|
MENDEKATI Lebaran, pikiran saya selalu kembali ke masa
kecil, suasana begitu terasa, terutama melihat kesibukan ibunda di dapur. Saya
betah menemani seharian, melihat keringatnya bercucuran dan mulutnya
berkalikali meniup kayu bakar supaya apinya terus membesar. Meskipun kelelahan
terlihat jelas di wajahnya, semangat menyambut Lebaran membuatnya seperti tak
merasa lelah.
Saya membantu meringankan kerjanya dengan hanya membuat
selongsong ketupat. Aroma rendang daging dan sambel goreng ati membuat saya
enggan berpindah tempat. Ibu saya harus bekerja keras memasak jenisjenis
makanan yang sangat mewah dibandingkan makanan sehari-hari. Namun, kami,
anakanak, harus menelan air liur karena hanya sedikit makanan yang dimasak ibu
itu disisakan untuk kami. Sebagian besar dibagi-bagikan.
Kami harus puas memakan makanan dari tetangga dan saudara.
Tradisi berbagi makanan, tak hanya ada di daerah saya, Purwakarta, salah satu
kabupaten di Jawa Barat bagian utara. Tradisi itu ada di seluruh daerah di
Indonesia, sebuah transaksi sosial yang harus dijaga karena berefek positif
menjaga kondusivitas umat, mencegah konflik dan memberikan peluang bagi yang
kurang mampu menikmati Lebaran seperti muslim yang lebih mampu.
Inflasi Tinggi Lebaran adalah hari berbagi, bersilaturahmi,
dan berunjuk prestasi. Itulah yang membuat hari pada bulan Ramadan dan hari
Lebaran menjadi hari-hari penuh transaksi, pasar penuh sesak dan sedikit
terjadi turbulensi ekonomi. Ada Lebaran yang nyaman, namun tidak jarang membuat
kita gusar, seperti Lebaran tahun ini. Biro Pusat Statistik baru saja
mengumumkan tingkat inflasi Juli mencapai 3,2%, tertinggi sejak krisis ekonomi.
Luar biasa dan sangat mustahil jika melihat kinerja ekonomi selama ini.
Namun, tanda-tanda inflasi akan tinggi sudah bisa diduga
tanpa harus kita menjadi seorang ahli. Kenaikan bahan bakar minyak yang
diputuskan menjelang Ramadan dan Lebaran serta ketidakstabilan keseimbangan
pangan memasuki bulan puasa menjadi pendorong naiknya harga bahan pangan.
Keputusan Kementan menurunkan kuota impor daging sapi tahun
ini dari 31% menjadi tinggal 18% ikut menyumbang ketidakstabilan harga pangan
yang berimbas pada harga komoditas lain. Pemerintah telah membuka pintu impor
selebar-lebarnya untuk menekan harga daging, tapi kebijakan itu agak terlambat.
Harga sudah bergerak naik, konsumen tidak bisa menghentikan
belanjanya karena Lebaran memang harus mereka sambut dengan tradisi yang telah
dilakukan selama ini, belanja dan terus belanja. Sewaktu saya kecil,
Lebaran
adalah kemewahan, dan berkesan diadakan-diadakan. Setinggi apa pun tingkat
inflasi, semahal apa pun harga daging sapi, wajib hukumnya bagi ibu untuk
membeli dan menyajikan, tidak bisa mengganti dengan produk substitusi.
Pasar pun tetap ramai meskipun menurut teori naiknya
inflasi akan menurunkan daya beli. Lebaran membuat kita tidak lagi rasional,
sesuatu yang harus kita habiskan, belanja sesuka hati, untuk menyambut hari
yang fitri. Tidak heran, menjelang Idul Fitri pencurian menjadi lebih sering
diberitakan. Karena itu, saat inflasi tinggi, saya menyebutnya belanjalah
dengan hati, bukan sesuka hati, tanpa harus meninggalkan ’’kemewahan’’ yang
harus kita sajikan pada hari Lebaran, tanpa harus mengurangi silaturahmi dan
juga keinginan berbagi.
Saat hati bicara maka kita akan mengerti keterbatasan yang
dihadapi dan mengerti apa yang harus dilakukan, mendorong kita lebih rasional
meskipun acap tereduksi oleh dorongan lingkungan. Dengan pikiran rasional, kita
bisa mengambil langkah lebih strategis, lebih efektif, dan lebih efisien. Hal
yang acap membuat kita tak terkendali adalah ketika datang ke pasar tanpa
catatan atau tanpa perencanaan matang. Ibu-ibu memang bukan ekonom, bukan pula
pialang, yang sibuk melihat catatan di komputer dan sibuk membanding-bandingkan
harga. Ibu-ibu lebih mengandalkan daya ingat dan kepasrahan pada situasi.
Memaklumi Ibu-ibu bahkan selalu ’’memaklumi’’ kenaikan
harga menjelang Lebaran, seperti halnya pedagang yang ’’memahami’’ Lebaran
sebagai momen menangguk keuntungan berlebih. Tips berbelanja menjelang Lebaran
adalah setelah mempersiapkan catatan, tentukanlah waktu dan pasar yang tepat
untuk berbelanja. Jangan tergoda iming-iming diskon. Belanja di pasar
tradisional lebih baik jika kita tahu waktu yang tepat karena harga di tempat
itu selalu berubah-ubah.
Jangan belanja pada jam-jam sibuk, belanjalah selepas siang
hari karena pembeli mulai berkurang dan pedagang pun sudah tak lagi jual mahal.
Para pedagang mulai berpikir untuk cepat menghabiskan stok sehingga mereka pun
siap menjual barang dengan harga ’’asal kembali modal’’. Jangan pernah membeli
melebihi yang kita butuhkan dan jangan pula membeli barang yang tidak kita
butuhkan.
Ramadan memang bulan ujian maka seperti diperintahkan Allah
SWT dalam Alquran, manusia harus menghadapi hanya dengan dua cara: lebih
bersabar dan lebih banyak beribadah. Belanja dengan hati artinya belanja dengan
penuh kesabaran: sabar merencanakan, sabar memilih, sabar menawar, dan sabar
pula memutuskan. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar