|
Setiap menjelang Hari Raya Idul
Fitri, selalu diwarnai fenomena khas "mudik Lebaran" ke kampung
halaman. Mudik Lebaran tidak lagi sekadar pulang kampung, melainkan juga sudah
jadi prosesi ritual yang melambangkan suatu sikap dan keterikatan hidup manusia
atas komunitas dan sejarahnya. Pemudik tahun ini pun diprediksi akan terus
meningkat, sehingga keamanan dan kenyamanan di jalan harus menjadi perhatian
pemerintah.
Aktivitas pulang kampung tahun ini
juga perlu menggelorakan nasionalisme karena bulan Agustus ini juga kita akan
merayakan kemerdekaan Indonesia. Perjalanan mudik harus lancar dan pemudik
merasa aman dari gangguan kriminalitas seperti copet dan penipuan. Perjalanan
mudik harus mencerminkan kefitrian dalam kebersamaan membangun nilai-nilai
kebangsaan dan satunya kata dengan perbuatan.
Para pemudik harus siap menerimanya
dalam kondisi apa pun, termasuk memahami konteks ekonomi-sosial bahwa mudik
lebaran butuh pengorbanan. Dalam tataran demikian, wajar bila dipahami pula
bahwa dampak positif mudik Lebaran, selain bermakna religus, juga mengandung
semacam "prosesi kultural" yang senantiasa terpatri dalam setiap
gerak langkah para pemudik.
Dalam prosesi mudik, seseorang
akan mengenali kembali latar belakang sosial-budaya dan asal-muasalnya. Dapat
dilihat pada terpeliharanya kekuatan ikatan batin antara pemudik dengan sanak
keluarga di kampung. Di dalamnya tersirat suatu kehendak untuk membebaskan diri
dari rutinitas kehidupan di kota-kota besar yang begitu rumit, yang kemungkinan
menindas dan menderanya.
Agar dapat mudik Lebaran, orang
berani meninggalkan rutinitas di kota, bahkan menanggalkan masalah yang
bernuansa rasionalitas dan pertimbangan ekonomis. Kenikmatan yang melingkupinya
tidak hanya akan dijadikan sebagai suatu tradisi, melainkan sudah terakomodasi
dalam gerak kehidupan itu sendiri. Tradisi mudik dapat membudaya dan kian mapan
karena disirami oleh nilai-nilai religiusitas. Rupanya penilaian J.J. Rousseau
terbukti kebenarannya, bahwa sebuah tradisi yang ditopang oleh ajaran agama,
akan sanggup bertahan dan mengakar kuat dalam sanubari masyarakat.
Salah satu hal yang selalu jadi
masalah saat mudik adalah angkutan, padahal bentuk dan mekanismenya sudah
diketahui, tetapi tetap saja menimbulkan persoalan. Kendati hal itu sudah
rutin, pemerintah lebih banyak menyikapinya secara rutin pula. Bukan
meningkatkan kualitas pelayanan yang menjadi hak para pemudik. Kita berharap
agar perjalanan mudik lebih terkoordinir sehingga setiap kendala bisa diatasi.
Perjalan mudik harus menekan kecelakaan di jalan yang kemungkinan menimbulkan
korban jiwa.
Kecelakaan di jalan tentu tidak
dikehendaki, dan untuk meniadakannya diperlukan kesadaran semua pihak. Di
dalamnya dibutuhkan perasaan kebersamaan dan kekeluargaan dalam satu kesatuan
bangsa. Mudik Lebaran seyogianya berjalan lancar, aman, dan lebih berdimensi
untuk mengukuhkan persaudaraan antarsesama anak bangsa. Paling tidak,
dibutuhkan kesadaran setiap pengguna jalan. Akan lebih baik bila semua pihak
yang terlibat mampu mengendalikan diri dan memiliki kesadaran hukum yang
tinggi. Sadar akan hak dan kewajiban, baik itu sopir maupun penumpang pada
gilirannya menjadi cerminan terdinamisasinya hukum dalam masyarakat.
Mudik yang mencerminkan fitrah
kemanusiaan, bukanlah perjalanan ugal-ugalan. Mudik harus mencerminkan ketaatan
pada aturan hukum, karena dengan ketaatan itulah ciri kemanusiaan dan fitrah
akan hadir. Sering terdengar adagium, bahwa sikap dalam berlalu-lintas adalah
cermin budaya bangsa, maka mudik dengan penuh kesadaran dan taat hukum
merupakan cermin seberapa jauh Ramadhan membawa kita kembali pada kefitrian.
Mudik Lebaran tahun ini harus tetap memberikan nuansa religiusitas yang
bermakna tinggi di tengah kesulitan hidup yang terus melonjak.
Bangun Persaudaraan
Idul Fitri yang melahirkan tradisi
mudik sarat dengan makna simbolis, telah menandai lahirnya tata nilai kehidupan
baru. Apa pun akan diupayakan agar dapat pulang ke kampung untuk berlebaran,
termasuk menjalani derita perjalanan mudik dengan risiko jadi korban kejahatan
seperti kecopetan, penipuan, atau mendapat kecelakaan dalam perjalanan.
Perjuangan yang dilakoni pemudik, cenderung direfleksikan sebagai untaian
cerita menarik dan membanggakan dalam kehidupannya.
Kewajiban membangun kembali
persaudaraan yang saat ini sedang dilanda kemerosotan, dapat dipulihkan di hari
Idul Fitri. Gerbang kebajikan terbuka sebagai titik kulminasi pencarian jati
diri terhadap sifat-sifat kemanusiaan sejati, kemudian dijadikan gerbang menuju
kehidupan bermasyarakat yang beretika dan penuh santun. Idul Fitri sepantasnya
disambut dan dirayakan sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, karena
telah mampu melewati masa ujian sebulan penuh berpuasa.
Akhirnya, mudik Lebaran tidak
boleh hanya dimaknai sekadar saling memberi maaf, tetapi juga memberikan pesan
moral untuk merdeka dari kenistaan. Setiap manusia pada dasarnya memiliki
kemerdekaan dan hak yang sama untuk memilih kehidupannya, sehingga Idul Fitri
juga mesti dimaknai sebagai momentum untuk melepaskan diri dari belenggu
pembodohan dan keterbelakangan. Lebaran di kampung harus memancarkan cinta
kasih (mahabbah) sebagai landasan
pemuliaan kemanusiaan. Cinta kasih dalam bingkai Aqidah Islam yang juga
merupakan dasar pengembangan tradisi mudik Lebaran, paling tidak akan lebih
memperkuat persaudaraan antarmanusia. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar