Senin, 30 Juli 2012

Bumper-Bumper Besar di Tengah Krisis Besar

Bumper-Bumper Besar di Tengah Krisis Besar
Dahlan Iskan ; Menteri Negara BUMN
JAWA POS, 30 Juli 2012


SAMBIL mengikuti sidang kabinet yang membicarakan pertumbuhan ekonomi di Kementerian Perindustrian Jumat lalu, saya iseng-iseng mengingat di luar kepala proyek apa saja yang akan dikerjakan BUMN untuk mendukung pertumbuhan ekonomi itu. 

Saya buat daftarnya di kertas. Ternyata banyak sekali. 

Tahun ini saja 15 pabrik besar harus mulai dibangun. Ketika Presiden SBY menyebut dampak krisis ekonomi Eropa pada pertumbuhan ekonomi kita, saya pun punya tekad bulat: tidak boleh satu pun dari 15 proyek tersebut yang batal atau ditunda. Krisis ekonomi yang kian berat memang mengerikan, tapi BUMN harus bisa menjadi salah satu bumper bagi ekonomi Indonesia. 

Setiap pembatalan atau penundaan proyek tersebut bukan hanya membawa dampak pada penurunan aktivitas ekonomi, tapi juga membawa dampak psikologis yang bisa membuat orang bersikap wait and see.

Semua pihak memang harus bertekad menjaga agar target pertumbuhan ekonomi seperti yang diinginkan Presiden SBY di atas 6 persen tercapai. 

Lima belas pabrik baru tersebut termasuk: (1) Oleokimia di Sumatera. Selama ini BUMN hanya berhenti memproduksi CPO dari kelapa sawit. Tidak berani masuk ke hilir. Akibatnya, nilai tambah kelapa sawit tidak dinikmati di dalam negeri. Karena itu, tiga bulan lalu saya memutuskan agar PTPN berani membangun industri oleokimia skala di atas satu juta ton setahun. Akhir tahun ini juga sudah harus dimulai. Inilah pabrik oleokimia pertama yang akan dimiliki BUMN.

Perhutani harus membangun (2) pabrik gondorukem yang besar di Pemalang, Jawa Tengah. Hutan pinus yang luas milik Perhutani di Jateng harus mempunyai nilai tambah bagi Indonesia. Pohon-pohon pinus itu bisa dideres. Getahnya menjadi gondorukem. Gondorukem diolah menjadi derivatif yang merupakan bahan cat, parfum, campuran kertas, bahan tinta, bahan campuran untuk ban mobil, dan sebagainya. 

Yang lebih penting, dengan berdirinya pabrik itu ada 10.000 lapangan kerja baru. Diperlukan banyak sekali getah pinus yang hanya bisa didapat kalau ada 10.000 tenaga penderes. Sebuah lapangan kerja yang besar untuk pedesaan di sekitar Pemalang. Inilah, seperti dikemukakan CEO Perhutani Bambang Sukmanantio, pabrik pertama gondorukem milik Perhutani sendiri.

Mendadak jajaran BUMN kini juga berpikir bagaimana agar tanah-tanah Perhutani dan PTPN bisa dimanfaatkan untuk menanam tempe, eh, kedelai secara besar-besaran. Terutama di kebun yang tanamannya belum berumur tiga tahun. Di sela-selanya tentu bisa dimanfaatkan untuk menanam bahan baku tahu, tempe, dan tauco. 

Semula soal ini sebenarnya baru kami bicarakan tahun depan. Yakni, setelah tiga prioritas BUMN pangan tahun ini bisa menggelinding di lapangan: membantu menaikkan produksi beras, gula, dan ternak. Tapi, dengan datangnya krisis kedelai di dunia yang begitu menggemparkan, pemikiran ini harus dimajukan. 

Tentu kami masih akan melihat dulu kemampuan internal BUMN. Terutama apakah kalau melebar ke soal tahu-tempe, program utama beras, gula, dan ternak tidak akan terganggu. 

Memang ada puluhan ribu hektare tanah di Perhutani dan PTPN yang bisa dimanfaatkan untuk kedelai atau jagung. Selama ini secara kecil-kecilan sebenarnya juga sudah dicoba. Tapi, untuk dijadikan skala raksasa diperlukan infrastruktur dan kapasitas yang baru.

Semen Indonesia (yang membawahkan Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa) juga harus membangun (3) pabrik semen baru di Padang. Memang perluasan pabrik semen di Tuban dengan kapasitas tiga juta ton per tahun baru saja rampung. Bahkan, perluasan pabrik semen Tonasa belum selesai. Namun, perluasan pabrik semen Padang harus dimulai tahun ini. 

Pertumbuhan ekonomi seperti yang digariskan Presiden SBY akan sulit tercapai tanpa meningkatkan kapasitas pabrik semen. Karena itu, PT Semen Indonesia (nama baru holding PT Semen Gresik nanti) harus mulai juga membangun (4) pabrik semen baru di Rembang. 

PT Semen Indonesia memiliki kemampuan dan kapasitas yang besar. Proyek-proyek baru itu memang bisa membuat napas "termehek-mehek", tapi manajemen PT Semen Indonesia sudah terbukti sangat andal. Mampu lari maraton plus halang-rintang. Manajemen di bawah CEO Dwi Soetjipto terbukti telah menjadikannya perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara. 

PT Semen Indonesia sudah mengalahkan raja Asia Tenggara, Siam Semen Thailand, dan semua pabrik semen di 10 negara lainnya.

Tentu tersedianya semen yang cukup sangat membantu pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pembangunan pabrik baru (5) Semen Baturaja di Sumatera Selatan juga harus dimulai tahun ini. Memang, proses go public-nya masih terhambat soal SK 236 yang dipersoalkan DPR itu. Namun, ekspansi pabrik semen Baturaja tidak boleh ikut terganggu. Bisa dicarikan dana dulu dari sumber lain. 

Proyek ini terlalu penting untuk terganggu. Juga sangat menguntungkan. Di samping tentu sangat vital untuk pembangunan di Sumatera.

Di Papua, tiga proyek besar juga harus dimulai tahun ini. Pabrik (6) sagu di Sorong Selatan, sudah selesai disurvei oleh tim Perhutani. Izinnya yang semula seret juga sudah keluar. Kini perencanaan sedang dibuat dengan melibatkan IPB dan Universitas Papua di Manokwari. 

Universitas Papua memiliki ahli terkemuka yang meraih doktor pertama di bidang sagu: Dr Leo Retaubun. Sedangkan pabriknya didesain oleh ITS Surabaya.

Pembangunan (7) Pelabuhan Sorong juga sangat prestisius. Pelabuhan baru ini ibarat matahari yang terbit di timur. Akan langsung bisa dimasuki kapal yang membawa 3.000 kontainer. Langsung lebih dalam dibanding pelabuhan Surabaya dan Makassar. Inilah tekad R.J. Lino, CEO Indonesia Port Corporation, (IPC, nama baru Pelindo II). 

Pelabuhan Surabaya saja hanya bisa dimasuki kapal yang membawa 1.300 kontainer dan pelabuhan sekelas Makassar hanya bisa dimasuki kapal yang membawa 1.100 kontainer. Sorong akan meloncat langsung ke skala 3.000 kontainer. Tentu pelabuhan Surabaya dan Makassar juga segera diperdalam sehingga seragam: bisa dimasuki kapal yang membawa 3.000 kontainer.

Proyek ketiga di Papua tidak kalah besarnya: (8) pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala raksasa di Wamena. Minggu ini saya akan menyertai direksi PLN ke Wamena untuk memulai pembangunan jalan dan beberapa jembatan menuju lokasi PLTA tersebut. 

Jalan yang dibangun panjangnya 25 km ke arah Yahukimo. Inilah jalan yang akan dipakai untuk mengangkut bahan dan peralatan. Tentu jalan ini juga sangat bermanfaat untuk penduduk sekitar.

Listrik PLTA ini bisa untuk menerangi seluruh kawasan tengah Papua dan menjadi proyek raksasa pertama di pedalaman Papua. Saya berharap masih kuat berjalan kaki sejauh 25 km di Pegunungan Wamena itu seperti yang saya lakukan persis setahun lalu.

Krakatau Steel juga harus memulai pembangunan (9) pabrik baja baru. Dananya, lokasinya, dan pasarnya sudah tersedia. Inilah pabrik baru dengan teknologi baru yang lebih efisien. Tidak seperti pabrik lama yang karena teknologinya sangat tua harga jual di pasar bisa lebih mahal 100 dolar per tonnya. Proyek ini juga sekaligus untuk mengimbangi agar Krakatau Steel tidak terlihat seperti fosil di depan pabrik baja baru kerja sama KS dengan Posco Korea di sebelahnya, yang akhir tahun depan bisa uji coba produksinya.

Di Jatim juga segera dimulai pembangunan (10) pabrik gula baru Banyuwangi. Ini akan menjadi pabrik gula terbesar milik BUMN. Juga menjadi pabrik gula yang modern di tengah 52 pabrik gula manula. 

Memang banyak tuntutan untuk merevitalisasi pabrik-pabrik gula yang tua itu, tapi sebaiknya itu baru dilakukan dua tahun lagi. Yakni, setelah pembenahan manajemen di seluruh PG selesai. Manajemen adalah segala-galanya. Biarpun pabriknya baru, kalau manajemennya payah, pabrik tersebut bisa tiba-tiba tua. 

Menghadapi tuntutan seperti itu, saya selalu menegaskan kepada manajemen mereka: buktikan dulu dengan pabrik yang tua bisa berkinerja yang baik. Pabrik gula adalah pabrik yang serbamekanik. Berarti bisa berumur panjang. Sepanjang manajemennya andal. 

Terbukti dengan pembenahan manajemen yang dilakukan awal tahun tadi, kini semua pabrik gula mampu meningkatkan produksi dan memperbaiki mutu. Saya seperti tidak sabar menunggu selesainya musim giling tahun ini untuk melihat prestasi baru seluruh manajemen pabrik gula BUMN. 

Setelah ini saya pun ingin di setiap kelompok pabrik gula terbangun satu PG yang berstandar internasional. Ini untuk dijadikan benchmark bagi yang lain. Misalnya, PG Krebet Baru di Malang, Tasikmadu di Bantul, Pesantren di Kediri, Rajawali II di Purwadadi, Subang, dan beberapa lagi.

Masih lima proyek baru lagi yang tidak kebagian tempat untuk diuraikan di sini. Belum lagi pembangunan puluhan pabrik kelapa sawit (PKS) yang juga dilakukan tahun ini. Karena begitu banyaknya, pembangunan PKS itu sudah menjadi seperti kegiatan rutin saja. 

Yang masih mengganjal adalah ini: kapan Pertamina bisa membangun kilang minyak sendiri! Pertamina masih terlalu sibuk dengan urusan-urusan rutinnya! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar