|
Selama 17 tahun Dr E Kristi
Poerwandari menekuni kerja kemanusiaan di antara tugas meneliti dan
mengajarnya. Semangatnya terus dirawat agar api panggilannya terus menyala.
Intervensi trauma dan penguatan psikososial, terutama untuk isu kekerasan,
adalah jalan sunyi. Berat dan panjang.
”Yang bergerak dalam isu itu sangat sedikit,” ujar Kristi, di
kantornya, siang, Juli 2013, ”Dana
layanan psikologi secara umum makin sulit, apalagi untuk isu perempuan. Di
Yayasan Pulih sudah dua tahun kami swadaya. Ada satu-dua filantropi, tetapi
terbatas.”
Pada awal Juli lalu, International Council of Psychologist
(ICP) memilih Kristi, salah satu pendiri Yayasan Pulih dan Ketua Program Studi
Kajian Gender Program Pascasarjana (Interdisiplin) Universitas Indonesia itu,
sebagai penerima penghargaan Bidang Riset dan Layanan Feminis tahun 2013.
”Mudah-mudahan penghargaan ini bisa menjadi motivator bagi teman-teman
yang bergerak dalam isu perempuan dan psikologi,” ujarnya.
Hari itu tepat hari ulang tahun
Kristi ke-50, atau sehari sebelum penghargaan itu diserahkan oleh Presiden ICP
Ludwig Lowenstein, dalam konferensi ICP ke-71 tanggal 4-6 Juli 2013 di Jakarta.
Tema tahun ini adalah ”Moving Towards
Peaceful Intergroup Relationship and Reducing Stigma and Discrimination: A
Worldview”.
Tantangan
Bagi Kristi, penghargaan hanyalah
penanda dalam satu bagian dari perjalanannya. Namun, betapapun, momen itu
berharga dalam situasi yang penuh tantangan.
Mengapa aspek psikologi belum
mendapat perhatian?
Teori psikologi tidak membahas
persoalan psikologi masyarakat miskin. Sudut pandangnya sangat kelas menengah.
Psikolognya juga cenderung berpikir dalam kerangka kelas menengah. Menurutku,
psikologi tidak banyak melakukan kritik terhadap diri sendiri. Penelitian di
Barat kan menggunakan responden laki-laki, kelas menengah, dan kulit putih.
Persoalan perempuan dengan kekerasan tak terlalu dibahas, juga psikologi
masyarakat miskin.
Di Indonesia, psikologi sama dengan
kedokteran jiwa, tidak dilihat penting dalam meningkatkan kualitas hidup. Jadi
tidak diprioritaskan. Dalam piramida kesehatan mental, menurut penelitian di
Barat, hanya 3 persen masyarakat butuh layanan psikologi klinis dan psikiatri.
Psikologi cenderung dilihat hanya untuk itu. Saat ada masalah konflik atau
bencana diperlukan penguatan yang bersifat massal. Namun, psikologi kurang siap
karena psikolog seperti menunggu. Harusnya proaktif, kerja sama lintas bidang
dengan semua pihak. Kami menyebut sebagai penguatan psikologi berbasis
komunitas, seperti yang dikerjakan Pulih. Selama ini psikologi terlalu berbasis
individu dan persoalan keluarga.
Bukankah semua persoalan di
masyarakat terkait psikologi?
Betul. Di Psikologi ada perdebatan
sangat serius. Yang berpikir konvensional menganggap psikologi seperti ilmu
yang sangat matematis. Di S-1 Psikologi UI, sulit bagi mahasiswa membuat
skripsi kualitatif. Ada pandangan, yang kualitatif bukan ilmu. Sementara
buatku, psikologi itu afektif, subyektifnya besar, sehingga wajib menjadi
penelitian kualitatif. Bagaimana empati bisa dibangun tanpa metode kualitatif? Psikologi
yang bermanfaat bagi masyarakat adalah yang bisa melihat dinamika
intersubyektivitas pemahaman manusia. Bahwa ada gabungan
kualitatif-kuantitatif, itu bukan persoalan.
Paradigma berbeda
Sebagai pekerja ilmu yang
menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan
pengabdian pada masyarakat secara bersungguh- sungguh, Kristi menghadapi arus
besar di bidang pemikiran dan metodologi.
Ia tampaknya mewakili paradigma
yang berbeda. Namun, dalam diskursus internasional juga semakin banyak ilmuwan
menggoyang dominasi metodologi ataupun teori-teori psikologi arus utama,
khususnya oleh kalangan feminis-teoris.
Psikologi memperlakukan secara umum
teori yang dibangun dari hasil penelitian yang bias laki-laki, bias kelas, dan
bias Barat. Penelitian Jeanne Block (1976) dari Universitas California di
Berkeley juga menemukan bias jender dalam penelitian para psikolog mengenai
agresivitas. Penemu teori-teori psikoanalisa, Sigmund Freud (1856-1939), hanya
menggunakan perempuan penderita gangguan mental sebagai responden.
”Arus utama psikologi meyakini teori yang bersifat umum dan
jurnal-jurnal ilmiah, dengan pendekatan penelitian yang cenderung positivistik.
Sangat reduktif karena cenderung memecah gejala dalam elemen-elemen,”
ujarnya.
”Pengetahuan dari jurnal ilmiah penting, tetapi bukan segalanya.
Kepedulian dan pengetahuan dari lapangan sangat penting. Harusnya keduanya
digabung, dimaknai dalam keseluruhan konteksnya. Kalaupun meneliti secara
meluas, harus dipahami ini bukan fenomena pasar.”
Bisa lebih dijelaskan?
Kami sedang melakukan penelitian
tentang sexual offending (penyerangan
seksual) dan hal-hal terkait kekerasan seksual. Aku ingin belajar lebih banyak
mengenai pelakunya. Bagaimana mungkin penelitian terhadap serangan terhadap seksualitas
dilakukan secara kuantitatif? Namun, jurnal-jurnal luar semua meneliti secara
kuantitatif. Datanya banyak, mereka sangat baik secara statistik.
Mereka punya kerja sama dengan
semua correctional facilities atau
lembaga pemasyarakatan dan meneliti 600 residivis. Fokusnya sangat sempit,
misalnya apakah pelaku akan mengulang kembali tindak pidananya (residivisme).
Peneliti menggunakan skala apa untuk mengecek sejauh mana skala itu meramalkan
residivisme.
Karena bekerja untuk isu
intervensi, aku ingin mendapatkan pemahaman lebih utuh tentang perilaku pelaku.
Dalam logika psikologi, empati terhadap korban sangat penting. Kita harus
membangun empati dari para pelaku kekerasan seksual terhadap korban agar dia
tidak mengulangi tindakannya.
Penelitian kuantitatif menganggap
empati tidak berhubungan langsung dengan residivisme. Lalu selesai, seolah-olah
empati tidak penting. Simplistik, tetapi arus besarnya seperti itu. Kami ingin
fokus pada hal-hal yang sangat kualitatif. Tuntutannya kan masuk jurnal internasional.
Kami mau mencoba dengan metode campuran, kualitatif dan kuantitatif.”
Pengetahuan otentik
Meski pengambil keputusan di
universitas bersikukuh dengan pendekatan kuantitatif, masyarakat psikologi bisa
menerima metode kualitatif. ”Setelah
bukuku tentang metode kualitatif terbit tahun 2007, aku sering diminta
memberikan pelatihan kepada para dosen,” ungkapnya
Sebagai promotor program
doktoral, apakah metode Anda tidak berbenturan dengan promotor lain?
Saya teringat pendekatan yang
digunakan almarhum Pak Fuad Hasan. Beliau menggunakan pendekatan kualitatif dan
menekankan pentingnya filsafat dasar keilmuan bagi mahasiswa. Metodologi
penelitian adalah hal teknis. Jurnal ilmiah tetap penting, tetapi mahasiswa
atau peneliti perlu dibantu melihat paradigma besar agar jurnal-jurnal itu
tidak membunuh wawasan kita. Teknik bisa belakangan. Sekarang, jurnal- jurnal
itu dipaksakan masuk ke dalam kerangka wawasan mahasiswa.
Lalu, apa tantangan memimpin
Program Studi Kajian Gender?
Selain uang kuliahnya mahal, keilmuan
lintas bidang tidak dilihat setara keilmiahannya. Program Kajian Gender belum
masuk dalam kodifikasi program studi di bawah Pendidikan Tinggi Kemdikbud. Jadi
ada beberapa mahasiswa kita setelah lulus, mengambil lagi S-2 dari bidang ilmu
S-1-nya supaya bisa diakui sebagai angka kredit untuk kepangkatan. Untuk jadi
profesor, ada syarat linieritas. Ini yang membuat rendahnya minat pada program
studi ini.
Bagaimana Anda melihat dunia
penelitian di Indonesia?
Sangat buruk kalau suatu bangsa
tidak menghargai penelitian, apalagi tak ada upaya membangun pengetahuan secara
otentik. Terjadi banyak pembohongan dan pembodohan. Jadi bukan hanya korupsi
intelektual, tetapi juga pengikisan etika dan hati nurani. Kita bisa mengarah
ke situ.
Tak mudah menjadi peneliti di Indonesia,
tetapi setiap manusia punya tanggung jawab dan pilihan. Pasti akan ketemu
jalannya.... ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar