Resepsi
Rhenald Kasali ; Akademisi, Praktisi Bisnis dan Guru Besar bidang
Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
|
JAWA POS, 12 Juni 2015
|
PRESIDEN kita, Joko Widodo, menikahkan anak
pertamanya kemarin. Pesta pernikahan digelar meriah, namun sederhana di Solo,
Jawa Tengah. Kalau rakyat biasa paling banyak hanya mengundang 200–500 orang
tamu, dalam resepsi ini ada sekitar 4.000 undangan. Tentu saja saya tidak
termasuk dalam daftar undangan, juga bukan panitia. Tetapi, sebagai rakyat,
saya ikut mendoakan. Undangan terdiri atas 1.000 untuk warga Solo, 2.000
untuk relawan Jokowi-JK, dan 1.000 lainnya untuk para pejabat dan petinggi
negara, politisi, dan tamu-tamu asing.
Ini yang saya suka: Kedatangan tamu sudah
mulai ditata. Maklum, di mana-mana kita lihat tak ada orang yang menata
antrean. Bahkan, membagi daging kurban saja kita tak pandai. Apalagi mengatur
arus lalu lintas di jalan tol atau pelabuhan penyeberangan. Padahal, ada
banyak alatnya, termasuk mekanisme harga.
Baiklah kita kembali ke soal penataan tamu
respsi. Supaya para tamu tidak tumplek bleg pada satu sesi acara, tamu yang
datang saat malam midodareni di rumah tak perlu datang lagi saat resepsi.
Untuk tamu VIP dan VVIP, panitia menyiapkan aturan khusus.
Di Samarinda, saya bertemu dengan seorang
tokoh agama yang kebetulan menerima undangan ke acara tersebut. Dia senang
dengan pembagian waktu tersebut.
Dulu dia pernah hadir ke pernikahan anak
seorang petinggi negara. Oleh karena waktunya tidak dibagi-bagi, dia terpaksa
antre lebih dari satu jam hanya untuk bisa menyalami pasangan pengantin dan
keluarganya. ”Buat orang tua seperti saya, antre seperti itu tentu
melelahkan. Apalagi di sepanjang jalan tak ada kursi. Mudah-mudahan nanti
saat mantu Pak Jokowi, antrenya tidak terlalu lama,” katanya penuh harap.
Cerita Rakyat Kecil
Banyak pernik-pernik lain seputar pesta nikah
ini. Kebanyakan cerita, ini yang juga saya suka, tentang rakyat kecil yang
terlibat dalam pesta pernikahan tersebut.
Misalnya, ada cerita Mukhtaroji, kepala Kantor
Urusan Agama (KUA) Banjarsari, yang menjadi penghulu untuk menikahkan putra
orang nomor satu di negeri ini. Bagi Mukhtaroji, ini menjadi pengalaman yang
luar biasa. Apalagi banyak media yang meliput dan undangan yang hadir. Untuk
itu, dia terus melakukan persiapan supaya saat puncak acara tidak grogi.
Atasan Mukhtaroji, kepala Kementerian Agama
Kota Surakarta, membantunya menyiapkan catatan khotbah nikah. ”Meski sudah
hafal, kalau grogi, saya bisa saja lupa. Itu sebabnya, saya akan membawa catatan,”
ucap Mukhtaroji, jujur.
Cerita lain adalah tentang 300-an tukang becak
yang terlibat dalam acara tersebut. Untuk menampung mobil para tamu undangan,
pihak Pemerintah Kota Solo menyiapkan dua lapangan yang berjarak sekitar 500
meter dari gedung resepsi. Para tamu diangkut dari dua lapangan ke gedung
resepsi dengan memakai 300 becak tadi.
Presiden Jokowi memberi upah Rp 200.000 kepada
setiap tukang becak. Supaya tampil lebih rapi, Wali Kota Solo F.X. Hadi
Rudyatmo juga akan memberi tukang-tukang becak itu belangkon dan baju lurik
yang baru.
Cerita lain adalah sama dengan resepsi besar
lainnya, yaitu tentang hotel-hotel di Solo yang habis di-booking para tamu
yang bakal hadir dalam acara tersebut. Bahkan, banyak hotel yang menaikkan
harga 10 persen–15 persen untuk H minus 5 dan H plus 5.
Beberapa tamu yang telat memesan terpaksa
mencari hotel di kota-kota seputarnya, seperti Magelang atau DI Jogjakarta.
Alhasil, pekan-pekan ini hotel-hotel di seputar Solo dan Jogjakarta
kebanjiran tamu. Para pengelola dan pemilik hotel tentu senang.
Rezeki juga mengalir ke resto-resto dan
pusat-pusat perbelanjaan. Selama dan sepulang menghadiri pesta pernikahan
tersebut, para tamu undangan juga memborong oleh-oleh dan suvenir khas Solo
atau Jogjakarta.
Beberapa Catatan
Ada beberapa hal yang bisa kita catat dari
pesta tersebut. Pertama, tak ada stasiun TV yang punya hak eksklusif atas
acara tersebut dan kemudian habis-habisan melakukan komersialisasi. Ini
memang pestanya kedua mempelai, keluarga Jokowi dan besannya. Tapi, bagi
warga Solo, ini juga menjadi pestanya mereka.
Beberapa waktu lalu kita pernah disuguhi acara
pernikahan seorang artis dikomersialisasi habis-habisan oleh suatu stasiun TV
dalam sebuah acara yang, menurut saya, berlebihan. Mudah-mudahan kali ini hal
semacam itu tidak terjadi.
Catatan kedua, melalui acara pernikahan ini,
Presiden Jokowi rupanya ingin menyampaikan beberapa pesan. Di antaranya,
meski Jokowi seorang kepala negara, dia sama sekali tidak melibatkan para
pejabat negara dalam pesta pernikahan anaknya. Jadi, mereka tetap bisa fokus
dalam menjalankan pekerjaannya.
Bukan hanya itu, bahkan Presiden Jokowi
menolak ketika ditawari menggunakan fasilitas negara atau menerima hadiah apa
pun. Misalnya, dia menolak memakai Istana Cipanas atau Istana Bogor untuk
pesta pernikahan anaknya. Dia memilih menikahkan anaknya di Solo.
Pesan lain, selama pesta pernikahan tersebut,
Presiden Jokowi sama sekali tidak mengambil cuti. Dia tetap berkantor seperti
biasa meski sebagian aktivitasnya banyak dilakukan di Solo.
Pesan berikutnya tentang kesederhanaan.
Misalnya, emas untuk pengantin tidak dibelinya dari desainer ternama,
melainkan cukup dari pedagang di Pasar Klewer, Solo. Harganya pun wajar,
tidak membuat jantung kita berdegup. Tapi, apakah hal ini sudah pasti mampu
membungkam mulut para haters? Tentu saja tidak! Namanya juga haters, mereka
ada, siapa pun presidennya.
Namun bagi saya, pesta ini adalah cara lain
dari Presiden Jokowi untuk menyampaikan pesan tentang revolusi mental yang
belum jelas bentuknya. Mudah-mudahan kita bisa memahaminya. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar