Selasa, 06 Agustus 2013

Kebijakan Moneter Ketat

Kebijakan Moneter Ketat
Ryan Kiryanto ;  Kepala Ekonom Bank BNI
          SUARA KARYA, 05 Agustus 2013


Langkah Bank Indonesia (BI) yang agresif menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dan bunga fasilitas BI (fasbi) secara berturutan memancing reaksi keras dari sebagian analis dan ekonom. Mereka menuding BI telah memulai langkah pengetatan moneter, dengan imbasnya bakal terjadi perlambatan ekonomi karena cepat atau lambat suku bunga bank bakal naik.

Sebagai catatan, pada 11 Juli 2013 lalu BI telah menaikkan BI Rate 50 basis poin ke level 6,50%. Sebelumnya pada 13 Juni 2013, BI juga sudah menaikkan 25 basis poin. Kenaikan BI Rate secara agresif sebesar 75 basis poin hanya dalam dua bulan terakhir itu bertujuan untuk mengerem inflasi, juga untuk menahan depresiasi rupiah serta untuk mengerem laju impor agar lebih terkendali.

Jadi, tujuan bank sentral menaikkan BI Rate dan bunga fasbi sangat baik. Sasaran yang hendak dicapai pun positif. Hanya saja, efek berantai yang ditimbulkan ternyata tidak sebaik tujuan yang hendak dicapai. Memang, kenaikan suku bunga masih dianggap cara ampuh untuk mengerem laju inflasi dalam jangka pendek.

Namun, kenaikan suku bunga acuan bisa menjadi bumerang ketika tidak dilakukan dalam takaran yang terukur dan di tengah ekspektasi yang memburuk terhadap perekonomian. Ini yang menjadi kekhawatiran lantaran kenaikan BI Rate terjadi saat ekspektasi terhadap perekonomian tengah memburuk disertai sentimen regional dan global yang tidak kondusif.

Maka, boleh jadi, kenaikan BI Rate akan sia-sia belaka untuk menstabilkan gejolak pasar, bahkan justru berpotensi menimbulkan pukulan tambahan bagi perekonomian. Apalagi, kinerja perekonomian Indonesia selama ini lebih banyak ditopang oleh konsumsi swasta, yang terbantu oleh aliran investasi dan ekspansi bisnis.

Dengan demikian, cara efektif menopang kinerja perekonomian tiada lain dengan mendorong investasi langsung dan ekspansi usaha untuk menopang daya beli sehingga dapat mempertahankan tingkat konsumsi. Dengan pertimbangan itu, menaikkan suku bunga acuan seperti menginjak rem terlalu dalam, karena berdampak ikutannya akan bermuara pada melambatnya laju konsumsi dan penurunan daya beli.

Bisa dipastikan, pelaku bisnis akan mengerem ekspansi. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan bakal diikuti kenaikan bunga kredit. Dengan demikian, peluang untuk menciptakan lapangan kerja baru vis-a-vis peningkatan daya beli akan terhambat.

Di pihak lain, kebijakan kenaikan suku bunga acuan dikhawatirkan tidak efektif mengendalikan inflasi maupun nilai tukar rupiah. Masalahnya, situasi saat ini memang dolar AS dalam kondisi ketat lantaran termakan isu bakal dihentikannya paket stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang memberikan makna dolar AS akan kembali ke negara tersebut. Momentum saat ini juga perlu dolar AS dalam jumlah besar, baik oleh korporasi pemerintah maupun swasta untuk pembayaran kewajiban impor ataupun oleh para keluarga untuk keperluan liburan ke luar negeri.


Namun, dari perspektif bank sentral selaku otoritas moneter, kalau BI Rate tidak dinaikkan segera, tekanan inflasi makin tidak terkendali dan berpotensi menembus 8%. Untuk jangka pendek ini, pengendalian inflasi bukan pekerjaan mudah. BPS mencatat inflasi Juli 2013 sudah mencapai 3,29% (mtm). Angka itu tertinggi sejak 1999 atau pascakrisis moneter (krismon) 1998 silam. Secara tahunan (year on year), inflasi Juli menembus 8,61%. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar