Citra
Amarzan Loebis ;
Wartawan Tempo
|
TEMPO.CO,
06 Maret 2014
|
Siapakah
Citra? Dalam film Tjitra arahan Usmar Ismail (South Pacific Film, 1949), dia adalah Soerjani, gadis dusun yang
melintas di perkebunan kopi di subuh pagi "…
Bajangan abadi, dalam kaboet soeram," begitu komponis Cornel
Simandjuntak melukiskannya dalam theme
song film tersebut, yang kelak menjadi "theme song" penganugerahan Piala Citra.
Hampir
40 tahun kemudian, grup musik dari Bandung, Bimbo, menciptakan pula lagu
Citra yang-berbeda dengan lagu Cornel-iramanya rancak berdesah, seperti
sengaja dilaraskan untuk suara Iin Parlina. Tapi, tetap saja Citra merupakan "bayangan", yang "meski jauh terpisahkan, bersatu
dalam impian…"
Kamus
Besar Bahasa Indonesia menerangkan citra sebagai, antara lain "… rupa; gambar; gambaran;… gambaran
diri yang ingin diciptakan oleh seorang tokoh masyarakat…" dan
seterusnya. Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko
Endarmoko, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006) memadankan citra dengan,
antara lain, "bayang-bayang,
cermin, gambaran… angan-angan, fantasi, khayalan…" dan seterusnya.
KBBI tak mencantumkan sub-lema "pencitraan", tapi Tesaurus
memadankan "pencitraan"
dengan "pembayangan, penggambaran,
visualisasi".
Singkat
kata, citra bukanlah realitas. Baik di dalam Usmar Ismail-Cornel
Simandjuntak, maupun di dalam Bimbo, ia selalu merupakan "bayangan", yang meskipun diharapkan bisa bersatu, tak akan
lebih dari sebatas "dalam impian".
Citra
bukanlah Engkau, melainkan "sebagaimana
Engkau ingin dibayangkan". Karena itu, dalam teori pemasaran,
"pencitraan" selalu dirujukkan ke "image building", pembangunan citra, yang pada intinya
bertujuan menjauhi realitas, terutama realitas tentang bagaimana Engkau
sesungguhnya.
Jika
selama ini Engkau tak pernah menyapa "rakyat jelata", bahkan
menenggelamkan rumah dan desa mereka dengan angkara murkamu, bangunlah
gambaran yang mencitrakan kedekatanmu dengan mereka, kendati engkau harus
berlatih senyum santun berhari-hari. Pencitraan membutuhkan perencanaan,
skenario, atau dengan kata lain: rekayasa.
Hari-hari
menjelang pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden tak syak lagi
merupakan saat-saat paling sibuk bagi "pabrik-pabrik" pencitraan,
mulai lembaga survei sampai kantor konsultan pemasaran. Tak terhitung biaya
yang dituangkan hanya untuk merancang citra fantastis tentang "bagaimana
Engkau ingin dibayangkan" tadi.
Karena
itu, "membaca" hasil pencitraan sebaiknyalah dilakukan dengan
metode terbalik. Jika, misalnya, pencitraan menggambarkan idolamu mesra
dengan kaum tani dan nelayan, yakinlah: selama ini ia justru tak pernah
memikirkan nasib mereka. Kini, ketika ia membutuhkan suara mereka bagi
perolehan di pemilihan raya, ia baru teringat pada banyak hal yang sebelumnya
tak menarik perhatiannya.
Tengoklah layar kaca itu. Tokohmu tampil rapi jali, bagaikan turis di
tengah massa yang riuh, tersenyum simpul tak berkeringat, bahkan setrikaan
lengan bajunya tak tersentuh sama sekali, lincip bak baru keluar dari binatu.
Kita pun, tak bisa tidak, kembali teringat pada Usmar Ismail-Cornel
Simandjuntak:… Engkaulah bayangan,
dalam kabut suram… ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar