|
DUDUK di depan TV selama liburan tentu saja membosankan. Tetapi,
membuka Fox Channel,
menyaksikan Tony Fernandes meniru gaya Donald Trumph ''memecat'' calon
eksekutif, bisa cukup menghibur. Itulah tontonan Apprentice Asia yang memilih satu calon terbaik untuk
menjadi eksekutif di perusahaan Tony.
Dari tontonan awal, saya bisa mendeteksi figur-figur yang bermain untuk menang (play to win) dan mana yang sekadar ada (play to not lose). Tetapi, ada juga karakter loser yang bisa saya terka kalau dia dipercaya memimpin, semua rekannya akan sakit. Hal mudah dibuat sulit, terlalu banyak membuat alasan, dan seterusnya. Karakter yang demikian sama dengan bad driver. Mereka sengaja diadakan dalam setiap tontonan TV sekadar untuk membuat rating program TV tinggi.
Sayangnya, yang dipulangkan pertama-pertama justru calon dari Indonesia. Tetapi, saya pikir, buat apa pula bagi Hendri Setiono, pemilik jaringan gerai gerobak Babarafi, berlama-lama di sana kalau lebih dari 800 gerainya tidak terurus di sini. Hendri, sepertinya, melakukan permainan play to lose (bermain sekadar tampil, kalah di depan). Sedangkan rekan-rekannya dari Asia memilih play to not lose.
Menghindari Kegagalan
Untuk memberikan gambaran karakter ''play to win'', Anda cukup belajar dari berita-berita tentang sport atau Apprentice Asia. Tetapi, dalam abad persaingan ini, saya lebih tertarik membahas ''play to not lose'' yang justru banyak memerangkap pengusaha-pengusaha Indonesia sehari-hari. Kita berpikir itu cara terbaik, tetapi sebenarnya membuat kita sekadar ada dan gagal menarik keberuntungan. Tidak terbang ke mana-mana, persis seperti sebagian peserta Apprentice Asia yang memerankan lakon ''cari aman''.
Karakter ''play to not lose'' itu ada di banyak pelajar Indonesia yang sekadar tampil apa adanya, sekolah agar sekadar tidak drop out. Tidak mau gagal, tapi juga tidak terpanggil menjadi pemain utama. Dalam bisnis terjadi pada anak orang berada yang sekadar punya, nice to have. Punya usaha, tetapi tidak berani dibuat menjadi besar. Terperangkap dalam ''Failure Avoidant Trap''.
Untuk jelasnya, kita lihat kasus arloji Swiss yang menjadi Harvard Business Case dalam teori-teori persaingan atau strategic competition dan cluster. Anda tentu masih ingat, pada 1960-an, lebih dari separo jam tangan yang dibeli penduduk dunia berlabel made in Swiss. Anda bisa menanyakan hal itu kepada orang tua-orang tua.
Tetapi, pada 1970-an, situasi berubah. Muncul teknologi LED dengan pemain-pemain baru: Citizen (Jepang) dan Timex (Belanda). Serangan itu membuat penjualan jam-jam tangan ''made in Switzerland'' turun. Market share-nya tinggal 15 persen.
Apa reaksi produsen Swiss? Ya, seperti biasa, mereka mengambil langkah ''play to not lose'' dengan membanting harga, melakukan PHK besar-besaran, dan beralih ke jam-jam mahal (luxury).
Tetapi, yang menarik perhatian saya, kejadian tersebut justru memicu gerakan lain yang datang dari orang-orang yang ''out of the box''. Itulah gerakan yang membuat Swiss bangkit kembali melalui merek-merek yang fancy dan fashionable: Swatch, Longines, dan Tissot.
Orang-orang yang baru itu dicatat Bronson dan Merryman (2013) sebagai The Top Dog. Ketika semua pelaku lama ''focus on the odds'' dengan pola piker inside the box, mereka justru membentuk perusahaan-perusahaan baru, merekrut pegawai-pegawai baru di lokasi yang berbeda dengan pola pikir yang sama sekali baru. Persis strategi General Motor yang mendirikan pabrik mobil Saturn untuk menghadapi mobil-mobil murah buatan Jepang pada 1990-an. Saturn dibuat di luar Detroit agar tidak terkontaminasi logika mobil Amerika.
Top Dog mengambil risiko dengan membuat model bisnis yang sama sekali baru dan keluar dari tradisi Swiss watch yang klasik serta mahal. Itu berbeda dengan strategi berbasis karakter play to not loseyang bertendensi menghindari risiko. Fokus mereka adalah membatasi atau mengurangi kerugian, bukan keluar sebagai pemenang.
Saya pikir, ''kelakuan'' bisnis seperti itu ada di banyak pikiran kita, yang bertindak reaktif ''inside the box'' ketika menghadapi serangan-serangan dari pendatang baru. Ketimbang meningkatkan investasi dengan bermain dalam rule of the game yang baru, kita justru mempertahankan keuntungan lama (protect profit) dan stick with what we know.
Itulah strategi berbasis karakter play to not lose. Waspadailah. Sebab, dengan cara itu, usaha Anda tidak akan bergerak ke mana-mana. Anda hanya berdoa agar new entrance segera tersungkur dan pergi. Nyatanya, mereka hanya tambah kuat, sedangkan pasar Anda yang lama terus tergerus. Itulah renungan pasca-Lebaran, sebuah era baru yang makin kaya persaingan. Kata pepatah, ''It's not whether you win or lose. It's how you play the game''. ●
Dari tontonan awal, saya bisa mendeteksi figur-figur yang bermain untuk menang (play to win) dan mana yang sekadar ada (play to not lose). Tetapi, ada juga karakter loser yang bisa saya terka kalau dia dipercaya memimpin, semua rekannya akan sakit. Hal mudah dibuat sulit, terlalu banyak membuat alasan, dan seterusnya. Karakter yang demikian sama dengan bad driver. Mereka sengaja diadakan dalam setiap tontonan TV sekadar untuk membuat rating program TV tinggi.
Sayangnya, yang dipulangkan pertama-pertama justru calon dari Indonesia. Tetapi, saya pikir, buat apa pula bagi Hendri Setiono, pemilik jaringan gerai gerobak Babarafi, berlama-lama di sana kalau lebih dari 800 gerainya tidak terurus di sini. Hendri, sepertinya, melakukan permainan play to lose (bermain sekadar tampil, kalah di depan). Sedangkan rekan-rekannya dari Asia memilih play to not lose.
Menghindari Kegagalan
Untuk memberikan gambaran karakter ''play to win'', Anda cukup belajar dari berita-berita tentang sport atau Apprentice Asia. Tetapi, dalam abad persaingan ini, saya lebih tertarik membahas ''play to not lose'' yang justru banyak memerangkap pengusaha-pengusaha Indonesia sehari-hari. Kita berpikir itu cara terbaik, tetapi sebenarnya membuat kita sekadar ada dan gagal menarik keberuntungan. Tidak terbang ke mana-mana, persis seperti sebagian peserta Apprentice Asia yang memerankan lakon ''cari aman''.
Karakter ''play to not lose'' itu ada di banyak pelajar Indonesia yang sekadar tampil apa adanya, sekolah agar sekadar tidak drop out. Tidak mau gagal, tapi juga tidak terpanggil menjadi pemain utama. Dalam bisnis terjadi pada anak orang berada yang sekadar punya, nice to have. Punya usaha, tetapi tidak berani dibuat menjadi besar. Terperangkap dalam ''Failure Avoidant Trap''.
Untuk jelasnya, kita lihat kasus arloji Swiss yang menjadi Harvard Business Case dalam teori-teori persaingan atau strategic competition dan cluster. Anda tentu masih ingat, pada 1960-an, lebih dari separo jam tangan yang dibeli penduduk dunia berlabel made in Swiss. Anda bisa menanyakan hal itu kepada orang tua-orang tua.
Tetapi, pada 1970-an, situasi berubah. Muncul teknologi LED dengan pemain-pemain baru: Citizen (Jepang) dan Timex (Belanda). Serangan itu membuat penjualan jam-jam tangan ''made in Switzerland'' turun. Market share-nya tinggal 15 persen.
Apa reaksi produsen Swiss? Ya, seperti biasa, mereka mengambil langkah ''play to not lose'' dengan membanting harga, melakukan PHK besar-besaran, dan beralih ke jam-jam mahal (luxury).
Tetapi, yang menarik perhatian saya, kejadian tersebut justru memicu gerakan lain yang datang dari orang-orang yang ''out of the box''. Itulah gerakan yang membuat Swiss bangkit kembali melalui merek-merek yang fancy dan fashionable: Swatch, Longines, dan Tissot.
Orang-orang yang baru itu dicatat Bronson dan Merryman (2013) sebagai The Top Dog. Ketika semua pelaku lama ''focus on the odds'' dengan pola piker inside the box, mereka justru membentuk perusahaan-perusahaan baru, merekrut pegawai-pegawai baru di lokasi yang berbeda dengan pola pikir yang sama sekali baru. Persis strategi General Motor yang mendirikan pabrik mobil Saturn untuk menghadapi mobil-mobil murah buatan Jepang pada 1990-an. Saturn dibuat di luar Detroit agar tidak terkontaminasi logika mobil Amerika.
Top Dog mengambil risiko dengan membuat model bisnis yang sama sekali baru dan keluar dari tradisi Swiss watch yang klasik serta mahal. Itu berbeda dengan strategi berbasis karakter play to not loseyang bertendensi menghindari risiko. Fokus mereka adalah membatasi atau mengurangi kerugian, bukan keluar sebagai pemenang.
Saya pikir, ''kelakuan'' bisnis seperti itu ada di banyak pikiran kita, yang bertindak reaktif ''inside the box'' ketika menghadapi serangan-serangan dari pendatang baru. Ketimbang meningkatkan investasi dengan bermain dalam rule of the game yang baru, kita justru mempertahankan keuntungan lama (protect profit) dan stick with what we know.
Itulah strategi berbasis karakter play to not lose. Waspadailah. Sebab, dengan cara itu, usaha Anda tidak akan bergerak ke mana-mana. Anda hanya berdoa agar new entrance segera tersungkur dan pergi. Nyatanya, mereka hanya tambah kuat, sedangkan pasar Anda yang lama terus tergerus. Itulah renungan pasca-Lebaran, sebuah era baru yang makin kaya persaingan. Kata pepatah, ''It's not whether you win or lose. It's how you play the game''. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar