Selasa, 06 Agustus 2013

Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi
Umar Juoro ;  Ekonom Senior
di Center for Information and Development Studies dan Habibie Center
          REPUBLIKA, 05 Agustus 2013


Perkiraan inflasi pascakenaikan harga BBM ternyata jauh meleset. Perkiraan pemerintah terhadap inflasi pascakenaikan harga BBM adalah 7,2 persen, dalam kenyataannya mencapai 8,6 persen. Keterlambatan dalam mengendalikan harga bahan pangan menyebabkan inflasi menjadi jauh lebih tinggi.

Inflasi pada tingkatan 7-8 persen akan kita alami sampai sekitar Juni 2014. 
BI telah menaikkan BI Rate sebesar 0,75 persen dengan perkiraan inflasi lebih tinggi daripada pemerintah, yaitu 7,6 persen. Namun dengan kenyataan inflasi di atas 8 persen, BI kemungkinan akan menaikkan BI Rate lagi. Implikasinya perbankan juga akan menaikkan bunga pinjaman.

Sementara itu, kondisi perekonomian global juga masih tidak menentu. Ekonomi Eropa masih lemah. Ekonomi AS mulai membaik, tetapi tingkat pengangguran masih tinggi. Bank sentral AS kemungkinan tahun depan akan menghentikan pembelian aset (quantitative easing) yang menyebabkan dana mengalir kembali ke AS meninggalkan negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi Cina dan India menurun yang menyebabkan harga komoditas juga menurun.

Kenaikan BI Rate ditanggapi oleh perbankan dengan menaikkan suku bunga pinjaman rata-rata sebesar 0,75 persen setara dengan kenaik an BI Rate. Jika BI menaikkan BI Rate lagi karena inflasi yang lebih tinggi, perbankan juga akan menaikkan bunga pinjamannya. Tingginya inflasi yang ditanggapi dengan kenaikan suku bunga yang tinggi menekan perkembangan ekonomi. Karena itu, perkiraan pertumbuhan ekonomi 2013 adalah lebih rendah, yaitu pada tingkatan sekitar 5,8 persen. Jika suku bunga meningkat lagi karena inflasi yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi akan menurun lagi.

Kenaikan BI Rate juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas nilai rupiah yang terdepresiasi cukup besar. Permasalahan membesarnya defisit neraca berjalan menyebabkan tekanan terhadap nilai rupiah. Kenaikan BI Rate belum akan dapat mengendalikan inflasi dan nilai tukar rupiah dalam waktu dekat. 

Sumber utama inflasi adalah harga bahan pangan. Semestinya pengendalian harga bahan pangan dilakukan sebelum kenaikan harga BBM dan Ramadhan, sebagaimana yang diingatkan banyak pihak. Namun, karena keterlambatan dalam meningkatkan pasokan dari impor, harga bahan pangan naik terlalu tinggi.
Nilai rupiah juga sulit untuk dikendalikan jika defisit neraca berjalan membesar.

Defisit ini harus ditutupi dengan aliran modal masuk. Sedangkan, impor sulit untuk dikurangi karena untuk kebutuhan bahan baku dan pengen dalian harga bahan pangan. Jadi, ketidakpastian yang kita hadapi pada tahun ini dan sampai pertengahan tahun depan adalah terkait dengan aspek eksternal, di luar kendali, dan internal, dapat kita upayakan mengatasinya.

Peningkatan BI Rate bukanlah solusi mengatasi ketidakpastian ekonomi. Inflasi harus diatasi pada sumber penyebabnya, yaitu kecukupan pasokan bahan pangan, terutama dari dalam negeri dan jika tidak memadai dilengkapi dengan impor. Dalam jangka menengah dan panjang, kemampuan produksi dalam negeri tentu saja harus ditingkatkan.


Menarik dana masuk bukanlah dengan bunga yang tinggi, melainkan iklim investasi yang kondusif. Pada saat perekonomian membaik, kita terlalu bersemangat untuk menerapkan kebijakan ke dalam (inward looking) sehingga lingkungan investasi kurang menarik. Pada saat ini, kita membutuhkan aliran dana masuk dalam bentuk investasi yang harus difasilitasi dengan insentif yang lebih menarik. Investasi pada sektor manufaktur harus sejalan dengan program dalam jangka menengah dan panjang melakukan transformasi industri yang lebih kompetitif dengan mengikuti pola pasokan (global supply chain). ● 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar