
Sebelumnya, banyak di antara pemegang hak pilih yang terkesan cuek dan tidak
peduli akan pemilu. Kehadiran Jokowi dipastikan akan mengubah sikap mereka
karena ada sosok yang menjadi harapan rakyat. Rendahnya tingkat partisipasi
pemilih dalam Pemilu 2009 yang hanya mencapai sekitar 78 persen diperkirakan
akan banyak berubah dalam pemilu kali ini.
Sedangkan
bagi calon legislator dari PDIP, mereka akan mendapat keuntungan politis dari
pencapresan Jokowi. Popularitas Jokowi diperkirakan akan mampu mendongkrak
suara PDIP di tingkat daerah dan secara nasional. Hal ini sejalan dengan
keinginan PDIP agar mampu memperoleh suara atau kursi yang cukup untuk
mencalonkan Jokowi sebagai presiden.
Sedangkan
bagi rival-rival Jokowi yang terlebih dulu mendeklarasikan pencapresannya,
akan tertantang untuk mampu bersaing dengan Jokowi. Popularitas Jokowi yang
sangat tinggi yang diindikasikan dari berbagai hasil survei, baik oleh
lembaga survei maupun media massa, diperkirakan akan semakin meningkat
setelah dia secara resmi dicapreskan. Jokowi harus mampu mempertahankan dan
meningkatkan performanya di tengah serangan politik yang pasti akan semakin
gencar.
Kehadiran
Jokowi dan popularitasnya yang fenomenal telah membangunkan kembali optimisme
rakyat. Selama ini, rakyat apriori dengan sistem politik yang dikuasai oleh
dinasti, para pemodal, dan politikus yang korup. Hanya mereka yang punya
modal finansial dan politik yang mampu maju sebagai capres ataupun pimpinan
daerah.
Jokowi
berkontribusi dalam mengubah konstelasi politik tersebut, bahwa siapa pun
yang mempunyai kemampuan dan rekam jejak kinerja yang baik akan bisa menjadi
pemimpin. Intinya, kehadiran Jokowi menjadi energi positif bagi bangsa ini
secara keseluruhan. Inilah momentum untuk mengembalikan mandat pemilu yang
sebenarnya, yaitu dari, oleh, dan untuk rakyat.
Tugas
Jokowi tentu tidak mudah karena harapan rakyat bertumpu di pundaknya. Segenap
permasalahan bangsa yang menumpuk dan belum terselesaikan harus mampu ia
tangani. Korupsi yang akut dan sistemik, sumber daya alam dan mineral yang
dieksploitasi berlebihan, pelanggaran hak asasi manusia, serta buruknya
penegakan hukum, adalah pekerjaan yang menunggu Jokowi jika berhasil menjadi
presiden.
Tentu
kita tidak akan mendahului hasil pemilu legislatif dan pemilihan
presiden-wakil presiden, serta melompati kehendak Tuhan. Namun kehadiran
Jokowi telah memberikan harapan besar bagi rakyat untuk berpartisipasi
mengawal dan memantau proses pergantian presiden-wakil presiden secara damai
dan demokratis.
Jokowi
bukanlah superman, yang bisa menyelesaikan akumulasi persoalan bangsa dalam
sekejap dan seorang diri. Tidak adil jika beban bangsa hanya disandarkan
kepadanya. Namun, dengan kehadiran Jokowi, rakyat semakin antusias dan
bersemangat dalam merebut hak-haknya atas kedaulatan politik, ekonomi, dan
budaya, yang selama ini dikuasai oleh para pembajak demokrasi dan pemburu
rente ekonomi. Rakyat pasti akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan
bangsa jika dipimpin oleh orang yang tepat dan tidak mempunyai beban sejarah
yang kelam. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar