|
Yang tinggal di kota besar begitu
keluar rumah akan menemui begitu banyak motor serabutan di jalan. Kadang
berpenumpang dua hingga empat nyawa, di antaranya bayi digendong dan anak kecil
duduk di depan. Semua bergabung dengan mobil dan angkutan umum memacetkan
jalan.
Semua sepakat tentang dua
keuntungan utama mengendarai motor, yakni menghemat waktu di jalan dan
menghemat uang untuk membeli bensin. Saya jadi teringat lagi teori klasik
Maslow mengenai hierarki kebutuhan atau hierarki motivasi yang memengaruhi
perilaku manusia. Ada lima kebutuhan, yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan
rasa aman, kebutuhan untuk berafiliasi dengan orang lain, kebutuhan akan harga
diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Di negara kita, meski secara makro
angka pendapatan nominal naik terus, barangkali nilainya tetap sama atau
malahan turun mengingat harga barang dan jasa yang terus meningkat. Karenanya,
meski penghasilan nominal naik, mungkin cukup banyak dari kita yang hidup masih
dengan didominasi oleh kebutuhan fisiologis untuk mempertahankan napas hidup
saja. Setiap saat harus memastikan memperoleh uang untuk membayar sewa rumah
dan memberi makan anggota keluarga.
Ada yang demikian terkonsentrasi
pada kebutuhan paling bawah sehingga belum sempat memikirkan pemenuhan
kebutuhan yang lebih atas. Misalnya, pedagang asongan di jalan yang rela atau
berani berloncatan mengejar dan turun dari bus yang berlari untuk memperoleh
pembeli. Tak terbayangkan oleh kita yang dapat hidup lebih nyaman, bila ia
sakit, terjatuh, atau ditabrak mobil di jalan, entah bagaimana harus
menyembuhkan diri dan menyelesaikan persoalannya.
Di Indonesia, manusia segala rupa
ada. Sebagian yang lain fokus pada pemenuhan kebutuhan di level bawah sambil
berusaha untuk memenuhi kebutuhan di tingkat yang lebih atas. Banyak pula yang
tampaknya didominasi pemenuhan kebutuhan akan harga diri melalui barang yang
dibeli dan digunakan, sarana publik yang dikunjungi, atau dengan
berpindah-pindah kerja untuk memperoleh tempat kerja dan gaji yang lebih
membanggakan untuk diceritakan. Barangkali tidak banyak yang konsentrasinya
pada kebutuhan otentik aktualisasi diri.
Pengendara motor
Pada pengendara motor ada fenomena
menarik: di satu sisi terlihat didorong oleh safety needs untuk dapat
menghemat biaya transportasi, dan karenanya, dapat meningkatkan rasa aman
dengan memindahkan ongkos bensin yang dihemat itu untuk kepentingan lain. Di sisi
lain, perilaku mayoritas pengendara di jalan sangat unsafe, liar
mengebut, mengentak-entak, dan mengesot-ngesot menyeruduk dari segala arah.
Mobil yang sudah jelas memberi tanda akan berhenti masih kencang disalip dari
kiri. Bahkan, perilaku demikian tetap terlihat saat pengendara membawa
rombongan istri dan anak.
Entah sudah berapa kali saat di
jalan saya menemui kecelakaan motor dari yang berakibat luka ringan hingga
parah, bahkan disusul perkelahian di antara sesama pengendara motor itu sendiri
yang agresinya terpicu oleh kekagetan dan kemarahan berserempetan di jalan.
Mudik
Meski ada kebutuhan-kebutuhan lain
yang mendasari perilaku mudik, barangkali yang utama adalah kebutuhan untuk
berafiliasi, berkumpul lagi dengan keluarga besar, kembali ke kampung halaman,
memastikan lagi keberakaran keberadaan diri. Jadi, banyak orang mengupayakan
cara apa pun untuk dapat mudik disertai dengan ritual pelengkapnya saat di
kampung halaman, yang sebagian besarnya memerlukan uang yang tidak sedikit.
Menarik bahwa program angkutan
mudik gratis buat pengguna sepeda motor yang disediakan pemerintah dan kalangan
lain ternyata kurang diminati. Dalam program ini, warga yang mudik masih bisa
membawa sepeda motornya, tetapi sepeda motor diangkut dengan truk atau kapal.
Sementara pemiliknya diangkut dengan bus. Dua minggu setelah pendaftaran, dari
kuota 360 sepeda motor, baru 50 orang yang mendaftar di Tangerang Selatan untuk
program ini (Kompas, 27 Juli 2013).
Saya yang bukan pengendara motor,
dan hampir pasti tidak akan mudik menggunakan sepeda motor, jadi
bertanya-tanya, kira-kira mengapa. Bila mudik terutama didasari oleh kebutuhan
untuk berafiliasi, program mudik sendiri, meski gratis, jadi tidak menarik
karena yang diinginkan masyarakat adalah mudik bersama-sama dengan keluarga
atau orang-orang terdekat. Sering kita mendengar cerita mengenai nikmatnya
mengendara dan berbuka puasa bersama saat perjalanan mudik.
Belum lagi motor ditransfer ke
kampung halaman terpisah dari pemiliknya. Kebutuhan rasa aman tidak terpenuhi
di sini, ”Bagaimana jaminan keamanan dan kepastian bahwa saya akan segera
berkumpul kembali dengan motor saya?” Mungkin para pengendara membayangkan
proses ribet yang harus dijalani dan birokrasi yang rumit untuk dapat
memperoleh kembali motornya. Sebagian malah mungkin khawatir akan kehilangan
motornya. Motor barangkali adalah harga paling berharga, menjadi kepanjangan
dari kaki dan tangan untuk beraktivitas apa saja, terutama untuk memastikan
pemenuhan nafkah hidup.
Dari sisi teori, hierarki kebutuhan
manusia dipenuhi secara berjenjang, tetapi dalam faktanya ada juga fiksasi,
orang berhenti dan terkonsentrasi pada tahapan tertentu saja. Ada pula
loncatan-loncatan, yang berpenghasilan terbatas ternyata mampu meloncat
mengonsentrasi diri pada aktualisasi diri dan menyumbangkan yang terbaik dari
dirinya untuk kemanusiaan.
Bila berencana mudik, berencanalah
untuk mudik dengan cara yang aman bagi diri sendiri dan orang lain. Selamat
berlebaran, mohon maaf lahir dan batin. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar