Rabu, 05 Juni 2013

Sepak Terjang Posdaya

Sepak Terjang Posdaya
Mulyono D Prawiro ;   Anggota Senat dan Dosen Pascasarjana
Universitas Satyagama Jakarta
SUARA KARYA, 04 Juni 2013


Upaya mengentaskan penduduk dari belenggu kemiskinan sudah lama dilakukan oleh pemerintah maupun oleh organisasi sosial kemasyarakatan yang peduli terhadap nasib bangsa dan negaranya. Pemerintah, dari waktu ke waktu telah mencanangkan berbagai program disertai dana yang mencapai triliunan rupiah. Namun, ternyata dana yang banyak itu tidak serta-merta membuat tingkat kemiskinan di Tanah Air tercinta ini menurun dratis.

Program dengan dana melimpah untuk pengentasan kemiskinan itu dalam implementasinya tidak berjalan mulus. Ternyata, banyak pula tidak tepat sasaran. Dari segi konsep, banyak yang memberikan apresiasi dan penghargaan kepada pemerintah, bahwa program pengentasan kemiskinan itu luar biasa bagusnya. Juga, diperkirakan akan berjalan mulus, tepat sasaran dan dapat berhasil dengan baik. Namun, tidak serta merta mudah diimplementasikan.

Jumlah keluarga miskin masih saja tinggi dan angka kemiskinan boleh dikatakan stagnan pada angka di atas 12 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Ini berarti penanggulangan kemiskinan itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan dana yang cukup. Masih banyak faktor lain yang memengaruhinya. Dana hanya salah satu faktor dari banyak faktor lain untuk menyelesaikan masalah kemiskinan.

Pemerintah tidk bisa hanya memberikan dana cuma-cuma dalam mengentaskan kemiskinan, tetapi masyarakat sendiri harus dipersiapkan dan difasilitasi serta diberdayakan sesuai dengan kemampuan dan potensinya. Para ahli ada yang berpandangan bahwa masalah paling dominan atas munculnya kemiskinan disebabkan oleh laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan diikuti dengan rendahnya tingkat pendidikan, hingga ketimpangan distribusi pendapatan nasional yang memunculkan pengangguran dan kemiskinan.

Di samping itu, faktor politik ikut mewarnai dan menghambat upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Betapa tidak, aliran dana untuk rakyat kecil saja tidak jarang mampir ke kantong-kantong pejabat atau para politisi. Rakyat miskin itu hanya dipergunakan sebagai komoditas politik. Tidak jarang mereka yang bersuara akan membantu pengentasan kemiskinan malah tidak banyak berbuat. Mereka hanya berkicau di media tanpa ada tindakan nyata di lapangan.

Dalam mengejar target millennium development goals (MDGs) yang akan berakhir pada 2015, sepertinya kita pesimis mampu mencapai target tersebut, terutama pada upaya pengentasan kemiskinan. Karena, trennya angka kemiskinan dari tahun ke tahun hampir tidak mengalami perubahan yang signifikan. Harapan bangsa ini terbebas dari belenggu kemiskinan masih sebatas angan-angan.

Semua pihak masih perlu perjuangan yang super keras untuk mencapai tujuan itu. Yayasan Damandiri yang selama ini tanpa lelah berkecimpung memberdayakan penduduk, khususnya penduduk miskin di wilayah pedesaan, terus berupaya membantu dan mengiringi pemerintah membangun sumber daya manusia melalui pemberdayaan penduduk dan keluarga. Perjuangan keras bersama mitra kerjanya itu pun bukan tanpa kendala. Namun, dengan kegigihan dan pendekatan yang positif serta kesabaran yang tiada henti, kendala-kendala tersebut dapat dilampaui dengan baik.

Sampai saat ini upaya Damandiri bersama mitra kerjanya seperti pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi dan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, telah membentuk dan mengembangkan pos-pos pemberdayaan keluarga (posdaya). Tujuannya antara lain untuk membangun kebersamaan dan menghidupkan kembali budaya gotong-royong di Tanah Air tercinta. Namun, beberapa pihak pun mulai menaruh curiga karena keberadaan posdaya dianggap sesuatu yang menakutkan, jangan-jangan akan menggantikan lembaga-lembaga yang sudah ada. Pihak-pihak tertentu yang kurang memahami sepenuhnya dan hanya mendengar informasi sepotong-sepotong mulai khawatir, karena posdaya dianggap menjadi saingan lembaga yang telah terbentuk selama ini.

Seperti yang dikatakan Sekretaris Yayasan Damandiri, Dr Subiakto Tjakrawerdaja, bahwa perjuangan Yayasan Damandiri bukan tanpa risiko. Sebaliknya penuh risiko dan kendala, karena program Damandiri menjadi program bersama dan melibatkan banyak orang dan lembaga. Bahkan, sampai saat ini telah terbentuk lebih dari 20 ribu posdaya tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Sehingga, posdaya ini telah mampu menggerakan partisipasi masyarakat yang jumlahnya melebihi angka ratusan ribu, bahkan jutaan orang terlibat di dalamnya. Karena berdampak dan mampu melibatkan jutaan orang, maka Damandiri dengan program posdaya telah mampu menggetarkan bangsa ini dengan upaya besar pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Damandiri dengan tekun mengunjungi dan menyakinkan para pemimpin daerah, formal maupun non formal dengan tulus, ikhlas dan tanpa pamrih. Sehingga, mampu membuat perubahan dahsyat dan merubah cara pandang masyarakat dalam upaya nyata pengentasan kemiskinan. Perjuangan, kesabaran dan ketelatenan dilakukan bersama mitra kerjanya guna menyakinkan semua pihak, terutama pemerintah daerah. Bahwa posdaya bukan saingan sebaliknya adalah ujung tombak pemberdayaan keluarga di Indonesia.

Bukan hanya itu, posdaya bisa dijadikan contoh nyata program pengentasan kemiskinan secara terpadu dan terfokus. Posdaya bagaikan lingkaran besar yang merangkum dan menyinergikan lingkaran-lingkaran kecil di desa-desa. Posdaya dibangun bukan dengan konsep yang muluk-muluk dan sulit dipahami sebaliknya dengan konsep mudah dipahami oleh siapapun. Hampir semua lembaga, termasuk guru besar dan pimpinan perguruan tinggi menerima konsep posdaya dengan sangat antusias dan apresiasi sangat tinggi. Betapa tidak, posdaya mampu mengantar para mahasiswa untuk terjun ke desa-desa memberdayakan masyarakat dengan sasaran yang jelas.