Indonesia
Tanpa FPI
Evie Rahmawati, STAF PROGRAM LEMBAGA STUDI AGAMA DAN
FILSAFAT (LSAF)
JARINGAN ISLAM LIBERAL (JIL)
Sumber : JIL, 13 Februari 2012
Adalah kabar baik ketika Sabtu 11 Februari
lalu masyarakat adat suku Dayak menegaskan sikapnya menolak kehadiran FPI di
Bandar Udara Cilik Riwut, Palangkaraya. Mengapa kabar baik? Ini tidak berarti
pihak-pihak yang selama ini dibuat gerah oleh satu kelompok kecil yang kerap
melakukan tindakan anarkis dalam aksi-aksinya hendak merayakan sedikit
kemenangan para pejuang pluralisme. Juga bukan berarti kita melanggar kebebasan
suatu kelompok masyarakat dalam berserikat. Tetapi, ini berdasar pada kebutuhan
mutlak manusia: kebebasan dari tekanan.
Adalah kabar baik ketika Sabtu 11 Februari
lalu masyarakat adat suku Dayak menegaskan sikapnya menolak kehadiran FPI di
Bandar Udara Cilik Riwut, Palangkaraya. Mengapa kabar baik? Ini tidak berarti
pihak-pihak yang selama ini dibuat gerah oleh satu kelompok kecil yang kerap
melakukan tindakan anarkis dalam aksi-aksinya hendak merayakan sedikit
kemenangan para pejuang pluralisme. Juga bukan berarti kita melanggar kebebasan
suatu kelompok masyarakat dalam berserikat. Tetapi, ini berdasar pada kebutuhan
mutlak manusia: kebebasan dari tekanan.
Memang benar, adalah hak setiap individu
untuk berekspresi dan berserikat, termasuk individu yang terwadahi dalam FPI.
Namun tengok kembali aksi-aksi melawan hukum yang dilakukan FPI (rangkaian
ancaman serta tindak kekerasan terhadap gereja dan jemaatnya, Ahmadiyah,
Komunitas Lia Eden, pers, orientasi seksual yang berbeda, tempat-tempat
hiburan, warung makan kecil di bulan Ramadlan, Tragedi Monas, perusakan gedung
Kementerian Dalam Negeri, dll.) Bukankah melanggar hak asasi warga negara
lainnya manakala mereka terus melakukan kekerasan keji dalam setiap aksinya?
Apalagi seraya tangan mereka menghunus senjata tajam, pekik Allahu Akbar
dimanipulasi sebagai perisai untuk menyatakan bahwa kekerasan yang mereka
lakukan atas persetujuan Tuhan. Ironis, bukan?
Karenanya, aksi penolakan yang dilakukan
masyarakat adat Dayak di Palangkaraya pun menginspirasi warga negara lainnya
untuk melakukan keberanian serupa dalam menanggapi arogansi FPI atau milisi
sipil lainnya yang gemar melakukan tindakan kekerasan atas nama apapun.
Di Jakarta, Minggu sore, 12 Februari 2012,
puluhan individu dari berbagai latar belakang yang terinspirasi aksi masyarakat
Dayak di Palangkaraya mengadakan pertemuan yang mendiskusikan pentingnya
menyatukan semangat dalam menolak eksistensi FPI sebagai entitas masyarakat
yang secara sistematis kerap melakukan kekerasan dalam aksi-aksinya. Berawal
dari sebaran undangan melalui twitter, Tunggal Pawestri, salah seorang aktivis
yang memiliki inisiatif mengadakan pertemuan tersebut, tidak menduga kalau
banyak yang datang dalam acara yang digelar di Bakoel Koffie, Cikini. Beberapa
nama seperti George Junus Aditjondro, Marco Kusumawijaya, M. Guntur Romli,
Mariana Amirudin, dan aktivis lainnya ikut memenuhi ruangan. Begitupun salah
seorang dokter dari perwakilan masyarakat adat Dayak yang tinggal di Jakarta
dan seorang mahasiswa yang mengaku telah begitu muak dengan aksi-aksi kekerasan
FPI, hadir dalam diskusi itu. Ini menjadi bukti, betapa masyarakat Jakarta,
bukan hanya aktivis kemanusiaan semata melainkan dari berbagai unsur
masyarakat, cukup terganggu dengan kehadiran FPI di Indonesia.
Pada kesempatan yang dibangun dalam suasana
yang karib tersebut, seorang peserta menyatakan bahwa banyak alasan mengapa FPI
pantas ditolak. Di samping aksi-aksi kekerasannya, alasan yang lebih
fundamental adalah karena FPI memperlihatkan penolakannya terhadap perbedaan
melalui aksi-aksi mereka yang ditujukan terhadap kalangan minoritas. Pantaskah
selalu ingin menang sendiri dengan memamerkan kekerasan di tengah-tengah
masyarakat kita yang begitu majemuk? Alasan lain, sudah saatnya media
mengabarkan pada masyarakat luas bahwa tidak sedikit kelompok masyarakat yang
jengah dengan kehadiran FPI yang memanipulasi jubah putih dan sorbannya itu
menjadi simbol mereka.
Mengenai simbol, menurut penuturan peserta
lainnya, yakni seorang perempuan yang dibesarkan di daerah Petamburan (dekat
markas FPI), merasa perlu sekali sosialisasi terus-menerus perihal bahaya
premanisme FPI. Artinya, masyarakat kita yang masih begitu khidmat mematuhi
simbol-simbol, jangan sampai tertipu oleh pakaian yang dikenakan FPI.
Sebagaimana telah dimafhumi, di Indonesia jubah dan sorban putih merupakan
simbol kesalehan, identik dengan Islam. Jadilah simbol tersebut dimanfaatkan
FPI untuk menyembunyikan wajah aslinya. Sehingga, lanjutnya, sedemikian brutal
kelompok ini melakukan kekerasan dan pengrusakan, namun masyarakat kerap diam
bahkan ironisnya ada yang menyetujui tindakan FPI yang selalu mengatasnamakan
agama itu.
Pada titik inilah tantangan terbesar adalah penyadaran terhadap masyarakat
perihal wajah asli FPI yang tiada lain hanyalah titisan Ares Sang Dewa
peperangan.
Lalu, dokter Tata, perwakilan masyarakat adat
Dayak, tampak antusias menjelaskan mengapa keberanian mengemuka dari
masyarakatnya. Di Palangkaraya, aksi yang patut dicontoh tersebut tidak akan
terjadi tanpa dukungan dari semua elemen masyarakat, termasuk pemerintahan
setempat. Berkat kerjasama yang solid antara masyarakat dan elemen
pemerintahan, yang sama-sama sadar akan bahaya pengaruh anarkisme FPI, aksi
tersebut kemudian mencuat. Karena itu, kesadaran dan solidaritas antarelemen
masyarakat itulah yang perlu dicontoh masyarakat Jakarta khususnya, dan
masyarakat di berbagai daerah pada umumnya. Menurutnya, sebenarnya penolakan
FPI juga telah disuarakan di daerah Kalimantan lainnya.
Sementara, sambil mengutip sebuah hasil riset
yang menyatakan bahwa di tahun 2015 mendatang Indonesia akan didominasi oleh
kalangan muda, Marco Kusumawijaya merasa yakin perlu mengorganisir para pemuda
untuk terlibat dalam aksi penolakan FPI ini. Pemuda adalah tonggak bangsa yang
sudah semestinya menjadi garda depan dalam menyuarakan kebebasan dan
keharmonisan Indonesia yang kerap diaduk-aduk FPI.
Yang cukup menggembirakan para peserta, pada kesempatan itu dihadiri banyak kalangan pemuda yang bersemangat menyimak bahkan berpartisipasi di dalamnya.
Yang cukup menggembirakan para peserta, pada kesempatan itu dihadiri banyak kalangan pemuda yang bersemangat menyimak bahkan berpartisipasi di dalamnya.
Pelbagai alasan di atas dan pertimbangan
lainnya yang muncul dalam pertemuan itu, lantas pada sekitar pukul 17.00 WIB
disepakati kelahiran “Gerakan Indonesia Tanpa FPI.” Gerakan ini memiliki satu
visi: penolakan terhadap kekerasan atas nama apapun. Tugas pertama yang ingin
diembannya adalah menolak secara tegas keberadaan FPI di Indonesia. Pernyataan
sikap berupa petisi dan press release mengenai penolakan ini menjadi prakondisi
yang akan ditempuh gerakan ini. Petisi akan diajukan di antaranya kepada
Kemendagri, Kemenkumham, Polri dan kelompok FPI itu sendiri. Di samping itu,
gerakan ini pun akan memanfaatkan momentum Valentine’s day (yang diharamkan
FPI) sebagai hari di mana aksi penolakan terhadap FPI akan dilakukan secara
massif di Jakarta.
Jadi, bagi Anda yang merasa bahwa tindakan
kekerasan dalam bentuk dan atas nama apapun harus ditentang, tidak ada salahnya
menyempatkan diri bergabung dalam aksi tersebut pada Selasa besok, 14 Februari
2012. Salam perdamaian. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar