|
Kalangan elite belum berkompetisi
untuk memberi yang terbaik kepada rakyat. Mereka malah menjarah
sebanyak-banyaknya dari rakyat. Mereka mengeruk uang negara, membengkakkan
anggaran, perjalanan dinas, menyalahalamatkan program pembangunan, dan
menggalakkan “program-program” pemborosan uang negara.
Setiap
kali Lebaran, pejabat negara menggelar open house (OH). Gelaran tradisi Lebaran
ini dilakukan untuk mengundang atau menunggu setiap orang supaya berkenan
datang mengunjungi, mulai dari sesama pejabat, kerabat, hingga rakyat jelata.
OH model demikian tidak perlu dipertahankan. Idealnya, yang harus menggelar "OH" rakyat kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang selama ini duduk manis menikmati kursi kekuasaan dan fasilitas-fasilitas eksklusif berkewajiban mendatangi dan melihat secara langsung realitas obyektif kehidupan rakyat.
Suatu ketika, nabi Muhammad ditanya sahabat-sahabatnya: "Di manakah kami menemukanmu yang paling mudah?" Dijawab: "Tempat terbaikku adalah orang-orang kecil, orang-orang kalah, orang-orang miskin. Di antara mereka inilah, aku mudah ditemukan."
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa "rumah terbaik" yang dimilikinya adalah kalangan masyarakat kecil atau kelompok akar rumput. Dalam realitas kehidupan wong cilik ini, nabi telah menjadikannya sebagai "OH" terbaik, yang membuatnya bisa menemukan kedamaian dan keharmonisan.
Dalam diri wong cilik dapat ditemukan "surga." Ini artinya wong cilik harus dijadikan sebagai OH setiap elitis negara atau kelompok ekonomi mapan. Setiap pemimpin berkewajiban mengunjungi dan memberi yang terbaik kepada wong cilik.
OH wong cilik dalam arti luas, elite harus datang melayani segala kebutuhan dalam kehidupan ekonomi, politik, dan sosial.
Jiwa kepemimpinan berbasis kerakyatan atau empati sosial benar-benar ditunjukkan nabi, bukan sekadar ucapan untuk mengingatkan publik, tetapi benar-benar dilabuhkan di tengah kehidupan rakyat. Kelompok elite banyak diingatkan bahwa mereka telah menerima banyak, maka menjadi kewajiban kalau mereka juga memberi sebab di dalam penerimaan yang banyak itu ada hak orang lain yang harus ditegakkan.
Di antara peringatan yang sangat populer, "tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah". Dengan kata lain, setiap elemen masyarakat hendaknya menunjukkan etos kerja tinggi, bukan sebagai peminta. Setiap orang yang sudah dipercaya jadi elitis atau pemimpin, jangan sampai tergiring untuk mengutamakan kepentingan sendiri. Mereka harus memikirkan kepentingan rakyat.
Seorang pemimpin, selain berkewajiban mengarahkan atau membina rakyat, juga fokus membentuk mental kepribadian yang tidak selalu atau sering menerima status di bawah. Sebaliknya, mereka harus menguatkan mental bawahan atau rakyat sebagai pekerja yang militan, kreator, dan tangguh. Berbagai kesulitan, seperti kemiskinan, harus menjadi pekerjaan OH supaya dicari solusi.
Pemimpin negeri ini perlu melihat laporan Bank Dunia yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk miskin Asia Tenggara ada di Indonesia. Lebih dari 110 juta orang Indonesia hidup dengan penghasilan kurang dari 2 dollar AS atau di bawah 19.000 rupiah per hari. Orang sebanyak itu sama dengan total penduduk Malaysia ditambah seluruh penduduk Vietnam dan Kamboja, (Ilham Gunawan, 2012).
Ironisnya, masih terbaca kondisi paradoksal, di mana saat wong cilik seharusnya menggelar OH, pemimpin negeri ini lebih sering mengeluh dan "curhat" atas masalah-masalah pribadinya di depan rakyat. Lantas, kepada siapa rakyat harus mengeluh dan menyampaikan kesulitan ekonominya kalau elite pemimpinnya saja masih mempertanyakan berbagai kesulitan pribadi, keluarga, dan partainya?
Wong cilik yang berpenghasilan 10-15 ribu per hari sangat banyak. Untuk menutup kekurangan kebutuhan sehari-harinya, mereka harus berjuang keras menjadi "PNS" (pencari nafkah serabutan). Yang tak kuat mental dalam menghadapi beratnya kehidupan bisa saja memilih mengakhiri hidup.
Angka bunuh diri dari waktu ke waktu meningkat. Pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, A Prayitno, mengatakan penyebab bunuh diri antara lain kemiskinan, mahalnya biaya sekolah, kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri.
Ideal
Dalam kondisi rakyat seperti itu, idealnya pemimpin menjadikannya sebagai OH terbaiknya, dan bukan tergiring memikirkan soal kesulitan eksklusif yang dihadapinya. Mereka harus lebih fokus melayani rakyat agar terbebas dari keterpurukan, kemiskinan, kekurangan gizi. OH harus berhasil melepaskan rakyat dari himpitan problem berat kehidupan.
Dalam kasus itu, apa yang disampaikan mantan presiden Amerika, John F Kennedy,"Berikan apa yang terbaik untuk negaramu, jangan bertanya apa yang diberikan negara kepadamu", tampaknya tepat dijadikan pesan moral untuk mengingatkan setiap elemen pemimpin negeri ini. Yang terbaik dalam kehidupan bernegara memang bukan mempertanyakan atau menggugat berapa banyak negara memberi kepada diri, keluarga, dan partainya, tetapi berapa banyak mereka memberikan yang terbaik pada wong cilik (negara).
Kalau setiap elemen negara fokus mengarahkan pikiran demi rakyat bisa mengeliminasi beban hidup warga.
Sayang, kalangan elite belum berkompetisi untuk memberi yang terbaik pada rakyat. Mereka malah menjarah sebanyak-banyaknya dari rakyat. Mereka mengeruk uang negara, membengkakkan anggaran, perjalanan dinas, menyalahalamatkan program pembangunan, atau menggalakkan "program-program" pemborosan uang negara.
Mereka lupa, bahwa wong cilik adalah OH terbaik. Mereka terjangkit penyakit amnesia amanat sehingga mengecilkan akses kehidupan wong cilik. Elite selalu merasa menjadi korban diskriminasi, meski sudah mengambil banyak. Prinsip konstitusi yang menggariskan bahwa segala kekayaan negara digunakan untuk memaksimalkan kemakmuran rakyat, diganti untuk pemenuhan segala kepentingan diri, keluarga, serta partainya. ●
OH model demikian tidak perlu dipertahankan. Idealnya, yang harus menggelar "OH" rakyat kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang selama ini duduk manis menikmati kursi kekuasaan dan fasilitas-fasilitas eksklusif berkewajiban mendatangi dan melihat secara langsung realitas obyektif kehidupan rakyat.
Suatu ketika, nabi Muhammad ditanya sahabat-sahabatnya: "Di manakah kami menemukanmu yang paling mudah?" Dijawab: "Tempat terbaikku adalah orang-orang kecil, orang-orang kalah, orang-orang miskin. Di antara mereka inilah, aku mudah ditemukan."
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa "rumah terbaik" yang dimilikinya adalah kalangan masyarakat kecil atau kelompok akar rumput. Dalam realitas kehidupan wong cilik ini, nabi telah menjadikannya sebagai "OH" terbaik, yang membuatnya bisa menemukan kedamaian dan keharmonisan.
Dalam diri wong cilik dapat ditemukan "surga." Ini artinya wong cilik harus dijadikan sebagai OH setiap elitis negara atau kelompok ekonomi mapan. Setiap pemimpin berkewajiban mengunjungi dan memberi yang terbaik kepada wong cilik.
OH wong cilik dalam arti luas, elite harus datang melayani segala kebutuhan dalam kehidupan ekonomi, politik, dan sosial.
Jiwa kepemimpinan berbasis kerakyatan atau empati sosial benar-benar ditunjukkan nabi, bukan sekadar ucapan untuk mengingatkan publik, tetapi benar-benar dilabuhkan di tengah kehidupan rakyat. Kelompok elite banyak diingatkan bahwa mereka telah menerima banyak, maka menjadi kewajiban kalau mereka juga memberi sebab di dalam penerimaan yang banyak itu ada hak orang lain yang harus ditegakkan.
Di antara peringatan yang sangat populer, "tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah". Dengan kata lain, setiap elemen masyarakat hendaknya menunjukkan etos kerja tinggi, bukan sebagai peminta. Setiap orang yang sudah dipercaya jadi elitis atau pemimpin, jangan sampai tergiring untuk mengutamakan kepentingan sendiri. Mereka harus memikirkan kepentingan rakyat.
Seorang pemimpin, selain berkewajiban mengarahkan atau membina rakyat, juga fokus membentuk mental kepribadian yang tidak selalu atau sering menerima status di bawah. Sebaliknya, mereka harus menguatkan mental bawahan atau rakyat sebagai pekerja yang militan, kreator, dan tangguh. Berbagai kesulitan, seperti kemiskinan, harus menjadi pekerjaan OH supaya dicari solusi.
Pemimpin negeri ini perlu melihat laporan Bank Dunia yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk miskin Asia Tenggara ada di Indonesia. Lebih dari 110 juta orang Indonesia hidup dengan penghasilan kurang dari 2 dollar AS atau di bawah 19.000 rupiah per hari. Orang sebanyak itu sama dengan total penduduk Malaysia ditambah seluruh penduduk Vietnam dan Kamboja, (Ilham Gunawan, 2012).
Ironisnya, masih terbaca kondisi paradoksal, di mana saat wong cilik seharusnya menggelar OH, pemimpin negeri ini lebih sering mengeluh dan "curhat" atas masalah-masalah pribadinya di depan rakyat. Lantas, kepada siapa rakyat harus mengeluh dan menyampaikan kesulitan ekonominya kalau elite pemimpinnya saja masih mempertanyakan berbagai kesulitan pribadi, keluarga, dan partainya?
Wong cilik yang berpenghasilan 10-15 ribu per hari sangat banyak. Untuk menutup kekurangan kebutuhan sehari-harinya, mereka harus berjuang keras menjadi "PNS" (pencari nafkah serabutan). Yang tak kuat mental dalam menghadapi beratnya kehidupan bisa saja memilih mengakhiri hidup.
Angka bunuh diri dari waktu ke waktu meningkat. Pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, A Prayitno, mengatakan penyebab bunuh diri antara lain kemiskinan, mahalnya biaya sekolah, kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri.
Ideal
Dalam kondisi rakyat seperti itu, idealnya pemimpin menjadikannya sebagai OH terbaiknya, dan bukan tergiring memikirkan soal kesulitan eksklusif yang dihadapinya. Mereka harus lebih fokus melayani rakyat agar terbebas dari keterpurukan, kemiskinan, kekurangan gizi. OH harus berhasil melepaskan rakyat dari himpitan problem berat kehidupan.
Dalam kasus itu, apa yang disampaikan mantan presiden Amerika, John F Kennedy,"Berikan apa yang terbaik untuk negaramu, jangan bertanya apa yang diberikan negara kepadamu", tampaknya tepat dijadikan pesan moral untuk mengingatkan setiap elemen pemimpin negeri ini. Yang terbaik dalam kehidupan bernegara memang bukan mempertanyakan atau menggugat berapa banyak negara memberi kepada diri, keluarga, dan partainya, tetapi berapa banyak mereka memberikan yang terbaik pada wong cilik (negara).
Kalau setiap elemen negara fokus mengarahkan pikiran demi rakyat bisa mengeliminasi beban hidup warga.
Sayang, kalangan elite belum berkompetisi untuk memberi yang terbaik pada rakyat. Mereka malah menjarah sebanyak-banyaknya dari rakyat. Mereka mengeruk uang negara, membengkakkan anggaran, perjalanan dinas, menyalahalamatkan program pembangunan, atau menggalakkan "program-program" pemborosan uang negara.
Mereka lupa, bahwa wong cilik adalah OH terbaik. Mereka terjangkit penyakit amnesia amanat sehingga mengecilkan akses kehidupan wong cilik. Elite selalu merasa menjadi korban diskriminasi, meski sudah mengambil banyak. Prinsip konstitusi yang menggariskan bahwa segala kekayaan negara digunakan untuk memaksimalkan kemakmuran rakyat, diganti untuk pemenuhan segala kepentingan diri, keluarga, serta partainya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar