|
CERITA tentang mudik merupakan
repetisi keprihatinan yang kian menyedihkan, khusus nya dalam soal perjalanan
yang disulitkan infrastruktur buruk yang seakan memperlihatkan pemerintah tidak
bekerja selama puluhan tahun belakangan di persoalan tersebut. Bahkan sebagian
aparatus melihat tradisi tersebut menjadi semacam `rezeki Lebar an', rezeki
yang didapat di atas kesulitan orang banyak. Itu pun seakan sengaja
dipertahankan setiap tahunnya.
Namun sudahlah sementara, ketika
kita melihat pemerintah kian tuli atau menulikan diri terhadap kekacauan
pengelolaan negara semacam itu. Apa pun yang dilakukan pemerintah, bahkan pun
pemerintah tidak bekerja sama sekali, tidak eksis sama sekali, hidup akan terus
dilanjutkan bangsa ini, rakyat di seantero negeri, termasuk tradisi yang telah
mendarah daging, yakni mudik.
Mudik sebagai sebuah fenomena sosial di negeri kepulauan
ini sebenarnya juga menjadi fenomena di tingkat dunia. Tidak ada negeri dengan
gairah mudik sekuat dan sebesar ini. Dalam jangka satu waktu, puluhan juta
orang meninggalkan tempat tinggalnya, tempatnya berkembang, dan mencari nafkah,
untuk kembali ke sebuah wilayah yang usang, kuno, bahkan purba; wilayah yang
dahulu begitu bernafsu ia tinggalkan.
Hal yang paradoksal bagi cara berpikir modern yang
logosentris itu sebenarnya ialah hal yang alamiah bagi kita penduduk negeri ini
jika kita mau memahaminya lewat cara berpikir kebudayaan orisinal kita,
kebudayaan maritim. Dalam hidup berkebudayaan itu, sesungguhnya setiap manusia
Indonesia tidak bisa berkelit atau meninggalkan secara utuh bagian kepribadian
atau karakternya yang sangat primordial. Yakni, keberadaan mereka sebagai
manusia yang terikat oleh adat, norma, dan nilai-nilai, beserta ritus-ritus
yang mengiringi suku bangsa (etnik) tempat ia berasal.
Orang Jawa selamanya akan `Jawa' di mana pun ia berada,
profesi apa pun yang ia pilih, bahkan betapapun ia menolak kejawaannya.
Mendiang Pramoedya Ananta Toer ialah pengarang besar yang dianggap banyak
kritikusnya sebagai `anti-Jawa' karena pengalaman masa kecilnya bersama sang
ayah yang sangat `Jawa'. Namun, siapa pun tidak bisa menolak, bahkan dalam kesehariannya,
Pramoedya adalah Jawa tulen, bukan hanya dari sikap, tutur kata, melainkan
hingga cara berpikir dan berkontemplasi.
Hal itu berlaku untuk orang Bugis, Batak, Minang, Flores,
Maluku, Dayak, dan seterusnya. Diri primordial yang dalam hidup kontemporer
hendak kita sisihkan, tinggalkan, atau khianati itu ternyata begitu kuat,
membuat semua usaha tersebut senantiasa gagal. Dalam dunia yang primus itu,
ternyata kita menemukan eksistensi kita yang sejati, keberadaan sebagai manusia
sesungguhnya di muka bumi ini. Sementara itu, hidup kota, urban, atau rantau
hanya memberi kita emblem, stempel, atau perabot jati diri yang artifisial,
virtual, ilusif, dan tak bertahan lama.
Di daerah rantau (urban/kota), setiap perantau seperti
dipaksa dan terpaksa mengkhianati jati dirinya sendiri, dengan menjalankan
hidup sangat kompromistis-permisif, yang dihela cara berpikir
materialistis-hedonistis. Cara berpikir terakhir itu tentu saja bukan berasal
dari adab maritim/kelautan, tapi kontinental/ daratan.
Mudik spiritual
Cara berpikir yang membuat kita sering merasa gamang
tentang realitas diri atau eksistensi kita karena hidup modern selalu
menyediakan fasilitas untuk kita berbuat yang sesungguhnya tidak sesuai dengan
hati nurani kita. Itu bukan jalan hidup atau jalan kebudayaan kita
sesungguhnya. Namun, itu terpaksa bahkan harus dilakukan. Sebagian
menganggapnya sebagai takdir, sesuatu yang given.
Ketidakstabilan batin itulah yang mendorong kita untuk
mudik--bila mampu-agar eksistensi kita di dunia diteguhkan kembali oleh sebuah
perangkat lunak yang begitu desisif; adat dan tradisi, terepresentasi sebagai
kampung (halaman). Namun, ritus purifikasi diri itu, tradisi `membersihkan'
diri--yang kebetulan cocok dengan makna Lebaran atau Idul Fitri--ini, tetap saja
berlangsung dalam logika waktu modern: sekadarnya, tak perlu berlebihan. Setelah
dua atau seminggu di kampung, dia akan kembali ke kota memenuhi tarikan dan
rangsangan modern yang dianggapnya sebagai kewajiban.
Dengan kembali ke hal-hal yang artifisial dan ilusif,
sebagaimana sebagian dari kita-yang telah tenggelam dalam kultur
digital--sifat-sifat itu ada dalam realitas sesungguhnya. Apa yang baru saja
coba dijernihkan akan kita kotori kembali, membuat hidup menggelap dan tak
memberi arah yang jelas ke depan. Karena itu, tahun depan harus dijernihkan
kembali. Mudik pun jadi momen repetitif-ritus dalam bahasa lainnya-yang
terperosok menjadi `kewajiban' kultural kita. Sementara itu, sesungguhnya,
ritus tersebut tidaklah selalu harus diartikan dan diprak tikkan secara fisikal
dan material, dengan membawa keluarga, harta, dan materi materi keangkuhan kota
ke desa, kampung asal.
Dengan memahami sebab dari kegaduhan batin kita saat hidup
di kota atau rantau, kita akan menya dari bahwa `mudik' yang sesungguhnya tidak
senan tiasa bersifat demografis, material. atau fisikal, tapi spiritual dan
transend ental.
Problem utama dari manusia atau masyarakat urban ialah kian
tum pulnya hati--kita sengaja atau tidak--dalam mereaksikan perkembangan atau
perubahan-perubahan mutakhir yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai
tradisional kita. Kita membiarkannya lepas, bahkan lepas kendali, semata untuk
memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan hedonistis kita yang dilegitimasi sistem yang
berlaku sekarang ini.
Sistem itu mengatakan laissez
faire, untuk kamu menjadi `kaya sekaya-kayanya', menjadi `penguasa
sekuasakuasanya', bahkan menjadi `konsumen sekonsumtif-konsumtifnya'. Semua itu
legal, bahkan menjadi etik dan etos hidup (pos) modern. Bahkan secara etis
kemudian, ia menjadi tolok ukur dari harga diri dan martabat seseorang. Menjadi
hal yang hidup-mati harus diperjuangkan, bila perlu dengan menyikut, memfitnah,
bahkan melenyapkan hidup orang lain.
Maka tidaklah sampai hati kita, bagian terdalam dan tersuci
dari dunia batin kita, menahan atau mengekang nafsu kontinental yang begitu
dahsyat itu. Kerikuhan, kericuhan, hingga konflik tingkat fisikal pun terjadi
di semua golongan, kelas, atau wilayah negeri ini. Sistem telah mendidik kita
dengan baik untuk terus mengharap dan berjuang demi `lebih', tak boleh kurang,
tak boleh sekadar cukup.
Dan `lebih' yang mudarat dan ria itulah kemudian kita bawa
sebagai oleh-oleh keangkuhan modernitas dan urbanitas, sebagai bentuk dominasi
yang bernafsu menaklukkan desa, dunia primordial, dan spiritual kita. Bisa Anda
bayangkan sendiri, bagaimana bahkan sebelum Ramadan pun terjelang, setiap
urbanis mengerahkan daya lebihnya untuk mencari `lebihan' bagi Lebaran, bahkan
dengan cara apa pun.
Jihad dalam
Ramadan
Realitas batin seperti itulah yang terjadi pada kita, sadar
atau tidak kita sadari.
Kita pun tidak juga sadar bahwa hal yang lebih utama dalam `mudik' sesungguhnya ialah kembali atau pulang ke diri sendiri. Ke dalam dunia batin kita, dalam hati kita. Di situlah semua pangkal sebabnya.
Kita pun tidak juga sadar bahwa hal yang lebih utama dalam `mudik' sesungguhnya ialah kembali atau pulang ke diri sendiri. Ke dalam dunia batin kita, dalam hati kita. Di situlah semua pangkal sebabnya.
Kita memeriksa batin dan hati kita, menyadari pengkhianatan
demi pengkhianatan pada dunia spiritual itu. Lalu kita pun belajar dan memaksa
diri berlatih untuk mengikuti batin atau hati itu. Menahan semua gerak liar
yang kian tak terkendali dari nafsu, emosi, ambisi, dan semua ekspresi negatif
dan destruktif dari mental kita. Kita mencukupkan bagi segala, dan semua yang
`berlebih' kita posisikan sebagai keserakahan, kesombongan, dan bahkan
kejahatan. Karena semua yang `berlebih' sebenarnya kita dapat dengan cara
membuat orang lain `kurang'. Itu semacam imperialisme batin.
Ramadan setiap tahun datang sesungguhnya menjadi berkah
Allah untuk kita menjalani proses pembersihan batin itu. Menahan segala untuk
tidak menjadi haram, mudarat bahkan kufur, membuat diri kita bersyukur dan
ikhlas atas apa yang telah dirizkikan oleh-Nya. Inilah jihad yang sesungguhnya,
jihad akbar melawan diri sendiri. Ramadan pun menjadi sebuah exercise batin yang
sangat berharga, latihan berjihad akbar, untuk kita memuliakan diri sendiri,
memuliakan manusia itu sendiri. Memuliakan-Nya.
Maka Lebaran dan Idul Fitri dengan ritus `mudik'-nya bagi
rakyat negeri ini sebenarnya merupakan sebuah momen terberi untuk justru kita
memulai hari, hidup, dan diri yang baru. Yang menjadi modal spiritual kita
menghadapi persoalan dan tantangan hidup selanjutnya. Pertemuan kembali dengan
dunia primordial pun bisa kita tempatkan sebagai sebuah tautan yang memperkuat
tali kekang di hati kita untuk semua nafsu dan angkara kehidupan modern.
Betapa indahnya puasa dan Idul Fitri yang terjalani seperti
itu walau keindahan itu harus dirusak kebrengsekan pemerintah yang tidak
mendukung secara infrastruktur. Namun untuk urusan spiritual dan mental, kita
tidak perlu peduli dengan kebrengsekan itu. Urusan kita ada dalam kebrengsekan
di hati kita sendiri. Maka perbaikilah semua infrastruktur hati, yang akan
membuat jalan `mudik' kita ke haribaan-Nya lebih mulus daripada jalan tol mana
pun. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar