SBY
dan Keraton Solo
Herry Priyatmoko ;
Alumnus Pascasarjana Sejarah FIB UGM
|
TEMPO.CO,
06 Maret 2014
|
Terus
terang, tidak sedikit orang terenyak saat mendengar Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono "ikut campur" dalam penyelesaian sengketa keluarga
bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti yang diberitakan banyak media,
dalam acara tatap muka di Gedung Agung DI Yogyakarta, Minggu, 23 Februari
lalu, Paku Buwana XIII "curhat" ke SBY perihal konflik internal
keraton tertua dinasti Mataram Islam itu.
Dalam
pertemuan tersebut, SBY mendukung penuh mediasi keraton. Presiden pun
menunjuk Menko Polhukam sebagai koordinator mediasi yang di dalamnya terdapat
tim yang dipimpin oleh Roy Suryo. Pertanyaannya, sepenting apakah konflik
istana kasunanan itu dalam skala politik nasional sampai-sampai SBY turun
tangan?
Buang
waktu dan energi. Begitulah ungkapan yang tepat untuk itu. Bukankah lebih
penting SBY memikirkan dan menindak pelaku intoleransi yang marak muncul di
negeri ini. Juga lebih mendesak meningkatkan program pemberantasan akar
terorisme. Tak kalah utamanya, pasang badan di saat terjadi pelarangan
diskusi publik seperti yang terjadi di Surabaya kemarin, ketimbang memerintah
Roy Suryo dan memeras pikiran untuk masa depan keraton yang suram itu.
Boleh
dikatakan suram lantaran para bangsawan yang terlibat perseteruan itu justru
tak menunjukkan respons positif untuk rukun. Mereka, yang berantem itu, juga
tak memperlihatkan etika luhur sebagai keturunan "darah biru" yang
semestinya memberi teladan kepada masyarakat luas. Upaya Pemerintah Kota Solo
turut membantu menyelesaikan masalah itu malah berujung pada pencemaran nama
baik dan kasusnya dibawa ke ranah hukum.
Rencana
baik SBY ini, bila terlaksana kelak, juga tidak mungkin memulihkan kejayaan
bangsawan layaknya pada masa lampau. Kenangan tinggallah kenangan. Dan, garis
nasib sejarah Keraton Kasunanan memang berbeda dengan saudara kembarnya,
Keraton Kasultanan Yogyakarta. Sejarah menakdirkan Kasunanan bernasib sial.
Institusi yang melahirkan dinasti Paku Buwana ini bertubi-tubi dihantam oleh
kekuatan ideologi yang menolak dan berniat membunuh paham feodalisme yang
menghidupkan budaya sendiko dawuh itu. Lembaga tradisional ini makin sayu
selepas meninggalnya Paku Buwana X pada 20 Februari 1939. Masyarakat Jawa
kala itu berkabung atas meninggalnya raja yang dijuluki "Kaisar
Jawa" itu. Apalagi tumbuh keyakinan bahwa geblak Sunan jatuh pada
tanggal 1 Sura, sebuah hari dari tahun baru Jawa yang dianggap keramat oleh
wong Jawa.
Sesaat
setelah kematian Sinuwun, gong keraton yang terbesar dan paling sakti bernama
Kyai Surak berhenti berbunyi dan kemudian benar-benar tidak pernah berbunyi
lagi. Indonesianis John Pamberton dalam karyanya Jawa: On the Subject of Java
dan sering dikutip oleh Goenawan Mohamad, menafsirkan fenomena tersebut
sebagai pertanda telah selesainya dinasti Paku Buwana atau runtuhnya puncak
kejayaan istana Kasunanan.
Menjelang akhir kepemimpinan, jangan sampai SBY terjebak dalam sejarah
yang dimitoskan. Bahwa Kasunanan dulu merupakan kerajaan megah dan diyakini
sebagai pusatnya mikrokosmos, kini yang tersisa cuma seonggok istana yang
mengalami kekosongan kosmik. Kekarnya dinding tembok keraton seakan berisi
wibawa masa lalu adalah semu belaka-sudah tidak layak dipakai untuk
legitimasi kekuasaan nasional seperti yang dilakukan oleh Presiden Sukarno
dan Presiden Soeharto. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar