Rabu, 23 Juni 2021

 

Perspektif Feminis Puisi Toeti Heraty

S Prasetyo Utomo ;  Sastrawan, Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes, Semarang

KOMPAS, 19 Juni 2021

 

 

                                                           

Saya tulis esai singkat ini setelah mendengar kabar Toeti Heraty meninggal. Lahir dari keluarga bertradisi serba eksakta, Toeti Heraty belajar kedokteran, pikologi, dan filsafat. Ia menemukan ekspresi pribadi dalam bentuk puisi dan esai di majalah Sastra, Horison, dan Budaya Jaya.

 

Ia mulai menulis puisi pada usia 33 tahun, pada saat ia sangat matang dalam mempertimbangkan kehidupan yang menjadi obsesi ide-ide kepenyairannya. Puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Jepang. Puisi-puisi doktor filsafat ini terdapat dalam Antropologie Biligue de la Poesie Indonesienne Contemporaine (1972) dan Contemporary Indonesian Poetry (1976).

 

Sebagai penyair kontemporer, betapa penting puisi-puisi Toeti Heraty dalam sejarah sastra Indonesia. Saya dapat melacak karya-karyanya dalam Laut Biru Langit Biru (1977) susunan Ajib Rosidi, Tonggak (1987) editor Linus Suryadi AG, dan Horison Sastra Indonesia 2: Kitab Puisi (2002) editor Taufiq Ismail.

 

Dalam Leksikon Susastra Indonesia (2000), Korrie Layun Rampan mencatat bahwa karya-karyanya meliputi Sajak-Sajak 33 (1973), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dan Budaya (1984), Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda (1986), Wanita Multidimensional (1980), Nostalgi=Transendensi (1990), Antologi Puisi Indonesia (1997), dan Sembilan Kerlip Cermin (2000).

 

Buku-buku yang lahir lebih kemudian di antaranya Pencarian Belum Selesai (2002), A Time, A Season (2003), Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2006), Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad 16 (2010), Encounters: The Poetry (2018), Poems (2018), dan Transendensi Feminin: Kesetaraan Gender Menurut Simone de Beauvoir (2019).

 

Dalam pandangan Subagio Sastrowardoyo, Toeti Heraty dikelompokkan pada penyair yang berani berdiri di luar mainstream persajakan modern Indonesia. Puisi-puisinya tidak memunculkan kelembutan suasana. Hal yang menjadi inspirasi sajak-sajak Toeti Heraty adalah kesadaran-kesadaran dan pengertian-pengertian, bukan peristiwa-peristiwa sesaat. Puisi-puisinya penuh dengan pengendapan pemikiran mengenai kearifan hidup, termasuk ideologi feminisme.

 

Penyair feminis

 

Membaca puisi Toeti Heraty yang berjudul Musim Gugur, saya dapat merasakan betapa kaum laki-laki menyubordinasikan perempuan. Saya merasakan penindasan seksual terhadap kaum perempuan, yang menuntut kesadaran akan kemuliaan tubuh, dan melakukan pembebasan terhadap dominasi laki-laki: ”tapi kehausan buas mencabik, mengerat/payudara, rambut dan selaput/peganglah erat/...”.

 

Sebagai penyair feminis, Toeti Heraty menampakkan perjuangan kaum perempuan dengan kata-kata lugas saat menyampaikan ideologi pembebasan terhadap kebuasan nafsu seksualitas lelaki, yang menuntut kaum perempuan untuk mempertahankan moralitas reproduksi: ”mestinya aku cukup tabah/untuk memotong kemabukan nafas, mencekik/kesintingan malam yang mengerang/rintihan karena badik yang mencabik-cabik/merah-jingga keseimbangan darah dan serat/ syaraf dan syahwat/...”.

 

Kesadaran akan dominasi kekuasaan patriarki dalam ruang sosial dan kekuasaan, serta kepemimpinan, telah memberinya sugesti untuk mencipta puisi Manifesto: ”aku tuntut kalian/ke pengadilan, tanpa fihak yang menghakimi/siapa tahu, suap-menyuap telah meluas/menjulang sampai ke Hakim Tertinggi/siapa jamin, ia tak berfihak sejak semula/karena dunia, pula semesta, pria yang punya//...”.

 

Masih dengan kata-kata lugas, bahasa sederhana, ia melancarkan pembebasannya pada dominasi kekuasaan patriarki yang membelenggu hukum, kehidupan dunia, bahkan semesta. Ideologi perlawanan terhadap kekuatan hukum dan kekuasaan patriarki itulah yang menyebabkan ia lebih memilih kata-kata lugas, bernas, tajam serupa anak panah yang menghunjam pada sasaran. Ia tak bersembunyi di balik stilistika dan imaji kepenyairannya.

 

Ia menggugat pandangan kaum patriarki terhadap dunia wanita atas stigma sosial, religiusitas, pelecehan dan pemujaan dalam seks, seni tradisi, dan norma: kemudian kau dekritkan: ”wanita itu pangkal dosa/sebungkah daging, segumpal emosi/ sekaligus imbesil dan bidadari/dilipat jari kaki, dikunci pangkal paha/dicadari, gerak-gerik dibebani menjadi/tari lemah-gemulai/ia tertunduk karena salah, gentar, patuh/mengecam diri//...”.

 

Dalam penciptaan Toeti Heraty, bahasa lebih tajam dari sekadar menyuarakan sugesti, tetapi kadang menjelma provokasi. Ia mengemas tuntutan-tuntutan pembebasannya terhadap dominasi patriarki hampir-hampir tanpa simbol. Bahkan mitos-mitos mengenai keluhuran dan kecantikan kaum perempuan pun dibongkar, didekonstruksi dalam puisi ”Wanita”.

 

Ia telah menggugat mitos-mitos yang melingkupi keluhuran kaum wanita dengan bahasa tanpa majas: ”wanita/berapalah kemesraan sepanjang umur/tiada berlimpah tiada mencukupi/ karena kau dengan tak acuh, tidak peduli/membawa pilu yang tak tersembuhkan dan/tak kausadari, tak kausadari//...”.

 

Lugas dan tajam

 

Puisi-puisi Toeti Heraty yang menyuarakan ideologi feminisme memang terasa lebih dominan memanfaatkan kata-kata lugas yang tajam. Ia memandang persoalan reproduksi sebagai sumber penindasan kaum perempuan. Ia juga bisa memandang bahwa reproduksi menunjukkan kekuasaan perempuan.

 

Dalam puisi ”Manifesto” ia menulis: ”dalam bencana akhirnya panggil ibu juga/tapi/demi anakku laki-laki/tuntutan aku tarik kembali/dan jadi penghianat– atau/memang karena sudah terlambat//...”.

 

Dalam larik-larik puisi itu, sebagai seorang feminis, Toeti Heraty dipengaruhi pandangan Simone de Beauvor, yang melihat penindasan perempuan dimulai dari reproduksi. Beban reproduksi yang ditanggung perempuan dan tanggung jawab membesarkan anak membuat perempuan mempunyai posisi tawar yang lemah terhadap laki-laki.

 

Ia melihat kaum wanita belum menanggalkan topeng, kedok, sandiwara yang diperankan dalam hidupnya. Dalam puisi ”Dua Wanita”, ia menyingkap kedok itu dengan satire: ”ah, sandiwara ini pun/sudah terlalu lama, bila/dua wanita bicara//...”.

 

Sebagai penyair feminis, Toeti Heraty tidak selalu melakukan pembebasan ideologi secara keras. Dalam catatan Ewith Bahar dikatakan, ia memiliki kelembutannya sendiri saat bersama keluarga. Ia sering memainkan piano di waktu senggang dan bercengkerama bersama cucu.

 

Keromantisan tetap terpancar dalam diri dan juga dalam puisinya, seperti ”Genewa Bulan Juli”. Dalam puisi ini, ia menciptakan empati, menyusupkan imaji, dan menghidupkan suasana batin pembaca. Ia juga bisa menyingkap hal-hal yang transenden, yang berkaitan dengan kematian dalam puisi ”Selesai”: ”suatu saat toh harus ditinggalkan/dunia yang itu-itu juga/api petualangan cinta telah pudar/bayang-bayang dalam mimpi, senyum tanpa/penyesalan kini/...”. ●

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar