Selasa, 06 Agustus 2013

Belanja dengan Hati

Belanja dengan Hati
Ihwan Sudrajat ;  Staf Ahli Gubernur Jawa Tengah
          SUARA MERDEKA, 05 Agustus 2013

MENDEKATI Lebaran, pikiran saya selalu kembali ke masa kecil, suasana begitu terasa, terutama melihat kesibukan ibunda di dapur. Saya betah menemani seharian, melihat keringatnya bercucuran dan mulutnya berkalikali meniup kayu bakar supaya apinya terus membesar. Meskipun kelelahan terlihat jelas di wajahnya, semangat menyambut Lebaran membuatnya seperti tak merasa lelah.

Saya membantu meringankan kerjanya dengan hanya membuat selongsong ketupat. Aroma rendang daging dan sambel goreng ati membuat saya enggan berpindah tempat. Ibu saya harus bekerja keras memasak jenisjenis makanan yang sangat mewah dibandingkan makanan sehari-hari. Namun, kami, anakanak, harus menelan air liur karena hanya sedikit makanan yang dimasak ibu itu disisakan untuk kami. Sebagian besar dibagi-bagikan.

Kami harus puas memakan makanan dari tetangga dan saudara. Tradisi berbagi makanan, tak hanya ada di daerah saya, Purwakarta, salah satu kabupaten di Jawa Barat bagian utara. Tradisi itu ada di seluruh daerah di Indonesia, sebuah transaksi sosial yang harus dijaga karena berefek positif menjaga kondusivitas umat, mencegah konflik dan memberikan peluang bagi yang kurang mampu menikmati Lebaran seperti muslim yang lebih mampu.

Inflasi Tinggi Lebaran adalah hari berbagi, bersilaturahmi, dan berunjuk prestasi. Itulah yang membuat hari pada bulan Ramadan dan hari Lebaran menjadi hari-hari penuh transaksi, pasar penuh sesak dan sedikit terjadi turbulensi ekonomi. Ada Lebaran yang nyaman, namun tidak jarang membuat kita gusar, seperti Lebaran tahun ini. Biro Pusat Statistik baru saja mengumumkan tingkat inflasi Juli mencapai 3,2%, tertinggi sejak krisis ekonomi. Luar biasa dan sangat mustahil jika melihat kinerja ekonomi selama ini.

Namun, tanda-tanda inflasi akan tinggi sudah bisa diduga tanpa harus kita menjadi seorang ahli. Kenaikan bahan bakar minyak yang diputuskan menjelang Ramadan dan Lebaran serta ketidakstabilan keseimbangan pangan memasuki bulan puasa menjadi pendorong naiknya harga bahan pangan.

Keputusan Kementan menurunkan kuota impor daging sapi tahun ini dari 31% menjadi tinggal 18% ikut menyumbang ketidakstabilan harga pangan yang berimbas pada harga komoditas lain. Pemerintah telah membuka pintu impor selebar-lebarnya untuk menekan harga daging, tapi kebijakan itu agak terlambat.
Harga sudah bergerak naik, konsumen tidak bisa menghentikan belanjanya karena Lebaran memang harus mereka sambut dengan tradisi yang telah dilakukan selama ini, belanja dan terus belanja. Sewaktu saya kecil, 

Lebaran adalah kemewahan, dan berkesan diadakan-diadakan. Setinggi apa pun tingkat inflasi, semahal apa pun harga daging sapi, wajib hukumnya bagi ibu untuk membeli dan menyajikan, tidak bisa mengganti dengan produk substitusi.

Pasar pun tetap ramai meskipun menurut teori naiknya inflasi akan menurunkan daya beli. Lebaran membuat kita tidak lagi rasional, sesuatu yang harus kita habiskan, belanja sesuka hati, untuk menyambut hari yang fitri. Tidak heran, menjelang Idul Fitri pencurian menjadi lebih sering diberitakan. Karena itu, saat inflasi tinggi, saya menyebutnya belanjalah dengan hati, bukan sesuka hati, tanpa harus meninggalkan ’’kemewahan’’ yang harus kita sajikan pada hari Lebaran, tanpa harus mengurangi silaturahmi dan juga keinginan berbagi.

Saat hati bicara maka kita akan mengerti keterbatasan yang dihadapi dan mengerti apa yang harus dilakukan, mendorong kita lebih rasional meskipun acap tereduksi oleh dorongan lingkungan. Dengan pikiran rasional, kita bisa mengambil langkah lebih strategis, lebih efektif, dan lebih efisien. Hal yang acap membuat kita tak terkendali adalah ketika datang ke pasar tanpa catatan atau tanpa perencanaan matang. Ibu-ibu memang bukan ekonom, bukan pula pialang, yang sibuk melihat catatan di komputer dan sibuk membanding-bandingkan harga. Ibu-ibu lebih mengandalkan daya ingat dan kepasrahan pada situasi.

Memaklumi Ibu-ibu bahkan selalu ’’memaklumi’’ kenaikan harga menjelang Lebaran, seperti halnya pedagang yang ’’memahami’’ Lebaran sebagai momen menangguk keuntungan berlebih. Tips berbelanja menjelang Lebaran adalah setelah mempersiapkan catatan, tentukanlah waktu dan pasar yang tepat untuk berbelanja. Jangan tergoda iming-iming diskon. Belanja di pasar tradisional lebih baik jika kita tahu waktu yang tepat karena harga di tempat itu selalu berubah-ubah.

Jangan belanja pada jam-jam sibuk, belanjalah selepas siang hari karena pembeli mulai berkurang dan pedagang pun sudah tak lagi jual mahal. Para pedagang mulai berpikir untuk cepat menghabiskan stok sehingga mereka pun siap menjual barang dengan harga ’’asal kembali modal’’. Jangan pernah membeli melebihi yang kita butuhkan dan jangan pula membeli barang yang tidak kita butuhkan.


Ramadan memang bulan ujian maka seperti diperintahkan Allah SWT dalam Alquran, manusia harus menghadapi hanya dengan dua cara: lebih bersabar dan lebih banyak beribadah. Belanja dengan hati artinya belanja dengan penuh kesabaran: sabar merencanakan, sabar memilih, sabar menawar, dan sabar pula memutuskan. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar