Senin, 01 Juni 2015

Bahasa Tubuh dan Pengambilan Keputusan

Bahasa Tubuh dan Pengambilan Keputusan

Sawitri Supardi Sadarjoen  ;  Penulis kolom “Konsultasi Psikologi” Kompas Minggu
KOMPAS, 31 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
Kata-kata bukan cara satu-satunya dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi dari orang lain. Bicara adalah penting, sejauh disertai oleh pengamatan apakah orang lain yang berbicara dengan kita mendasari ungkapannya dengan perilaku yang penuh rasa tanggung jawab.


Pada dasarnya kita belajar banyak tentang orang lain melalui seluruh rangkaian penghayatan perasaan kita. Memilih pasangan yang intim tidak melulu terkait dengan masalah intelektual, tetapi juga tugas dari hati kita yang bekerja dibalik ungkapan bahasa yang menyertakan perasaan, keinginan-keinginan, kebutuhan dasar serta intuisi kita.

Pada dasarnya pula kita akan bisa memahami orang lain, tidak hanya melalui kata-kata yang keluar dari mulutnya, tetapi melalui pemahaman intuisi atau ”membaca” hal-hal yang terungkap melalui perilaku nonverbal yang terungkap sebagai bahasa tubuhnya. Kita tahu bahwa melalui badan kita, kita dapat menunjukkan interaksi yang memiliki makna yang spesifik dan muncul dalam konteks pemberdayaan perasaan, gairah, dan inspirasi atau justru menunjukkan makna yang sebaliknya. Kita seyogianya mengetahui juga bahwa melalui bahasa tubuh kita dapat menangkap dan meyakini sesuatu sehingga kita dapat menolak sesuatu dengan tegas.

Intuisi

Apa yang kita nyatakan sebagai intuisi atau ”reaksi mental terbaik” adalah kapasitas manusia yang luar biasa yang mampu melakukan proses spesifik terhadap informasi yang datang dari lingkungan tentang diri orang tertentu, yang terkandung di balik kata-kata yang diungkapkannya.

Saat ini saya duduk di satu terminal bus selama 20 menit di satu kota kecil di Jawa Tengah dan memandang pada satu kelompok anak muda yang terdiri dari laki-laki dan perempuan sedang berbicara mendiskusikan sesuatu dalam bahasa Jawa. Saya amati dan mendapatkan salah satu dari anak-anak muda tersebut menampilkan dirinya dengan sangat menarik, kecuali dia cukup tampan dan dia juga bersikap simpatik yang serta-merta membuat saya seolah ingin membawanya ke Bandung untuk menjadi teman saya.

Saya menilai respons saya terhadap pengamatan saya tersebut merupakan hasil penilaian saya terhadap bahasa tubuh yang jelas dari pemuda tersebut, pemuda tersebut cukup tampan, kemudian posisi dan gayanya bersikap sangat menarik. Sebetulnya, jika kita cermati, saat itu telah terjadi interaksi nonverbal antara saya dan pemuda tersebut yang tercipta secara otomatis dan sama sekali tidak menyertakan energi psikis yang spesifik. Perasaan tersebut datang dengan sendirinya dan membuat keyakinan diri terhadapnya terasa mantap. Contoh inilah yang dimaksud dengan gerak intuitif.

Jika saja saya mendapat kesempatan untuk mengungkap perasaan yang positif terhadap dirinya saat itu, maka akan terungkap kalimat sebagai berikut, ”Saya merasa dekat denganmu.” Dalam hal ini saya lebih percaya pada apa yang saya rasakan daripada dengan kata-kata apa pun yang saya dengar. Dalam situasi ini, saya membuat keputusan yang sifatnya otomatis tentang siapa yang berhati baik, tepercaya, dan dapat diandalkan perilakunya di masa mendatang dan siapa yang tidak termasuk dalam kelompok tersebut.

Tentu saja kita bisa saja berbuat salah (terutama jika kita berpikir bahwa pemuda tersebut adalah seorang yang pemalu, misalnya). Namun, adalah sangat menarik jika kita berpikir tentang bagaimana kita mendapatkan penghayatan tentang diri seseorang secara otomatis dan tidak mengandalkan pada isi dari apa yang dia ucapkan. Nah, untuk membaca kondisi orang lain secara akurat tentang diri pemuda itu, kita memerlukan tambahan perasaan nyaman, aman, dan relaks dengan kehadirannya serta kita percaya betul akan hasil pemikiran kita tersebut.

Hal yang terpenting adalah suara yang kita butuhkan untuk menempa keyakinan di dalam relasi dengan orang lain, pada dasarnya ada dalam diri kita sendiri. Namun pada sisi lain, kita juga membutuhkan kepercayaan diri kita sendiri agar kita mampu memproses informasi-informasi yang penting dengan hasil yang akurat. Di samping intuisi yang tajam, kita pun seyogianya menyertakan intuisi tersebut dengan mencari fakta yang nyata melalui informasi yang dapat diterima oleh hasil pemikiran lanjut kita. Kita membutuhkan pengetahuan yang jelas dan dengan penyertaan suara tubuh yang kuat untuk membawa pemahaman kita tersebut dalam relasi yang tajam, terfokus, dengan segala kemungkinannya.

Alhasil, memang perlu memberdayakan kemampuan mendengar bahasa tubuh sambil menyertakan pemberdayaan intuisi, tetapi seyogianya tetap menjaga kewaspadaan agar perolehan makna bahasa tubuh akan membantu kita dalam porsi yang optimal dalam pengambilan keputusan apa yang terbaik bagai diri kita.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar