|
DI tengah hiruk
pikuknya pemberitaan Gubernur Jakarta Jokowi yang giat blusukan, tercetus
berita heboh gaya blusukan Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg.
Stoltenberg blusukan dengan cara mendatangi pasar, permukiman kumuh, terminal,
dan tempat-tempat penting lainnya, namun dengan cara menyamar menjadi sopir
taksi.
Dalam menit-menit pertama saat penumpang berada di dalam taksi yang dikemudikan, pembicaraan antara penumpang dan orang nomor satu di pemerintahan Norwegia itu cair. Bahkan, bisa jadi sopir taksi itu disindir penumpangnya karena cara mengemudi yang terlihat buruk.
Dari cairnya hubungan itu, Stoltenberg bisa jadi memancing apa keinginan dan harapan penumpang terhadap segala hal yang dihadapi. Saat itulah, pria yang mempunyai latar belakang ekonom tersebut menjaring aspirasi rakyatnya dan berjanji untuk memperbaiki kinerjanya atas masukan-masukan dari bawah.
Begitu penumpang menyadari bahwa yang membawa dirinya adalah Stoltenberg, mereka terkejut, heran, bangga, dan bahkan ada yang terharu. Namun, selepas itu, pembicaraan menjadi kaku kembali atau pembicaraan menjadi basa-basi.
Terlepas dari itu soal pencitraan, blusukan sebenarnya adalah cara yang paling jitu untuk mendengar aspirasi dan apa-apa saja yang benar-benar terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kisah blusukan yang membekas di hati kaum muslimin adalah kisah Khalifah Umar Bin Khattab. Banyak kisah Umar dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin negara dan agama menggunakan cara-cara blusukan.
Kisah yang paling menyentuh adalah ketika dia menemukan seorang ibu yang mengelabui anaknya dengan memasak batu. Cara itu dilakukan agar anak-anaknya yang terus menangis karena lapar bisa terhibur dan terlelap dalam tidurnya sehingga melupakan rasa laparnya. Karena tidak ingin dosanya ditanggung gara-gara kelalaian dalam menjalankan amanah, terbukti masih adanya orang miskin, Umar memanggul sendiri gandum dari gudang dan memberikannya kepada ibu yang kelaparan bersama anaknya itu.
Meski efektif, blusukan tidak boleh dilakukan secara gegabah. Pertama, perhatikan faktor keamanan. Umar sangat dekat dengan rakyatnya. Namun, dia tidak menyadari bahwa masih ada segelintir orang yang kecewa terhadap kebijakan pemerintah sehingga suatu ketika saat dia hendak menjadi imam salat Subuh, Umar dibunuh oleh Abu Lukluk. Abu Lukluk yang bernama asli Fairuz itu tidak suka ketika Umar menaklukkan Persia. Fairuz adalah mualaf dari Persia.
Kepala pemerintahan pusar, kepala daerah, dan wali kota di Iraq, Afghanistan, dan Pakistan tentu berpikir bila hendak melakukan cara-cara yang demikian. Perbedaan partai politik, mazhab, dan kebijakan yang pro-Barat akan menjadikan dia sebagai sasaran pembunuhan dari kelompok lawan.
Jokowi dan Stoltenberg bisa lenggang kangkung blusukan bisa jadi karena situasi yang aman. Meski ada masyarakat yang kecewa, sikap mereka masih bisa terkendali dan toleran. Stoltenberg merasa enjoysaat menjadi sopir taksi karena dia yakin situasi di negaranya aman. Meski ada yang kecewa, itu tidak membahayakan dirinya ketika blusukan.
Masa kepemimpinan dia dimulai pada 2001 dan menjabat hingga sekarang. Hal demikian menunjukkan bahwa Norwegia di bawah kepemimpinannya terbilang sukses. Kita tidak mendengar ketika Eropa krisis keuangan, Norwegia gaduh. Stoltenberg mampu menciptakan stabilitas ekonomi sehingga dia dicintai rakyatnya.
Kedua, blusukan harus diimbangi bukti dengan hadirnya solusi dan selesainya masalah. Ketika menemukan masalah di tengah masyarakat saat blusukan, Umar segera menyelesaikan masalah tersebut. Blusukan yang dilakukan sekadarnya asal-asalan dan angin-anginan menunjukkan pencitraan.
Ketiga, gaya kepemimpinan. Sukses tidaknya blusukan juga bergantung kepada gaya kepemimpinan seseorang. Pemblusuk akan sukses berada di tengah masyarakat bila mampu mengendalikan diri, lapang dada, dan rendah hati. Terkadang masyarakat mengungkapkan kekecewaannya dengan kata-kata yang tidak sopan dan kasar.
Kita sering dan pernah melihat serta membaca berita tentang presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan pejabat yang lain marah-marah kepada bawahannya, masyarakat, bahkan anak-anak. Bisa saja mereka beralasan marah-marah karena bawahan, masyarakat, dan anak-anak tidak mendengar ketika dirinya berpidato. Namun, hal demikian tidak menunjukkan sikap mengayomi. Hatinya belum mampu blusukan ke hati rakyat. ●
Dalam menit-menit pertama saat penumpang berada di dalam taksi yang dikemudikan, pembicaraan antara penumpang dan orang nomor satu di pemerintahan Norwegia itu cair. Bahkan, bisa jadi sopir taksi itu disindir penumpangnya karena cara mengemudi yang terlihat buruk.
Dari cairnya hubungan itu, Stoltenberg bisa jadi memancing apa keinginan dan harapan penumpang terhadap segala hal yang dihadapi. Saat itulah, pria yang mempunyai latar belakang ekonom tersebut menjaring aspirasi rakyatnya dan berjanji untuk memperbaiki kinerjanya atas masukan-masukan dari bawah.
Begitu penumpang menyadari bahwa yang membawa dirinya adalah Stoltenberg, mereka terkejut, heran, bangga, dan bahkan ada yang terharu. Namun, selepas itu, pembicaraan menjadi kaku kembali atau pembicaraan menjadi basa-basi.
Terlepas dari itu soal pencitraan, blusukan sebenarnya adalah cara yang paling jitu untuk mendengar aspirasi dan apa-apa saja yang benar-benar terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kisah blusukan yang membekas di hati kaum muslimin adalah kisah Khalifah Umar Bin Khattab. Banyak kisah Umar dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin negara dan agama menggunakan cara-cara blusukan.
Kisah yang paling menyentuh adalah ketika dia menemukan seorang ibu yang mengelabui anaknya dengan memasak batu. Cara itu dilakukan agar anak-anaknya yang terus menangis karena lapar bisa terhibur dan terlelap dalam tidurnya sehingga melupakan rasa laparnya. Karena tidak ingin dosanya ditanggung gara-gara kelalaian dalam menjalankan amanah, terbukti masih adanya orang miskin, Umar memanggul sendiri gandum dari gudang dan memberikannya kepada ibu yang kelaparan bersama anaknya itu.
Meski efektif, blusukan tidak boleh dilakukan secara gegabah. Pertama, perhatikan faktor keamanan. Umar sangat dekat dengan rakyatnya. Namun, dia tidak menyadari bahwa masih ada segelintir orang yang kecewa terhadap kebijakan pemerintah sehingga suatu ketika saat dia hendak menjadi imam salat Subuh, Umar dibunuh oleh Abu Lukluk. Abu Lukluk yang bernama asli Fairuz itu tidak suka ketika Umar menaklukkan Persia. Fairuz adalah mualaf dari Persia.
Kepala pemerintahan pusar, kepala daerah, dan wali kota di Iraq, Afghanistan, dan Pakistan tentu berpikir bila hendak melakukan cara-cara yang demikian. Perbedaan partai politik, mazhab, dan kebijakan yang pro-Barat akan menjadikan dia sebagai sasaran pembunuhan dari kelompok lawan.
Jokowi dan Stoltenberg bisa lenggang kangkung blusukan bisa jadi karena situasi yang aman. Meski ada masyarakat yang kecewa, sikap mereka masih bisa terkendali dan toleran. Stoltenberg merasa enjoysaat menjadi sopir taksi karena dia yakin situasi di negaranya aman. Meski ada yang kecewa, itu tidak membahayakan dirinya ketika blusukan.
Masa kepemimpinan dia dimulai pada 2001 dan menjabat hingga sekarang. Hal demikian menunjukkan bahwa Norwegia di bawah kepemimpinannya terbilang sukses. Kita tidak mendengar ketika Eropa krisis keuangan, Norwegia gaduh. Stoltenberg mampu menciptakan stabilitas ekonomi sehingga dia dicintai rakyatnya.
Kedua, blusukan harus diimbangi bukti dengan hadirnya solusi dan selesainya masalah. Ketika menemukan masalah di tengah masyarakat saat blusukan, Umar segera menyelesaikan masalah tersebut. Blusukan yang dilakukan sekadarnya asal-asalan dan angin-anginan menunjukkan pencitraan.
Ketiga, gaya kepemimpinan. Sukses tidaknya blusukan juga bergantung kepada gaya kepemimpinan seseorang. Pemblusuk akan sukses berada di tengah masyarakat bila mampu mengendalikan diri, lapang dada, dan rendah hati. Terkadang masyarakat mengungkapkan kekecewaannya dengan kata-kata yang tidak sopan dan kasar.
Kita sering dan pernah melihat serta membaca berita tentang presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan pejabat yang lain marah-marah kepada bawahannya, masyarakat, bahkan anak-anak. Bisa saja mereka beralasan marah-marah karena bawahan, masyarakat, dan anak-anak tidak mendengar ketika dirinya berpidato. Namun, hal demikian tidak menunjukkan sikap mengayomi. Hatinya belum mampu blusukan ke hati rakyat. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar