Jumat, 09 Juli 2021

 

Mitigasi Pandemi

A Prasetyantoko ;  Rektor Unika Atma Jaya

KOMPAS, 29 Juni 2021

 

 

                                                           

Di bawah langit, tak ada yang sepenuhnya baru. Sejarah selalu berulang, paling tidak ada pola serupa. Belum lama ini, tim peneliti Universitas Zurich dan Toronto mengungkap kemiripan kesalahan dalam merespons pandemi Flu Spanyol 1918 dan Covid-19.

 

Kelambatan reaksi serta pendekatan terdesentralisasi membuat pandemi semakin panjang dan fatal. Sejarah juga mencatat gelombang kedua Flu Spanyol cenderung lebih ganas akibat mutasi penyakit serta kendurnya disiplin warga.

 

Penambahan kasus baru Covid-19 di atas 20.000 dalam sehari akhir-akhir ini sangat merisaukan. Rumah Sakit tak lagi bisa menampung pasien, pasokan oksigen terbatas, korban jiwa pun bertambah drastis. Banyak pihak khawatir kita akan mengalami tragedi seperti India. Desakan berbagai pihak agar pemerintah mengambil sikap lebih tegas pembatasan sosial meningkat.

 

Situasinya sangat dilematis. Di satu sisi momentum pemulihan ekonomi perlu dijaga, tetapi di sisi lain, korban harus diminimalkan. Jika dilakukan pembatasan sosial lebih ketat, pemulihan ekonomi di triwulan kedua tahun ini akan kembali turun di triwulan ketiga. Target pertumbuhan 4 persen tahun ini pun bisa jadi sulit dicapai.

 

Jika pemulihan tidak segera terjadi, sementara beban fiskal semakin meningkat dan rasio hutang semakin tinggi tentu akan menaikkan profil risiko kita. Defisit fiskal 2020 sebesar 6,1 persen diharapkan turun menjadi 5,7 persen pada 2021 dan 4,5 persen pada 2022 sebelum kembali di bawah 3 persen pada 2023 sebagaimana diamanatkan undang-undang. Untuk mencapai target tersebut, momentum pertumbuhan harus dijaga. Apalagi, situasi global akan lebih menantang ketika suku bunga The Fed mulai dinaikkan akibat naiknya inflasi.

 

Gelombang Kedua

 

Pola penyebaran pandemi Covid-19 yang berbeda di setiap negara ditentukan oleh berbagai faktor. Amerika Serikat yang pada pertengahan Januari 2021 memecahkan rekor tertinggi pertambahan kasus harian sebanyak 250.000, pada akhir Juni sudah turun drastis menjadi sekitar 10.000 kasus sehari. Pergantian presiden dan kebijakan vaksinasi massal yang didukung stimulus fiskal sangat besar menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian pandemi.

 

Di Indonesia pada awal Februari lalu terjadi gelombang pertama dengan tambahan kasus sekitar 12.000 sehari. Setelah itu cenderung melandai. Pada akhir Juni ini kasusnya meningkat tajam di atas 20.000 sehari. Banyak pihak khawatir, kita akan mengalami pola seperti India, di mana pada gelombang kedua penambahan kasusnya melonjak empat kali lipat. India mengalami gelombang pertama pada pertengahan September dengan tambahan kasus tertinggi harian 93.000. Pada gelombang kedua awal Mei, penambahan kasus baru di India hampir 400.000 dalam sehari.

 

Ada beberapa faktor yang membuat gelombang kedua melonjak tinggi di India, di antaranya pelaksanaan pemilu daerah, perayaan keagamaan, dan keengganan pemerintah pusat bersikap tegas. Selain itu, mutasi virus Delta yang lebih cepat menyebar serta lebih ganas juga menjadi faktor lainnya. Ada kemiripan pola serangan virus Covid-19 di Indonesia dan India, bukan hanya varian mutasi virusnya, melainkan juga konteks sosial politiknya.

 

Muncul desakan dari berbagai pihak agar pemerintah pusat mengambil peran lebih kuat untuk membatasi mobilitas sosial. Pemerintah telah menerapkan pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2021. Pemerintah menegaskan belum perlu melakukan pengetatan berskala besar karena selain biayanya mahal, aturan pembatasan dianggap tidak efektif karena kuncinya pada pelaksanaan kebijakan tersebut.

 

Disiplin masyarakat memang jadi kunci, tetapi disiplin masyarakat bisa dibentuk melalui kebijakan. Pemerintah memiliki wewenang memaksa agar warga membatasi mobilitas sosialnya melalui kebijakan yang diambil.

 

Data Google Mobility Trends menunjukkan, menyusul merebaknya pandemi pada April 2020, aktivitas masyarakat memang turun tajam. Seiring berjalannya waktu mobilitas sosial cenderung naik dan relatif cepat kembali pada fase sebelum pandemi. Aktivitas belanja eceran dan rekreasi sempat mengalami penurunan 45 persen pada bulan April 2020, tetapi pada akhir Juni sudah lebih tinggi dibanding masa di awal pandemi.

 

Sebagai perbandingan, India mengalami penurunan aktivitas serupa hingga 85 persen di awal pandemi, lalu mulai naik dan kembali turun sebesar 65 persen begitu terjadi peningkatan kasus. Pola serupa terjadi pada aktivitas lain di luar ruangan lain, seperti aktivitas di taman dan di area transit.

 

Di India, sepertinya mobilitas sosial lebih ketat dibandingkan dengan kita. Selain itu, mobilitas sosial kita cenderung lebih cepat menuju fase normal atau situasi seperti di awal pandemi. Data mobilitas sosial di luar ruangan bisa menjadi indikator dini tingkat kedisiplinan masyarakat menghadapi pandemi. Tampaknya India masih lebih disiplin daripada kita dalam hal mobilitas sosial.

 

Selain membatasi mobilitas sosial, pilihan yang bisa diambil dalam mitigasi pandemi adalah meningkatkan tes serta tingkat vaksinasi. Meski sudah terjadi peningkatan jumlah tes harian, pada 20 Juni tingkat tes baru mencapai 0,26 per 1.000 penduduk. Bandingkan dengan India yang pernah mencapai 2,2 sewaktu kasusnya memuncak, sementara Amerika Serikat pernah mencapai 5,7 per seribu penduduk. Semakin tinggi tingkat tes, semakin baik memitigasi penyebaran virus.

 

Begitu pula kemampuan melakukan vaksinasi harian bisa menjadi faktor penentu mitigasi pandemi. Meski sudah terjadi peningkatan dari waktu ke waktu, tingkat vaksinasi per 100 penduduk masih tergolong rendah, yaitu sebesar 0,2. Bandingkan dengan India yang sudah mencapai 0,42 dan masih di bawah rerata global 0,53. Hingga 25 Juni, baru 9,11 persen penduduk Indonesia mendapat suntikan (pertama) vaksinasi dan baru 4,7 persen yang mendapat vaksinasi penuh. Bandingkan dengan India yang sudah mencapai 14 persen dan AS sebesar 53 persen.

 

Jika kemampuan melakukan tes, pelacakan, dan vaksinasi masih jauh dari kebutuhan mencapai kekebalan imunitas, pilihannya tinggal menekan mobilitas sosial.

 

Dampaknya, pertumbuhan 2021 akan termoderasi, sementara defisit fiskal mungkin masih akan membesar dan rasio utang akan cenderung tinggi. Dalam hal ini prinsip menyelamatkan kehidupan (life) terlebih dahulu, baru kesejahteraan (livelihood) layak dipertimbangkan. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar