|
”Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu
akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Ir Soekarno
Ucapan Bung Karno puluhan tahun silam kini
menjadi kenyataan. Bangsa Indonesia sedang bersusah payah menghadapi budaya
kekerasan massal yang kian marak.
Anak-anak
bangsa yang lahir dari perut bumi pertiwi, hidup dengan udara Indonesia, dan
berkembang dengan budaya Nusantara justru mencabik-cabik bangsa ini dengan
tindakan anarkinya. Masyarakat menjadi mudah marah dan senang main hakim
sendiri.
Saat
pemerintah gencar menyosialisasikan UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,
dan NKRI sebagai pilar hidup berbangsa, jemaah Syiah, Ahmadiyah, dan GKI Yasmin
justru mengalami kekerasan dan kesulitan dalam menjalankan ibadah. Intoleransi
dan kebencian telah menjadi teror sosial yang menakutkan.
Di tempat
lain, kekerasan juga menimpa masyarakat adat. Mereka harus pergi dari tanah
leluhur dan kehilangan tanah ulayatnya. Mereka menjadi korban kekerasan dan
keserakahan dari sekelompok orang yang ingin mengeruk keuntungan dari kekayaan
alam.
Namun,
bukannya melindungi hak-hak konstitutif warganya yang teraniaya, pemerintah
justru merasa tidak ada masalah. Padahal, pengadilan jalanan yang disertai
kekerasan makin sering terjadi dan masyarakat yang menjadi korban dipaksa
bertahan dalam penderitaan. Sampai kapankah pemerintah bersikap seolah tidak
ada apa-apa?
Tirani massa
Barbarisme
massal yang berbasis agama, suku, dan kepentingan ekonomi merupakan produk dari
demokrasi setengah hati. Demokrasi elitis yang hanya berhenti pada tataran
mekanisme, prosedur, dan administrasi selalu rawan dengan gejolak sosial.
Kamuflase
demokrasi yang mewujud dalam kebijakan dan tindakan yang seolah-olah atas nama
kepentingan rakyat, tetapi sebenarnya tanpa sepengetahuan dan di luar kehendak
rakyat menjadi racun bangsa yang sangat mematikan. Demokrasi hanya menjadi
legitimasi tindakan- tindakan destruktif, eksklusif, dan irasional.
Dalam
demokrasi kulit ari baik pejabat maupun masyarakat mudah berubah rupa, dari
komunitas yang berbasis nilai menjadi gerombolan massa yang beringas. Peradaban
bangsa yang menjunjung tinggi martabat individu, nilai-nilai kehidupan,
keanekaan, dan keadilan sering disingkirkan karena akan menjadi penghalang.
Tidaklah
mengherankan jika pemerintah tidak lagi menjadi perpanjangan tangan rakyat.
Demokrasi hanya mencetak masyarakat seperti sekelompok anak ayam yang tidak
punya induk dan akan mengikuti siapa pun yang memberikan keuntungan bagi
hidupnya.
Demokrasi
basa-basi masih banyak memberi ruang bagi lahirnya tirani-tirani massa,
lebih-lebih di tengah kuatnya budaya intoleransi seperti sekarang. Kekerasan
komunal akan mudah pecah dan tanpa disadari mengambil alih menjadi penguasa
bayangan yang lebih menentukan nasib negeri ini. Demokrasi yang tidak mengakar
tidak berdaya apa-apa menghadapi upaya-upaya pemaksaan yang represif dan
intimidatif.
Demokrasi Pancasila
Bangsa ini
hanya membawa demokrasi ke Indonesia, tetapi tidak membangun demokrasi
Indonesia. Demokrasi seperti barang bagus yang dikagumi dan ingin dipakai,
tetapi tidak pernah menyatu secara utuh dengan karakter dan budaya masyarakat
Indonesia. Padahal, demokrasi yang berbasis nilai-nilai Pancasila adalah
demokrasi Indonesia.
Demokrasi
Pancasila mendorong masyarakat untuk saling melindungi dan menjaga satu sama
lain, memandang perbedaan sebagai alasan untuk membangun kebersamaan, mencintai
agama tanpa menolak agama lain, membela iman tanpa kehilangan rasa
toleransinya, dan bergandengan tangan menuju kesejahteraan bersama.
Demokrasi
Pancasila akan membawa Indonesia sebagai bangsa yang tegas, berani, dan tidak
kompromi melawan ketidakadilan, kerakusan, dan keangkaramurkaan, tetapi akan
ramah, lemah lembut, sopan, dan tegas dalam memperjuangkan keharmonisan bangsa.
Demokrasi yang
mengindonesia juga menuntut reformasi birokrasi sampai pada perubahan mental
dan perilaku para birokrat. Berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran,
keadilan, pelayanan, tidak gentar dengan tekanan mayoritas jika memang benar.
Penegakan
hukum yang konsisten dan tidak tebang pilih akan menjadikan kebenaran dan
keadilan sebagai pilar demokrasi sekaligus benteng terhadap berbagai bentuk
ancaman premanisme, baik yang jalanan maupun yang berdasi.
Demokrasi yang
dihidupi dan dihayati secara serius akan mampu melahirkan sistem dan mekanisme
pengelolaan negara yang menempatkan kehidupan masyarakat berada di atas
segala-galanya.
Demokrasi
tanpa anarki bukan mimpi, tetapi tantangan yang harus dijawab dengan
memperbarui komitmen dan kesetiaan untuk membumikan nilai-nilai demokrasi yang
berjiwa Pancasila dalam dinamika kehidupan bangsa.
Peran
keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat sangat penting dalam
memperkenalkan dan menanamkan hidup yang rukun dalam berbagai perbedaan,
menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, tegas, dan berani membela kebenaran
kepada para generasi muda bangsa ini.
Sekali lagi,
demokrasi adalah pilihan politik bersama bangsa ini yang harus dijaga dan
dihidupi. Demokrasi Pancasila merupakan jembatan perpindahan dari ”demokrasi di
Indonesia” ke ”demokrasi yang mengindonesia”, yang harus diperjuangkan bersama
demi Indonesia yang damai, tenteram, dan bermartabat. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar