|
Tidak setiap momen kehidupan bisa dijelaskan secara rasional,
salah satunya mudik. Buktinya, setiap menjelang Idul Fitri kita selalu
disibukkan dengan momen tersebut. Istilah mudik menjadi populer setiap menjelang
berakhirnya bulan Ramadhan. Tradisi mudik menjadi penanda bahwa hubungan
emosional masyarakat de- ngan tempat kelahiran sangatlah kuat.
Mudik dilatarbelakangi oleh kecenderungan menengok ke belakang, memandang masa lampau, dan menegaskan kesejatian diri, "apa, siapa, dan dari mana ia berasal." Tradisi mudik merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang tidak dijumpai di negara lain. Bahkan, inilah mobilisasi penduduk yang diperkirakan paling akbar di dunia.
Tahun 2013 ini, pemerintah memperkirakan ada 17.393.016 pemudik yang menggunakan angkutan umum menjelang dan setelah Lebaran. Bayangkan, jika dijumlahkan dengan pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, mungkin bisa mencapai 20 juta orang atau lebih.
Tradisi mudik memang sebuah fenomena menarik. Perjalanan itu mampu menembus batas-batas rasionalitas. Mudik juga mengindikasikan adanya kesenjangan pembangunan ekonomi antara desa dan kota. Sebagian besar pemudik adalah masyarakat desa yang merantau ke kota. Penyebab dominan mereka merantau adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi membuat masyarakat desa berbondong-bondong ke kota dalam rangka perbaikan ekonomi. Hal ini terjadi karena di desa tak tersedia lapangan kerja yang memadai, lahan-lahan pertanian dikuasai pemodal yang kebanyakan orang kota sehingga kehidupan ekonomi masyarakat desa semakin tersisih.
Dalam perspektif sosial ekonomi, fenomena mudik mempunyai efek positif dan negatif. Efek positifnya adalah minimal ada aliran uang dari kota ke desa yang dibawa pemudik. Seiring dengan itu, perekonomian di desa yang selama ini relatif statis dibandingkan dengan di kota dengan adanya pemudik sedikit lebih dinamis.
Hasil riset sebuah lembaga zakat menunjukkan, potensi aliran ekonomi ke daerah selama mudik 2013 mencapai Rp 90,08 triliun. Dana tersebut berasal dari transportasi, wisata, dan kedermawanan pemudik ke sanak keluarga. Bank Indonesia tak ketinggalan membuat perhitungan, perkiraannya jumlah uang yang beredar sampai H-3 Lebaran mencapai Rp 300 triliun.
Tak hanya itu, banyak pemudik di samping "bagi-bagi THR" juga membawa produk atau buah tangan untuk keluarganya di desa, seperti produk makanan dan minuman dari industri-industri kecil. Ini tentu saja mempunyai efek positif bagi kelangsungan hidup produsen atau industri-industri kecil. Perajin parsel dan industri fashion dengan segala pernak-perniknya serta penyedia jasa transportasi pun tak pernah sepi dari konsumen, terutama menjelang Lebaran.
Dengan demikian, mudik Lebaran secara ekonomi mempunyai
efek multiplier yang sangat
besar. Namun, di samping efek positif, mudik juga membawa efek negatif,
yaitu efek demonstrasi bagi masyarakat desa. Ini merupakan akibat pemudik
yang cenderung bergaya hidup mentereng dan berpenampilan modis ala
kota. Gaya seperti itu setidaknya menjadi magnet tersendiri bagi warga
desa lainnya untuk turut serta merantau ke kawasan kota. Warga desa menganggap
bahwa menaikkan taraf kesejahteraan ekonomi bisa dicapai dengan mudah bila
bekerja di kota.
Yang lebih penting adalah tujuan-tujuan produktif dengan membantu perekonomian saudara-saudaranya di desa. Mereka yang kelebihan modal bisa berinvestasi usaha di desa, tentunya untuk memberdayakan sumber daya yang ada di desa. Dengan demikian, di satu sisi mereka mampu menghidupkan kembali ekonomi desanya dan meminimalisasi warga desa lainnya yang ingin merantau ke kota.
Lihatlah budaya Lebaran kita. Mari kita menelaah mobilisasi energi dan ekonomi Idul Fitri kita. Saksikanlah, kita menghiasi penemuan rohani dan jasmani. Tataplah jutaan orang mengalir, memenuhi kendaraan antarkota, berduyun-duyun mendatangi kembali sumber sejarahnya.
Menurut Emha Ainun Najib, orang mudik itu melaksanakan teologi Ilaihi raji'un. Kembali ke Allah, melalui asal keluarga dan wasilah kesejarahan lainnya. Meresapi makna Idul Fitri kita akan belajar menyemai semangat spiritual-vertikal. Setelah menjalani pencucian melalui puasa sebulan penuh dan zakat, Tuhan Yang Mahabaik mengembalikan kita kembali pada fitrah sebagai hamba Tuhan.
Spiritual-vertikal manusia disempurnakan oleh kesalehan sosial-horizontal, silaturahim dan berbagi adalah wujud konkretnya. Karena, dalam seluruh prosesi hidup manusia kaum beriman, hidup tidak lebih daripada ziarah menapaki tangga menuju tingkat yang lebih tinggi-sempurna untuk memperoleh kesejatian diri hingga mendapatkan kesempurnaan bersama Sang Khalik.
Melalui mudik, sejarah yang usang hendak didaur ulang, disegarkan kembali dan dicerahkan guna memberi nafas baru bagi perjalanan kehidupan kita satu tahun ke depan. Mudik adalah sebuah kesadaran dan keridhaan, sejauh dan setinggi apa pun berjalan, kita pasti kembali kepada Allah Azza wa jalla, Sang Pemilik Segala. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar