Jangan
Menggantang Asap
Advin Aldrian ;
Kepala Pusat Litbang
BMKG
|
KOMPAS,
19 Maret 2014
|
BENCANA
asap kebakaran hutan yang terus terjadi setiap tahun seakan sudah jadi rutinitas
festival tahunan. Instrumen politik dan hukum seakan tidak berdaya untuk
mengurangi pola tahunan yang terus terjadi ini. Sementara itu, dampak
kerugian yang ditimbulkan sudah sangat dirasakan oleh masyarakat lokal.
Beberapa argumen
sering disampaikan mengapa pembersihan lahan dengan pembakaran terus terjadi.
Pertama, teknik serupa dilakukan turun-temurun. Kedua, merupakan teknik
pembersihan lahan paling murah. Ketiga, menyuburkan lahan setelah dibakar.
Mari kita uji kebenaran berbagai argumen tersebut.
Dengan tingkat
kepadatan dan kebutuhan lahan yang kian tinggi dalam tingkat populasi saat
ini, argumen pembersihan lahan sudah dilakukan sejak turun-temurun tak dapat
lagi diterima. Pada generasi terdahulu mungkin jumlah kebakaran tidak banyak
karena aktivitas pembersihan lahan tidak sebanyak saat ini. Pencemaran asap
yang terjadi pada generasi sebelum kini tidak berdampak seperti saat ini
sehingga pola pembenaran demikian sudah tidak dapat diterima.
Proses pembersihan
lahan dengan pembakaran adalah teknik sangat mahal. Secara individu pelaku
bisa saja ini hal paling murah, tetapi secara kolektif-kommunal—dengan
menyertakan berbagai dampak yang mengikutinya, seperti kerugian ekonomi,
pendidikan, kesehatan, dan transportasi yang terjadi—maka dapat dikatakan
tidak ada proses pembersihan lahan dengan pembakaran dapat dikatakan murah.
Anak-anak sekolah akan
diliburkan, sementara pekerja tidak dapat bepergian keluar
rumah, airport dan penerbangan terganggu, dan penderita ISPA
meningkat merupakan beberapa contoh kerugian yang nyata. Belum lagi bila
menghitung biaya tambahan dalam penanggulangan asap, seperti pengerahan
pasukan bomba, bom air melalui udara dan hujan buatan.
Hanya ada satu solusi
murah atas bencana asap, yaitu hujan alami. Namun, hal ini tidak dapat
dipastikan kapan terjadi karena biasanya festival pembakaran lahan dilakukan
saat terjadi kondisi tanpa hujan yang sudah melewati satu minggu. Biaya mahal
lainnya, yang juga ditimbulkan, adalah ketegangan politik dengan negara
tetangga yang menerima dampak pencemaran tersebut.
Argumen ketiga bahwa
pembakaran lahan akan menyuburkan juga perlu dipertanyakan. Pembakaran hanya
akan meninggalkan zat inorganik yang berguna secara terbatas. Kemanfaatan
penyuburan tanah tak hanya bergantung pada zat inorganik, tetapi juga kepada
jasad organik dan rantai makanan yang mengikutinya.
Pada proses pembakaran
lahan, seluruh zat organik yang ada dibumihanguskan. Pembakaran akan
menghilangkan biodiversitas lahan dan juga akan menghilangkan rumah bagi
satwa lain yang berada di wilayah kebakaran dan penyebaran lahan. Pada
beberapa kasus kebakaran hutan di Kalimantan, satwa yang besar juga terancam
dan beberapa ditemukan tewas setelah menghirup asap yang sangat pekat.
Tak sulit dilacak
Deteksi dan penentuan
pelaku pembakaran bukan hal yang sulit. Pemantauan satelit inderaja dapat
menunjukkan lokasi kebakaran dengan tingkat keakuratan sangat tinggi.
Keberadaan asap dapat dilacak sumbernya melalui back track trajectory. Dari hasil tersebut dapat dengan mudah
ditentukan kepemilikan dengan memakai peta konsesi lahan. Meski demikian,
penegakan hukum dalam pemberantasan pelaku pembakaran lahan masih dirasakan
tumpul sehingga festival pembakaran terus terjadi.
Secara politik
pemerintah bertanggung jawab terhadap kesejahteraan warga negaranya. Gangguan
ekonomi, kesehatan, dan transportasi sering kali dianggap hanya isu lokal.
Permasalahan asap lintas batas merupakan isu regional. Selain itu, pemerintah
juga sudah mencanangkan rencana pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 26
persen hingga 2020, di mana komponen terbesar emisi Indonesia berasal dari
proses pembakaran lahan. Efektivitas kontrol politik dan hukum atas
permasalahan ini akan menjadi ujian kesuksesan pemerintah dalam upaya
penurunan emisi.
Ujian berat
sesungguhnya akan terjadi pada tahun kemarau kering ekstrem, khususnya pada
tahun El Nino kuat, di mana biasanya terjadi peningkatan jumlah titik api
secara drastis. Pada beberapa kasus, terutama bila ada tekanan politik
seperti saat kunjungan kenegaraan ke negara tetangga, jumlah titik api dapat
berkurang drastis. Di lain pihak, saat terjadi kekosongan politik di provinsi
rawan kebakaran, jumlah titik api dapat meningkat tajam. Jelas memang ada
pengaruh politik dalam upaya penurunan jumlah titik api.
Pada akhirnya
diharapkan agar festival pembakaran tahunan dan upaya penanggulangannya tidak
jadi upaya ”menggantangkan asap”,
yakni suatu upaya yang sia-sia. Sudah jelas, pembersihan lahan dengan
membakar sangat merugikan. Terlebih bila mengingat emisi gas rumah kaca yang
dihasilkannya akan membawa dampak hingga beberapa generasi mendatang. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar