|
Mayoritas siswa di Sekolah
Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) lahir dan tumbuh kembang di lingkungan kehidupan
dan komunitas Sabah, Malaysia. Mereka membaur dengan kebiasaan dan tata
pergaulan orang Sabah. Begitu pula dengan bahasa yang digunakannya. Bahasa yang
diperoleh secara sosiolinguistis adalah bahasa Malaysia dialek Sabah. Dengan
demikian, dalam interaksi sehari-hari antaranggota keluarga dan antarteman,
bahasa yang mereka pakai adalah Bahasa Malaysia dialek Sabah.
Kondisi itu berlanjut hingga
mereka memasuki kelas pembelajaran di SIKK dan secara resmi menjadi siswa SIKK.
Mereka pun dipajankan kepada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas. Akan
tetapi, mengingat bahwa kekerapan pemakaian bahasa Malaysia dialek Sabah-nya
lebih tinggi daripada pemakaian bahasa Indonesia.
Konkretnya, secara formal para
siswa ini memperoleh pelajaran Bahasa Indonesia dan pemajanan bahasa dan budaya
Indonesia di Sekolah hanya 5 jam tiap hari. Selebihnya, waktu mereka diluangkan
di luar sekolah dengan pemakaian interaksional bahasa Malaysia Sabah. Dengan
kondisi dan latar seperti itu, bahasa yang lebih dominan mereka pakai adalah
bahasa Malaysia Sabah. Untuk itu, arah dan fokus kegiatan ekstra kurikuler
Bahasa Indonesia (ekskul-BI) adalah ke, dan pada kemahiran berbahasa
Indonesia
secara praktis, yakni melatih siswa berbahasa Indonesia.
Sebagaimana dipahami, standar
kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan
minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan
berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar
kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon
situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata
pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan sebagai berikut. Pertama, siswa SIKK
dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan
minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya sastra dan
hasil intelektual bangsa sendiri.
Dalam konteks ini, dibutuhkan buku-buku karya
sastra Indonesia sebagai bahan bacaan sastra itu.
Kedua, pendidik agar lebih
memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa Indonesia siswa
dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar. Ketiga,
pendidik agar diberi keleluasaan menentukan bahan ajar kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan kondisi SIKK dan kemampuan siswanya.
Keempat, orangtua atau wali siswa
diminta dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan
kesastraan di sekolah. Konkretnya, orangtua atau wali siswa diminta memberi
keleluasaan waktu kepada siswa untuk mengikuti pelajaran tambahan atau
ekskul-BI.
Pengajaran Bahasa Indonesia untuk
anak-anak Indonesia di Sabah, difokustekankan pada penanaman elan dan semangat
nasionalisme keindonesiaan. Pemakaian bahasa Indonesia (yang baik dan benar)
baik sebagai kemahiran maupun pengetahuan bisa dimulai dari penguasaan kosa
kata dan pemakaiannya. Untuk itu, penyediaan kamus secara cukup memadai di
setiap ruang kelas menjadi sebuah usaha yang perlu dipertimbangkan agar
interferensi dan campur kode pemakaian bahasa Indonesia oleh siswa SIKK bisa
diminimalisasi.
Yang tidak kalah pentingnya,
ketersediaan kamus ekabahasa di setiap ruang kelas akan mempermudah para guru
bidang studi lain ketika mengalami kesulitan untuk menjelaskan makna suatu kata
kepada siswa. Bagaimanapun, hampir semua informasi materi bidang studi apapun
di SIKK disampaikan dalam bahasa Indonesia. Ilmu disampaikan dengan bahasa
Indonesia.
SIKK sering menuai kritik yang
dilontarkan oleh sebagian kalangan masyarakat Indonesia di Sabah berkaitan
dengan cara berbahasa guru yang terbawa arus dengan bermegah-megahan dan
berbangga-bangga berbahasa Malaysia dialek Sabah. Padahal, mereka itu dikirim
ke SIKK untuk menanamkan nasionalisme bagi anak-anak dengan mendorong agar
aktif menggunakan bahasa Indonesia. Ujung-ujungnya malah para guru sendiri yang
terseret derasnya arus berbahasa Malaysia.
Dengan kondisi yang demikian,
bagaimana mungkin para guru itu mampu agar anak aktif menggunakan bahasa
Indonesia? Para guru yang terbawa arus berbahasa Malaysia ini menjadi kendala
untuk mengaktifkan par sisswa berbahasa Indonesia. Upaya melatih dan membekali
para guru untuk membangun kesadaran berbahasa Indonesia perlu dilakukan agar
mereka itu tidak tergerus nasionalisme dan semangat keindonesiaannya.
Guru sebagai sumber daya akademis
memang memainkan peran penting untuk memperlancar jalannya pembelajaran di
kelas. Keadaan, rasio, dan proporsi guru dan siswa di SIKK perlu diperhatikan.
Proporsi itu tidak hanya menyangkut kuantitas guru untuk mengimbangi jumlah
siswa yang ada, tetapi juga menyangkut bidang studi untuk memenuhi kebutuhan
ilmu siswa.
Kondisi yang terjadi sekarang
adalah adanya ketimpangan jumlah guru yang mengajar bidang studi yang satu
dengan bidang studi lainnya. Sebagai contoh nyata, di sisi satu terdapat
kelebihan guru bidang studi Penjasorkes hingga 5 orang, namun di sisi lain
terdapat kekurangan bahkan ketiadaan guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Seni Budaya
dan Kesenian (SBK).
Untuk
itu, pengiriman guru ke SIKK disarankan tetap memerhatikan kebutuhan melalui
analisis kebutuhan secara cermat dan praktis untuk memeriksa kembali di
lapangan, guru bidang studi apa yang betul-betul diperlukan di SIKK. Dengan demikian,
ketimpangan itu bisa diatasi dan terjadi keseimbangan antar bidang studi. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar