Selasa, 06 Agustus 2013

Puasa dan Umat Terbaik

Puasa dan Umat Terbaik
Rokhmin Dahuri ;  Ketua Bidang Kelautan, Pertanian dan Kehutanan Dewan Pakar ICMI
          REPUBLIKA, 05 Agustus 2013

Di hari-hari terakhir Ramadhan 1434 H ini, sangat tepat bila umat Islam melakukan kon- templasi (muhasabah) tentang firman Allah yang artinya, 'Kalian umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah...'  (QS 3: 110). Penegasan Allah itu mengandung makna, bahwa umat Islam mestinya bukan hanya akan hidup bahagia di akhirat sebagai penghuni surga-Nya, tetapi juga baik (sukses dan bahagia) kehidupan dunianya (QS 2: 201).

Ironisnya, sejak tumbangnya khilafah Islam terakhir di Turki pada 1924 M, umat Islam di seluruh dunia pada umumnya menjadi terpuruk hampir di setiap bidang kehidupan. Dalam hal penguasaan dan inovasi iptek yang menjadi kunci kemajuan bangsa, tidak ada satu pun negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim yang termasuk dalam kelompok negara produsen teknologi (technology innovator countries). 

Saat ini, kelompok negara kampiun iptek baru beranggotakan 20 negara ter- masuk AS, Kanada, Jepang, negara-negara Eropa Barat, Australia, dan Korea Selatan. Satu tingkat di bawah kelompok negara elite itu adalah technology implementor countries, yakni kumpulan negara yang mampu mengaplikasikan teknologi tinggi dan baru melakukan inovasi. 

Sebagian besar negara yang selangkah lagi menjadi negara maju seperti Singapura, Malaysia, Cina, India, Iran, Turki, Qatar, Uni Emirat Arab, Brasil, Cile, dan Afrika Selatan. Di bawahnya lagi adalah kelompok negara yang hanya mampu sedikit mengadopsi teknologi, tetapi belum sampai pada tahap implementasi secara luas (technology adaptor countries). Yang mencemaskan, Indonesia sekarang menduduki peringkat ke-60 dari 63 negara yang masuk dalam kelompok ini. Jika tidak segera berbenah, Indonesia bisa terjerembab ke kelompok terbawah (technologically marginalized countries) yang terdiri atas negara-negara terbelakang di Asia, Afrika, dan Pasifik Selatan.

Di bidang ekonomi tak kalah memilukan, hingga saat ini belum ada satu pun negara Muslim yang masuk dalam kelompok negara industri maju nan kaya, yang tergabung dalam OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Kebanyakan negara Muslim masih menghadapi sejumlah masalah kehidupan yang elementer, seperti tinggi nya angka pengangguran dan kemiskinan, kelaparan, gizi buruk, dan konflik sosial. 

Kekuatan hankam negara-negara Muslim jauh tertinggal dari negara-negara industri maju. Hampir semua jaringan media massa dan informasi dikuasai oleh kelompok negara industri maju.

Akar masalah umat

Banyak faktor yang menyebabkan umat Islam terpuruk. Tetapi, inti masa- lahnya adalah karena sejak akhir masa keemasannya (634-1753 M) umat Islam tidak lagi melaksanakan Islam secara kaffah (keseluruhan) dan ittiba (menurut cara Rasulullah SAW). Dengan perkataan lain, umat Islam meninggalkan agamanya. Padahal, menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW bersabda, "Aku tinggalkan dua warisan, yakni Alquran dan hadis. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka ia tidak akan sesat selamanya."

Menurut para pendiri kapitalisme, seperti Adam Smith, David Ricardo, dan John M Keynes, bahwa lima etos kerja utama yang membuat bangsa Barat (kapitalis)
maju dan makmur adalah: (1) bekerja keras, (2) cinta ilmu, (3) gemar menabung, (4) disiplin, dan (5) taat hukum. Kebangkitan Cina sejak membuka hubungan internasionalnya pada 1979 dari isolasi politik tirai bambu, dilandasi oleh nilai-nilai konfusianisme yang juga memiliki lima karakter itu plus hormat kepada senior, orang tua (Zhu Rongji, 2003). 

Islam sejak 14 abad lalu telah mewajibkan atau setidaknya mensunahkan para pemeluknya untuk melaksanakan kelima etos kerja (akhlaq) tersebut. Begitu banyak ayat Alquran dan hadis yang menguraikan tentang kelima etos kerja itu beserta fadhilahnya (manfaat) bagi kehidupan manusia baik di dunia mau- pun akhirat. Sebut saja, surat perintah membaca (QS 96: 1). Islam juga sangat menganjurkan umat-Nya bekerja keras.

Semua ibadah dalam Islam tujuan utamanya adalah agar manusia taqwa kepada hukum Allah. Karena Allah yang menciptakan manusia dan alam semesta, maka hukum Allah pasti sesuai dengan fitrah manusia, adil, dan berlaku sepanjang masa tidak mengenal sekat geografi . Ibadah shaum Ramadhan diwajibkan kepada orang-orang beriman supaya kita taqwa kepada Allah. Demikian juga shalat, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya. Bertebaran pula ayat yang mendorong supaya manusia tidak boros dan menghormati dan santun kepada orang tua, para senior kita dalam koridor kebenaran.

Ketika umat Islam melaksanakan ajaran-Nya secara kaffah dan ittiba, sejak Rasulullah SAW beserta kaum Muhajirin hijrah dari Makkah ke Madinah hingga sebelum masa pencerahan Eropa (Revolusi Industri 1753 M), selama sebelas abad itu umat Islam berjaya, maju, dan sejahtera menguasai lebih dua per tiga wilayah dunia. Interaksi ekonomi, sosial, politik, dan budaya berjalan atas dasar persaudaraan karena Allah. 

Agama, keyakinan, jiwa, harta, dan hak-hak sipil warga non-Muslim dilindungi. Kehidupan sosial berjalan harmonis. Anak-anak yatim terpelihara, yang kaya membantu dan memberdayakan yang miskin, yang miskin tidak iri terhadap yang kaya dan bekerja sama dengan yang kaya dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Oleh sebab itu, di tengah kemunduran negara-negara kapitalis Barat, yang ditandai oleh penurunan daya saing serta krisis ekonomi Eropa dan AS berkepanjangan dan hingga kini belum diketahui kapan berakhirnya dan dengan semangat Ramadhan, semestinya umat Islam mulai sekarang semakin meningkatkan iman dan takwanya kepada Allah, termasuk melaksanakan Islam secara kaffah dan ittiba


Sebab, Allah berjanji, "jikalau penduduk suatu negeri beriman dan taqwa kepada Allah, maka Allah akan melimpahkan berkah (kemajuan dan kesejahteraan) yang datangya dari langit dan bumi..." (QS 7: 96). Dan, bagi insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar, rizki yang datangnya tidak disangka-sangka, kecukupan hidup, kemudahan, mengampuni kesalahannya, dan melipatgandakan pahala (QS 65: 2--5); menjadikannya berkuasa di bumi (QS 24: 55); dan memasukkannya ke dalam surga-Nya di akhirat kelak (QS 64: 9). ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar