Minggu, 23 Juni 2013

Jakarta dan Hutan Mangrove

Jakarta dan Hutan Mangrove
Nyoto Santoso ;   Staf pengajar Fakultas Kehutanan IPB, Bogor
SUARA KARYA, 22 Juni 2013


Macet dan banjir - seperti halnya Gubernur Jokowi - sudah menjadi media darling di Jakarta. Kedua isu ini sangat seksi untuk jadi bahan obrolan sehari-hari karena dampaknya langsung terasa. Namun, kalau digali lebih dalam, masalah hutan mangrove dan permasalahan yang terkait dengannya, tidak kalah "seksi" untuk jadi isu menarik di Jakarta, karena dampaknya juga bisa dirasakan langsung. Kenapa?

Pertama, karena Jakarta adalah ibu kota negeri yang mempunyai hutan mangrove terbesar di dunia. Sekitar 75 persen hutan mangrove yang ada di dunia berada di Indonesia. Dengan demikian, Jakarta mestinya bisa menjadi "etalase" keberadaan mangrove di dunia. Sebagai negeri bahari tropis dengan panjang pantai terbesar ketiga di dunia, mestinya Jakarta bisa menjadikan mangrove sebagai icon Jakarta.

Di Indonesia, mangrove tumbuh di mana-mana, mulai dari pantai sampai menjorok ke daratan sekitar pantai yang jauhnya ratusan meter bahkan ribuan meter dari pantai. Nama Warakas di Utara Jakarta dan Bintaro di Selatan Jakarta yang kini telah menjadi daerah pemukiman padat, sebetulnya merupakan salah satu nama spesies mangrove.

Kedua, Jakarta yang pantainya sangat tercemar karena limbah industri dan rumah tangga, sangat membutuhkan hutan mangrove. Saat ini akibat banyaknya limbah yang masuk ke Teluk Jakarta melalui sungai, selokan, dan lain-lain (sengaja membuang limbah ke laut dengan berbagai cara), tingkat pencemaran di pantai Jakarta sudah sangat tinggi. Polutan logam berat, pestisida, dan bahan beracun lain di Jakarta, kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Kadar logam berat, khususnya merkuri yang amat berbahaya dan pestisida jenis organoklor, bahan obat nyamuk semprot yang mengakibatkan kerusakan saraf, metabolisme, dan kanker di Jakarta sudah sangat tinggi, masing-masing sekitar 9 dan 13 ppb (part perbillion). Padahal, berdasarkan ketentuan Kemenkes dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), kedua bahan polutan berbahaya ini batas yang bisa ditolerir hanya 0,5 ppb. Ini artinya, kadar kedua polutan berbahaya ini sudah 18-26 kali dari batas toleransinya sehingga polusi air laut di Jakarta sudah amat parah. Semua kondisi itu, akan bisa dikurangi bila hutan mangrove di pantai utara Jakarta tumbuh dengan baik di mana-mana - bukan sekadar di Muara Angke dan beberapa titik di pantai utara yang jumlah luasannya tidak signifikan.

Keberadaan hutan mangrove yang khas, akan bisa mengurangi pencemaran pantai Jakarta yang berakibat pula terhadap kurangnya kandungan logam berat dan pestisida pada ikan, kerang, dan udang asal Teluk Jakarta. Dengan demikian, bila hutan mangrove di pantai utara diperbaiki dan diperluas, maka penduduk Jakarta tidak perlu ragu-ragu lagi menyantap ikan, udang, dan kerang yang berasal dari nelayan Cilincing dan Muara Karang.

Ketiga, hutan mangove mencegah intrusi air laut ke daratan DKI. Saat ini, intrusi air laut ini sudah mencapai puluhan kilometer ke daratan Jakata. Wilayah sekitar Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman, misalnya, kini sudah terintrusi air laut. Intrusi air laut ini tidak hanya menyebabkan air tanah menjadi asin sehingga tidak layak minum, tapi juga merusak fondasi bangunan pencakar langit yang mempunyai tiang pancang sangat dalam (puluhan meter dari permukaan tanah). Air laut tersebut bisa merusak besi-besi beton tiang pancang yang selanjutnya menjadikan tiang pancang kropos dan membuat bangunan ambruk. Untuk mengatasi hal itu, Gubernur DKI harus melakukan mangrovisasi secara serius guna mengatasi intrusi air laut tersebut.

Keempat, pohon mangrove mampu menyerap karbon dioksida (gas asam arang, yang selanjutnya disebut karbon) dan menghasilkan gas oksigen (gas asam) dua kali lipat dibandingkan pohon lain. Ini artinya, bila suatu daerah mempunyai hutan mangrove yang luas, maka suhu udara makin sejuk dan udara makin sehat. Dalam kondisi suhu yang terus memanas di Jakarta akibat makin banyaknya kendaraan bermotor yang mengeluarkan karbon, keberadaan hutan mangrove bisa menjadi solusi yang murah dan indah. Kenapa?

Hutan mangrove yang hijau akan menyebarkan semilir angin yang sejuk karena mampu mengeluarkan gas oksigen yang besar, yang amat dibutuhkan penduduk Jakarta. Dengan memperluas hutan mangrove, suhu udara kota Jakarta pun akan makin sejuk. Bila hal itu terjadi, maka lokasi hutan mangrove akan menjadi tempat wisata favorit karena menyehatkan. Joging dan santai di hutan mangrove di pantai utara, misalnya, jauh lebih sehat ketimbang joging di hutan taman kota di Menteng atau Tebet.

Dari penelitian di Universitas Glasgow terhadap 2000 orang di Skotlandia yang joging dan olahraga di sekitar hutan menunjukkan, mereka lebih rileks dan berkurang depresinya. Menurut Profesor Richard Mitchell yang meneliti kasus di atas, santai dan olahraga di sekitar hutan tidak hanya menyehatkan paru-paru, tapi juga sangat efektif mengurangi stres dan depresi. Apalagi, santai dan olahraga di sekitar hutan mangrove, niscaya hasilnya lebih baik lagi untuk kesehatan. Profesor Mitchel berkata: "Ini menjadi pesan bagi dokter, perencana, dan pembuat kebijakan bahwa sangat penting menjaga, membangun, dan mempromosikan lingkungan hutan yang alami untuk menyehatkan warga kota."

Nah, tampaknya Gubernur Jokowi perlu memperhatikan keberadaan dan sekaligus merestorasi hutan mangrove di pantai utara DKI yang kini kondisinya jauh dari harapan. Dari sisi nilai ekonomi yang berkaitan dengan pengobatan stres, kesehatan paru-paru, kerusakan kulit akibat sengatan panas, keselamatan gedung-gedung akibat intrusi air laut, dan keindahan kota maka program mangrovisasi pantai utara Jakarta merupakan keniscayaan. Jika terlaksana, niscaya Jakarta akan menjadi kota mangrove. Dan, ini penting untuk etalase yang menggambarkan bahwa Jakarta adalah ibu kota negeri yang mempunyai hutan mangrove terluas di dunia. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar