Selasa, 02 April 2013

Ikhtiar Menghasilkan Guru Kreatif


Ikhtiar Menghasilkan Guru Kreatif
Saratri Wilonoyudho  ;  Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes),
Alumnus S-3 Multidisiplin UGM
SUARA MERDEKA, 31 Maret 2013


"LPTK, termasuk Unnes, perlu kembali meneliti ilmu yang dulu disebut pedagogik, didaktik, dan metodik"

ARTIKEL Mendikbud M Nuh makin memperjelas ''filosofi'' pemerintah atas Kurikulum 2013. Salah satu roh kurikulum baru itu adalah kompetensi inti yang menjadi pengikat antarkompetensi pada tiap mata pelajaran (Kompas, 7/3/13).

Dengan kata lain, kompetensi inti akan digunakan menjadi integrator horizontal. Kompetensi inti itu bebas dari mata pelajaran dan ia bukan mata pelajaran. Dalam hal ini, mata pelajaran akan menjadi pasokan kompetensi dasar yang nantinya diserap peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat menjadi kompetensi inti.

Kalau boleh disederhanakan, seorang guru harus dapat menggunakan mata pelajaran yang diajarkan sebagai media untuk mengantarkan, antara lain sikap hidup atau pandangan hidup, nilai hidup, serta pengetahuan dan keterampilan hidup. Seorang guru mata pelajaran Fisika misalnya, tidak saja mengajarkan Fisika sebagai pengetahuan namun juga lewat mata pelajaran itu dia bisa membawa peserta didik menjadi insan yang memiliki pandangan hidup, nilai hidup, sikap dan keterampilan hidup, dan sebagainya.

Saya masih ingat semasa SMA, guru mata pelajaran Fisika mengajarkan subbahasan peredaran planet. Dia mengaitkan antara lain dengan kebesaran Tu­han lewat cerita menarik, sehingga mencerahkan spiritualitas peserta didik. Jujur, saya justru lebih ingat wajah guru Fisika dibandingkan wajah guru Agama dalam hal pencerahan religiositas. Guru Agama hanya mengajarkan soal halal-haram, dosa-pahala, dan surga-neraka.

Tulisan ringan ini tidak akan memperdebatkan penerapan kelayakan Kurikulum 2013 dalam  dunia pendidikan namun sekadar mengambil momen perdebatan untuk memikirkan bagaimana menghasilkan guru yang kreatif. Artinya, dapat menghidupkan apa pun nama kurikulum itu, untuk membekali siswa agar lebih siap menghadapi hidup dan kehidupan. 

Penataan Kurikulum

Pertanyaannya, mampukah lembaga pendidik calon guru atau lembaga pendidikan tenaga pendi­dikan (LPTK) menghasilkan guru kreatif, yakni guru yang dapat menjalankan kompetensi inti (meminjam istilah dalam Kurikulum 2013) untuk tiap mata pelajaran yang diampu?

Harus dipahami pula bahwa sehebat apa pun kuri­kulum itu dirancang, kunci keberhasilan pendidikan tetap terletak di tangan guru yang cerdas dan kreatif, serta yang mengajar dengan sepenuh hati. Ibarat ken­daraan, meskipun bermerek Mercedes Benz, BMW, atau Lexus, jika si sopir tidak ahli maka percuma saja.

Perubahan IKIP menjadi universitas, menyisakan permasalahan tersendiri, yakni kesinambungan dosen bagi para calon guru yang fokus menekuni penelitian dan pengembangan ilmu guru, ilmu keguruan, dan ilmu kependidikan.

Jika Universitas Negeri Semarang (Unnes) misalnya, ingin tetap menghasilkan guru yang kreatif maka harus ada pembagian tugas yang jelas ketika para dosen meneruskan belajar pada jenjang S-2 dan S-3, antara jurusan murni (nonkependidikan) dan mereka yang tetap berkonsentrasi dalam dunia kependidikan.

Karenanya, LPTK, termasuk Unnes, perlu menata kurikulum, perlu kembali meneliti ilmu-ilmu yang du­lu disebut ilmu pedagogik, didaktik, dan metodik. Bah­kan bila perlu mendesain ulang, dan kembali menekuni. Artinya dosen kependidikan lebih fokus meneliti dan mengembangkan ilmu-ilmu tersebut. Demikian pula pengembangan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan, antro­pologi pendidikan, administrasi pendidikan, ilmu jiwa anak harus selalu didesain ulang dan diteliti untuk dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman.

Ilmu pedagogik adalah ilmu bagaimana membesarkan dan mengasuh anak; ilmu didaktik adalah ilmu tentang hal ikhwal membuat persiapan mengajar, dan ilmu metodik adalah ilmu tentang hal ikhwal cara mengajarkan ilmu-ilmu tertentu, seperti kesenian, menyanyi, menggambar, atau pekerjaan tangan.
Guru harus menguasai ilmu pedagogik dengan baik karena banyak persoalan seperti peningkatan persentase anak sekolah yang misalnya terlibat kekerasan, tawuran, menyontek, dan tidak disiplin. Tentu persoalan ini tak hanya bermula dari dunia pendidikan, namun setidak-tidaknya harus ada cetak biru yang jelas mengenai cara-cara mengembangkan ilmu kependidikan.

Guru perlu banyak dibekali wawasan kewila­yahan, bahasa asing, dan sebagainya. Bagaimana mungkin bangsa dan negara besar ini, yang terdiri atas ribuan pulau, adat, bahasa, suku, tidak dipahami oleh para guru mata pelajaran? Bagaimana mungkin kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan medium menghadapi tantangan global kalau hanya untuk menunjukkan letak Bunaken atau Raja Ampat saja misalnya, 80 % guru tidak tahu,  apalagi siswa? Belum lagi menjelaskan keunikan budaya lokal lainnya.

Dalam menghadapi globalisasi saat ini dunia pendidikan harus mampu mengantarkan siswa untuk menguasai kompleksitas pola pikir dan pola tingkah laku yang mengarah kepada hasil karya dari pendayagunaan seluruh akal budi. Selamat ulang tahun Unnes, tantanganmu sangat berat. ●