Senin, 05 Agustus 2013

Mudik dan Transformasi Edukasi Desa

Mudik dan Transformasi Edukasi Desa
Junaidi Abdul Munif ;  Direktur El-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim Semarang
          MEDIA INDONESIA, 05 Agustus 2013


MUDIK menjadi peristiwa rutin yang berlang sung setiap tahun, saat akhir bulan puasa (Ramadan) dan menjelang Lebaran (Idul Fitri). Agama memandang mudik sebagai cara menuju fitrah (kesucian) dan kebudayaan melihat mudik `jalan pulang' menuju titik pijak tempat manusia berasal/berangkat, tapak tilas sejarah (nyekar/ziarah) ke makam leluhur, juga meneguhkan hidup manusia yang komunal.

Perekonomian mengelaborasi mudik dalam lalu lintas uang dan barang. Konsumerisme bersatu-padan dengan prestise sosial. Secara heroik, lalu lintas ekonomi saat mudik dipandang berpotensi membangkitkan ekonomi perdesaan yang tiarap akibat desakan kapitalisme kota dan lahan pertanian yang diserang hama. Banyak sudut pandang untuk menjadikan mudik tidak hanya sebagai peristiwa rutin, tapi berharap mudik membawa suasana, gairah, religiositas, dan kebangkitan ekonomi (penghasilan) pelaku mudik. Televisi dan media massa menginformasikan para pekerja urban yang pulang kampung, persiapan mudik, jalur mudik, korban kecelakaan selama mudik, dan kegiatan ataupun harapan terhadap kampung halaman.

Namun, yang sering luput dari pemberitaan di media ialah yang mudik bukan hanya pekerja, melainkan juga kaum terpelajar, yakni para mahasiswa. Mungkin banyak mahasiswa memandang mudik sebagai liburan. Seperti halnya liburan semester, mudik merupakan istirahat dari rutinitas. Dengan alasan belum bekerja, mereka tak perlu sibuk memikirkan harapan dan apa yang mesti dilakukan terhadap desanya. 
Toh, setelah liburan mereka akan kembali belajar di kota lagi.

Kota besar semakin sesak akibat manusia urban yang berebut rezeki. Kehidupan ekonomi dan kesuksesan di kota diharapkan akan berimbas untuk pembangunan desa. Problematika sesaknya kota tidak hanya dipicu arus urbanisasi tahunan dari desa ke kota. Mereka itu, yang sering disebut sebagai tenaga kerja ‘tidak berketerampilan’, datang ke Ibu Kota dengan modal nekat dan tenaga. Mereka berharap keberuntungan akan berpihak. Ada ketimpangan antara kota dan desa, di kota lebih banyak lapangan kerja daripada di desa. Situasi tersebut menyebabkan arus urbanisasi tak terbendung. Orang desa menyerbu kota dengan harapan dapat mengubah nasib.

Kekerasan simbolis

Paradigma yang memandang kekayaan materi dan hidup di kota sebagai kebahagiaan menjangkiti mental kaum terpelajar di Indonesia. Jika ditanya, tujuan mereka kuliah apa, jawabannya mayoritas hampir seragam; untuk bekerja. Indikator pendidikan yang berhasil ialah pekerjaan yang kompensasinya (gaji) besar. Begitulah narasi pendidikan kita yang melihat bahwa manusia sukses dalam pendidikannya adalah bekerja. Bekerja di kota gajinya lebih besar daripada di desa meski biaya hidup di kota lebih besar ketimbang di desa.

Apa yang kira-kira memunculkan paradigma kota sebagai masa depan yang lebih menjanjikan secara ekonomis? Nanang Martono (2012) meneliti adanya kekerasan simbolis dalam buku pelajaran BSE (buku sekolah elektronik), terutama BSE untuk sekolah dasar (SD). Dengan menggunakan teori Pierre Bourdieu, model kekerasan itu ialah kekerasan terselubung, dominasi kelas sosial tertentu, dan membuat korban merasa sedang tidak menerima tindak kekerasan.

Dalam buku BSE untuk anak SD itu banyak ditemukan narasi/deskripsi dan gambar yang menunjukkan ke hidupan kelas sosial tertentu. Padahal, SD merupakan jenjang pendidikan yang mayoritas masyarakat mengaksesnya.
Habitus kelas tertentu yang ditunjukkan lewat bahasa, seperti liburan, merayakan ulang tahun, ayah bekerja di kantor, hadiah ulang tahun, ditemukan di hampir semua mata pelajaran. Lalu gambar ilustrasi yang menunjukkan rumah mewah, ruang tamu, dapur dengan perabotan lengkap, anak menonton televisi di kamar, juga kerap muncul. Semua bentuk bahasa dan ilustrasi hampir mustahil dimiliki anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Problem menghadapi kekerasan simbolis mata pelajaran itulah yang diceritakan dengan baik oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya Pelajaran Mengarang. Sandra (kelas V SD) dipaksa mengarang bertema Keluarga kami yang bahagia, liburan ke rumah nenek, dan ibu. Tiga situasi yang tidak ditemukan dalam keseharian hidup Sandra yang anak seorang pekerja seks komersial. Sandra dijauhkan dari habitus kesehariannya.

Namun apa yang diteliti Martono itu sesungguhnya sudah terjadi sejak lama. Sebelum marak BSE, buku pelajaran sudah menunjukkan habitus kelas tertentu. Buku-buku pelajaran 1990-an juga sudah banyak memendam kekerasan simbolis. Generasi mahasiswa pekerja urban hari ini adalah generasi seusia Sandra, yang cerpen itu ditulis pada 1992. Jadi, anak-anak SD sejak dulu dihadapkan pada dunia yang sebetulnya bukan keseharian mereka. Sama seperti anak kecil di kampung yang mayoritas muslim diajari menyanyikan lagu “Aku punya anjing kecil, kuberi nama Heli.“ Padahal di kampungnya tidak ada yang memelihara anjing.

Sementara itu, habitus desa tidak diberi porsi yang sama besarnya dengan potret kehidupan orang kota. Ketidakberimbangan ilustrasi materi itu memunculkan disparitas kelas antara orang kaya (kelas atas) dan orang miskin (kelas bawah). Desa kemudian diidentikkan dengan kemiskinan, tradisional, dan kehidupan yang tertinggal. Siapakah yang ingin menjadi miskin dan tertinggal? Tidak ada. Maka kota dan atribut kotanya adalah harapan untuk meninggalkan kemiskinan itu. Hidup di kota menjadi idealitas.

Teralienasi dari desa

Warisan kekerasan simbolis itu dipelihara sampai anak SD itu menjalani proses pendidikan ke jenjang selanjutnya, sampai mereka bekerja dan berkeluarga. Terlebih, universi tas atau perguruan tinggi hanya ada di kota. Habitus mahasiswa bertransformasi dari desa ke kota. Itu disertai nilai-nilai urban yang turut memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak, yang ketiga lokus itu menjadi fondasi awal untuk disebut sebagai manusia ‘modern’.

Mahasiswa yang hidup di kota teralienasi dari desa sebagai habitus awalnya. Nilai-nilai rural (desa) ditinggalkan perlahan, mungkin juga kosmologi dan kearifan desa itu sendiri. Ivan Illich (1971) sudah menyindir situasi ketergantungan pada sekolah dan rumah sakit yang dialami masyarakat desa yang mengenyam pendidikan formal (sekolah). Mereka jauh dari kearifan desa yang genuine yang dapat menjadi solusi dari problamatika.

Padahal, desa dalam lanskap sejarahnya menjadi embrio perubahan sosial, ekonomi, dan politik di Nusantara. Desa, dengan kerajaan agung (pesantren), menjadi basis kemandirian ekonomi, politik, dan kebudayaan yang tidak mudah terkooptasi oleh keraton (kekuasaan). Visi yang dibangun dari entitas mikro maupun makro adalah anggemahakening desa (menyejahterakan desa dan orang-orang desa). Masyarakat desa ialah masyarakat yang merdeka, berdaulat atas tanah, dan penduduknya berpijak pada asas kemandirian (Ahmad Baso, 2013).

Transformasi edukasi

Perlu diingat bahwa pembangunan desa bukanlah bertujuan menciptakan desa menjadi kota. Kalau demikian, desa justru kehilangan kemandiriannya. Pertama, pendidikan menjadi aspek terpenting untuk membuka kesadaran masyarakat desa bahwa mereka kuat. Akses untuk mendapatkan pendidikan yang layak, semisal buku bacaan bermutu, terbilang sulit. Membangun taman bacaan masyarakat bisa menjadi contoh nyata bagi pembangunan di desa.

Kedua, kita tahu bahwa apa yang ada di kota merupakan produk mentah yang awalnya di desa. Dalam kehidupan ekonomi dan pertanian, itu tampak jelas. Misalnya petani tak punya posisi tawar yang kuat di mata pemodal yang ada di kota. Mereka mesti diberi semacam pendidikan politik pertanian agar tidak terus ditipu pemodal. Ketiga, keterampilan masyarakat desa belum terasah dengan baik. Memberikan kursus keterampilan kepada anak-anak desa adalah cara yang bisa ditempuh. Dengan harapan, mereka akan mandiri dan dapat memanfaatkan potensi desa dengan baik.

Keempat, desa memiliki nilai sosial yang membuatnya eksis sebagai masyarakat komunal yang bernapaskan semangat gotong royong. Relasi masyarakat desa ialah menghormati kemanusiaan, yang dipandang secara egaliter. Artinya, relasi itu bukan semata bertujuan kompensasi (menguntungkan atau tidak). Relasi manusia yang nirkompensasi itulah yang mulai luntur di perkotaan.


Mudik akan berdampak positif bagi pembangunan nasional manakala seluruh potensi kaum urban yang kembali ke desa bisa membagi pengalaman dan etos kerja bagi masyarakat desa. Yang penting ialah desa tetap dipertahankan sebagai unikum, bukan sebagai antitesis kota, melainkan habitus yang memberi balancing (keseimbangan) cara hidup kota yang kompetitif dan konsumtif. Desa merupakan basis produksi dari gerak ekonomi, sosial, politik, yang mestinya mewarnai kehidupan masyarakat kota, bukan sebaliknya. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar