Minggu, 04 Agustus 2013

Ketegangan Diplomatik Jakarta-Inggris

Ketegangan Diplomatik Jakarta-Inggris
Ismatillah A Nu’ad ;  Peneliti dari Pusat Studi Islam dan Kenegaraan
Universitas Paramadina Jakarta
          SUARA MERDEKA, 03 Agustus 2013


"Keterbongkaran penyadapan rombongan SBY menandakan Inggris acap ikut campur urusan dapur kita"

PEMERINTAH Indonesia kembali dipermalukan dalam kancah hubungan diplomatik oleh pemerintah Inggris. Intelijen Inggris menyadap pembicaraan rombongan Presiden SBY saat menghadiri KTT G20 di London pada April 2009. Ada tengara kuat, penyadapan itu menguntungkan pemerintah Australia. Kejadian itu bukan perkara untung rugi melainkan ketercorengan etika kenegarawanan, seorang kepala negara yang resmi menjadi tamu, dilecehkan lewat penyadapan pembicaraan justru oleh badan resmi tuan rumah. Pemerintah Inggris acap mengganggu urusan dalam negeri kita.

Belum lama ini, tokoh gerakan kemerdekaan Papua Benny Wenda dibiarkan terus bergerilya di Inggris. Pada 28 April 2013 Benny meresmikan kantor pusat Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Oxford. Pemerintah Inggris membiarkan hal itu padahal semestinya menjaga perasaan mengingat bahwa NKRI adalah harga mati.

Gerakan Benny bertajuk ‘’Free West Papua!’’

Di Universitas Oxford pada Agustus 2012 sejumlah pengacara internasional mengajukan banding ke Mahkamah Internasional atas hasil referendum rakyat Papua pada 1969 yang menggabungkan Papua dalam NKRI. Salah satu isu yang membuat renggang hubungan Jakarta-London adalah soal Papua. Inggris seakanakan berada di dua kaki, di satu sisi mendukung NKRI namun di sisi lain memberi posisi politik semisal kehadiran kantor OPM.

Pemerintah kita tak dapat melepaskan aktor intelektual mengingat dari sekian anatomi gerakan OPM, dapat dipastikan ada aktor intelektualnya, yang dengan mudah menginternasionalisasi persoalan. Pemerintah kita harus tegas menolak campur tangan Inggris. Kawat diplomatik semestinya diindahkan, dan ‘’keterbongkaran’’ penyadapan itu menandakan Inggris acap ikut campur urusan dapur kita. 

Pemerintah Inggris sebaiknya mengurus diri dan tidak ikut campur urusan dalam negeri Indonesia. Pasalnya, salah satu aktor intelektual gerakan OPM menginternasionalisasi kasus Papua lewat Inggris.
Karena aktor intelektual itulah, gerakan makar atau separatis membesar, bahkan mendapat dukungan negara lain. Seandainya isu-isu yang dimainkan hanya bersifat lokal, tak menjadi persoalan. Hal itu berbeda bila mereka mencuatkan isu-isu HAM, mengganti cara militeristik dengan yang lebih menitikberatkan pada hak itu. Biasanya, persoalan hak asasi menjadi salah satu jalan bagi gerakan makar untuk menginternasionalisasi gerakannya.

Selain itu, isu keadilan ekonomi dan politik. Belajar dari kasus terlepasnya Timor Timur, salah satu isu yang diinternasionalisasi adalah keadilan ekonomi dan politik. Karena itu, pemerintah semestinya terus meningkatkan pemberian rasa keadilan ekonomi dan politik secara konkret dan faktual, bukan retorika. Tak mungkin sebuah masyarakat atau komunitas ingin memisahkan diri bila mendapatkan hak-hak keadilan ekonomi dan politik. Embrio kemunculan gerakan makar atau separatis di daerah pasti dipicu oleh ketiadaan keadilan ekonomi dan politik. Berbeda misalnya, daerah yang relatif mendapatkan keadilan ekonomi dan politik dari pusat, yang dipastikan relatif aman.

Introspeksi Inggris

Namun kita juga perlu mengkaji latar belakang sikap Inggris ini. Apakah bagian dari motif ekonomi di tengah krisis? Padahal Inggris, melalui British Petroleum, sudah mendapat konsesi ladang gas Tangguh di Papua, juga sejumlah konsesi tambang lain. Kendati SBY pernah menerima gelar Grand Cross of Bath dari Kerajaan Inggris, bukan berarti kita boleh lembek terhadap mereka. Pemerintah Inggris pun harus introspeksi mengingat punya riwayat separatisme panjang dengan Irlandia Utara dan Skotlandia. Realitasnya, Indonesia sebagai negara bangsa, terpecah-pecah daerahnya dalam pulau besar dan kecil, sehingga rentan terhadap gerakan yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Persoalan mendasar yang harus segera dilakukan pemerintah adalah mereformasi diri terhadap sejumlah persoalan yang selama ini menjadi penyebab ketidakadilan dalam masyarakat, semisal kemerebakan korupsi baik di pusat maupun daerah. Kemunculan gerakan makar atau separatis sebetulnya mempertanyakan sejauh mana pemerintah membenahi diri untuk benar-benar mengabdi pada masyarakat dan bangsa.

Mungkin benar tesis Robert Cribb (1999) yang menyebutkan salah satu penyebab kemunculan gerakan makar adalah karena ingin kembali mendapatkan hak-hak kewarganegaraan. Pemerintah pusat dan daerah secara semena-mena berbuat ketidakadilan, seperti membiarkan kemerebakan korupsi yang menyebabkan defisit anggaran pembangunan daerah dan masyarakat.


Boleh jadi, tuntutan makar dan separatisme sebenarnya ingin mempertanyakan keberlimpahan kekayaan alam namun masyarakat seperti tak sedikit pun menikmati. Indonesia memiliki kekayaan hasil tambang, minyak bumi, kekayaan laut, kemakmuran bumi, dan sebagainya, tapi secara terang benderang kita masih melihat kemiskinan, kebodohan, penindasan, dan segala wujud ketidakadilan lain. Tak hanya di Papua tapi secara umum bisa kita temui di belahan lain bumi Nusantara ini. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar