Senin, 05 Agustus 2013

Nabi Itu Manusia Juga

Nabi Itu Manusia Juga
Sarlito Wirawan Sarwono ;  Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
          KORAN SINDO, 04 Agustus 2013


Saat ini saya sedang di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Saya diundang oleh APA (Asosiasi Psikologi Amerika) untuk mendapatkan penghargaan (award) sebagai the Outstanding International Psychologist. 

Daripada menunggu Bintang Mahaputra dari negeri sendiri yang jelas enggak kesampaian, penghargaan dari negara neo-imperialis (kata Bung Karno) atau negara super-thogut (kata teroris), ya enggak apa-apalah, saya terima saja. Jadi saya berangkatlah ke sini ditemani istri saya satu-satunya. Tetapi bukan itu yang saya mau ceritakan di sini. Saya mau cerita tentang perjalanan saya. 

Pada hari Senin, 29 Juli 2013, pesawat terbang yang membawa saya tinggal landas dari Bandara Narita, Tokyo, pukul 14.40 waktu setempat. Penerbangan ke Honolulu, makan waktu 7 jam, malam hari. Dalam pesawat kami sempat makan malam, dan paginya sarapan, saya sempat membaca dan menonton satu film action, dan bercanda dengan istri saya sebelum tidur. Tentu saja sejauh yang diizinkan oleh ”Lembaga Sensor Pesawat Terbang”.

Tepat pukul 08.30 pesawat mendarat mulus di Bandara Honolulu. Tetapi bukan hari pada hari berikutnya, yaitu Selasa 30 Juli 2013, melainkan masih tetap Senin, 29 Juli 2013. Jadi malah mundur ke waktu sebelum kami lepas landas. Tentu saja penyebabnya adalah batas lintang waktu, yang terbentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan, membelah Lautan Pasifik. Tentang hal ini, anak-anak SMP yang rajin belajar geografi pun tahu. 

Dengan sedikit analogi, para ilmuwan zaman sekarang bisa menerangkan peristiwa Isra-Mikraj Rasulullah SAW. Bahkan bukannya tidak mungkin di masa depan orang Indonesia yang mau ke Amerika cukup berdiri di bawah mesin pemindai dan hasil scanning bisa dikirim lewat pesawat telepon (HP), tidak perlu pesawat terbang lagi. Tidak perlu beli tiket mahal-mahal, cukup beli pulsa. 

Tetapi orang Amerika pastinya masih memilih pesawat terbang kalau mau ke Indonesia, karena kalau PLN mati, scanner juga mati, jadilah mereka arwah gentayangan yang tidak bisa masuk lagi ke bumi. Masalahnya, bisakah dibayangkan bagaimana umat di zaman Rassulullah SAW bisa memahami gejala yang buat orang sekarang hanya sesederhana itu? 

Waktu saya maih kanak-kanak, saya senang sekali didongengi mbah kakung saya. Salah satunya adalah tentang si kancil. Sedang dia enak tidur, datang sang macan hendak menerkamnya. Maka si kancil terbangun, kaget tetapi tetap tenang. Dia berkata kepada sang macan, ”Hei, macan! Kamu boleh memakanku, tetapi tunggu dulu sampai Nabi Sulaiman datang untuk mengambil kuenya ini.” Kancil menunjuk kotoran kerbau kering di dekatnya. 

”Aku diperintah oleh Nabi untuk menunggui kuenya sampai beliau datang.” Sang macan sangat kagum, karena dia mengidolakan Nabi Sulaiman yang bisa ngomong bahasa binatang. Maka macan pun membujuk kancil, ”Biar aku saja yang menjaga kue beliau. Aku sangat ingin bertemu dengan beliau.” ”Okay (pinjam istilah bahasa Inggris),” kata kancil, ”kalau begitu maumu, silakan saja. Selamat tinggal, ya. Salam saya buat Baginda”, dan kancil pun berlari kencang sebelum macan sadar akan kebodohannya. 

Semasa kecil itu, saya pun ikut-ikutan kagum kepada Nabi yang bisa bahasa hewan itu. Tetapi hari ini banyak sekali yang bisa berbicara dengan hewan. Pawang anjing, pengasuh lumba-lumba, atau ahli lebah bisa bekomunikasi dengan hewan-hewan itu. Pengusaha sarang burung, bisa menirukan bunyi burung walet, agar burung-burung itu berdatangan untuk memenuhi bangunan yang sudah disiapkannya untuk mereka bersarang. Jadi. sekarang bukan nabi saja yang bisa berkomunkasi dengan hewan, orang biasa pun bisa. 

Nabi Musa dengan pertolongan Allah diceritakan membelah laut dan menutupnya lagi untuk menghentikan kejaran musuh-musuhnya. Para insinyur Belanda sudah lama mahir membuat tanggul untuk menyetop ombak maut ke daratan Belanda yang lebih rendah dari permukaan laut. Di dataran rendah itulah bangsa Belanda bercocok tanam, beternak sapi, membuat keju, berpacaran dan berketurunan, dan dari situlah juga mereka menjajah Indonesia selama ratusan tahun.

Nabi siapa lagi? Nabi Isa? Beliau mampu menyembuhkan orang sakit. Orang buta dibikin melek lagi. Tetapi dokter-dokter sekarang mengobati katarak dengan laser seperti tukang mi ayam membuat mi ayam, gampang sekali. Bahkan pasien kanker banyak yang tertolong, dan HIV/AIDS pun sudah mulai ditemukan obatnya. Pokoknya, kata Allah, tidak ada penyakit yang tidak bisa diobati. Tentu saja bukan untuk orang per orang, tetapi ilmu kedokteran lambat laun akan bisa mengobati berbagai macam penyakit. 

Begitulah cara Allah mendidik manusia. Awalnya diberikan contoh dalam diri para Nabi sebagai mukjizat. Lama kelamaan, melalui usaha manusia, ilmu pengetahuan dan Rahmat Allah, rahasia-rahasia mukjizat itu terbongkar satu per satu, sehingga sekarang orang-orang biasa pun bisa melakukan hal yang di zaman para Nabi hanya bisa dilakukan oleh para Nabi melalui mukjizat.


Sayangnya, tidak semua rahasia mukjizat itu berhasil diungkap oleh umat Islam. 

Banyak, bahkan sebagian besar, khususnya di era teknologi informasi sekarang ini, para penemu dan pakar adalah nonmuslim. Tetapi dalam hal ini, Allah memang tidak pandang bulu. Siapa saja yang tekun mempelajari sunatullah di alam jagat raya ini akan diberi keberhasilan. Jadi, marilah umat Islam, kita berlomba mempelajari dan mengembangkan ilmu agar kita bisa menguasai dunia. Kalau kita hanya pintar main ”sweeping”, apa kata dunia? ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar