Selasa, 02 April 2013

Pak Harto pun Tak “Sekaya” Pak Beye


Pak Harto pun Tak “Sekaya” Pak Beye
Karyudi Sutajah Putra  ;  Tenaga Ahli DPR
SUARA MERDEKA, 01 April 2013
  

SOAL harta, mungkin mantan Presiden Soeharto lebih kaya daripada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Soal pangkat militer, Pak Harto, yang jenderal bintang lima pasti lebih tinggi ketimbang Pak Beye. Tapi mengenai jabatan, terutama dalam partai politik, Pak Beye lebih ”kaya” dibanding Pak Harto. Betapa tidak?

Dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat (PD) di Bali, pada Sabtu 30 Maret 2013, Pak Beye mau menerima ketika didaulat menjadi ketua umum partai itu. Ia menggantikan Anas Urbaningrum yang berhenti setelah ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka korupsi proyek Hambalang. 

Namun, kesediaan itu dengan dua syarat. Pertama; tugas sebagai ketua umum bersifat sementara, maksimal dua tahun, atau sampai berakhirnya Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014. Selanjutnya akan digelar kongres reguler untuk memilih ketua umum sesuai siklus lima tahunan. Kedua; ada ketua harian untuk menjalankan tugas sehari-hari ketua umum. Dia kemudian mengangkat Syarief Hasan sebagai ketua harian partai. 

Apa pun syaratnya, dengan jabatan baru itu, di partainya SBY memegang tiga jabatan sekaligus: ketua umum, ketua dewan pembina, dan ketua majelis tinggi. Bila satu jabatan memerlukan satu emblem, sedikitnya ada tiga emblem terpasang di dada Pak Beye. Bandingkan dengan Pak Harto yang selama menjabat presiden hanya memegang satu jabatan di partainya: Ketua Dewan Pembina Golkar.

Dengan tiga jabatan sekaligus itu, dapatkah kita bayangkan betapa repot nanti? Tapi tidak. Pak Beye mengklaim bisa saja dirinya tidak aman, tapi partainya harus aman. Karena itu, selain mengangkat ketua harian, Pak Beye juga mengangkat Marzuki Alie sebagai ketua harian majelis tinggi, dan EE Mangindaan sebagai ketua harian dewan pembina. 

Partai Korup

SBY akan banyak mendelegasikan tugasnya kepada mereka, kecuali untuk hal-hal strategis seperti menandatangani daftar calon sementara (DCS) Pemilu 2014 dan menentukan calon presiden terkait Pilpres 2014. Dia menyatakan tetap akan memprioritaskan tugasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Terkait capres, Ia menjadi ketua umum partai itu konon untuk memuluskan jalan bagi sang ipar, Jenderal Pramono Edhie Wibowo yang saat ini masih menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Benarkah? Hanya ia yang tahu. Segawat apakah nasib Partai Demokrat sehingga dia harus turun gunung? Sebesar apakah tantangan yang dihadapi partai itu sehingga ia perlu menjadi ketua umum partai?

Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, ia mengklaim bila tak mau menjadi ketua umum maka partai berlambang mercy ini akan menghadapi masalah. Maklum, sebelum KLB terjadi faksionalisasi dalam tubuh partai, antara faksi Cikeas (Pak Beye), Duren Sawit (Anas), dan Senayan (Marzuki Alie). Susilo Bambang Yudhoyono dianggap sebagai figur pemersatu. Namun ia juga harus bisa menjelaskan kepada publik mengapa mempertahankan putranya, Edhie Baskoro (Ibas), sebagai sekretaris jenderal partai. Bukankah nanti Partai Demokrat bisa dicap sebagai partai keluarga? 

SBY juga mengaku bisa melakukan konsolidasi menuju keberhasilan partai untuk tahun depan. Badai pasti berlalu, kata dia mengutip judul lagu yang dipopulerkan Chrisye. Benarkah? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, hasil berbagai lembaga survei menunjukkan elektabilitas Partai Demokrat menukik tajam. 

Berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN), elektabilitas Partai Demokrat kini tinggal 4,3%. Agar bisa bangkit, menurut SBY, ada empat hal yang harus dijalankan. Pertama; melakukan pembenahan dan peningkatan kemampuan partai. Kedua; cegah praktik dan perilaku politik yang tidak baik, seperti korupsi dan praktik pungutan untuk kepentingan pribadi dalam penentuan calon anggota legislatif, calon gubernur, calon bupati/wali kota, dan calon presiden. Ketiga; meningkatkan integritas dan kemampuan diri. Keempat; menjadikan KLB ajang memperkokoh persatuan partai.

Penyebab rendahnya elektabilitas Parrtai Demokrat, menurut LSN, adalah publik memandang bahwa partai itu korup. Dalam konteks ini, langkah kedua yang diwacanakan SBY untuk membangkitkan partainya patut diapresiasi. Sayang, dalam upaya pemberantasan korupsi, termasuk dalam internal partainya, ia sudah terbukti tidak tegas. 

Bila SBY tegas, tentu M Nazaruddin dan Angelina Sondakh tak perlu menjadi terpidana korupsi proyek wisma atlet SEA Games XXVI di Palembang. Tak perlu pula Andi Alifian Mallarangeng dan Anas Urbaningrum menjadi tersangka korupsi proyek Hambalang. Sebagai pendiri, ketua dewan pembina dan ketua majelis tinggi partai, Ia bisa dianggap gagal mengontrol perilaku kader-kadernya. Entah kini setelah ia menjadi ketua umum.

Kondisi dan tantangan yang dihadapi Partai Demokrat memang berbeda dari Golkar pada masa Orde Baru. Namun terlepas dari itu, dan terlepas dari kekurangan pribadi Pak Harto, mestinya SBY bisa mengambil pelajaran dari Pak Harto, yang tak ”sekaya” dirinya dalam hal jabatan di partainya, dalam hal bagaimana mengendalikan Golkar. Waktu itu ada faksionalisasi dalam tubuh Golkar, antara faksi A (ABRI), B-1 (birokrasi), dan B-2 (beringin/politikus), tapi Pak Harto dengan cerdik bisa mengendalikan mereka, tanpa harus menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Bagaimana Pak Beye? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar