Sabtu, 10 Juli 2021

 

Religiositas Bung Karno Saat Bertemu Pemimpin Umat Katolik

Guntur Soekarnoputra ;  Putra Sulung Bung Karno, Pemerhati Sosial

KOMPAS, 5 Juli 2021

 

 

                                                           

Pada 13 Juni 1956 Bung Karno mengadakan perjalanan muhibah ke beberapa negara untuk memperkenalkan Indonesia dan meningkatkan hubungan dan kerja sama. Dalam perjalanan itu, Bung Karno mengajakku dengan tujuan, selain mengetahui bagaimana diplomasi Bung Karno juga mengenalkan kepada para pemimpin dunia. Negara-negara yang dikunjungi adalah Amerika Serikat, Kanada, Swiss, Tunisia, Italia, dan Vatikan.

 

Kunjungan ke Vatikan dilakukan bersamaan dengan kunjungan di Italia karena Vatikan berada dalam satu kawasan dengan Italia. Di Italia, Bung Karno, Menteri Luar Negeri Ruslan Abdulgani, dan rombongan terbatas menginap di Palazzo Quirinalle Roma.

 

Dalam kunjungan pertamanya ke Vatikan, Bung Karno diterima pimpinan umat Katolik di dunia saat itu, Paus Pius XII. Setelah bersalaman, Paus banyak mengajukan pertanyaan mengenai berbagai hal. Mulai dari umurku, duduk di kelas berapa, hingga cita-cita di kemudian hari. Seluruh pertanyaan dari Paus dapat aku jawab dengan menggunakan bahasa Inggris yang terbata-bata bahkan kadang-kadang dibantu Bung Karno.

 

Usai menanyakan beberapa hal, Bung Karno sekilas berbicara dengan Paus dan memanggil ajudannya, Mayor Korps Komando Angkatan Laut (KKO) Bambang Wijanarko untuk diperkenalkan juga kepada Paus. Bung Karno kemudian menjelaskan bahwa Bambang Wijanarko adalah penganut Katolik yang soleh.

 

Paus XII terlihat agak terperanjat karena tidak menyangka ajudan seorang Presiden di sebuah negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam mempunyai ajudan beragama Katolik. Bung Karno pun menjelaskan hal ini dapat terjadi karena Indonesia mempunyai dasar negara yaitu Pancasila.

 

Dalam Pancasila, disebutkan Bung Karno, tak hanya soal nasionalisme, kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi, tetapi juga ada Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana kebebasan beragama dan toleransi dijamin dan dapat dikembangkan oleh para penganutnya di Indonesia. Jadi, bangsa Indonesia menganut religiositas yang dijamin dalam sebuah Pancasila sebagaimana termaktub dalam amanat Pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945.

 

Paus tampak tersenyum dan mengangguk-angguk tanda mengerti dengan penjelasan Bung Karno. Tak lama setelah itu datanglah dua orang kardinal yang membawa seperangkat selempang dan bintang tanda jasa yang oleh Paus disematkan kepada Bung Karno. Bintang tersebut adalah bintang tertinggi umat Katolik sedunia yang terkenal dengan sebutan Bintang Tertinggi Vatikan.

 

Dalam catatan, Bung Karno kemudian juga menerima beberapa bintang dan tanda jasa dari Vatikan yang diberikan pemimpin umat Katolik tersebut. Medali kedua diterima Bung Karno pada 14 Mei 1959 dari Paus Yohanes XXIII, dan ketiga pada 12 Oktober 1964 oleh Paus Paulus VI. Pada kunjungannya yang ketiga ini, Bung Karno juga dibuatkan perangko khusus oleh Vatikan dan dihadiahi cendera mata berupa lukisan mozaik Castel San Angelo Vatican.

 

Saat itu, Bung Karno adalah satu-satunya kepala negara Muslim non Katolik yang menerima tanda bintang jasa dari Vatikan. Hal ini merupakan kehormatan bukan saja bagi Bung Karno melainkan juga bagi seluruh bangsa dan negara serta umat beragama di Republik Indonesia. Bung Karno dianggap oleh ketiga Paus tersebut pemimpin yang bisa mengayomi tak hanya mayoritas penduduknya yang Muslim, tetapi juga menghormati dan menerima warganya yang beragama lain, seperti Nasrani.

 

Di bawah kepemimpinan Bung Karno, kehidupan dan kebebasan beragama serta semangat toleransi antar umat beragama di Indonesia juga dinilai berjalan dengan sangat baik.

 

Terhadap penghargaan tersebut, Soekarno pernah berujar, “Aku orang Islam hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan”. (Cindy Adams, Untold Story, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, 1982)

 

Patung Nabi Isa Almasih

 

Selesai pertemuan dengan Paus, Bung Karno beserta rombongan diantar seorang kardinal, yang juga Kepala Protokol Negara Vatikan, meninjau Gereja Basilica Santo Petrus. Memasuki gerbang Basilica terasa keheningan seakan-akan setiap langkah yang masuk dapat terdengar. Mendekati ruang tengah dari Basilica, Bung Karno berhenti melangkah. Bung Karno melihat ada patung marmer yang menggambarkan sosok Nabi Isa As atau Yesus Kristus, yang dipangku oleh Siti Maryam atau Bunda Maria, terbaring lunglai setelah disalib atas perintah Pontius Pilatus, pemimpin Roma. Patung tersebut dibuat oleh pematung kondang Michael Angelo, dan diberi nama “Pieta”.

 

Di depan patung tersebut Bung Karno bertanya kepada Kardinal mengapa Michael Anggelo membuat patung Nabi Isa As dengan jari-jari tangan dan kaki yang halus. Demikian pula telapak kakinya. Padahal, menurut Bung Karno, Nabi Isa As adalah seorang tukang kayu yang telah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk berkotbah di mana-mana termasuk di atas bukit cadas. Akibatnya, telapak tangan dan kakinya seharusnya menjadi kasar. Bung Karno juga menilai kaki dan tangan Nabi Isa As juga seharusnya tampak berotot kuat seperti halnya tukang kayu.

 

Mendengar pertanyaan Bung Karno, sang kardinal terpaku. Ia tampak kesulitan untuk menjawab. Akhirnya, sang kardinal hanya dapat menjawab bahwa ia sendiri kurang tahu dan baru sekali ini terpikir soal itu. Bung Karno yang dikenal seorang pencinta seni dan sangat mengagumi banyak karya seni terkenal, hanya mengangguk-angguk dan meneruskan peninjauan ke sejumlah peninggalan bersejarah lainnya termasuk makam Santo Petrus.

 

Selesai meninjau setiap sudut dari Gereja Basilica Santo Petrus, Bung Karno dan rombongan diantar kardinal ke kendaraan yang telah siap dengan pengawalan lengkap untuk kembali ke penginapan.

 

Dialog dengan Pastor Huijtink

 

Kunjungan ke Basilica Santo Petrus menunjukkan begitu kuatnya sikap toleransi dan keagamaan Bung Karno sebagai sosok Muslimin. Sebagai orang Jawa keturunan Bali, sejak kanak-kanak, Bung Karno dididik dalam lingkungan agama dan tradisi Jawa-Bali dari sang ayah yang asli Jawa dan beragama Islam serta ibu keturunan Bali, yang pada mulanya beragama Hindu, yang juga sangat kuat.

 

Di masa mudanya, Bung Karno tinggal di rumah, dan berguru agama dan politik pada tokoh Sarekat Islam di Surabaya, HOS Tjokroaminoto. Sebagai Muslim, selain menjalankan salat lima waktu di tengah perjalanan politik dan kepemimpinannya, Bung Karno juga pergi haji ke Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi pada 1955. Sebelum menunaikan rukun Islam yang kelima, Presiden Soekarno sempat ditanya alasannya oleh Raja Saud bin Abdulaziz. Ia menjawab, "Kita menuju makam Rasul Allah SAW. Tentunya dia lebih tinggi dibandingkan saya dan Anda, Raja!" Itulah religiositas Bung Karno.

 

Dalam film “Ketika Bung di Ende” (2013), karya Viva Westi, yang disponsori Kementerian Pendidikan Nasional, terlihat bagaimana relasi dan keagamaan Bung Karno di tengah pastor, tokoh agama Katolik, dan mayoritas umat Katolik, yang bercampur dengan umat beragama lainnya seperti Protestan, Islam, Hindu, dan Budha.

 

Di masa pembuangannya di Ende, Nusa Tenggara Timur, Bung Karno dan keluarganya tak hanya dibantu oleh seorang asisten rumah tangga beragama Katolik bernama Bertha, tetapi juga menjalin persahabatan dengan pastor dan tokoh umat Katolik lainnya. Namanya, Gerardus Huijtink SVD, pastor paroki pertama Gereja Katolik Ende, dan pemimpin para pastor di Flores, NTT, Johannes Bouma SVD.

 

Kebetulan rumah pengasingan Bung Karno dekat dengan biara Santo Yosef. Inilah yang membuat Bung Karno banyak berkunjung, tak hanya berbincang-bincang dengan Pastor Huijtink, tetapi juga membaca banyak buku di perpustakaan biara. Bahkan, Pastor Huijtink juga meminjamkan/menyewakan biaranya untuk berlatih dan mementaskan tonil karya Bung Karno (Kumparan, 14 April 2017).

 

Dalam contoh dialog di film tersebut, Bung Karno dan Pastor Huijtink berbicara tentang kemerdekaan, imperialisme, dan persamaan derajat manusia. Relasinya dengan pastor dan umat Katolik tergambar dalam percakapannya yang menunjukkan makna keagamaan Bung Karno. "Saya selalu mengikuti perjuangan Anda selama di Jawa. Sebagai Pelayan Tuhan, saya menyetujui apa yang Anda lakukan. Tuhan tidak merestui pengeksploitasian terhadap negara dan manusia," ujar Pastor Huijtink, mengawali pembicaraan.

 

Bung Karno menjawab, "Bangsa ini adalah bangsa yang besar dan kaya. Kami berhak atas negara dan isinya. Kami akan memperjuangkan hingga merdeka."

 

"Dan apa arti kemerdekaan bagi Anda?" tanya Pastor Huijtink lagi dalam bahasa Belanda.

 

"Pastor yang baik. Kemerdekaan adalah dasar teramat penting bagi negara di mana pun. Baik di Timur atau pun di Barat. Dasar negara untuk kulit putih atau berwarna."

 

"Lalu, bagaimana Anda akan mewujudkannya?"

 

"Bangsa kami telah mengalami banyak penderitaan dan kesedihan. Bangsa Belanda tidak sadar jika penderitaan membuat manusia semakin kuat. Dari tempaan kesengsaraan tersebut, maka kemerdekaan akan dicapai melalui persatuan rakyat Indonesia menjadi satu negara," tutur Bung Karno.

 

"Apakah Anda membenci Belanda?" tambah Pastor Huijtink lagi.

 

"Masalahnya bukan bangsa Belanda. Masalahnya adalah imperialisme," tandas Bung Karno.

 

Tinggal bersama orang nasrani

 

Bung Karno juga pernah marah ketika warga pribumi di dekat rumahnya duduk di atas tikar sementara orang-orang Belanda duduk di atas kursi. Kata Bung Karno, "Oh, ya Pastor. Kemarin malam saya melihat masyarakat mengadakan selamatan. Di depan rumahnya ada barisan kursi khusus untuk para tamu orang Belanda. Dan, di sebelah kanannya digelar tikar yang katanya untuk orang pribumi. Kejadian ini sangat mengganggu saya."

 

Pastor Huijtink bertanya, "Tuhan tidak pernah membedakan manusia dari warna kulitnya. Lalu apa yang terjadi?"

 

"Saya menyuruh mereka untuk menggeser kursi-kursinya dan menggantikannya dengan tikar. Para tamu Belanda merasa marah kepada saya. Untung ada warga yang setuju akan tindakan saya, dan datang untuk melerai."

 

"Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan. Tapi mereka (Belanda) menyikapi perbedaan itu dengan salah," jelas Pastor Huijtink.

 

"Saya menentang semua perbedaan perlakuan terhadap pribumi," tambah Bung Karno

 

"Saya memikirkan konsepsi saudara tentang perbedaan dan penyatuannya," tutur Pastor Huijtink kembali.

 

"Konsep saya terlihat jelas dari komposisi para pemain dalam sandiwara saya. Mereka orang-orang dari Jawa, Sabu, Makassar, dan Batak. Mereka bersatu untuk mementaskan lakonnya, padahal mereka juga berlatar belakang beda dengan agama yang berbeda juga."

 

"Di dalam rumah kami bahkan Bertha (pembantu rumah tangga) beragama Katolik dan kami Muslim. Kami hidup damai dan tentram dalam satu atap," papar Bung Karno menjelaskan.

 

Lalu, Pastor Huijtink bertanya kembali, "Bagaimana Anda menempatkan ibu Anda yang Hindu, orang Budha dan Katolik di tanah yang kebanyakan beragama Islam?"

 

Bung Karno pun menjawab, "Pertanyaan itu yang saya pikirkan jawabannya, Pastor. Kemerdekaan Indonesia akan memberikan jaminan kebebasan beragama bagi warga negaranya yang sesuai dengan keyakinan masing-masing."

 

Pengalaman itulah yang membentuk nilai-nilai keagamaan Bung Karno saat masih berada di Ende, memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia hingga memimpin dan saat berada di tengah-tengah umat dan pemimpin Katolik di Vatikan dan Roma, serta umat Kristiani lainnya di negara-negara yang dikunjunginya.

 

Begitulah pengalaman saat mengikuti perjalanan Bung Karno mengunjungi Vatikan dan negara-negara lainnya sambil memahami serta tetap menerapkan nilai-nilai keagamaan Islam yang kami anut. Seperti Bung Karno, siapapun bisa memiliki pengalaman dan nilai-nilai religiositas tak hanya dengan umat Muslim tetapi juga dengan tokoh dan umat agama lainnya. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar