Jumat, 16 November 2012

Membingungkan


Membingungkan
Toeti Prahas Adhitama ;  Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA, 09 November 2012



ADA buku memikat berjudul Ratu Adil, sebuah memoar seorang skizofren. Buku yang dibagikan ketika acara Kick Andy membahas topik skizofrenia, dengan menghadirkan sejumlah mantan penderita gangguan jiwa itu, isinya relevan untuk kolom ini karena bisa dianalogikan dengan situasi sekarang. Seperti yang dialami seorang skizofren, masyarakat hampir-hampir tidak tahu lagi yang disebut kebenaran. Situasinya membingungkan. 

Skizofren dalam halusinasinya juga mulai curiga pada kenyataan yang benar. Bukankah itu beranalog dengan yang kita rasakan saat ini? Mengapa situasinya terkesan demikian? Ada kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita bingung. Kita bertanya-tanya bagaimana kebenaran yang sesungguhnya. Misalnya yang terakhir kasus Dahlan Iskan versus DPR mengenai kemungkinan beberapa pemerasan terhadap BUMN. Ungkapan berhari-hari yang menghebohkan dunia politik tentang masalah itu tiba-tiba pada saat-saat terakhir menguap, seakan-akan tidak pernah terjadi. Dari janji akan menyebut 10 pemeras, pada hari H-nya hanya dua yang disebut, itu pun tidak jelas. Masyarakat yang terus-menerus mengikuti proses menuju pengungkapan pada akhirnya termangumangu, merasa kecolongan atau dibohongi. Seorang penonton Bedah Editorial MI di Metro TV minggu ini mengindikasikan akhirnya Dahlan Iskan-lah yang nantinya dianggap mengada-ada.

Hilang Nalar dan Kejujuran

Setelah mengikuti ramainya pemberitaan hari demi hari tentang menyalahgunaan wewenang (termasuk yang disebut Dahlan Iskan) dan betapa mudahnya menyelamatkan yang dianggap bersalah dari jeratan hukum pidana, tentu tidak berlebihan bila kita merasa dipecundangi. Semua yang diajarkan lewat pendidikan formal maupun nonformal baik oleh orangtua maupun masyarakat seperti tidak berarti. Tidak ada nalar dan tidak ada yang jujur. Persoalannya gampang dilupakan, lalu menguap ringan.

Lembaga-lembaga politik dalam suatu masyarakat, termasuk organisasi-organisasinya yang secara kolektif kita sebut pemerintah (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) menjalankan fungsi-fungsi penting untuk masyarakat umum. Pemerintahlah yang menetapkan fokus atau sasaran bagi tuntutan-tuntutan masyarakatnya, termasuk tuntutan ekonomi. Orde politik itu sendiri mencerminkan kultur masyarakat secara umum.

Kemampuan kita melihat isu-isu politik secara dini, dan menanggapinya secara efektif, bergantung pada kedewasaan kita dalam sikap dan perilaku politik. Yang menentukan ialah konsep-konsep, baik yang kita miliki selama ini maupun yang kita dambakan atau kita citacitakan untuk masa depan; apakah bersifat konservatif, liberal, atau radikal.

Dalam perspektif yang bersifat konservatif (yang di kita gayanya feodalistis dan paternalistis), pemerintahan menjadi sarana memelihara tertib sosial untuk mengintegrasikan berbagai sistem sosial agar utuh dan serasi. Pelaku-pelaku penting terdiri dari kalangan elite yang memiliki kekuasaan paling besar dan sumber-sumber lain untuk memegang tampuk pimpinan; termasuk di antaranya kebijaksanaan, pengalaman dan integritas moral. Sangat ironis bila justru di kalangan mereka terdapat unsurunsur yang kongkalikong merongrong kepentingan bersama; sedangkan masyarakat sungguh percaya akan niat luhur mereka dan menerima serta menghormati mereka sepenuhnya.

Semua Menjadi Komoditas

Tiba-tiba semua menjadi komoditas. Jabatan dan wewenang menjadi komoditas. Ikut dengar menjadi komoditas. Kita curiga, mungkin perkembangan ini akibat limpahan semangat dagang, dimungkinkan orientasi bisnis dan pasar. Semua berakar dari proses transisi ke modernisasi yang berorientasi pada rasionalisme, individualisme, dan materialisme.

Faktanya dunia telah ditaklukkan materialisme. Setengah sadar, negarawan-negarawan dan masyarakat-masyarakat demokratis menyaksikan materialisme telah menyusup ke mana-mana. Telah menyusupi bidang pendidikan, industri, pemerintahan; dan telah memengaruhi kehidupan keluarga, kerabat, dan pribadi.

Materialisme secara terorganisasi bergerak maju secara kolosal untuk menancapkan kekuasaan, sekaligus mengganggu keserasian sosial. Ini menjadi dilema kita. Namun, tidak ada jalan pintas karena untuk mengatasinya kita harus mengubah sikap dan sifat manusia. Berbagai pakta, konferensi, dan rencana tidak akan mampu menggarap inti persoalan selama kita tidak mampu mengubah sikap manusia.

“Di bumi terdapat cukup pangan untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan semua orang.“ Kata-kata itu pernah diucapkan Frank Buchman (1979-1961), pelopor grup yang mendapat dukungan Universitas Oxford, yang kemudian dikenal dengan nama Moral Rearmament. Disebut demikian karena Buchman berkeyakinan bahwa problem umat manusia akan bisa teratasi bila masyarakatnya menjalani kebangkitan moral dan spiritual. Buchman seorang idealis.

Ada kaitan antara idealisme, kemerdekaan, demokrasi, dan ideologi. Ideologi bisa memberi penyelesaian masa kini untuk problem-problem yang ditemui sejak masa lampau sampai masa depan. Kemerdekaan tanpa ideologi akan mudah diabaikan. Sebaliknya kemerdekaan dengan ideologi--untuk bangsa ini ideologi Pancasila yang dirumuskan founding fathers--akan mampu membebaskan kita dari masalah-masalah di hadapan kita sehingga masa depan bisa diharapkan datang dengan membawa ketenteraman.