Senin, 05 Agustus 2013

Mudik ke Dalam Diri

Mudik ke Dalam Diri
Radhar Panca Dahana ;  Budayawan
          MEDIA INDONESIA, 05 Agustus 2013


CERITA tentang mudik merupakan repetisi keprihatinan yang kian menyedihkan, khusus nya dalam soal perjalanan yang disulitkan infrastruktur buruk yang seakan memperlihatkan pemerintah tidak bekerja selama puluhan tahun belakangan di persoalan tersebut. Bahkan sebagian aparatus melihat tradisi tersebut menjadi semacam `rezeki Lebar an', rezeki yang didapat di atas kesulitan orang banyak. Itu pun seakan sengaja dipertahankan setiap tahunnya.

Namun sudahlah sementara, ketika kita melihat pemerintah kian tuli atau menulikan diri terhadap kekacauan pengelolaan negara semacam itu. Apa pun yang dilakukan pemerintah, bahkan pun pemerintah tidak bekerja sama sekali, tidak eksis sama sekali, hidup akan terus dilanjutkan bangsa ini, rakyat di seantero negeri, termasuk tradisi yang telah mendarah daging, yakni mudik.

Mudik sebagai sebuah fenomena sosial di negeri kepulauan ini sebenarnya juga menjadi fenomena di tingkat dunia. Tidak ada negeri dengan gairah mudik sekuat dan sebesar ini. Dalam jangka satu waktu, puluhan juta orang meninggalkan tempat tinggalnya, tempatnya berkembang, dan mencari nafkah, untuk kembali ke sebuah wilayah yang usang, kuno, bahkan purba; wilayah yang dahulu begitu bernafsu ia tinggalkan.

Hal yang paradoksal bagi cara berpikir modern yang logosentris itu sebenarnya ialah hal yang alamiah bagi kita penduduk negeri ini jika kita mau memahaminya lewat cara berpikir kebudayaan orisinal kita, kebudayaan maritim. Dalam hidup berkebudayaan itu, sesungguhnya setiap manusia Indonesia tidak bisa berkelit atau meninggalkan secara utuh bagian kepribadian atau karakternya yang sangat primordial. Yakni, keberadaan mereka sebagai manusia yang terikat oleh adat, norma, dan nilai-nilai, beserta ritus-ritus yang mengiringi suku bangsa (etnik) tempat ia berasal.

Orang Jawa selamanya akan `Jawa' di mana pun ia berada, profesi apa pun yang ia pilih, bahkan betapapun ia menolak kejawaannya. Mendiang Pramoedya Ananta Toer ialah pengarang besar yang dianggap banyak kritikusnya sebagai `anti-Jawa' karena pengalaman masa kecilnya bersama sang ayah yang sangat `Jawa'. Namun, siapa pun tidak bisa menolak, bahkan dalam kesehariannya, Pramoedya adalah Jawa tulen, bukan hanya dari sikap, tutur kata, melainkan hingga cara berpikir dan berkontemplasi.

Hal itu berlaku untuk orang Bugis, Batak, Minang, Flores, Maluku, Dayak, dan seterusnya. Diri primordial yang dalam hidup kontemporer hendak kita sisihkan, tinggalkan, atau khianati itu ternyata begitu kuat, membuat semua usaha tersebut senantiasa gagal. Dalam dunia yang primus itu, ternyata kita menemukan eksistensi kita yang sejati, keberadaan sebagai manusia sesungguhnya di muka bumi ini. Sementara itu, hidup kota, urban, atau rantau hanya memberi kita emblem, stempel, atau perabot jati diri yang artifisial, virtual, ilusif, dan tak bertahan lama.

Di daerah rantau (urban/kota), setiap perantau seperti dipaksa dan terpaksa mengkhianati jati dirinya sendiri, dengan menjalankan hidup sangat kompromistis-permisif, yang dihela cara berpikir materialistis-hedonistis. Cara berpikir terakhir itu tentu saja bukan berasal dari adab maritim/kelautan, tapi kontinental/ daratan.

Mudik spiritual

Cara berpikir yang membuat kita sering merasa gamang tentang realitas diri atau eksistensi kita karena hidup modern selalu menyediakan fasilitas untuk kita berbuat yang sesungguhnya tidak sesuai dengan hati nurani kita. Itu bukan jalan hidup atau jalan kebudayaan kita sesungguhnya. Namun, itu terpaksa bahkan harus dilakukan. Sebagian menganggapnya sebagai takdir, sesuatu yang given.

Ketidakstabilan batin itulah yang mendorong kita untuk mudik--bila mampu-agar eksistensi kita di dunia diteguhkan kembali oleh sebuah perangkat lunak yang begitu desisif; adat dan tradisi, terepresentasi sebagai kampung (halaman). Namun, ritus purifikasi diri itu, tradisi `membersihkan' diri--yang kebetulan cocok dengan makna Lebaran atau Idul Fitri--ini, tetap saja berlangsung dalam logika waktu modern: sekadarnya, tak perlu berlebihan. Setelah dua atau seminggu di kampung, dia akan kembali ke kota memenuhi tarikan dan rangsangan modern yang dianggapnya sebagai kewajiban.

Dengan kembali ke hal-hal yang artifisial dan ilusif, sebagaimana sebagian dari kita-yang telah tenggelam dalam kultur digital--sifat-sifat itu ada dalam realitas sesungguhnya. Apa yang baru saja coba dijernihkan akan kita kotori kembali, membuat hidup menggelap dan tak memberi arah yang jelas ke depan. Karena itu, tahun depan harus dijernihkan kembali. Mudik pun jadi momen repetitif-ritus dalam bahasa lainnya-yang terperosok menjadi `kewajiban' kultural kita. Sementara itu, sesungguhnya, ritus tersebut tidaklah selalu harus diartikan dan diprak tikkan secara fisikal dan material, dengan membawa keluarga, harta, dan materi materi keangkuhan kota ke desa, kampung asal.

Dengan memahami sebab dari kegaduhan batin kita saat hidup di kota atau rantau, kita akan menya dari bahwa `mudik' yang sesungguhnya tidak senan tiasa bersifat demografis, material. atau fisikal, tapi spiritual dan transend ental.

Problem utama dari manusia atau masyarakat urban ialah kian tum pulnya hati--kita sengaja atau tidak--dalam mereaksikan perkembangan atau perubahan-perubahan mutakhir yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai tradisional kita. Kita membiarkannya lepas, bahkan lepas kendali, semata untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan hedonistis kita yang dilegitimasi sistem yang berlaku sekarang ini.

Sistem itu mengatakan laissez faire, untuk kamu menjadi `kaya sekaya-kayanya', menjadi `penguasa sekuasakuasanya', bahkan menjadi `konsumen sekonsumtif-konsumtifnya'. Semua itu legal, bahkan menjadi etik dan etos hidup (pos) modern. Bahkan secara etis kemudian, ia menjadi tolok ukur dari harga diri dan martabat seseorang. Menjadi hal yang hidup-mati harus diperjuangkan, bila perlu dengan menyikut, memfitnah, bahkan melenyapkan hidup orang lain.

Maka tidaklah sampai hati kita, bagian terdalam dan tersuci dari dunia batin kita, menahan atau mengekang nafsu kontinental yang begitu dahsyat itu. Kerikuhan, kericuhan, hingga konflik tingkat fisikal pun terjadi di semua golongan, kelas, atau wilayah negeri ini. Sistem telah mendidik kita dengan baik untuk terus mengharap dan berjuang demi `lebih', tak boleh kurang, tak boleh sekadar cukup.

Dan `lebih' yang mudarat dan ria itulah kemudian kita bawa sebagai oleh-oleh keangkuhan modernitas dan urbanitas, sebagai bentuk dominasi yang bernafsu menaklukkan desa, dunia primordial, dan spiritual kita. Bisa Anda bayangkan sendiri, bagaimana bahkan sebelum Ramadan pun terjelang, setiap urbanis mengerahkan daya lebihnya untuk mencari `lebihan' bagi Lebaran, bahkan dengan cara apa pun.

Jihad dalam Ramadan

Realitas batin seperti itulah yang terjadi pada kita, sadar atau tidak kita sadari.
Kita pun tidak juga sadar bahwa hal yang lebih utama dalam `mudik' sesungguhnya ialah kembali atau pulang ke diri sendiri. Ke dalam dunia batin kita, dalam hati kita. Di situlah semua pangkal sebabnya.

Kita memeriksa batin dan hati kita, menyadari pengkhianatan demi pengkhianatan pada dunia spiritual itu. Lalu kita pun belajar dan memaksa diri berlatih untuk mengikuti batin atau hati itu. Menahan semua gerak liar yang kian tak terkendali dari nafsu, emosi, ambisi, dan semua ekspresi negatif dan destruktif dari mental kita. Kita mencukupkan bagi segala, dan semua yang `berlebih' kita posisikan sebagai keserakahan, kesombongan, dan bahkan kejahatan. Karena semua yang `berlebih' sebenarnya kita dapat dengan cara membuat orang lain `kurang'. Itu semacam imperialisme batin.

Ramadan setiap tahun datang sesungguhnya menjadi berkah Allah untuk kita menjalani proses pembersihan batin itu. Menahan segala untuk tidak menjadi haram, mudarat bahkan kufur, membuat diri kita bersyukur dan ikhlas atas apa yang telah dirizkikan oleh-Nya. Inilah jihad yang sesungguhnya, jihad akbar melawan diri sendiri. Ramadan pun menjadi sebuah exercise batin yang sangat berharga, latihan berjihad akbar, untuk kita memuliakan diri sendiri, memuliakan manusia itu sendiri. Memuliakan-Nya.

Maka Lebaran dan Idul Fitri dengan ritus `mudik'-nya bagi rakyat negeri ini sebenarnya merupakan sebuah momen terberi untuk justru kita memulai hari, hidup, dan diri yang baru. Yang menjadi modal spiritual kita menghadapi persoalan dan tantangan hidup selanjutnya. Pertemuan kembali dengan dunia primordial pun bisa kita tempatkan sebagai sebuah tautan yang memperkuat tali kekang di hati kita untuk semua nafsu dan angkara kehidupan modern.


Betapa indahnya puasa dan Idul Fitri yang terjalani seperti itu walau keindahan itu harus dirusak kebrengsekan pemerintah yang tidak mendukung secara infrastruktur. Namun untuk urusan spiritual dan mental, kita tidak perlu peduli dengan kebrengsekan itu. Urusan kita ada dalam kebrengsekan di hati kita sendiri. Maka perbaikilah semua infrastruktur hati, yang akan membuat jalan `mudik' kita ke haribaan-Nya lebih mulus daripada jalan tol mana pun. ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar