Jumat, 16 Agustus 2013

Memantik Kecemasan Masyarakat

Memantik Kecemasan Masyarakat
Herie Purwanto Perwira Polda Jateng,
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pekalongan (Unikal)
SUARA MERDEKA, 14 Agustus 2013

“Efek psikologi massa, yaitu kemunculan kecemasan dan keresahan, menjadi tujuan utama pelaku teror”

BERBARENGAN dengan suasana hiruk-pikuk mudik Lebaran 1434 H, masyarakat dikejutkan oleh serangkaian tindakan teror. Ledakan bom di Vihara Ekayana Kebon Jeruk Jakarta Barat pada Minggu (4/8) malam mengawali aksi tersebut, melukai tiga orang. Menyusul penembakan yang menewaskan Aiptu Dwiyatna, sehari sebelum Lebaran.

Berturut-turut kemudian penembakan tiga halte bus Transjakarta. Aksi penembakan juga terjadi di Kulonprogo DIY, dengan tiga sasaran di Dusun Kauman Desa Tirtorahayu dan di Dusun III Kecamatan Galur Kulonprogo.

Adakah benang merah dari serangkaian kejadian itu? Pertanyaan itu menyeruak sejalan dengan belum terungkapnya pelaku dan motif aksi tersebut. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Ronny Frengky Sompie mengungkapkan dugaan penembakan polisi di Jakarta dan sipir LP Wirogunan Yogyakarta itu didalangi kelompok terorganisasi.

Dugaan hampir senada disampaikan AM Hendropriyono. Mantan kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) itu menduga penembakan dengan target dan sasaran aparat keamanan dilakukan oleh kelompok baru. Meski disebut baru, kelompok itu berada di bawah kendali kelompok lama.

Terlepas dari asumsi tersebut, sebagaimana kasus sebelumnya, yaitu peledakan bom dengan skala besar dan kecil, serta penembakan dengan sasaran aparat keamanan, selalu menarik perhatian publik. Pelaku memanfaatkan momen tertentu untuk menarik perhatian masyarakat. Mereka sadar bahwa peledakan bom dan penembakan terhadap aparat, akan mendapat porsi pemberitaan dari media.

Menebar Teror

Konsep mendasar dari gerakan teror memang menciptakan suasana resah, cemas, dan takut sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap negara dalam memberikan rasa aman. Inilah titik bidik teroris. Pelaku tidak lagi memedulikan latar belakang sasaran. Siapa pun objek, bila sudah dikonsep, akan diserang tanpa memikirkan lagi ia berada di lingkungan tempat ibadah, keramaian, objek vital atau pos yang dijaga langsung polisi.

Benih penyerangan itu sudah terjadi beberapa saat lalu di Polsek Rajapolah Polda Jawa Barat. Sebuah bom dimasukkan dalam panci, dilemparkan oleh dua orang naik motor. Publik pun tentu masih ingat penyerangan terhadap pos polisi atau polisi yang bertugas dalam pengamanan Lebaran tahun lalu di Solo.

Penyerangan terhadap pos polisi, menurut analisis TB Hasanuddin, anggota Komisi III DPR, menjadi hal yang paling realistis dilakukan teroris mengingat keberadaan polisi di pos-pos tersebut sangat mudah dan lemah untuk diserang secara mendadak dibanding menyerang polisi dalam satuan lebih tinggi atau dalam ikatan lebih besar.

Berdasar pengalaman empiris tersebut, kesiapsiagaan aparat di pos penjagaan diperketat guna menyempitkan ruang gerak pelaku teror. Pelaku pun mengalihkan pada sasaran lain, meskipun masih dalam satu skenario besar mereka, yaitu menyerang simbol negara, baik terhadap individu polisi, aparat pemerintah, maupun fasilitas umum seperti halte bus Transjakarta. Sasaran penembakan terhadap warga umum, bertujuan untuk menebar kecemasan dan keresahan warga.

Tanpa mendahului hasil penyelidikan polisi, apa pun hasilnya, dan terlepas ada atau tidak ada benang merah satu kejadian dengan kejadian lainnya yang beruntun itu, dengan sasaran yang beragam dan waktu tidak sama, sebaiknya jangan mengabaikan kemungkinan adanya efek psikologi massa yang jadi sasaran utama pelaku. Efek psikologi massa, yaitu kemunculan kecemasan dan keresahan, menjadi tujuan utama pelaku teror.


Bila antara satu kejadian dan kejadian lain itu bukan merupakan satu rangkaian skenario (by design), aparat harus bisa mengungkap tuntas motif aksi itu. Bila semata-mata dilakukan untuk tujuan yang bersifat pribadi, mengapa dilakukan di tengah masyarakat yang tengah merayakan hari kemenangan? Sebuah momen di mana masyarakat antusias menyambut dengan penuh perasaan sukacita. Apakah itu hanya sebuah kebetulan? ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar