Senin, 05 Agustus 2013

Mudik Motor dan Hierarki Kebutuhan

Mudik Motor dan Hierarki Kebutuhan
Kristi Poerwandari ;  Kolumnis Psikologi Kompas
          KOMPAS, 04 Agustus 2013


Yang tinggal di kota besar begitu keluar rumah akan menemui begitu banyak motor serabutan di jalan. Kadang berpenumpang dua hingga empat nyawa, di antaranya bayi digendong dan anak kecil duduk di depan. Semua bergabung dengan mobil dan angkutan umum memacetkan jalan.

Semua sepakat tentang dua keuntungan utama mengendarai motor, yakni menghemat waktu di jalan dan menghemat uang untuk membeli bensin. Saya jadi teringat lagi teori klasik Maslow mengenai hierarki kebutuhan atau hierarki motivasi yang memengaruhi perilaku manusia. Ada lima kebutuhan, yakni kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk berafiliasi dengan orang lain, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Di negara kita, meski secara makro angka pendapatan nominal naik terus, barangkali nilainya tetap sama atau malahan turun mengingat harga barang dan jasa yang terus meningkat. Karenanya, meski penghasilan nominal naik, mungkin cukup banyak dari kita yang hidup masih dengan didominasi oleh kebutuhan fisiologis untuk mempertahankan napas hidup saja. Setiap saat harus memastikan memperoleh uang untuk membayar sewa rumah dan memberi makan anggota keluarga.

Ada yang demikian terkonsentrasi pada kebutuhan paling bawah sehingga belum sempat memikirkan pemenuhan kebutuhan yang lebih atas. Misalnya, pedagang asongan di jalan yang rela atau berani berloncatan mengejar dan turun dari bus yang berlari untuk memperoleh pembeli. Tak terbayangkan oleh kita yang dapat hidup lebih nyaman, bila ia sakit, terjatuh, atau ditabrak mobil di jalan, entah bagaimana harus menyembuhkan diri dan menyelesaikan persoalannya.

Di Indonesia, manusia segala rupa ada. Sebagian yang lain fokus pada pemenuhan kebutuhan di level bawah sambil berusaha untuk memenuhi kebutuhan di tingkat yang lebih atas. Banyak pula yang tampaknya didominasi pemenuhan kebutuhan akan harga diri melalui barang yang dibeli dan digunakan, sarana publik yang dikunjungi, atau dengan berpindah-pindah kerja untuk memperoleh tempat kerja dan gaji yang lebih membanggakan untuk diceritakan. Barangkali tidak banyak yang konsentrasinya pada kebutuhan otentik aktualisasi diri.

Pengendara motor

Pada pengendara motor ada fenomena menarik: di satu sisi terlihat didorong oleh safety needs untuk dapat menghemat biaya transportasi, dan karenanya, dapat meningkatkan rasa aman dengan memindahkan ongkos bensin yang dihemat itu untuk kepentingan lain. Di sisi lain, perilaku mayoritas pengendara di jalan sangat unsafe, liar mengebut, mengentak-entak, dan mengesot-ngesot menyeruduk dari segala arah. Mobil yang sudah jelas memberi tanda akan berhenti masih kencang disalip dari kiri. Bahkan, perilaku demikian tetap terlihat saat pengendara membawa rombongan istri dan anak.

Entah sudah berapa kali saat di jalan saya menemui kecelakaan motor dari yang berakibat luka ringan hingga parah, bahkan disusul perkelahian di antara sesama pengendara motor itu sendiri yang agresinya terpicu oleh kekagetan dan kemarahan berserempetan di jalan.

Mudik

Meski ada kebutuhan-kebutuhan lain yang mendasari perilaku mudik, barangkali yang utama adalah kebutuhan untuk berafiliasi, berkumpul lagi dengan keluarga besar, kembali ke kampung halaman, memastikan lagi keberakaran keberadaan diri. Jadi, banyak orang mengupayakan cara apa pun untuk dapat mudik disertai dengan ritual pelengkapnya saat di kampung halaman, yang sebagian besarnya memerlukan uang yang tidak sedikit.

Menarik bahwa program angkutan mudik gratis buat pengguna sepeda motor yang disediakan pemerintah dan kalangan lain ternyata kurang diminati. Dalam program ini, warga yang mudik masih bisa membawa sepeda motornya, tetapi sepeda motor diangkut dengan truk atau kapal. Sementara pemiliknya diangkut dengan bus. Dua minggu setelah pendaftaran, dari kuota 360 sepeda motor, baru 50 orang yang mendaftar di Tangerang Selatan untuk program ini (Kompas, 27 Juli 2013).

Saya yang bukan pengendara motor, dan hampir pasti tidak akan mudik menggunakan sepeda motor, jadi bertanya-tanya, kira-kira mengapa. Bila mudik terutama didasari oleh kebutuhan untuk berafiliasi, program mudik sendiri, meski gratis, jadi tidak menarik karena yang diinginkan masyarakat adalah mudik bersama-sama dengan keluarga atau orang-orang terdekat. Sering kita mendengar cerita mengenai nikmatnya mengendara dan berbuka puasa bersama saat perjalanan mudik.

Belum lagi motor ditransfer ke kampung halaman terpisah dari pemiliknya. Kebutuhan rasa aman tidak terpenuhi di sini, ”Bagaimana jaminan keamanan dan kepastian bahwa saya akan segera berkumpul kembali dengan motor saya?” Mungkin para pengendara membayangkan proses ribet yang harus dijalani dan birokrasi yang rumit untuk dapat memperoleh kembali motornya. Sebagian malah mungkin khawatir akan kehilangan motornya. Motor barangkali adalah harga paling berharga, menjadi kepanjangan dari kaki dan tangan untuk beraktivitas apa saja, terutama untuk memastikan pemenuhan nafkah hidup.

Dari sisi teori, hierarki kebutuhan manusia dipenuhi secara berjenjang, tetapi dalam faktanya ada juga fiksasi, orang berhenti dan terkonsentrasi pada tahapan tertentu saja. Ada pula loncatan-loncatan, yang berpenghasilan terbatas ternyata mampu meloncat mengonsentrasi diri pada aktualisasi diri dan menyumbangkan yang terbaik dari dirinya untuk kemanusiaan.


Bila berencana mudik, berencanalah untuk mudik dengan cara yang aman bagi diri sendiri dan orang lain. Selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar