|
SEBENARNYA, apa penyebab jalan pantura Jawa relatif cepat
rusak, mengapa tiap tahun ada semacam proyek abadi perbaikan jalan tersebut?
Pertanyaan itu saling berkelindan dan tak mudah menjawabnya. Ada dua struktur
perkerasan jalan, yaitu perkerasan jalan lentur dengan permukaan beraspal, dan
perkerasan kaku dengan permukaan beton. Secara awam, kita bisa menyebut jalan
beraspal dan jalan beton.
Truk dengan muatan melebihi batas tonase yang diizinkan
tidak serta merta merusak jalan, dan itu bukan satu-satunya penyebab. Pasalnya,
kerusakan juga bisa disebabkan oleh penggunaan material yang berkualitas di
bawah standar. Ditjen Bina Marga menggunakan muatan sumbu terberat (MST) 10 ton
(beban pada sumbu/as roda tunggal) sebagai patokan beban dalam pembuatan jalan.
Jumlah kendaran yang melewati jalan pantura tiap hari saat ini sekitar 44 ribu
unit (okezone.com, 26/7/13). Dari
jumlah itu, terdapat sejumlah kendaraan ringan dengan MST 2 ton sampai
kendaraan berat dengan MST di atas 10 ton.
Dalam menghitung tebal dan kekuatan perkerasan, semua sumbu
kendaraan diekivalensikan 10 ton. Sering diberitakan jalan pantura direncanakan
berumur 10 tahun, artinya dalam waktu 10 tahun pada tiap titik permukaan
perkerasan jalan akan dilewati sekian kali (misal 2 juta kali) MST 10 ton, dan
jalan cepat rusak (failure) karena
pelayanannya lebih cepat berakhir. Angka 2 juta kali MST10 ton itu bisa dicapai
sebelum 10 tahun bila jumlah dan berat kendaraan yang lewat ternyata lebih
besar dari yang diperhitungkan. Seandainya banyak truk bermuatan berlebih lewat
jalan pautra maka angka 2 juta kali MST 10 ton itu bisa tercapai hanya dalam
5-6 tahun, bahkan lebih cepat lagi, bergantung seberapa besar kelebihan muatan
itu. Makin besar kelebihan muatan, makin singkat pula umur jalan.
Ketebalan lapisan struktur perkerasan jalan yang kurang
dari standar, atau mutu bahan yang jelek juga bisa menyebabkan cepat rusaknya
jalan. Bina Marga menggunakan bahan konvensional, yaitu aspal grade penetrasi
dengan metode pengujian, dan campuran aspal panas (hotmix) sebagai bahan lapis penutup, yang juga masih konvensional.
Padahal aspal grade penetrasi kini banyak ditinggalkan oleh
banyak negara karena tak dapat diprediksi sampai suhu berapa aspal atau hotmix
dapat menahan beban kendaraan tanpa terjadi kerusakan. Bina Marga kemudian
menerapkan kebijakan baru, yaitu dengan membuat jalan beton (pelat beton
semen). Konstruksi itu sebenarnya berbiaya mahal, pembuatan dan pemeliharaannya
sulit, ditambah tidak aman dan tidak nyaman bagi pengguna.
Pembuatan jalan beton pun butuh ketelitian tinggi. Di dalam
pelat beton terdapat besi untuk mencegah retak karena muai susut pelat beton,
yang biasa (?) dowel bar. Salah satu
sisi dowel bar terikat erat dengan
pelat beton, dan sisi lain tidak terikat untuk memungkinkan pelat bergerak bila
terjadi pemuaian. Dalam pelaksanaannya, acap terjadi sisi dowel bar yang bebas dari ikatan beton hanya dibungkus plasik tipis
sebelum dicor, dari seharusnya dibungkus pralon. Karena hanya dibungkus plastik
maka ada kemungkinan sobek atau lepas saat pengecoran, dan akibatnya dowel
barakan terikat di dua sisi sehingga pelat beton pecah saat terjadi pemuaian.
Pemeliharaan
Rutin
Ketidakcermatan mengerjakan pelat beton itu menyebabkan
kerusakan yang sulit diperbaiki. Contohnya jalan tol Pejagan-Brebes yang belum
ada 3 tahun sudah hancur dan sangat berbahaya dilewati. Belum lagi kita bicara
bahayanya jalan beton yang hampir tidak mempunyai daya tahan terhadap gelincir
(skid resistance), yakni setelah
direm kendaraan akan meluncur jauh sebelum berhenti. Hal itu berbeda dari jalan
aspal, yang punya skid resistance tinggi, artinya bila kita mengerem, kendaraan
bisa cepat berhenti.
Itu sebabnya sering terjadi mobil menyeruduk truk di jalan
tol Cipularang. Meskipun permukaan jalan beton itu dibuat kasar, dalam waktu
seminggu setelah dilewati kendaraan maka permukaan jalan itu akan kembali
halus/licin. Bagaimana pengendalian terhadap truk yang bermuatan berlebih? Di
sepanjang jalan pantura Jawa, banyak terdapat jembatan timbang. Mestinya
fasilitas itu bisa difungsikan untuk mengendalikan truk yang kelebihan muatan.
Realitasnya jembatan timbang hanya untuk memungut retribusi
dan denda. Truk yang kelebihan muatan hanya didenda dan boleh melanjutkan
perjalanan dengan beban yang tetap berlebih itu. Besar denda yang dikumpulkan
pemda tidak sebanding dengan biaya perbaikan kerusakan jalan.
Penyebab lain cepat rusaknya jalan pantura adalah jeleknya
drainase sehingga jalan sering terendam air. Penyebab kedua adalah buruknya
aspek pemeliharaan. Pemeliharaan rutin harus dilakukan secara swakelola dan
tidak dikontrakkan. Namun dalam praktik, pekerjaan itu dikontrakkan dan
kontraktor hanya akan memperbaiki jalan itu sepanjang waktu kontrak, tidak
rutin tiap hari sepanjang tahun. Karena itu, pemerintah perlu kembali menyusun
kebijakan yang tepat untuk pembangunan jalan pantura Jawa, termasuk
mengefektifkan pemeliharaan. Tentu tahapan itu butuh pengawasan ketat, guna
menghindari pemakaian material yang berkualitas di bawah standar. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar