Jumat, 07 Juni 2013

Masihkah Papua Menjadi Bagian NKRI

Masihkah Papua Menjadi Bagian NKRI
Benny Susetyo ;   Pemerhati Sosial
SINAR HARAPAN, 05 Juni 2013


Lima puluh tahun Papua bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lima puluh tahun pula rakyat Papua terus menderita. Berbagai kebijakan pusat tidak sampai ke daerah, hanya dinikmati segelintir elite Jakarta dan Papua. Permintaan dialog pun tidak pernah ditanggapi pemerintah pusat.

“Kami tidak mengerti, kenapa pemerintah pusat takut melakukan dialog dengan rakyat Papua? Ada apa?” kata Wakil Ketua DPR Papua Barat, Jimmy Demianus Ijie dalam diskusi di Press Room DPR, Jakarta, beberapa waktu lalu. Jimmy Demianus Ijie mengatakan, masalah Papua harus diselesaikan dengan dialog. Tapi, yang menjadi pertanyaan selama ini kenapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum pernah mau berdialog dengan rakyat Papua?

Persoalan lain selama menjadi masalah saudara kita di Papua adalah masalah kekerasan sering merusak kerukunan hidup dan bahkan bisa mengancam keutuhan NKRI. Komitmen untuk menyelesaikan masalah di Papua melalui dialog terbuka antara pemerintah pusat dengan masyarakat Papua perlu diintensifkan.
Semua dilakukan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara demokratis, modern, dan beradab, serta menjadikan Papua sebagai Tanah Damai. Selain itu, perlu dikembangkan sikap saling percaya antara pemerintah Indonesia dan orang asli Papua.

Sedini mungkin perlu dilakukan identifikasi terhadap masalah yang menghambat terwujudnya Papua Tanah Damai. Jadi, perlu suatu gerakan bersama dalam menyelesaikan konflik horizontal dan vertikal di Tanah Papua demi mewujudkan Papua Tanah Damai.

Keadilan untuk Papua

Kekerasan yang terjadi di bumi Papua belakangan ini menunjukkan tiadanya perubahan dalam cara memperlakukan rakyat negeri ini. Amat mengherankan karena kekerasan selalu menjadi pilihan utama (sejak Orde Baru hingga kini) khususnya untuk menghadapi saudara-saudara kita di Bumi Cendrawasih.
Tragedi demi tragedi terjadi tanpa ada kesudahan dan penyelesaian yang jelas. Aksi kekerasan yang dilakukan aparat makin memperpanjang deretan luka yang dialami rakyat Papua.

Watak represi negara dipraktikkan dengan mengabaikan segala pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Negara begitu semena-mena dan mengabaikan seluruh pendekatan kecuali kekerasan. Bahkan, nyaris tak terhitung berapa banyak pelanggaran HAM yang sudah terjadi di sana.

Jelas bahwa peristiwa ini menimbulkan rasa ketakutan dan kekhawatiran yang dialami semua pihak baik masyarakat di sekitar tempat kejadian maupun di wilayah Jayapura dan Papua umumnya. Bukan hanya itu, karena juga terjadi pelanggaran hak milik sebab setiap peristiwa selalu menyebabkan kehancuran harta benda.

Peristiwa seperti demikian mengingatkan pada rentetan peristiwa kekerasan lain sebelumnya di tanah Papua. Semua terjadi di tengah deru eksploitasi besar-besaran sumber alam dari tanah tumpah darah mereka.
Di tengah isu kemiskinan dan ketidakdilan, mereka tersandera oleh isu nasionalisme. Bagaimana sesungguhnya konsep visi kebangsaan Indonesia? Max Lane dalam “Bangsa yang Belum Selesai” menyatakan perlunya menimba kembali kekuatan dan pertarungan ide dan pikiran dalam menyelesaikan pembangunan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Kedaulatan politik memang sudah ada di tangan bangsa ini sejak merdeka setengah abad lebih lalu, tapi nation building memerlukan dinamika baru secara dinamis.

Mempertimbangkan segi dinamika politik, kerumitan, pluralitas sekaligus kekhususan Indonesia sebagai bangsa ”yang belum selesai” justru lahir pertanyaan, haruskah kita memang mengarah pada suatu garis akhir kebangsaan sekaligus mengabaikan diri pada semua gejolak yang timbul di dalamnya serta melihatnya sebagai semata-mata ancaman?

Dinamika politik kebangsaan tak lepas dari berbagai gejolak, namun bila gejolak itu dilihat semata-mata ancaman, bukan tak mungkin cara pandang kebangsaan ini tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Orba.

Jauh lebih penting membicarakan Indonesia sebagai bangsa adalah bagaimana seharusnya cara pandang kita melihatnya.

Kita berpengalaman saat melihat Indonesia dengan mata buta nasionalisme memperlakukan paham kebangsaan ini layaknya agama. Yang terjadi adalah kekerasan dan penistaan nilai-nilai kemanusiaan. Papua adalah wilayah yang teramat sering menjadi korban keberingasan tangan berdarah atas nama nasionalisme ini.

Nasionalisme yang dipahami sebagaimana agama hanya akan menghasilkan sikap kebangsaan yang picik, yang selalu melihat perbedaan sebagai musuh. Bila memang NKRI adalah konsep utama kebangsaan ini, bagaimana menegakkannya dengan landasan keadilan. Nasionalisme yang telah mengubah dirinya menjadi “agama baru” akan melahirkan imajinasi kaum nasionalis hampir sama persis dengan bagaimana saat dirinya membayangkan agama yang dia peluk.

Konsekuensinya mereka harus menjaganya dari serangan musuh yang mencoba mengganggunya. Nasionalisme diperlakukan dengan segala macam cara termasuk yang paling utama adalah kekerasan, agar ia tak roboh.

Upaya nation building selama ini justru menghadapi masalah pelik atas sikap-sikap elite yang sering tak menghargai jasa para pahlawan merebut Indonesia dari penjajah. Tidak jarang mereka membunuhi rakyatnya sendiri karena dianggap melawan dan bertentangan dengan pandangan elite.

Berikan Keadilan

Kita harus membaca persoalan Papua ini dengan searif-arifnya. Kiranya kita perlu bercermin dalam diri sendiri, mengapa warga Papua dari dulu hingga kini ––yang tercipta dari waktu yang sama dan juga ikut berjuang untuk menegakkan bumi pertiwi— belum sejahtera padahal kekayaan alamnya sangat melimpah.
Kita memang harus bertanya sejauh mana Indonesia memberikan kontribusi bagi Papua? Kekayaan alam yang begitu melimpah justru tidak membuat rakyatnya mendapatkan kesejahteraan.

Realitas seperti ini akan mengajak kita bersama berpikir ulang, di manakah tanggung jawab Republik ini agar kita bersama-sama merasakan penderitaan kemiskinan rakyat Papua. Harus diakui itu adalah bagian dari kesalahan kita sebagai bangsa yang selama ini tidak pernah memiliki perhatian serius terhadap Papua.
Kebijakan elite politik Jakarta yang hanya berorientasi sekadar menguras kekayaan mereka adalah kesalahan terbesar kita dalam mengelola suatu bangsa. Keadilan belum pernah menjadi pijakan dalam pengambilan kebijakan pemerintah.

Karena itu saat ini yang lebih urgen adalah bagaimana pemerintah lebih proaktif untuk mendekati warga Papua dengan memberikan bukti yang nyata bahwa rakyat Papua adalah bagian terpenting Republik Indonesia. Rakyat Papua berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam segala hal, terutama dalam mengelola sumber daya alamnya.

Otonomi pengelolaan sumber daya alam ini akan bermanfaat besar bagi warga Papua bila ada kemauan politik ke sana.

Pemerintah harus mengoreksi kebijakan yang tidak memberikan kesempatan kepada rakyat Papua untuk memperoleh akses dalam ikut serta mengelola sumber daya alam. Rakyat Papua hanya bisa menjadi “Indonesia”, bila politik Jakarta berorientasi untuk memanusiakan warga Papua.

Pendekatan kekerasan jelas harus ditanggalkan dan dibuang jauh-jauh. Pendekatan kekerasan harus digantikan dengan budaya dialog lewat usaha mencerdaskan kehidupan masyarakat Papua.
Perubahan orientasi inilah yang sebenarnya diharapkan rakyat Papua agar Jakarta memahami bahwa selama ini mereka kurang dimanusiakan. Dibutuhkan sebuah tata ekonomi baru di mana sumber alam harus digunakan untuk kemakmuran bagi penduduk pemiliknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar