|
Masalah terpelik yang dihadapi Mesir
pasca-lengsernya Muhammad Mursi, 3 Juli lalu, adalah makin kuatnya polarisasi
politik (al-istiqthab al-siyasi),
antara Ikhwanul Muslimin dan para penentangnya, yang sekarang sedang berada di
pucuk kekuasaan transisi.
Dalam sebulan
terakhir, Ikhwanul Muslimin (IM) tetap pada pendiriannya, mendesak agar posisi
Mursi sebagai presiden terpilih secara demokratis dipulihkan kembali. Mereka
secara tegas menolak ”kudeta” karena bertentangan dengan demokrasi. Sejak Mursi
dilengserkan, IM menduduki kawasan Rabea Adeweya Square, Nashr City, dan Nahdla
Square, Giza. Bahkan, mereka rela mempertaruhkan nyawa dan siap jadi martir
untuk mencapai tujuan politik tersebut. Mereka bertekad tak akan mengakhiri
demonstrasi dan aksi boikot hingga hak-hak politik Mursi dikembalikan.
Bahkan, para
cendekiawan Muslim yang punya kedekatan ideologis dengan IM, seperti Muhammad
Salim Awwa, Muhammad Imarah, dan Thariq Bishri, belakangan mengajukan proposal
politik untuk mengembalikan posisi Mursi sebagai presiden secara simbolis dan
membentuk pemerintahan yang mencerminkan koalisi nasional serta dalam 60 hari
melaksanakan pemilu parlemen, lalu pemilu presiden.
Usulan ini
sepertinya akan kandas karena pihak yang mendukung ”kudeta” menganggap
pelengseran Mursi bukanlah kudeta sebagaimana dikenal dalam literatur ilmu
politik yang umumnya menggunakan kekerasan. Militer justru menunjuk Ketua
Mahkamah Konstitusi sebagai presiden sementara. Sikap yang dianggap militer
pada hakikatnya hanya melaksanakan mandat rakyat melalui 22 juta penanda tangan
petisi pembangkangan, yang diinisiasi kaum muda revolusioner, serta didukung
sepenuhnya oleh Al-Azhar, Koptik, dan mayoritas faksi politik minus IM dan
Partai Al-Wasath.
Menurut Hasan
Nafaa, analis politik dari Universitas Kairo, tuntutan politik IM dan inisiatif
sejumlah cendekiawan Muslim sangat tak realistis karena militer dan sebagian
besar faksi politik sudah menentukan peta jalan masa depan Mesir, yang di
dalamnya akan melakukan amandemen konstitusi, pemilu presiden, pemilu parlemen,
serta rekonsiliasi nasional. Mengembalikan posisi Mursi sebagai presiden secara
simbolis pun tak mungkin karena kekuasaan politiknya sangat determinan sehingga
akan mengganggu peta jalan dan rekonsiliasi. Dikhawatirkan IM mengendalikan
kembali kekuasaan, yang dapat menyebabkan munculnya instabilitas politik,
sebagaimana dalam setahun pemerintahannya (Almasryalyoum, 1
Agustus 2013).
Dilema
Di sinilah,
Mesir menghadapi dilema cukup pelik karena hingga kini upaya jalan tengah
buntu. Tuntutan politik IM dan peta jalan masa depan yang digariskan militer
dan penentang IM ibarat air dan minyak, tak mencapai konsensus. Menurut Hassan
Hanafi, dalam al-Islam al-Tsawri, polarisasi politik di Mesir saat
ini akan mempersulit transisi menuju demokrasi, bahkan melapangkan jalan bagi meluasnya
konflik dan perang saudara.
Dalam alam
pikiran Islam Kiri, menurut Hanafi, revolusi pun perlu pemaknaan pada tradisi
masa lalu dalam rangka mencari titik temu antara islamisme
dan sekularisme. Kedua aliran politik ini sejatinya dapat menjadikan kemaslahatan bangsa sebagai tujuan bersama, bukan agenda ideologi politik setiap golongan. Itu sesungguhnya esensi revolusi dalam Islam. Konsep tauhid dalam Islam tak sekadar mengesakan Tuhan, tetapi lebih dari itu, yaitu mewujudkan persatuan bangsa.
dan sekularisme. Kedua aliran politik ini sejatinya dapat menjadikan kemaslahatan bangsa sebagai tujuan bersama, bukan agenda ideologi politik setiap golongan. Itu sesungguhnya esensi revolusi dalam Islam. Konsep tauhid dalam Islam tak sekadar mengesakan Tuhan, tetapi lebih dari itu, yaitu mewujudkan persatuan bangsa.
Sementara itu,
situasi kian pelik karena krisis politik di Mesir telah melibatkan pihak-pihak
asing, setiap negara punya agenda politik dan kepentingan masing-masing. Turki
dan Qatar berpihak ke IM, sementara Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab
berpihak ke militer dan penentang IM. AS dan Uni Eropa punya kepentingan khusus
berkaitan eksistensi Israel di Timur Tengah. Dimensi geopolitik yang sangat
kental dalam krisis politik Mesir mengingatkan kita pada krisis politik di
Suriah yang tak kunjung selesai karena mereka terjebak dalam perang saudara
akibat buntunya kanal politik. Meski tradisi politik di Mesir jauh lebih maju
daripada Suriah, segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi jika polarisasi
politik tak bisa mencapai konsensus.
Solusi
Konsensus yang
paling mungkin ditawarkan adalah memastikan hak politik IM dalam peta jalan
masa depan Mesir. Menurut Carrie Rosefsky Wickham (The Muslim Brotherhood After Morsi Can the Brothers Reboot?),
partisipasi IM dalam transisi demokrasi merupakan solusi terbaik karena dapat
mengakhiri instabilitas politik. Dialog konstruktif pihak IM dengan militer dan
penentang IM akan mampu menyelesaikan konfrontasi (foreignaffairs.com, 11 Juli 2013).
Namun, solusi
ini tak semudah membalikkan kedua belah tangan. Elite yang mengendalikan IM
saat ini tak mudah menerima opsi ini. Mereka hingga saat ini belum memberikan
sinyal positif soal menyikapi langkah-langkah politik peta jalan masa depan
Mesir, sebagaimana digariskan militer. Mereka tetap pada pendirian untuk
mengembalikan Mursi sebagai presiden. Yang sangat dikhawatirkan dari jalan
buntu ini adalah sikap agresif militer terhadap IM dan intervensi antek-antek
Hosni Mubarak, yang sedang bermain di air keruh. Dalam sejarah Mesir, militer
menganggap IM ancaman bagi nasionalisme, yang menyebabkan keduanya terjebak
dalam konflik berkepanjangan. Ideologi militer adalah nasionalisme, sementara
IM adalah islamisme. Kedua ideologi ini tak bisa dinegosiasikan di Mesir.
Di samping itu,
antek-antek Mubarak akan menjadikan instabilitas politik sebagai jalan untuk
memuluskan nostalgia terhadap otoritarianisme masa lalu. Apalagi ditengarai,
mereka juga terlibat aksi kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban dari pihak
IM. Masalahnya, sejarah dan realitas politik di Mesir saat ini tak berpihak ke IM.
Buah manis revolusi yang telah berhasil mengantarkan mereka ke panggung
kekuasaan telah berubah jadi buah simalakama. Semula IM primadona politik, kini
mereka jadi musuh bersama.
Meski begitu,
momentum kembali ke panggung politik sebenarnya tak tertutup. IM masih punya
kesempatan berpartisipasi dalam transisi demokrasi. Semua itu tergantung dari
elite-elite IM dalam mengambil kebijakan yang tepat untuk kemaslahatan Mesir.
Kemampuan dan kemauan IM dalam melakukan akulturasi dan adaptasi dengan
realitas sosial-politik akan menjadi kunci dalam meraih simpati publik. Karena
itu, IM harus mengubah strategi politik dan mengembangkan pemikiran kebangsaan.
Saat ini, Mesir
butuh konsensus yang dapat melahirkan konstitusi yang mencerminkan
prinsip-prinsip demokrasi. Di samping itu, pihak-pihak yang sedang bersitegang
harus meninggalkan cara-cara kekerasan, terutama militer agar tak menggunakan
kekuatan membabi buta dalam menghadapi IM. Jika ini dilakukan, Mesir tidak akan
menemukan kebuntuan politik, seperti kata Milad Hanna, esok hari akan lebih
cerah (ghadan asyaddu isyraqan). Semoga! ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar