Rabu, 14 November 2012

Sosok Perempuan di Balik Kemenangan Presiden AS


Sosok Perempuan di Balik Kemenangan Presiden AS
Raymond Kaya ;  Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercu Buana
MEDIA INDONESIA, 13 November 2012



PEKAN lalu, Barack Obama kembali menjadi presiden Amerika Serikat (AS) untuk yang kedua kalinya setelah memenangi pertarungan menghadapi Mitt Romney. Kemenangan itu ditentukan swing states atau pemilih yang masih mengambang di beberapa negara bagian terutama di Ohio. Begitu Ohio memberikan suara untuk Obama, drama politik kampanye pemilu AS pun berakhir.

Pemilu tersebut melibatkan banyak pihak dan didukung tim kampanye yang luar biasa hebat di belakang para kandidat itu. Namun, sosok penting yang ada di belakang para kandidat tersebut ialah kehadiran istri mereka atau yang setelah mereka menjadi presiden akan dikenal dengan nama first lady.

Mantan Presiden AS Jimmy Carter pernah menulis peran istrinya, Rosalynn Smith Carter, selama dia menjabat presiden. Tulisan tersebut dimuat di The Atlanta Journal and Constitution. ‘Meskipun istri saya, Rosalynn, tidak memiliki karier profesional, dia mitra penuh saya di hampir semua bidang, pertanian, bisnis, dan bahkan urusan politik. Dia selalu menjadi pemain kunci dalam pertemuan-pertemuan yang membahas strategi politik’, tulis Carter dalam artikelnya yang diberi judul ‘A First Lady Finds Her Own Way’.

Dalam pemilu AS yang berlangsung tahun ini, istri setiap kandidat presiden yaitu, Michelle Obama (dari Partai Demokrat) dan Ann Romney (dari Partai Republik) di berbagai kesempatan menunjukkan peran penting suami mereka terutama dalam keluarga. Hal itu diperlukan agar para pemilih memiliki persepsi penting soal keluarga yang harmonis meski sebuah data menyebutkan AS menempati urutan kelima dalam soal perceraian.

Dari 1.000 penduduk ‘Negeri Paman Sam’, angka perceraian mencapai 3,4. Artinya para pemilih di AS ingin menyatakan, meski keluarga kami tidak bahagia dan berhasil, kami orang biasa. Lain halnya Anda, seorang calon presiden atau presiden kami, harus mempunyai keluarga yang baik-baik.

Peran Michelle Obama

Sumbangan terbesar Michelle Obama dalam pemilu kali ini ialah pidatonya yang luar biasa di penutupan malam pertama konvensi Partai Demokrat di Charlotte, Carolina Utara.

Dalam pidato yang disambut aplaus meriah para peserta, ia berbagi kenangan hidup bersama Obama selama 23 tahun dan ia menemukan nilai-nilai keluarga pada suaminya. “Barack dan saya dibesarkan di keluarga yang tidak memiliki banyak uang, tetapi mereka memberikan kami sesuatu yang lebih berharga, cinta tanpa syarat, pengorbanan dan kesempatan untuk pergi ke tempat-tempat yang mereka sendiri tidak pernah membayangkannya (Mediaindonesia.com, 6/9).“

Pidato Michelle Obama itu dinilai mampu menggugah banyak pihak. Michelle menceritakan perjalanan hidupnya dan sang suami yang sama-sama berasal dari keluarga pekerja, di saat orangtua mereka harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga masing-masing. Memang dalam pidato itu tidak ada unsur–unsur yang penting, tapi banyak kisah menarik yang diungkap Michelle.

Tidak hanya itu, tim kampanyenya dengan cerdas meminta Michelle yang lulusan Fakultas Hukum Universitas Chicago untuk mengucapkan kata-kata pentingnya tidak lebih dari 140 karakter. Kata-kata penting itulah yang disebar melalui media sosial Twitter. Saat Michelle Obama berpidato, data dari Twitter menunjukkan lebih dari 28 ribu tweet dihasilkan per menitnya. Jumlah itu kira-kira dua kali lipat jika dibandingkan dengan saingan Barack Obama, Mitt Romney, ketika menyampaikan pidato resmi penerimaannya sebagai capres dari Partai Republik satu pekan sebelum pidato Michelle di Carolina Utara. Pesan tweet dengan tanda #michelleobama dan #fi rstlady menjadi top trending saat itu dan para pengguna akun Twitter memuji Michelle Obama yang menyebut dirinya sebagai ‘mom in chief’.

Penggunaan media sosial bukan hal yang baru bagi Obama dan tim kampanyenya. Untuk urusan perayaan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20, pada 4 Oktober lalu, keduanya bahkan bertukar kata mesra di Twitter. Michelle yang memiliki hampir 1,7 juta follower mengungkapkan, “Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-20, Barack. Terima kasih telah menjadi mitra, teman, dan ayah yang luar biasa, setiap harinya. I love you!--mo.”

Ann juga diapresiasi. Namun, agak sedikit berbeda dengan Michelle Obama, istri Mitt Romney itu enggan membahas soal politik ataupun masalah partai. Ann Romney tampil di depan publik saat menyampaikan pidatonya dalam Konvensi Nasional Partai Republik awal Juni 2012 di Tampa, Florida. Dalam pidatonya yang meraih banyak apresiasi, Ann menekankan sisi lain yang lebih membumi dari suaminya yang dikenal sebagai multijutawan AS. Ann menceritakan kerja keras dan usaha Mitt dalam meraih kesuksesan dan posisinya sekarang ini.

Melalui kedua pidato yang mendapatkan sambutan besar dari para pendukung mereka itu, baik Ann maupun Michelle sama-sama bertujuan menggugah para pemilih (utamanya) kaum perempuan di AS. Mereka menyatakan cinta yang besar kepada suami masingmasing dan menyebutnya sebagai pria yang bisa dipercaya untuk memimpin AS.

Dramaturgi Politik

Sebetulnya apa yang dilakukan Michelle dan Ann tak lepas dari teori dramaturgi. Ervin Goffman yang mengembangkan teori dramaturgi, sebuah teori yang mengemukakan pengandaian kehidupan individu sebagai panggung sandiwara, ada sutradara, setting panggung, aktor, dan akting. Dalam sudut pandang sosiologi politik, drama itu harus menjadi cerminan apa yang terjadi di masyarakat, kemudian memberi kesan agar sebuah tujuan tercapai.

Dalam perkembangan teori itu, Kenneth Duva Burke memperkenalkan konsep dramatisme. Tujuan dramatisme-dalam drama tadi--ialah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan.

Apa yang dilakukan Michelle dan Ann merupakan bagian dari konsep tersebut. Sekumpulan ahli komunikasi politik atau sutradara politik mencitrakan istri-istri kandidat presiden sebagai penyampai pesan yang sangat efektif. Dramatisasi soal kehidupan masa lalu yang baik, yang diceritakan Michelle dan Ann, tak lebih dari keinginan mereka untuk mendekatkan diri dengan para pemilih yang
frustrasi dengan ekonomi AS saat ini. Namun, ‘drama’ tadi dikemas dengan luar biasa dan tidak lebay.

Posisi Sejajar

Bagaimana dengan di Indonesia? Perspektif ilmu antropologi tentang peran perempuan dalam masyarakat Jawa yang menyebutkan konsep istri sebagai sigaraning nyowo, bukan sekadar konco wingking, juga memberikan gambaran posisi yang sejajar dan lebih egaliter terhadap perempuan Jawa (Handayani & Novianto, 2004). Istilah konco wingking pun tidak selalu lebih rendah, tergantung bagaimana perempuan Jawa memaknainya.

Itu sama seperti sutradara yang bekerja di belakang layar dan tidak pernah terlihat dalam filmnya, tetapi dapat menentukan jalannya film.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar