Selasa, 06 Agustus 2013

Fenomena Mudik Lebaran

Fenomena Mudik Lebaran
Marwan Mas ;  Guru Besar Ilmu Hukum Universitas 45, Makassar
          SUARA KARYA, 05 Agustus 2013


Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, selalu diwarnai fenomena khas "mudik Lebaran" ke kampung halaman. Mudik Lebaran tidak lagi sekadar pulang kampung, melainkan juga sudah jadi prosesi ritual yang melambangkan suatu sikap dan keterikatan hidup manusia atas komunitas dan sejarahnya. Pemudik tahun ini pun diprediksi akan terus meningkat, sehingga keamanan dan kenyamanan di jalan harus menjadi perhatian pemerintah.

Aktivitas pulang kampung tahun ini juga perlu menggelorakan nasionalisme karena bulan Agustus ini juga kita akan merayakan kemerdekaan Indonesia. Perjalanan mudik harus lancar dan pemudik merasa aman dari gangguan kriminalitas seperti copet dan penipuan. Perjalanan mudik harus mencerminkan kefitrian dalam kebersamaan membangun nilai-nilai kebangsaan dan satunya kata dengan perbuatan.

Para pemudik harus siap menerimanya dalam kondisi apa pun, termasuk memahami konteks ekonomi-sosial bahwa mudik lebaran butuh pengorbanan. Dalam tataran demikian, wajar bila dipahami pula bahwa dampak positif mudik Lebaran, selain bermakna religus, juga mengandung semacam "prosesi kultural" yang senantiasa terpatri dalam setiap gerak langkah para pemudik.

Dalam prosesi mudik, seseorang akan mengenali kembali latar belakang sosial-budaya dan asal-muasalnya. Dapat dilihat pada terpeliharanya kekuatan ikatan batin antara pemudik dengan sanak keluarga di kampung. Di dalamnya tersirat suatu kehendak untuk membebaskan diri dari rutinitas kehidupan di kota-kota besar yang begitu rumit, yang kemungkinan menindas dan menderanya.

Agar dapat mudik Lebaran, orang berani meninggalkan rutinitas di kota, bahkan menanggalkan masalah yang bernuansa rasionalitas dan pertimbangan ekonomis. Kenikmatan yang melingkupinya tidak hanya akan dijadikan sebagai suatu tradisi, melainkan sudah terakomodasi dalam gerak kehidupan itu sendiri. Tradisi mudik dapat membudaya dan kian mapan karena disirami oleh nilai-nilai religiusitas. Rupanya penilaian J.J. Rousseau terbukti kebenarannya, bahwa sebuah tradisi yang ditopang oleh ajaran agama, akan sanggup bertahan dan mengakar kuat dalam sanubari masyarakat.

Salah satu hal yang selalu jadi masalah saat mudik adalah angkutan, padahal bentuk dan mekanismenya sudah diketahui, tetapi tetap saja menimbulkan persoalan. Kendati hal itu sudah rutin, pemerintah lebih banyak menyikapinya secara rutin pula. Bukan meningkatkan kualitas pelayanan yang menjadi hak para pemudik. Kita berharap agar perjalanan mudik lebih terkoordinir sehingga setiap kendala bisa diatasi. Perjalan mudik harus menekan kecelakaan di jalan yang kemungkinan menimbulkan korban jiwa.

Kecelakaan di jalan tentu tidak dikehendaki, dan untuk meniadakannya diperlukan kesadaran semua pihak. Di dalamnya dibutuhkan perasaan kebersamaan dan kekeluargaan dalam satu kesatuan bangsa. Mudik Lebaran seyogianya berjalan lancar, aman, dan lebih berdimensi untuk mengukuhkan persaudaraan antarsesama anak bangsa. Paling tidak, dibutuhkan kesadaran setiap pengguna jalan. Akan lebih baik bila semua pihak yang terlibat mampu mengendalikan diri dan memiliki kesadaran hukum yang tinggi. Sadar akan hak dan kewajiban, baik itu sopir maupun penumpang pada gilirannya menjadi cerminan terdinamisasinya hukum dalam masyarakat.

Mudik yang mencerminkan fitrah kemanusiaan, bukanlah perjalanan ugal-ugalan. Mudik harus mencerminkan ketaatan pada aturan hukum, karena dengan ketaatan itulah ciri kemanusiaan dan fitrah akan hadir. Sering terdengar adagium, bahwa sikap dalam berlalu-lintas adalah cermin budaya bangsa, maka mudik dengan penuh kesadaran dan taat hukum merupakan cermin seberapa jauh Ramadhan membawa kita kembali pada kefitrian. Mudik Lebaran tahun ini harus tetap memberikan nuansa religiusitas yang bermakna tinggi di tengah kesulitan hidup yang terus melonjak.

Bangun Persaudaraan

Idul Fitri yang melahirkan tradisi mudik sarat dengan makna simbolis, telah menandai lahirnya tata nilai kehidupan baru. Apa pun akan diupayakan agar dapat pulang ke kampung untuk berlebaran, termasuk menjalani derita perjalanan mudik dengan risiko jadi korban kejahatan seperti kecopetan, penipuan, atau mendapat kecelakaan dalam perjalanan. Perjuangan yang dilakoni pemudik, cenderung direfleksikan sebagai untaian cerita menarik dan membanggakan dalam kehidupannya.

Kewajiban membangun kembali persaudaraan yang saat ini sedang dilanda kemerosotan, dapat dipulihkan di hari Idul Fitri. Gerbang kebajikan terbuka sebagai titik kulminasi pencarian jati diri terhadap sifat-sifat kemanusiaan sejati, kemudian dijadikan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang beretika dan penuh santun. Idul Fitri sepantasnya disambut dan dirayakan sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, karena telah mampu melewati masa ujian sebulan penuh berpuasa.


Akhirnya, mudik Lebaran tidak boleh hanya dimaknai sekadar saling memberi maaf, tetapi juga memberikan pesan moral untuk merdeka dari kenistaan. Setiap manusia pada dasarnya memiliki kemerdekaan dan hak yang sama untuk memilih kehidupannya, sehingga Idul Fitri juga mesti dimaknai sebagai momentum untuk melepaskan diri dari belenggu pembodohan dan keterbelakangan. Lebaran di kampung harus memancarkan cinta kasih (mahabbah) sebagai landasan pemuliaan kemanusiaan. Cinta kasih dalam bingkai Aqidah Islam yang juga merupakan dasar pengembangan tradisi mudik Lebaran, paling tidak akan lebih memperkuat persaudaraan antarmanusia. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar