|
APA yang kita tahu tentang otak?
Ada, tetapi tidak banyak. Data dari PubMed menunjukkan bahwa sejak 1996 sampai
dengan 2000, setiap tahun rata-rata dibuat sekitar 30 ribu laporan penelitian
dan karya ilmiah tentang otak. Namun, ribuan ilmuwan tersebut masih mengatakan,
“There is more we do NOT know about the
brain, than what we do know about the brain”. (Masih banyak yang TIDAK kita
ketahui tentang otak, daripada yang telah kita ketahui tentangnya). Betapa luas
Tuhan menciptakan ‘seonggok benda’ bernama otak yang begitu rumit dan sempurna.
Dalam pandangan para ahli hikmah, manusia disebut sebagai
hewan yang berpikir (al-insaan hayawan
alnaathiq). Berpikir (think) itu
kata kerja, sebuah kerja yang menggunakan otak (brain) agar manusia dapat menggunakan akal pikirannya (mind) dalam melakukan sesuatu. Namun, menggunakan
otak saja tak cukup. Karena itu, otak perlu penuntun dan fungsi penuntun
diletakkan di hati, sebuah benda yang tak jelas posisinya, karena ketika kita
mengatakan ‘hati’ kita selalu memegang bagian dada, tempat jantung dan
paru-paru berada. Adapun hati, jika tak salah, letaknya di bagian belakang dan
bawah perut. Dalam bahasa agama, jika otak sudah dipadukan dengan hati,
seseorang dapat disebut telah berakal (sensible),
sebuah potensi yang membuat manusia berbeda dan disebut hewan yang berpikir, hewan
yang memiliki otak paling lengkap dan sempurna.
Berkaitan dengan otak jugalah dalam bulan puasa ini, saya
kehilangan dua keponakan yang cantik, cerdas, dan lugu karena dipanggil Tuhan. Yang
agak membuat hati dan otak selalu bertanya adalah, apa maksud Tuhan memberikan
usia sependek itu kepada kedua keponakan yang wafat dalam usia yang masih
sangat belia, Nadzifah, 16 bulan, dan Muhammad Azra, 7 tahun. Apalagi untuk
Azra, ketika kelucuan dan keceriaannya baru tumbuh, tiba-tiba harus mengalami
serangan tumor otak yang mematikan. Setelah 5 hari dalam kondisi koma karena brain-dead, Azra wafat di tengah
kegundahan kedua orangtuanya yang hampirhampir diminta untuk membuat keputusan
sulit dalam menentukan kelanjutan hidup anaknya yang terserang matinya batang otak.
Ada konsekuensi
Dalam pendidikan, mengambil keputusan adalah bagian yang
secara terus menerus harus diajarkan. Namun, dalam pendidikan juga perlu
diberikan kesadaran tentang peran Tuhan dalam setiap konsekuensi yang akan
menyertai setiap keputusan. Karena itu, selain mengajarkan strategi dan
kreativitas untuk melihat sebuah persoalan dari beragam sudut pandang, kita
perlu juga untuk memberikan pemahaman memaknai peran Tuhan dalam skema
ketergantungan satu manusia dengan lainnya. Kesalahan kita selama ini adalah
menganggap posisi saling ketergantungan sebagai hal biasa, padahal sesungguhnya
ada pesan teologis luar biasa, yaitu sebuah pesan teologis untuk memahami Tuhan
melalui dan dengan mencintai sesama ciptaan-Nya.
Peristiwa matinya batang otak Azra memberikan saya sebuah
kesadaran bahwa peran otak sangatlah vital dalam menunjang saling
ketergantungan anggota tubuh lainnya. Tak satu pun organ vital yang dimiliki
manusia yang tidak terhubung dengan pusat saraf di otak. Ini berarti saling
ketergantungan antara organ tubuh satu dan lainnya merupakan sunnatullah yang
harus dimaknai secara sadar oleh setiap pendidik. Bahwa dalam realitas sosial interconnecting antara manusia satu dan
lainnya menyerupai ketergantungan antarorgan vital tubuh manusia. Begitulah
seharusnya pendidikan disadari sebagai sebuah proses yang memiliki saling
ketergantungan antarrelasi.
Dalam skema system
thinking in school, kita diajak untuk mengenal apa yang disebut sebagai
relasi antareksistensi. Hal ini sejalan dengan bagaimana kita memahami mengapa
Tuhan begitu repot dan detail dalam membuat beragam jenis serangga sebagai
bagian dari ekosistem kehidupan manusia dan alam. Dengan sangat indah, Peter
Senge dalam School That Learns: A Fifth
Discipline Fieldbook for Educators, Parents, and Everyone Who Cares About
Education (2000) mengenalkan basis rekognisi hubungan baik antarsesama
manusia sebagai modal dalam mengawal proses pendidikan yang baik. Kemampuan
untuk mengenal identitas orang lain dan nilai yang diberikannya dalam sebuah
kehidupan adalah bagian terpenting dari sebuah proses pendidikan.
Kalimat I see you
menjadi berharga ketika kita dapat melihat eksistensi dan manfaat orang lain
terhadap kita, serta sebaliknya, kita akan berharga ketika orang lain juga
melihat eksistensi dan nilai yang dapat kita berikan terhadap kehidupan orang
lain.
Belajar dari suku-suku Natal Utara di Afrika Selatan, ada
cara unik masyarakat di sana dalam menyapa seseorang yang serupa dengan kata hello, yaitu kata sawu bona yang secara literal berarti I see you. Jika kita berkunjung ke sana dan menyapa mereka dengan sawu bona, kita harus menyapa mereka
kembali dengan kata sikhona, yang berarti I am here. Sapaan ini memiliki makna
yang amat mendalam, yang kurang lebih berarti until you see me, I do not exist. It’s as if, when you see me, you
bring me into existence. Jadi, pengakuan orang lainlah yang membuat kita
eksis dan ada.
Intinya, secara implisit dua kata tadi merupakan spirit
dari Ubuntu, yang dalam terminologi bahasa Zulu disebut muntu ngumuntu nagabantu, yang berarti bahwa seseorang dapat
dikatakan sebagai seseorang karena ada orang lain (A person is a person because of other people). Jika sebuah proses
pendidikan tumbuh dan berkembang dengan perspektif semacam ini, dapat
dipastikan bahwa sebuah sekolah akan memiliki banyak energi untuk selalu saling
berbagi, saling mengenali, dan saling berkomunikasi dengan satu bahasa, yaitu
bahasa kemanusiaan (human language).
Sungguh, kehilangan Azra merupakan kesedihan luar biasa
bagi saya. Namun, pada saat yang sama, saya disadarkan tentang hubungan
antarrelasi yang harus terus kita jaga dalam membentuk jaringan kemanusiaan
yang saling menghargai dan menghormati sesama, persis seperti organ tubuh kita
yang saling menopang satu sama lainnya. Selamat
jalan Azra, Allah dan Rasul-Nya pasti sedang bercengkerama bersamamu di alam
tanpa fana. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar