|
“Efek psikologi massa, yaitu kemunculan
kecemasan dan keresahan, menjadi tujuan utama pelaku teror”
BERBARENGAN
dengan suasana hiruk-pikuk mudik Lebaran 1434 H, masyarakat dikejutkan oleh
serangkaian tindakan teror. Ledakan bom di Vihara Ekayana Kebon Jeruk Jakarta
Barat pada Minggu (4/8) malam mengawali aksi tersebut, melukai tiga orang.
Menyusul penembakan yang menewaskan Aiptu Dwiyatna, sehari sebelum Lebaran.
Berturut-turut
kemudian penembakan tiga halte bus Transjakarta. Aksi penembakan juga terjadi
di Kulonprogo DIY, dengan tiga sasaran di Dusun Kauman Desa Tirtorahayu dan di
Dusun III Kecamatan Galur Kulonprogo.
Adakah
benang merah dari serangkaian kejadian itu? Pertanyaan itu menyeruak sejalan
dengan belum terungkapnya pelaku dan motif aksi tersebut. Kepala Divisi Humas
Mabes Polri Irjen Ronny Frengky Sompie mengungkapkan dugaan penembakan polisi
di Jakarta dan sipir LP Wirogunan Yogyakarta itu didalangi kelompok
terorganisasi.
Dugaan
hampir senada disampaikan AM Hendropriyono. Mantan kepala Badan Intelijen
Nasional (BIN) itu menduga penembakan dengan target dan sasaran aparat keamanan
dilakukan oleh kelompok baru. Meski disebut baru, kelompok itu berada di bawah
kendali kelompok lama.
Terlepas
dari asumsi tersebut, sebagaimana kasus sebelumnya, yaitu peledakan bom dengan
skala besar dan kecil, serta penembakan dengan sasaran aparat keamanan, selalu
menarik perhatian publik. Pelaku memanfaatkan momen tertentu untuk menarik
perhatian masyarakat. Mereka sadar bahwa peledakan bom dan penembakan terhadap
aparat, akan mendapat porsi pemberitaan dari media.
Menebar Teror
Konsep
mendasar dari gerakan teror memang menciptakan suasana resah, cemas, dan takut
sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara dalam memberikan
rasa aman. Inilah titik bidik teroris. Pelaku tidak lagi memedulikan latar
belakang sasaran. Siapa pun objek, bila sudah dikonsep, akan diserang tanpa
memikirkan lagi ia berada di lingkungan tempat ibadah, keramaian, objek vital
atau pos yang dijaga langsung polisi.
Benih
penyerangan itu sudah terjadi beberapa saat lalu di Polsek Rajapolah Polda Jawa
Barat. Sebuah bom dimasukkan dalam panci, dilemparkan oleh dua orang naik
motor. Publik pun tentu masih ingat penyerangan terhadap pos polisi atau polisi
yang bertugas dalam pengamanan Lebaran tahun lalu di Solo.
Penyerangan
terhadap pos polisi, menurut analisis TB Hasanuddin, anggota Komisi III DPR,
menjadi hal yang paling realistis dilakukan teroris mengingat keberadaan polisi
di pos-pos tersebut sangat mudah dan lemah untuk diserang secara mendadak
dibanding menyerang polisi dalam satuan lebih tinggi atau dalam ikatan lebih
besar.
Berdasar
pengalaman empiris tersebut, kesiapsiagaan aparat di pos penjagaan diperketat
guna menyempitkan ruang gerak pelaku teror. Pelaku pun mengalihkan pada sasaran
lain, meskipun masih dalam satu skenario besar mereka, yaitu menyerang simbol
negara, baik terhadap individu polisi, aparat pemerintah, maupun fasilitas umum
seperti halte bus Transjakarta. Sasaran penembakan terhadap warga umum,
bertujuan untuk menebar kecemasan dan keresahan warga.
Tanpa
mendahului hasil penyelidikan polisi, apa pun hasilnya, dan terlepas ada atau
tidak ada benang merah satu kejadian dengan kejadian lainnya yang beruntun itu,
dengan sasaran yang beragam dan waktu tidak sama, sebaiknya jangan mengabaikan
kemungkinan adanya efek psikologi massa yang jadi sasaran utama pelaku. Efek
psikologi massa, yaitu kemunculan kecemasan dan keresahan, menjadi tujuan utama
pelaku teror.
Bila
antara satu kejadian dan kejadian lain itu bukan merupakan satu rangkaian
skenario (by design), aparat harus
bisa mengungkap tuntas motif aksi itu. Bila semata-mata dilakukan untuk tujuan
yang bersifat pribadi, mengapa dilakukan di tengah masyarakat yang tengah
merayakan hari kemenangan? Sebuah momen di mana masyarakat antusias menyambut dengan
penuh perasaan sukacita. Apakah itu hanya sebuah kebetulan? ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar