|
Rio menjadi
ruang tempat kaum muda dapat menjadi protagonis dalam konstruksi dunia yang
lebih bersahabat. Rio menjadi babak penting sebagai pijakan dalam menjalin
persahabatan calon generasi mendatang untuk memperkuat tali hati.
Beberapa waktu belakangan, ibu kota Brasil, Rio de Janeiro,
benar-benar tengah naik daun. Banyak perhelatan akbar tingkat dunia
dilaksanakan di Rio. Dimulai tahun lalu, saat Rio menjadi tuan rumah Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan Berkelanjutan, Rio 20. KTT ini merupakan
pertemuan PBB untuk pembangunan berkelanjutan. Di sini, para pemimpin dunia mengadopsi
sebuah deklarasi politik bagi dunia yang lebih baik.
Kemudian, tahun ini, Rio menjadi tuan rumah pertemuan kaum muda sedunia (World Youth Day/WYD). Tahun depan, Rio kembali menjadi pusat perhatian dunia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Berbagai perhelatan akbar tersebut dilanjutkan dengan pertemuan olah raga dunia yang prestisius saat Rio menjadi tuan rumah Olimpiade 2016.
Pertemuan kaum muda sedunia berlangsung pekan lalu di Rio de Janeiro, Brasil, dari 23 sampai 28 Juli. Acara dua tahunan ini merupakan kalender PBB yang dimulai sejak 1984. Banyak catatan yang sangat sayang bila dibiarkan berlalu begitu saja. Ratusan ribu kaum muda dari berbagai negara, lintas agama, aneka etnis, dan aliran bertumpah ruah menjadi satu di dalam kebersamaan. Tidak ada sekat-sekat agama dan kebangsan, juga ras, di antara mereka.
Pada pertemuan di Rio kemarin, setiap kaum muda diundang tanpa memperhitungkan kebangsaan, ras, agama, dan kepercayaan. Dari sejarahnya, Hari Kaum Muda Sedunia (WYD) dimulai tahun 1984, diinaugurasi Paus Yohanes Paulus II. Saat itu diadakan "International Meeting of Youth" di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Tahun-tahun selanjutnya, WYD menjadi kalender PBB.
Pesan-pesan bagi kaum muda disampaikan Paus Fransiskus yang menyempatkan diri secara penuh berada di Rio selama sepekan untuk mendampingi kaum muda. Sejak Paus Yohanes Paulus II, kaum muda menjadi fokus pembinaan spiritual. Ini dilanjutkan Paus Fransiskus yang mengingatkan bahwa krisis ekonomi global merupakan ancaman bagi kaum muda.
Krisis memperlakukan kaum muda secara tidak baik. Dunia tengah terancam memiliki kaum muda yang menganggur. Padahal dari pekerjaan seseorang memperoleh martabatnya. Pekerjaan mengalir langsung dari hakikat manusia ketika dia terlempar ke dalam eksistensi sehingga melekat dan tak terpisahkan sebagai sebuah asasi.
Paus menekankan dunia jangan mengisolasi kaum muda. Generasi muda harus memperluas inklusivitas. "Kaum muda adalah para protagonis dalam membangun sebuah dunia persaudaraan yang lebih," ungkap Uskup Agung Rio de Janeiro, Dom Orani Tempesta.
WYD dilangsungkan di tengah masyarakat Brasil yang marah, di mana-mana ada unjuk rasa. Rakyat Brasil marah karena kemiskinan dan pelayanan publik yang buruk. Di sisi lain, rakyat melihat pemerintah mengeluarkan banyak anggaran terkait biaya yang mahal sebagai penyelenggara Piala Dunia tahun depan dan Olimpiade 2016. Sementara pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan dinilai buruk.
Dalam situasi politik seperti itu, WYD tetap berlangsung aman dan lancar karena semua satu hati: demi persahabatan yang lebih. Oleh karena itu, WYD diselenggarakan dengan biaya minim. Biaya diperkirakan 140 juta dollar AS untuk mengakomodasi sekitar 400.000 kaum muda. Pesan lain, Rio menjadi ruang tempat kaum muda dapat menjadi protagonis dalam konstruksi dunia yang lebih bersahabat. Rio menjadi babak penting sebagai pijakan dalam menjalin persahabatan calon generasi mendatang untuk memperkuat tali hati.
Babak baru telah dimulai dari Rio yang menghilangkan sekat-sekat seperti agama dan etnis yang di Indonesia sendiri mulai khawatir ada yang membesar-besarkan. Kaum muda Indonesia perlu memetik pesan-pesan dari Rio yang menghilangkan atribut suku, agama, dan ras dalam membangun persaudaraan.
Dom Orani meminta, setelah pengalaman di WYD, kaum muda harus berani menjadi tanda harapan bagi sebuah dunia yang lebih adil dan lebih bersahabat. "Saya mau kaum beriman bahwa WYD akan membuat seluruh orang beriman dalam keadilan yang bermartabat yang lebih di dalam semua medan kemasyarakatan kita."
"Sharing"
Seorang wakil dari Mozambik, Chrespin Estevao, yang memimpin 57 teman lain dari negerinya, menyatakan ini kedatangannya yang kedua di WYD. "Saya beruntung tinggal di sebuah negara yang memiliki kebebasan beragama, berbeda dengan negara-negara lain di Afrika. Kami dapat tinggal secara terbuka, dengan kepercayaan mereka satu sama lain. Ini sesuatu yang luar biasa karena kami bebas merayakan iman kami."
Elza Vasque dari Meksiko menyatakan WYD Rio 2013 ini yang keempat, tetapi yang kedua sebagai relawan. Relawan pertamanya di Madrid 2011. Dia merasa terpanggil untuk melayani. Dia bekerja di Sydney dan memutuskan meninggalkan pekerjaan di dalam perusahaan keuangan untuk melayani. Bersama suami, dia terpanggil melayani bagi WYD Rio dan berdua ada di kota itu sejak September 2011. Dia termasuk satu dari 30 relawan dari banyak negara yang ada di Rio hampir setahun untuk menyiapkan dan menyediakan bagi kaum muda sebuah pesan iman dan harapan agar mereka dapat mengambil bagian dalam pesan perdamaian bagi dunia.
Pertemuan Rio akan memperkuat tali persaudaraan kaum muda dunia yang dalam waktu dekat segera mengambil alih tampuk kendali. Persaudaraan yang terbangun tanpa memedulikan sekat-sekat agamis, nasionalitas, dan ras harus menjadi tumpuan bagi hubungan internasional dan nasional.
Dari Rio, kaum muda harus membawa seluruh pesan perdamaian ke negara masing-masing. Mereka harus membangun hal yang sama di negaranya. Rio menjadi landasan baru yang diharapkan dapat mencegah konflik-konflik dan intoleran yang juga mulai berkembang di Indonesia.
Landasan baru ini sangat urgen dan penting, bahkan sungguh pas dengan situasi belakangan di dalam negeri Indonesia. Bendera baru: persahabatan tanpa sekat sungguh penting bagi bangsa kita untuk menentang arus yang justru mencoba mengembangkan sekat-sekat. Bangunan kejujuran, keadilan, dan persaudaraan sejati akan mengokohkan cita-cita para pendiri bangsa dan negara yang telah mematokkan NKRI sebagai ruang bersama untuk tumbuh dan berkembang sebagai bangsa Indonesia. ●
Kemudian, tahun ini, Rio menjadi tuan rumah pertemuan kaum muda sedunia (World Youth Day/WYD). Tahun depan, Rio kembali menjadi pusat perhatian dunia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Berbagai perhelatan akbar tersebut dilanjutkan dengan pertemuan olah raga dunia yang prestisius saat Rio menjadi tuan rumah Olimpiade 2016.
Pertemuan kaum muda sedunia berlangsung pekan lalu di Rio de Janeiro, Brasil, dari 23 sampai 28 Juli. Acara dua tahunan ini merupakan kalender PBB yang dimulai sejak 1984. Banyak catatan yang sangat sayang bila dibiarkan berlalu begitu saja. Ratusan ribu kaum muda dari berbagai negara, lintas agama, aneka etnis, dan aliran bertumpah ruah menjadi satu di dalam kebersamaan. Tidak ada sekat-sekat agama dan kebangsan, juga ras, di antara mereka.
Pada pertemuan di Rio kemarin, setiap kaum muda diundang tanpa memperhitungkan kebangsaan, ras, agama, dan kepercayaan. Dari sejarahnya, Hari Kaum Muda Sedunia (WYD) dimulai tahun 1984, diinaugurasi Paus Yohanes Paulus II. Saat itu diadakan "International Meeting of Youth" di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Tahun-tahun selanjutnya, WYD menjadi kalender PBB.
Pesan-pesan bagi kaum muda disampaikan Paus Fransiskus yang menyempatkan diri secara penuh berada di Rio selama sepekan untuk mendampingi kaum muda. Sejak Paus Yohanes Paulus II, kaum muda menjadi fokus pembinaan spiritual. Ini dilanjutkan Paus Fransiskus yang mengingatkan bahwa krisis ekonomi global merupakan ancaman bagi kaum muda.
Krisis memperlakukan kaum muda secara tidak baik. Dunia tengah terancam memiliki kaum muda yang menganggur. Padahal dari pekerjaan seseorang memperoleh martabatnya. Pekerjaan mengalir langsung dari hakikat manusia ketika dia terlempar ke dalam eksistensi sehingga melekat dan tak terpisahkan sebagai sebuah asasi.
Paus menekankan dunia jangan mengisolasi kaum muda. Generasi muda harus memperluas inklusivitas. "Kaum muda adalah para protagonis dalam membangun sebuah dunia persaudaraan yang lebih," ungkap Uskup Agung Rio de Janeiro, Dom Orani Tempesta.
WYD dilangsungkan di tengah masyarakat Brasil yang marah, di mana-mana ada unjuk rasa. Rakyat Brasil marah karena kemiskinan dan pelayanan publik yang buruk. Di sisi lain, rakyat melihat pemerintah mengeluarkan banyak anggaran terkait biaya yang mahal sebagai penyelenggara Piala Dunia tahun depan dan Olimpiade 2016. Sementara pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan dinilai buruk.
Dalam situasi politik seperti itu, WYD tetap berlangsung aman dan lancar karena semua satu hati: demi persahabatan yang lebih. Oleh karena itu, WYD diselenggarakan dengan biaya minim. Biaya diperkirakan 140 juta dollar AS untuk mengakomodasi sekitar 400.000 kaum muda. Pesan lain, Rio menjadi ruang tempat kaum muda dapat menjadi protagonis dalam konstruksi dunia yang lebih bersahabat. Rio menjadi babak penting sebagai pijakan dalam menjalin persahabatan calon generasi mendatang untuk memperkuat tali hati.
Babak baru telah dimulai dari Rio yang menghilangkan sekat-sekat seperti agama dan etnis yang di Indonesia sendiri mulai khawatir ada yang membesar-besarkan. Kaum muda Indonesia perlu memetik pesan-pesan dari Rio yang menghilangkan atribut suku, agama, dan ras dalam membangun persaudaraan.
Dom Orani meminta, setelah pengalaman di WYD, kaum muda harus berani menjadi tanda harapan bagi sebuah dunia yang lebih adil dan lebih bersahabat. "Saya mau kaum beriman bahwa WYD akan membuat seluruh orang beriman dalam keadilan yang bermartabat yang lebih di dalam semua medan kemasyarakatan kita."
"Sharing"
Seorang wakil dari Mozambik, Chrespin Estevao, yang memimpin 57 teman lain dari negerinya, menyatakan ini kedatangannya yang kedua di WYD. "Saya beruntung tinggal di sebuah negara yang memiliki kebebasan beragama, berbeda dengan negara-negara lain di Afrika. Kami dapat tinggal secara terbuka, dengan kepercayaan mereka satu sama lain. Ini sesuatu yang luar biasa karena kami bebas merayakan iman kami."
Elza Vasque dari Meksiko menyatakan WYD Rio 2013 ini yang keempat, tetapi yang kedua sebagai relawan. Relawan pertamanya di Madrid 2011. Dia merasa terpanggil untuk melayani. Dia bekerja di Sydney dan memutuskan meninggalkan pekerjaan di dalam perusahaan keuangan untuk melayani. Bersama suami, dia terpanggil melayani bagi WYD Rio dan berdua ada di kota itu sejak September 2011. Dia termasuk satu dari 30 relawan dari banyak negara yang ada di Rio hampir setahun untuk menyiapkan dan menyediakan bagi kaum muda sebuah pesan iman dan harapan agar mereka dapat mengambil bagian dalam pesan perdamaian bagi dunia.
Pertemuan Rio akan memperkuat tali persaudaraan kaum muda dunia yang dalam waktu dekat segera mengambil alih tampuk kendali. Persaudaraan yang terbangun tanpa memedulikan sekat-sekat agamis, nasionalitas, dan ras harus menjadi tumpuan bagi hubungan internasional dan nasional.
Dari Rio, kaum muda harus membawa seluruh pesan perdamaian ke negara masing-masing. Mereka harus membangun hal yang sama di negaranya. Rio menjadi landasan baru yang diharapkan dapat mencegah konflik-konflik dan intoleran yang juga mulai berkembang di Indonesia.
Landasan baru ini sangat urgen dan penting, bahkan sungguh pas dengan situasi belakangan di dalam negeri Indonesia. Bendera baru: persahabatan tanpa sekat sungguh penting bagi bangsa kita untuk menentang arus yang justru mencoba mengembangkan sekat-sekat. Bangunan kejujuran, keadilan, dan persaudaraan sejati akan mengokohkan cita-cita para pendiri bangsa dan negara yang telah mematokkan NKRI sebagai ruang bersama untuk tumbuh dan berkembang sebagai bangsa Indonesia. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar