Minggu, 04 Agustus 2013

Pemeliharaan Jalan Pantura

Pemeliharaan Jalan Pantura
Gatot Rubintardjo ;  Dosen Fakultas Teknik Unissula Semarang
          SUARA MERDEKA, 03 Agustus 2013


SEBENARNYA, apa penyebab jalan pantura Jawa relatif cepat rusak, mengapa tiap tahun ada semacam proyek abadi perbaikan jalan tersebut? Pertanyaan itu saling berkelindan dan tak mudah menjawabnya. Ada dua struktur perkerasan jalan, yaitu perkerasan jalan lentur dengan permukaan beraspal, dan perkerasan kaku dengan permukaan beton. Secara awam, kita bisa menyebut jalan beraspal dan jalan beton.

Truk dengan muatan melebihi batas tonase yang diizinkan tidak serta merta merusak jalan, dan itu bukan satu-satunya penyebab. Pasalnya, kerusakan juga bisa disebabkan oleh penggunaan material yang berkualitas di bawah standar. Ditjen Bina Marga menggunakan muatan sumbu terberat (MST) 10 ton (beban pada sumbu/as roda tunggal) sebagai patokan beban dalam pembuatan jalan. Jumlah kendaran yang melewati jalan pantura tiap hari saat ini sekitar 44 ribu unit (okezone.com, 26/7/13). Dari jumlah itu, terdapat sejumlah kendaraan ringan dengan MST 2 ton sampai kendaraan berat dengan MST di atas 10 ton.

Dalam menghitung tebal dan kekuatan perkerasan, semua sumbu kendaraan diekivalensikan 10 ton. Sering diberitakan jalan pantura direncanakan berumur 10 tahun, artinya dalam waktu 10 tahun pada tiap titik permukaan perkerasan jalan akan dilewati sekian kali (misal 2 juta kali) MST 10 ton, dan jalan cepat rusak (failure) karena pelayanannya lebih cepat berakhir. Angka 2 juta kali MST10 ton itu bisa dicapai sebelum 10 tahun bila jumlah dan berat kendaraan yang lewat ternyata lebih besar dari yang diperhitungkan. Seandainya banyak truk bermuatan berlebih lewat jalan pautra maka angka 2 juta kali MST 10 ton itu bisa tercapai hanya dalam 5-6 tahun, bahkan lebih cepat lagi, bergantung seberapa besar kelebihan muatan itu. Makin besar kelebihan muatan, makin singkat pula umur jalan.

Ketebalan lapisan struktur perkerasan jalan yang kurang dari standar, atau mutu bahan yang jelek juga bisa menyebabkan cepat rusaknya jalan. Bina Marga menggunakan bahan konvensional, yaitu aspal grade penetrasi dengan metode pengujian, dan campuran aspal panas (hotmix) sebagai bahan lapis penutup, yang juga masih konvensional.

Padahal aspal grade penetrasi kini banyak ditinggalkan oleh banyak negara karena tak dapat diprediksi sampai suhu berapa aspal atau hotmix dapat menahan beban kendaraan tanpa terjadi kerusakan. Bina Marga kemudian menerapkan kebijakan baru, yaitu dengan membuat jalan beton (pelat beton semen). Konstruksi itu sebenarnya berbiaya mahal, pembuatan dan pemeliharaannya sulit, ditambah tidak aman dan tidak nyaman bagi pengguna.

Pembuatan jalan beton pun butuh ketelitian tinggi. Di dalam pelat beton terdapat besi untuk mencegah retak karena muai susut pelat beton, yang biasa (?) dowel bar. Salah satu sisi dowel bar terikat erat dengan pelat beton, dan sisi lain tidak terikat untuk memungkinkan pelat bergerak bila terjadi pemuaian. Dalam pelaksanaannya, acap terjadi sisi dowel bar yang bebas dari ikatan beton hanya dibungkus plasik tipis sebelum dicor, dari seharusnya dibungkus pralon. Karena hanya dibungkus plastik maka ada kemungkinan sobek atau lepas saat pengecoran, dan akibatnya dowel barakan terikat di dua sisi sehingga pelat beton pecah saat terjadi pemuaian.

Pemeliharaan Rutin

Ketidakcermatan mengerjakan pelat beton itu menyebabkan kerusakan yang sulit diperbaiki. Contohnya jalan tol Pejagan-Brebes yang belum ada 3 tahun sudah hancur dan sangat berbahaya dilewati. Belum lagi kita bicara bahayanya jalan beton yang hampir tidak mempunyai daya tahan terhadap gelincir (skid resistance), yakni setelah direm kendaraan akan meluncur jauh sebelum berhenti. Hal itu berbeda dari jalan aspal, yang punya skid resistance tinggi, artinya bila kita mengerem, kendaraan bisa cepat berhenti. 
Itu sebabnya sering terjadi mobil menyeruduk truk di jalan tol Cipularang. Meskipun permukaan jalan beton itu dibuat kasar, dalam waktu seminggu setelah dilewati kendaraan maka permukaan jalan itu akan kembali halus/licin. Bagaimana pengendalian terhadap truk yang bermuatan berlebih? Di sepanjang jalan pantura Jawa, banyak terdapat jembatan timbang. Mestinya fasilitas itu bisa difungsikan untuk mengendalikan truk yang kelebihan muatan.

Realitasnya jembatan timbang hanya untuk memungut retribusi dan denda. Truk yang kelebihan muatan hanya didenda dan boleh melanjutkan perjalanan dengan beban yang tetap berlebih itu. Besar denda yang dikumpulkan pemda tidak sebanding dengan biaya perbaikan kerusakan jalan.


Penyebab lain cepat rusaknya jalan pantura adalah jeleknya drainase sehingga jalan sering terendam air. Penyebab kedua adalah buruknya aspek pemeliharaan. Pemeliharaan rutin harus dilakukan secara swakelola dan tidak dikontrakkan. Namun dalam praktik, pekerjaan itu dikontrakkan dan kontraktor hanya akan memperbaiki jalan itu sepanjang waktu kontrak, tidak rutin tiap hari sepanjang tahun. Karena itu, pemerintah perlu kembali menyusun kebijakan yang tepat untuk pembangunan jalan pantura Jawa, termasuk mengefektifkan pemeliharaan. Tentu tahapan itu butuh pengawasan ketat, guna menghindari pemakaian material yang berkualitas di bawah standar. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar