|
MUDIK menjadi peristiwa rutin yang
berlang sung setiap tahun, saat akhir bulan puasa (Ramadan) dan menjelang
Lebaran (Idul Fitri). Agama memandang mudik sebagai cara menuju fitrah
(kesucian) dan kebudayaan melihat mudik `jalan pulang' menuju titik pijak tempat
manusia berasal/berangkat, tapak tilas sejarah (nyekar/ziarah) ke makam
leluhur, juga meneguhkan hidup manusia yang komunal.
Perekonomian mengelaborasi mudik dalam lalu lintas uang dan
barang. Konsumerisme bersatu-padan dengan prestise sosial. Secara heroik, lalu
lintas ekonomi saat mudik dipandang berpotensi membangkitkan ekonomi perdesaan
yang tiarap akibat desakan kapitalisme kota dan lahan pertanian yang diserang
hama. Banyak sudut pandang untuk menjadikan mudik tidak hanya sebagai peristiwa
rutin, tapi berharap mudik membawa suasana, gairah, religiositas, dan
kebangkitan ekonomi (penghasilan) pelaku mudik. Televisi dan media massa
menginformasikan para pekerja urban yang pulang kampung, persiapan mudik, jalur
mudik, korban kecelakaan selama mudik, dan kegiatan ataupun harapan terhadap
kampung halaman.
Namun, yang sering luput dari pemberitaan di media ialah
yang mudik bukan hanya pekerja, melainkan juga kaum terpelajar, yakni para
mahasiswa. Mungkin banyak mahasiswa memandang mudik sebagai liburan. Seperti
halnya liburan semester, mudik merupakan istirahat dari rutinitas. Dengan
alasan belum bekerja, mereka tak perlu sibuk memikirkan harapan dan apa yang
mesti dilakukan terhadap desanya.
Toh, setelah liburan mereka akan kembali
belajar di kota lagi.
Kota besar semakin sesak akibat manusia urban yang berebut
rezeki. Kehidupan ekonomi dan kesuksesan di kota diharapkan akan berimbas untuk
pembangunan desa. Problematika sesaknya kota tidak hanya dipicu arus urbanisasi
tahunan dari desa ke kota. Mereka itu, yang sering disebut sebagai tenaga kerja
‘tidak berketerampilan’, datang ke Ibu Kota dengan modal nekat dan tenaga.
Mereka berharap keberuntungan akan berpihak. Ada ketimpangan antara kota dan
desa, di kota lebih banyak lapangan kerja daripada di desa. Situasi tersebut
menyebabkan arus urbanisasi tak terbendung. Orang desa menyerbu kota dengan
harapan dapat mengubah nasib.
Kekerasan simbolis
Paradigma
yang memandang kekayaan materi dan hidup di kota sebagai kebahagiaan menjangkiti
mental kaum terpelajar di Indonesia. Jika ditanya, tujuan mereka kuliah apa,
jawabannya mayoritas hampir seragam; untuk bekerja.
Indikator pendidikan yang berhasil ialah pekerjaan yang kompensasinya (gaji) besar.
Begitulah narasi pendidikan kita yang melihat bahwa manusia sukses dalam pendidikannya
adalah bekerja. Bekerja di kota gajinya lebih besar daripada di desa meski
biaya hidup di kota lebih besar ketimbang di desa.
Apa
yang kira-kira memunculkan paradigma kota sebagai masa depan yang lebih menjanjikan
secara ekonomis? Nanang Martono (2012) meneliti adanya kekerasan simbolis dalam
buku pelajaran BSE (buku sekolah elektronik),
terutama BSE untuk sekolah dasar (SD). Dengan menggunakan teori Pierre
Bourdieu, model kekerasan itu ialah kekerasan terselubung, dominasi kelas sosial
tertentu, dan membuat korban merasa sedang tidak menerima tindak kekerasan.
Dalam buku BSE untuk anak SD itu banyak ditemukan
narasi/deskripsi dan gambar yang menunjukkan ke hidupan kelas sosial tertentu.
Padahal, SD merupakan jenjang pendidikan yang mayoritas masyarakat
mengaksesnya.
Habitus kelas tertentu yang ditunjukkan lewat bahasa, seperti liburan,
merayakan ulang tahun, ayah bekerja di kantor, hadiah ulang tahun, ditemukan di
hampir semua mata pelajaran. Lalu gambar ilustrasi yang menunjukkan rumah
mewah, ruang tamu, dapur dengan perabotan lengkap, anak menonton televisi di
kamar, juga kerap muncul. Semua bentuk bahasa dan ilustrasi hampir mustahil
dimiliki anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Problem menghadapi kekerasan simbolis mata pelajaran itulah
yang diceritakan dengan baik oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya
Pelajaran Mengarang. Sandra (kelas V SD) dipaksa mengarang bertema Keluarga
kami yang bahagia, liburan ke rumah nenek, dan ibu. Tiga situasi yang tidak
ditemukan dalam keseharian hidup Sandra yang anak seorang pekerja seks
komersial. Sandra dijauhkan dari habitus kesehariannya.
Namun apa yang diteliti Martono itu sesungguhnya sudah
terjadi sejak lama. Sebelum marak BSE, buku pelajaran sudah menunjukkan habitus
kelas tertentu. Buku-buku pelajaran 1990-an juga sudah banyak memendam
kekerasan simbolis. Generasi mahasiswa pekerja urban hari ini adalah generasi
seusia Sandra, yang cerpen itu ditulis pada 1992. Jadi, anak-anak SD sejak dulu
dihadapkan pada dunia yang sebetulnya bukan keseharian mereka. Sama seperti
anak kecil di kampung yang mayoritas muslim diajari menyanyikan lagu “Aku punya
anjing kecil, kuberi nama Heli.“ Padahal di kampungnya tidak ada yang
memelihara anjing.
Sementara itu, habitus desa tidak diberi porsi yang sama
besarnya dengan potret kehidupan orang kota. Ketidakberimbangan ilustrasi
materi itu memunculkan disparitas kelas antara orang kaya (kelas atas) dan
orang miskin (kelas bawah). Desa kemudian diidentikkan dengan kemiskinan,
tradisional, dan kehidupan yang tertinggal. Siapakah yang ingin menjadi miskin
dan tertinggal? Tidak ada. Maka kota dan atribut kotanya adalah harapan untuk
meninggalkan kemiskinan itu. Hidup di kota menjadi idealitas.
Teralienasi dari
desa
Warisan kekerasan simbolis itu dipelihara sampai anak SD
itu menjalani proses pendidikan ke jenjang selanjutnya, sampai mereka bekerja
dan berkeluarga. Terlebih, universi tas atau perguruan tinggi hanya ada di
kota. Habitus mahasiswa bertransformasi dari desa ke kota. Itu disertai
nilai-nilai urban yang turut memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan
bertindak, yang ketiga lokus itu menjadi fondasi awal untuk disebut sebagai
manusia ‘modern’.
Mahasiswa yang hidup di kota teralienasi dari desa sebagai
habitus awalnya. Nilai-nilai rural (desa) ditinggalkan perlahan, mungkin juga
kosmologi dan kearifan desa itu sendiri. Ivan Illich (1971) sudah menyindir
situasi ketergantungan pada sekolah dan rumah sakit yang dialami masyarakat
desa yang mengenyam pendidikan formal (sekolah). Mereka jauh dari kearifan desa
yang genuine yang dapat menjadi solusi dari problamatika.
Padahal, desa dalam lanskap sejarahnya menjadi embrio
perubahan sosial, ekonomi, dan politik di Nusantara. Desa, dengan kerajaan
agung (pesantren), menjadi basis kemandirian ekonomi, politik, dan kebudayaan
yang tidak mudah terkooptasi oleh keraton (kekuasaan). Visi yang dibangun dari
entitas mikro maupun makro adalah anggemahakening
desa (menyejahterakan desa dan orang-orang desa). Masyarakat desa ialah
masyarakat yang merdeka, berdaulat atas tanah, dan penduduknya berpijak pada
asas kemandirian (Ahmad Baso, 2013).
Transformasi edukasi
Perlu
diingat bahwa pembangunan desa bukanlah bertujuan menciptakan desa menjadi kota.
Kalau demikian, desa justru kehilangan kemandiriannya. Pertama, pendidikan menjadi
aspek terpenting untuk membuka kesadaran masyarakat desa
bahwa mereka kuat. Akses untuk mendapatkan pendidikan yang layak, semisal buku bacaan bermutu, terbilang sulit. Membangun
taman bacaan masyarakat bisa menjadi contoh nyata bagi pembangunan di desa.
Kedua, kita tahu bahwa apa yang ada di kota merupakan
produk mentah yang awalnya di desa. Dalam kehidupan ekonomi dan pertanian, itu
tampak jelas. Misalnya petani tak punya posisi tawar yang kuat di mata pemodal
yang ada di kota. Mereka mesti diberi semacam pendidikan politik pertanian agar
tidak terus ditipu pemodal. Ketiga, keterampilan masyarakat desa belum terasah
dengan baik. Memberikan kursus keterampilan kepada anak-anak desa adalah cara
yang bisa ditempuh. Dengan harapan, mereka akan mandiri dan dapat memanfaatkan
potensi desa dengan baik.
Keempat, desa memiliki nilai sosial yang membuatnya eksis
sebagai masyarakat komunal yang bernapaskan semangat gotong royong. Relasi
masyarakat desa ialah menghormati kemanusiaan, yang dipandang secara egaliter.
Artinya, relasi itu bukan semata bertujuan kompensasi (menguntungkan atau
tidak). Relasi manusia yang nirkompensasi itulah yang mulai luntur di
perkotaan.
Mudik akan berdampak positif bagi pembangunan nasional
manakala seluruh potensi kaum urban yang kembali ke desa bisa membagi
pengalaman dan etos kerja bagi masyarakat desa. Yang penting ialah desa tetap
dipertahankan sebagai unikum, bukan sebagai antitesis kota, melainkan habitus
yang memberi balancing (keseimbangan) cara hidup kota yang kompetitif dan
konsumtif. Desa merupakan basis produksi dari gerak ekonomi, sosial, politik,
yang mestinya mewarnai kehidupan masyarakat kota, bukan sebaliknya. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar