Sabtu, 10 Juli 2021

 

Meramal Masa Depan Covid-19

Dominicus Husada ;  Kepala Divisi Infeksi dan Tropik Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya; Anggota Tim Vaksin Merah Putih Unair

KOMPAS, 9 Juli 2021

 

 

                                                           

Pemerintah Singapura secara terbuka sudah menyatakan akan memperlakukan virus SARS- CoV-2 dan Covid-19 sebagai penyakit endemik yang tak bisa hilang, tetapi tak akan terlalu membuat masalah.

 

Mereka bertindak sangat rasional dengan mempertimbangkan semua perkembangan dalam 18 bulan terakhir. Tentu ada berbagai landasan sebelum pernyataan dikeluarkan. Landasan yang mungkin belum kita miliki sehingga bagi kita, berbeda dengan Singapura, diperlukan upaya lebih keras untuk bisa mencapai titik yang sama.

 

Memang masih ada opsi lain untuk meramal masa depan Covid-19. Opsi terbaik adalah penyakit dapat dieliminasi dan virus SARS-CoV-2 tak kembali. Kita punya pengalaman dengan penyakit cacar dan rinderpest pada hewan ternak. Sayangnya, beberapa hal membedakan Covid-19 dengan kedua penyakit itu.

 

Yang membuat cacar bisa kita hapuskan karena kita punya vaksin yang kuat, virus cacar tak mempunyai inang lain, dan penyakit cacar tak ada yang tanpa gejala. Ketiga hal ini belum bisa disamai Covid-19. Dengan semua fakta saat ini, akan sangat sulit mengharapkan virus SARS-CoV-2 musnah selamanya.

 

Jalan tengah

 

Skenario terburuk adalah pandemi berlangsung berkepanjangan dengan jutaan manusia terus menjadi korban. Saat ini jelas ada diskrepansi yang besar antara negara maju dan berkembang.

 

Jurang perbedaan ini berpotensi membuat manusia di negara miskin dan menengah tak akan pernah mampu lolos dari jeratan Covid-19. Ketersediaan vaksin sangat terbatas, baik karena dana maupun suplai, jumlah tes juga sangat terbatas, dan sarana penanganan penderita jauh tertinggal dari negara maju, jumlah maupun distribusi. Kita berharap skenario terburuk ini tak terjadi.

 

Adanya COVAX yang berusaha menyeimbangkan distribusi vaksin, semakin banyak dan mudahnya tes diagnostik untuk Covid-19 (dan pasti semakin murah), serta peningkatan kualitas dan kuantitas sarana pelayanan kesehatan terutama di daerah periferi, adalah upaya untuk menghindari opsi terburuk itu.

 

Yang paling realistis adalah seperti dikemukakan para menteri Singapura. Jalan keluar kompromistis, yang memang jadi salah satu opsi sejak awal. Jargon ”berdamai dengan Covid”, ataupun normal baru, pada hakikatnya mengakomodasi opsi tengah tersebut.

 

Pasti ada beberapa alasan yang melatarbelakangi opsi ini. Pertama, virus korona sudah ada sejak lama. Sekitar seperempat pasien dengan keluhan panas batuk pilek sesungguhnya disebabkan virus korona, tetapi pasti bukan SARS-CoV-2. Pasien ini bisa mengalami keluhan berulang dalam tahun yang sama yang menunjukkan kekebalan tak akan berlangsung lama. Rasanya juga tak mungkin jika virus penghuni dunia yang sudah relatif tua ini tiba-tiba musnah.

 

Kedua, sangat jelas virus bisa bermutasi. Adanya varian alfa, beta, gamma, delta, kappa, dan lambda membuktikan ini. Mutasi membuat virus lebih bisa beradaptasi, lebih kuat, dan lebih sulit ditaklukkan. Ini hal dasar pada semua makhluk hidup. Mengalahkan varian yang saat ini dominan, tak otomatis berarti mengalahkan selamanya. Pengalaman pahit dengan varian delta saat ini harus jadi salah satu pelajaran berharga. Masih untung kemampuan mutasi SARS-CoV-2 hanya 1/10 influenza dan 1/100 virus HIV. Itu saja virus sudah bisa meloloskan diri dari kemampuan vaksin dan antibodi monoklonal.

 

Ketiga, kemampuan vaksin saat ini tak mungkin membunuh virus secara total. Perlindungan memang sangat kuat, terutama menghindari kematian dan sakit berat, tetapi untuk sampai tingkatan menyetop transmisi secara total tampaknya vaksin kita belum mampu.

 

Keempat, hingga Juli 2021 belum ditemukan antivirus SARS-CoV-2 yang sungguh ampuh. Sebagai perbandingan, antivirus terhebat di dunia adalah ARV untuk HIV. Antivirus untuk Covid-19 belum mampu menyamai kekuatan ARV. Sekalipun demikian, saat ini ada sedikitnya beberapa calon antivirus SARS-CoV-2 dengan kekuatan prima yang masih menjalani uji klinis.

 

Semoga obat ini bisa berhasil dan segera digunakan. Keinginan menggali obat lama sebagai salah satu modalitas terapi, yang meniru keberhasilan obat artemisinin untuk malaria, tampaknya tidak akan berakhir dengan kesuksesan besar. Banyak obat hanya terlihat sukses di media sosial, tetapi tidak di ranah ilmiah kedokteran dan farmasi. Obat baru saat ini lebih menjadi tumpuan.

 

Zona kompromi jangka panjang

 

Beberapa hal harus kita persiapkan untuk menuju zona kompromi jangka panjang. Secara garis besar kita perlu melakukan beberapa langkah yang disiapkan negara maju, termasuk Singapura, tetapi dalam skala berbeda mengingat luasnya wilayah dan banyaknya penduduk Indonesia.

 

Pertama, kita perlu cakupan imunisasi yang tinggi. Angka minimal adalah 70 persen, tetapi jika bisa meraih 80-90 persen, keberhasilan lebih jelas terbayang. Pastilah upaya di negeri kita lebih repot daripada di negara tetangga. Persoalan penolakan dan keragu-raguan pada vaksin, serta aroma pertentangan politik yang tak sepenuhnya hilang, jadi penghalang tambahan.

 

Pemerintah sudah menyampaikan rencana menjadikan bukti vaksinasi sebagai salah satu persyaratan administratif dalam kehidupan sehari-hari dan hal itu bisa sangat efektif. Sekalipun demikian, potensi perlawanan dari masyarakat, seperti terjadi di Jembatan Suramadu, harus terantisipasi.

 

Kedua, kualitas vaksin pada dasarnya akan ikut berperan. Dengan kekuatan vaksin inaktif yang jelas di bawah vaksin mRNA ataupun vaksin berbasis adeno virus, kita perlu boster atau vaksin ulangan yang pasti makan biaya, waktu, dan tenaga. Perlu dipertimbangkan menaikkan kualitas vaksin jika distribusi di seluruh dunia sudah lebih bersahabat.

 

Ketiga, kemampuan melakukan tes diagnostik patut menjadi perhatian. Selama ini kemampuan kita rendah. Lebih buruk lagi, tinggi rendahnya kasus positif menjadi salah satu barometer politik. Tak heran jika banyak daerah membatasi tes. Negara maju dengan jumlah tes yang rendah dewasa ini pasti menerima kecaman bertubi-tubi sehingga mau tidak mau rasio jumlah tes per banyaknya penduduk menjadi salah satu tolok ukur yang pantas diperhatikan.

 

Tes PCR yang menjadi standar tertinggi tak akan menjadi tes massal mengingat kesulitan teknis pelaksanaan serta tingginya biaya. Tes yang lebih sederhana, seperti antigen, lebih layak dipertimbangkan. Tes GeNose ataupun analisis serupa yang sedang diteliti (dari mulut maupun keringat) butuh upaya keras untuk bisa menarik kepercayaan para ahli dalam negeri. Publikasi internasional, dan validasi eksternal yang lebih luas, contoh yang bisa dilakukan.

 

Keempat, karena kasus tak akan hilang, kemampuan mengobati perlu diperbaiki. Kita menunggu antivirus yang lebih ampuh, selain vaksin yang lebih kuat. Jika kasus sudah tak berada di puncak, akan tersedia ruang perawatan infeksi yang cukup di seluruh Tanah Air. Jumlah dokter dan perawat mungkin relatif tetap, tetapi dengan manajemen penatalaksanaan lebih baik, perawatan penderita akan kian memuaskan.

 

Kelima, yang paling sulit, melakukan penyesuaian kehidupan sosial. Kebiasaan memakai masker masih akan dituntut untuk dilakukan di beberapa kegiatan. Rasanya kita tak akan masuk ke zona 100 persen bebas masker. Namun, seperti diketahui, saat ini saja, di banyak kelompok masyarakat hal ini sulit sekali dilakukan secara konsisten. Belum lagi mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari makan bersama.

 

Budaya Indonesia adalah budaya guyub sehingga bercakap-cakap dengan banyak orang dan makan bersama tak mungkin digusur. Padahal, kegiatan itu merupakan kesempatan utama bagi penyebaran SARS-CoV-2. Dalam konteks kerumunan, jika tahap endemik sudah dicapai, kegiatan massal seperti pesta perkawinan atau kegiatan agama akan banyak yang bisa dilakukan.

 

Tentunya dengan dukungan cakupan imunisasi, protokol kesehatan, testing yang memadai, serta perbaikan tata laksana seperti di atas. Memang banyak orang berharap kita bisa mencapai tingkatan AS atau negara maju lain yang sudah membebaskan kewajiban bermasker bagi warganya. Siapa tahu kita bisa mencapai tingkat itu juga. Namun, keinginan yang menggebu-gebu tidak boleh mengalahkan akal sehat.

 

Banyak orang mungkin silau akan keberhasilan beberapa negara dan tidak mau mempelajari betapa negara seperti itu sudah menjalankan berbagai upaya secara keras selama berbulan-bulan dan tinggal memetik hasilnya. Jika kita tak mau bekerja keras dan hanya mengharapkan hasil instan, maka yang akan kita terima sebenarnya banyak unsur ilusi belaka.

 

Efek akhirnya adalah jumlah kasus tak bisa menurun dengan kematian yang akan terus tinggi. Data administratif resmi bisa minimal, tetapi di lapangan korban terus berjatuhan. Alih-alih menjadi endemik, kita akan terus dirundung wabah Covid-19 dan secara otomatis akan dijauhi banyak negara lain. Semoga kita bisa terus memperbaiki diri. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar