Sabtu, 10 Juli 2021

 

Mussolini, Franco, dan Sepak Bola

Trias Kuncahyono ;  Penikmat Sepak Bola

KOMPAS, 6 Juli 2021

 

 

                                                           

I

 

Benito Mussolini dan Francisco Franco sama-sama tidak suka sepak bola.  Mussolini,  pemimpin fasis Italia (1922-1943) tidak tertarik. Jenderal fasis Spanyol, Franco, lebih suka nonton film di istana El Pardo  ketimbang nonton sepak bola. Tetapi, kata penulis biografinya, Paul Preston,  Franco pernah dua kali memasang taruhan sepak bola dengan nama samaran Francisco Cofran. Dan, menang.

 

Kata Preston, Franco lebih suka menandatangani hukuman mati daripada bermain sepak bola atau menonton laga. Meskipun tidak menyukai sepak bola, Il Duce, sebutan untuk Mussolini, dan El Caudillo, sapaan Franco—kedua kata itu berarti pemimpin—tahu persis kekuatan sepak bola. Sepak bola dapat memberikan pengaruh yang luar biasa.

 

Mereka paham betul kekuatan sepak bola bagi kepentingan politik. Sepak bola punya kekuatan menyatukan orang-orang dari beragam komunitas, latar belakang, dan kepercayaan  berbeda—baik melalui kecintaan terhadap olahraga itu sendiri maupun budaya yang muncul darinya. Namun, saat yang sama, sejarah sepak bola adalah sejarah persaingan dan oposisi.

 

Mussolini dan Franco, memahami benar bahwa sepak bola adalah olahraga massa. Tidak hanya melibatkan para pemain di tengah lapangan, juga pendukung di tribune—sering disebut sebagai orang ke-12 dalam permainan—dan kedua pemimpin fasis itu dengan cepat memahami hal ini.

 

II

 

Kata Bill Murray dalam The World’s Game: A History of Soccer (1996), Mussolini bukanlah pemimpin pertama yang mengenali potensi politik olahraga. Tetapi, Mussolini-lah yang pertama memanfaatkannya. ”Rezim Fasis Mussolini adalah yang pertama menggunakan olahraga sebagai bagian integral dari pemerintahan.” Hal ini lalu ditiru Franco, juga Hitler.

 

Maka itu, pada tahun 1934, Italia menyediakan diri menjadi tuan rumah Piala  Dunia. Inilah kesempatan bagi Mussolini untuk menunjukkan kebesaran bangsanya. Dia yakin, hasil akhir pertandingan bukan ditentukan di tengah lapangan. Tetapi,  di tangannya. Italia berhasil melaju sampai ke final.

 

Sebelum final, Mussolini mengundang wasit Ivan Eklind dari Swedia. Hasil akhir Italia mengalahkan Cekoslovakia 2-1. Italia juara dunia. Yang lebih penting, mereka memenangi Piala Dunia di negeri sendiri. Popularitas Mussolini dan fasisme terdongkrak, tidak hanya di Italia tetapi juga dunia.

 

Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 1938 di Perancis, Italia kembali memenanginya. Dua tahun sebelumnya, tim sepak bola Italia memenangi Olimpiade Berlin 1936. Tak pelak lagi, ini kemenangan politik Mussolini. Sepak bola pendorong risorgimento (penyatuan) bangsa Italia, baik yang di dalam maupun di luar ngeri. Mereka bergerak mewujudkan persatuan Italia di bawah kepemimpinan Mussolini, yang telah menyiasati sepak bola sebagai pemersatu.

 

Pada Piala  Dunia 1938, Spanyol absen karena negeri itu dilanda perang saudara. Perang antara Kaum Republiken Kiri dan Pasukan Nasionalis pimpinan Jenderal Franco. Mussolini dan Hitler mengirim bantuan membantu Franco.  Kaum Republiken Kiri berpusat di Catalonia, tempat klub Barcelona berada. Dari sinilah, nantinya permusuhan antara Real Madrid dan Barcelona bermula dan menjadi-jadi.

 

Franco seperti Mussolini menggunakan sepak bola sebagai kekuatan mendapatkan kembali perhatian global. Sepak bola juga digunakan untuk membantu mengonsolidasikan kekuasaan. Franco juga menggunakan sepak bola untuk mengalihkan perhatian rakyatnya dari kebobrokan rezimnya serta kemerosotan ekonomi.

 

Dia lalu menjadikan Real Madrid sebagai  personifikasi sempurna dari kepemimpinan fasisnya. Dia dengan cerdik melihat, dengan mendukung Real Madrid, akan mampu menekan Barcelona, simbol kebanggaan Catalan yang dianggap memberontak. Permusuhan Real Madrid dan Barcelona dijadikan sarana meningkatkan kekuasaannya.

 

III

 

Sekarang zaman sudah berubah. Tetapi, sepak bola tetap menjadi bahasa universal yang digunakan oleh politisi untuk berkomunikasi dengan massa penggemar. Juga di Italia dan Spanyol.

 

Sepak bola bagi orang Italia adalah segala-galanya. Maka hari Minggu adalah hari sepak bola. Sepak bola adalah kebanggaan nasional. Kekalahan bagi mereka berarti runtuhnya kebanggaan mereka.

 

Maka pertemuan mereka melawan Spanyol, yang sering disebut sebagai “Derby Mediterania”  nanti, adalah sebuah pertaruhan nasional. Apalagi, Italia tak terkalahkan dalam 32 pertandingan sejak terakhir kali kalah dari Portugal pada laga Liga Nasional, 11 September 2018. Karena itu, kekalahan dari Spanyol adalah tragedi negeri yang baru bangkit dari pandemi Covid-19 yang demikian dahsyat.

 

Bagi Spanyol, kemenangan atas Italia adalah harga mati. Sebab, kata Vicente Del Bosque, mantan pelatih  tim nasional, sepak bola adalah lokomotif semua hal, kehidupan di Spanyol. Orang Spanyol selalu mengatakan, sepak bola adalah  olahraga yang menyatukan, karena penggemar dari tim yang sama bisa kaya atau miskin, bos atau karyawan, konservatif atau liberal…

 

Dan,  di negara yang penuh dengan individualis hebat, sepak bola adalah satu-satunya hal yang bisa di sepakati.

 

Hal itu pula yang disepakati oleh Mussolini dan Franco, dulu. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar