Jumat, 21 Juni 2013

Pengembangan Bahan Bakar Alternatif

Pengembangan Bahan Bakar Alternatif
Vincent Didiek WA ;   Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang
SUARA MERDEKA, 20 Juni 2013


"Dari dana penghematan subsidi, tak ada alokasi untuk mendiversifikasikan bahan bakar alternatif"
HARGA BBM sudah pasti naik, setelah pemerintah lama menimbang-nimbang berbagai metode penyesuaian harga bahan bakar itu untuk mengurangi subsidi yang makin lama makin membengkak. Besaran subsidi bahan bakar saat ini Rp 193,8 triliun. Hal ini terjadi karena nilai keekonomian premium sekitar Rp 9.000-Rp 10.000, bergantung pada spot market harga minyak di pasar internasional. Adapun kebutuhan konsumsi mencapai 31 juta kiloliter per hari dengan pengendalian (restriksi/pembatasan) atau 48-48,5 juta kiloliter per hari tanpa pengendalian.

Data World Bank Development Report 2013 menyebutkan konsumsi bahan bakar minyak per kapita di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, yaitu 796 liter tahun 2010, naik menjadi 836 liter tahun 2011, dan bertambah lagi menjadi 867 liter tahun 2012. Konsumsi bahan bakar yang makin meningkat, terutama untuk transportasi kendaraan pribadi, ada korelasinya dengan harga murah BBM di Indonesia.
Harga bahan bakar minyak Indonesia paling murah nomor tiga di dunia setelah Venezuela dan Arab Saudi. Harga bensin di Venezuela saat ini hanya Rp 154 per liter dan negara itu bisa memproduksi 2.435 juta barel minyak per hari.

Di Arab Saudi, harga bensin Rp 1.155 per liter dengan produksi 9,57 juta barel per hari, bandingkan dengan harga premium di Indonesia Rp 4.500, dan kita baru bisa memproduksi minyak mentah 800 ribu barel per hari.

Jelaslah bahwa kita memiliki tingkat produksi paling sedikit di antara tiga negara produsen minyak tetapi menerapkan harga BBM yang termasuk rendah.

Total konsumsi BBM di dalam negeri melebihi kemampuan negara ini untuk memproduksi minyak sehingga mengakibatkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dari minyak bumi makin tinggi. Ironisnya, hampir tidak ada upaya untuk mendiversifikasikan ketergantungan tersebut pada bahan bakar alternatif ataupun bahan bakar dari energi terbarukan.

Pemerintah berjanji dengan menaikkan harga BBM, dapat mengurangi subsisi sampai Rp 40 triliun, namun dari dana penghematan subsidi tersebut tidak ada upaya pengalokasian untuk mengembangkan dan mendiversifikasikan bahan bakar alternatif, selain bahan bakar minyak fosil.

Sesung­guhnya sangat ironis negara dengan potensi sumber daya alam melimpah seperti Indonesia begitu menyia-nyiakannya. Sebagai contoh, beberapa negara Amerika Latin, seperti Brasil sejak 1970-an mulai mengembangkan bahan bakar alternatif terbarukan, yaitu gasohol yang berbahan baku campuran alkohol yang didapat dari perkebunan tebu dengan BBM dari minyak bumi. Tanaman tebu dipilih selain jumlahnya melimpah juga pemakaian massal untuk penggunaan bahan bakar alternatif tidak mengganggu pasokan bahan pangan.

BBM Alternatif

Beberapa tahun lalu diversifikasi BBM alternatif terbarukan dari minyak jarak dipromosikan oleh pemerintah namun sekarang dalam perkembangannya inisiatif itu seperti layu sebelum berkembang. Bahan lain yang potensial dikembangkan adalah BBM alternatif dari minyak kelapa sawit, Negara kita mempunyai perkebunan luas, meliputi 80% dari produsen perkebunan kelapa sawit di dunia.

Potensi lain yang bisa dikembangkan adalah pe-ngembangan energi terbarukan dari singkong,  tanaman yang mudah tumbuh di Indonesia. Per­kebunan besar singkong di Indonesia ada di Provinsi Lampung. Tanaman singkong juga mudah tumbuh dan dikembangkan di berbagai daerah di Tanah Air.

Potensi besar lain adalah pengembangan BBM dari gasifikasi batu bara, yaitu batu bara yang dibuat cair. Cara itu sudah banyak dilakukan oleh beberapa negara, antara lain China, dan Jerman yang sudah mengembangkan BBM dari batu bara. Potensi Indonesia sangat besar mengingat deposit batu bara di Tanah Air mencapai 105 miliar ton, dan dapat di­tam­bang hingga 928 tahun.

Energi dari panas bumi (geotermal) juga melim­pah untuk dikembangkan guna memasok industri. Semuanya berpulang kepada komitmen pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan ataupun energi BBM alternatif supaya ketergantungan pada minyak bumi semakin berkurang. Salah satu pertimbangannya adalah menda­sarkan proyeksi produksi BBM dalam 50 tahun mendatang yang akan makin kecil dan langka.


Bila pemerintah tidak mempersiapkan dan membuat manajemen perencanaan strategis, kondisi itu dapat menyebabkan krisis energi yang mengancam kelangsungan hidup industri dan transportasi negara kita. Sejatinya pemerintah juga bisa menggandeng pihak swasta melalui skema public private partnership. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar