Senin, 05 Agustus 2013

Muhammad Azra dan Campur Tangan Tuhan

Muhammad Azra dan Campur Tangan Tuhan
Ahmad Baedowi ;  Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
          MEDIA INDONESIA, 05 Agustus 2013


APA yang kita tahu tentang otak? Ada, tetapi tidak banyak. Data dari PubMed menunjukkan bahwa sejak 1996 sampai dengan 2000, setiap tahun rata-rata dibuat sekitar 30 ribu laporan penelitian dan karya ilmiah tentang otak. Namun, ribuan ilmuwan tersebut masih mengatakan, “There is more we do NOT know about the brain, than what we do know about the brain”. (Masih banyak yang TIDAK kita ketahui tentang otak, daripada yang telah kita ketahui tentangnya). Betapa luas Tuhan menciptakan ‘seonggok benda’ bernama otak yang begitu rumit dan sempurna.

Dalam pandangan para ahli hikmah, manusia disebut sebagai hewan yang berpikir (al-insaan hayawan alnaathiq). Berpikir (think) itu kata kerja, sebuah kerja yang menggunakan otak (brain) agar manusia dapat menggunakan akal pikirannya (mind) dalam melakukan sesuatu. Namun, menggunakan otak saja tak cukup. Karena itu, otak perlu penuntun dan fungsi penuntun diletakkan di hati, sebuah benda yang tak jelas posisinya, karena ketika kita mengatakan ‘hati’ kita selalu memegang bagian dada, tempat jantung dan paru-paru berada. Adapun hati, jika tak salah, letaknya di bagian belakang dan bawah perut. Dalam bahasa agama, jika otak sudah dipadukan dengan hati, seseorang dapat disebut telah berakal (sensible), sebuah potensi yang membuat manusia berbeda dan disebut hewan yang berpikir, hewan yang memiliki otak paling lengkap dan sempurna.

Berkaitan dengan otak jugalah dalam bulan puasa ini, saya kehilangan dua keponakan yang cantik, cerdas, dan lugu karena dipanggil Tuhan. Yang agak membuat hati dan otak selalu bertanya adalah, apa maksud Tuhan memberikan usia sependek itu kepada kedua keponakan yang wafat dalam usia yang masih sangat belia, Nadzifah, 16 bulan, dan Muhammad Azra, 7 tahun. Apalagi untuk Azra, ketika kelucuan dan keceriaannya baru tumbuh, tiba-tiba harus mengalami serangan tumor otak yang mematikan. Setelah 5 hari dalam kondisi koma karena brain-dead, Azra wafat di tengah kegundahan kedua orangtuanya yang hampirhampir diminta untuk membuat keputusan sulit dalam menentukan kelanjutan hidup anaknya yang terserang matinya batang otak.

Ada konsekuensi

Dalam pendidikan, mengambil keputusan adalah bagian yang secara terus menerus harus diajarkan. Namun, dalam pendidikan juga perlu diberikan kesadaran tentang peran Tuhan dalam setiap konsekuensi yang akan menyertai setiap keputusan. Karena itu, selain mengajarkan strategi dan kreativitas untuk melihat sebuah persoalan dari beragam sudut pandang, kita perlu juga untuk memberikan pemahaman memaknai peran Tuhan dalam skema ketergantungan satu manusia dengan lainnya. Kesalahan kita selama ini adalah menganggap posisi saling ketergantungan sebagai hal biasa, padahal sesungguhnya ada pesan teologis luar biasa, yaitu sebuah pesan teologis untuk memahami Tuhan melalui dan dengan mencintai sesama ciptaan-Nya.

Peristiwa matinya batang otak Azra memberikan saya sebuah kesadaran bahwa peran otak sangatlah vital dalam menunjang saling ketergantungan anggota tubuh lainnya. Tak satu pun organ vital yang dimiliki manusia yang tidak terhubung dengan pusat saraf di otak. Ini berarti saling ketergantungan antara organ tubuh satu dan lainnya merupakan sunnatullah yang harus dimaknai secara sadar oleh setiap pendidik. Bahwa dalam realitas sosial interconnecting antara manusia satu dan lainnya menyerupai ketergantungan antarorgan vital tubuh manusia. Begitulah seharusnya pendidikan disadari sebagai sebuah proses yang memiliki saling ketergantungan antarrelasi.

Dalam skema system thinking in school, kita diajak untuk mengenal apa yang disebut sebagai relasi antareksistensi. Hal ini sejalan dengan bagaimana kita memahami mengapa Tuhan begitu repot dan detail dalam membuat beragam jenis serangga sebagai bagian dari ekosistem kehidupan manusia dan alam. Dengan sangat indah, Peter Senge dalam School That Learns: A Fifth Discipline Fieldbook for Educators, Parents, and Everyone Who Cares About Education (2000) mengenalkan basis rekognisi hubungan baik antarsesama manusia sebagai modal dalam mengawal proses pendidikan yang baik. Kemampuan untuk mengenal identitas orang lain dan nilai yang diberikannya dalam sebuah kehidupan adalah bagian terpenting dari sebuah proses pendidikan.

Kalimat I see you menjadi berharga ketika kita dapat melihat eksistensi dan manfaat orang lain terhadap kita, serta sebaliknya, kita akan berharga ketika orang lain juga melihat eksistensi dan nilai yang dapat kita berikan terhadap kehidupan orang lain.

Belajar dari suku-suku Natal Utara di Afrika Selatan, ada cara unik masyarakat di sana dalam menyapa seseorang yang serupa dengan kata hello, yaitu kata sawu bona yang secara literal berarti I see you. Jika kita berkunjung ke sana dan menyapa mereka dengan sawu bona, kita harus menyapa mereka kembali dengan kata sikhona, yang berarti I am here. Sapaan ini memiliki makna yang amat mendalam, yang kurang lebih berarti until you see me, I do not exist. It’s as if, when you see me, you bring me into existence. Jadi, pengakuan orang lainlah yang membuat kita eksis dan ada.

Intinya, secara implisit dua kata tadi merupakan spirit dari Ubuntu, yang dalam terminologi bahasa Zulu disebut muntu ngumuntu nagabantu, yang berarti bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai seseorang karena ada orang lain (A person is a person because of other people). Jika sebuah proses pendidikan tumbuh dan berkembang dengan perspektif semacam ini, dapat dipastikan bahwa sebuah sekolah akan memiliki banyak energi untuk selalu saling berbagi, saling mengenali, dan saling berkomunikasi dengan satu bahasa, yaitu bahasa kemanusiaan (human language).


Sungguh, kehilangan Azra merupakan kesedihan luar biasa bagi saya. Namun, pada saat yang sama, saya disadarkan tentang hubungan antarrelasi yang harus terus kita jaga dalam membentuk jaringan kemanusiaan yang saling menghargai dan menghormati sesama, persis seperti organ tubuh kita yang saling menopang satu sama lainnya. Selamat jalan Azra, Allah dan Rasul-Nya pasti sedang bercengkerama bersamamu di alam tanpa fana. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar