Selasa, 03 Juli 2012

Mengembalikan Pamor yang Mulai Memudar


Mengembalikan Pamor yang Mulai Memudar
Suyatno ; Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Terbuka
MEDIA INDONESIA, 03 Juli 2012


MENURUNNYA elektabiltas menjadi persoalan serius sejumlah partai politik (parpol) saat ini. Hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei menunjukkan popularitas beberapa parpol kian merosot.

Saat ini setidaknya ada dua catatan besar yang bisa kita lihat. Pertama, elektabilitas Partai Demokrat sebagai partai penguasa ternyata anjlok. Kedua, eksistensi partai-partai berbasis massa Islam terancam kian terbenam menjelang Pemilu 2014.

Hasil polling menunjukkan kedua hal tersebut. Survei terbaru oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2-11 Juni 2012 menunjukkan tingkat elektabilitas partai pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya tinggal 11,3%. Adapun yang dilakukan Lembaga Survei Nasional (LSN) pada 10-20 Juni 2012 dengan 1.230 responden di 33 provinsi di Indonesia menunjukkan elektabilitas partai tersebut tinggal 15,70% dan jauh di bawah perolehan pada Pemilu 2009 sebesar 29,15%.

Jajak pendapat itu paling tidak memberikan sedikit gambaran tentang apa dirasakan rakyat terhadap keberadaan partai-partai. Terasa ada jarak menganga lebar antara partai dan rakyat setelah pemilu selesai. Partai kemudian terkesan bersifat elitis dan kurang berani memperjuangkan kepentingan rakyat kalau tidak menguntungkan dan membahayakan posisi kekuasaan mereka.

Mereka juga sering salah menempatkan diri ketika harus bersitegang mempertahankan pendapat. Padahal, pendapat itu sebenarnya merupakan kepentingan kelompok yang lebih sempit bila dibandingkan dengan tuntutan rakyat yang lebih luas. Tidak mengherankan kalau rakyat sering kecewa terhadap keputusan politik partai-partai.

Penilaian miring terhadap partai itu disebabkan partai memang menunjukkan performa yang cenderung negatif. Beberapa penilaian negatif yang tampak antara lain pemimpin partai mementingkan diri sendiri, pengurus partai sering cekcok, tujuan partai makin tidak jelas, dan seolah mengabaikan kepentingan pendukung.

Lembaga Penghubung

Antara rakyat dan pemerintah yang berkuasa sangat diperlukan hubungan timbal balik agar apa yang menjadi kepen tingan rakyat dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan pemerintah. Menjalin hubungan itu bisa ditempuh secara langsung, bisa juga secara tidak langsung.

Dalam sebuah negara, dengan jumlah penduduk yang sedikit dan struktur masyarakat masih sederhana dengan peranan yang ma sih terbatas, kebutuhan akan adanya lembaga penghubung belum mendesak. Masyarakat dan pemerintah masih mungkin menjalin hubungan secara langsung seperti masa negara kota (polis) pada zaman Yunani Kuno. Pemerintah masih mampu mengidentifikasi dan merumuskan aspirasi masyarakat secara langsung.

Sebaliknya, pada komunitas politik dengan jumlah penduduk yang banyak, secara kultural dan struktur masyarakat kompleks, kebutuhan adanya lembaga penghubung semakin terasa (Surbakti, 1999).

Dalam masyarakat yang kompleks, terdapat kepeningan dan tuntutan yang sangat bervariasi. Tidak mungkin secara langsung yang disampaikan akan tertampung semua. Karena itu, diperlukan sebuah lembaga untuk menampung (artikulator), memilih, dan memilah (agregator) dalam rangka prioritas kepentingan dan tuntutan agar kemudian bisa diolah menjadi kebijakan oleh pemerintah yang berkuasa.

Sebagaimana pada kelahirannya yang pertama di Eropa Barat, partai politik ada sebagai akibat meluasnya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang perlu diperhitungkan serta diikutsertakan dalam proses politik. Itu sebabnya parpol telah lahir secara spontan dan berkembang menjadi penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di pihak lain.

Bila negara ini adalah negara demokratis yang menginginkan kehadiran partai-partai, dalam kerangka itulah parpol kita itu seharusnya mengambil posisi.
Keberadaan parpol merupakan hasil dari pemahaman bahwa keikutsertaan dan partisipasi rakyat dianggap penting dalam proses berjalannya sebuah sistem politik.

Partisipasi merupakan ide dasar bagi terbentuknya apa yang dinamakan parpol. Keberadaan mereka di dunia ini sebagai media bagi rakyat agar kepentingan rakyat bisa ditampung dan didengar sistem politik. Saluran tersebut merupakan jalur formal agar aspirasi masyarakat dapat tersalurkan. Dalam konteks itulah kepentingan masyarakat berbicara karena dari kepentingan rakyatlah partai itu ada.

Reorientasi Peranan

Dengan mengacu ke berbagai kecenderungan dan uraian tersebut, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian parpol agar rakyat bisa kembali (akan) merasakan kehadiran salah satu unsur infrastruktur politik itu di tengah kehidupan mereka.

Pertama, program yang disusun dan ditawarkan parpol hendaknya bersifat realistis dan visible sehingga janji yang diberikan pada masa kampanye benar-benar akan bisa diwujudkan dalam kehi dupan masyarakat. Rakyat tidak akan merasa memi lih kucing dalam karung karena apa yang akan diberikan partai sejak awal sudah jelas hingga bisa dibuktikan nanti pascapemilu.

Kedua, untuk itu, benar-benar diper lukan kemampuan agregasi kepentingan guna membedakan mana kepentingan masyara kat luas dan mana yang hanya kepentingan kelompok yang sem pit. Kemampuan tersebut akan membuat peran mereka benar benar dirasakan di dalam masyarakat luas. Di situlah optimalisasi fungsi litbang partai menjadi kebutuhan yang mendesak.

Apalagi kondisi krisis bangsa ini memerlukan telaah yang mendalam dan komprehensif untuk diatasi, kemudian diwujudkan dalam agenda aksi program-program parpol. Terlihat sebenarnya betapa tidak mudah mendirikan dan mem bangun sebuah partai.

Setiap partai politik dituntut membangun sebuah badan penelitian dan pengembangan dengan tujuan optimalisasi usaha penelitian kepentingan dan keinginan masyarakat sehingga bisa menyusun program-program yang lebih mengena. Kesenjangan partai dan rakyat akan dapat diminimalkan dan kehadiran mereka akan semakin dirasakan.

Ketiga, konsistensi partaipartai yang berkuasa--partai apa pun dan siapa pun--untuk mewujudkan program-program yang pernah ditawarkan kepada konstituen mereka dalam berbagai kebijakan yang akan dibuat disosialisasikan kepada rakyat secara optimal. Ketidakjelasan program dan tujuan partai pascapemilihan menjadi sumber utama pertanyaan rakyat atas janji partai pilihan mereka. Di situlah media massa menduduki peran strategis sebagai media informasi dan sumber masukan dari rakyat.

Keempat, parpol harus bisa membangun kader yang memiliki komitmen terhadap kepentingan rakyat. Rekrutmen dan pembinaan kader secara lebih serius oleh partai-partai sangat diperlukan sehingga akan menghasilkan elite politik yang benar-benar siap melaksanakan program parpol yang merakyat dan mengelola negeri ini menjadi maju.

Yang pasti, membangun kepercayaan tidak cukup dalam waktu satu-dua hari saja. Butuh banyak waktu untuk meraih simpati dari rakyat. Namun, hal itu harus segera dimulai dan tidak boleh ditundatunda. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar