Selasa, 02 Juni 2015

Akankah Lusi Jadi Penyelamat Lingkungan

Akankah Lusi Jadi Penyelamat Lingkungan

Januarti Jaya Ekaputri  ;  Direktur Konsorsium Riset Geopolimer Indonesia;
Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
JAWA POS, 30 Mei 2015


                                                                                                                                                           
                                                
SEJAK 29 Mei 2006 sampai saat ini, lumpur Sidoarjo (Lusi) sepertinya kian terkenal ke penjuru dunia. Setidaknya Lusi menjadi kata baku di beberapa jurnal ilmiah internasional. Diperkirakan saat ini volume Lusi telah lebih dari 40,1 juta meter kubik. Berbagai cara dilakukan untuk mengurangi penumpukan itu, berpacu dengan debit lumpur yang dimuntahkan dari perut bumi sebesar 20.000–30.000 meter kubik per hari. Mungkinkah volume Lusi bisa berkurang dengan tidak hanya mengalirkannya ke Sungai Porong tetapi memanfaatkannya sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat? Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan potensi Lusi sebagai bahan pengganti semen. Akan tetapi, realisasinya sampai saat ini belum tampak.

Saat ini penggalian kapur dan lempung untuk kepentingan pabrik semen menjadi sorotan pemerhati lingkungan. Industri tersebut dituding sebagai penyebab utama terjadinya perubahan iklim dunia. Dalam produksinya, industri semen melepaskan gas CO hampir setara dengan berat semen yang dihasilkan. 

Diperkirakan industri semen berkontribusi sekitar 7–8 persen dari total emisi gas CO dunia. Itu merupakan angka yang sangat besar dan mengkhawatirkan. Pada kenyataannya, kebutuhan semen terus meningkat pada industri konstruksi di setiap negara. Secara global, produksi semen portland pada 2030 bisa mencapai lebih dari 5 miliar ton. Saat ini Tiongkok dan India adalah negara penghasil semen portland terbesar di dunia. Di level ASEAN, Indonesia adalah negara penghasil semen terbanyak sejak 2013.

Untuk memproduksi 1 ton semen, diperlukan tidak kurang dari 2 ton bahan dasar yang utamanya berasal dari kapur dan tanah liat. Sementara itu, diketahui bahwa kerak bumi mengandung silika sebanyak 28 persen dan hanya mengandung kapur sebanyak 4 persen. Karena itu, sebaiknya mulai dipertimbangkan mengalihkan penggunaan kapur ke pemanfaatan silika sebagai bahan utama semen. Semen yang sama sekali tidak menggunakan bahan kapur disebut semen geopolimer.

Bahan dasar material yang mengandung silika dan alumina adalah persyaratan dasar membuat semen geopolimer. Jika pada semen portland dibutuhkan air yang bereaksi dengan semen untuk mengikat pasir dan kerikil, pada semen geopolimer dibutuhkan zat alkalis yang yang beraksi dengan silika dan alumina. Zat itu biasanya menggunakan bahan dasar natrium atau kalium. Semen geopolimer cepat sekali mengeras dan menyebabkan beton geopolimer unggul bila dibandingkan dengan beton pada umumnya. Beberapa kelebihannya adalah kuat tekan tinggi, keawetan terhadap karat, tahan terhadap kebakaran, dan bisa memerangkap racun.

Salah satu yang paling menarik dan banyak diperbincangkan adalah pemanfaatan Lusi sebagai bahan pembuatan semen geopolimer. Penelitian mengenai Lusi bahkan menjadi salah satu daya tarik melanjutkan studi doktoral di Malaysia. Kandungan Lusi yang kaya akan silika dan alumina membuat material itu memiliki keunggulan sebagai material dasar semen geopolimer. 

Dengan pengolahan yang tepat, jika digabungkan dengan limbah batu bara, Lusi ternyata bisa menjadi andalan beton geopolimer. Kekuatannya jauh lebih unggul daripada semen portland. Selain Lusi, Indonesia ternyata masih memiliki sumber alumina-silika lainnya. Kita bisa memanfaatkan tanah lempung, limbah tailing dari pertambangan, dan kaolin yang banyak tersebar di seluruh tanah air. 

Sampai sekarang, material tersebut belum dipetakan dengan baik.
Saat ini baru sedikit sekali negara yang berhasil menerapkan teknologi geopolimer dalam industri beton inovatif. Yang sudah berhasil, antara lain, Australia dan Tiongkok. Di Indonesia penelitian tentang beton geopolimer sudah dimulai lebih dari satu dekade. Bahkan, sebetulnya sudah banyak publikasi yang dihasilkan peneliti Indonesia, terutama pemanfaatan limbah batu bara (fly ash dan bottom ash) sebagai bahan baku beton geopolimer. Walau demikian, sayang sekali belum ada hasil penelitian tersebut yang diterapkan dalam skala industri. Sebab, kurangnya kerja sama antara peneliti di universitas dan industri pemanfaat hasil penelitian.

Penelitian harus terus dikembangkan sehingga suatu saat Indonesia harus bisa lepas dari ketergantungan menggali bukit kapur dan bisa mengaplikasikan semen yang lebih ramah lingkungan. Bayangkan, jika tailing dari penambangan Freeport bisa menjadi salah satu bahan dasar semen geopolimer, betapa banyaknya manfaat yang bisa didapatkan masyarakat Papua. Penelitian, pengembangan, dan aplikasi terus-menerus harus dilakukan dengan dukungan dari pemerintah, tentu saja.

Didorong keinginan mewujudkan Indonesia yang merdeka dari semen portland, pada 2013 di Makassar dibentuk sebuah grup riset yang terdiri atas peneliti geopolimer, profesional, industri semen, dan industri bahan kimia dengan nama Konsorsium Riset Geopolimer Indonesia (Korigi). Andalan riset itu adalah pemanfaatan Lusi sebagai bahan semen geopolimer. Korigi saat ini memiliki 90 anggota yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Inggris. Meski baru dibentuk, hasil publikasi yang dihasilkan grup tersebut menunjukkan potensi kerja sama yang kuat antara industri dan akademisi meskipun belum sampai diaplikasikan dalam skala besar di lapangan.

Akankah Lusi dan material sejenis lainnya menjadi salah satu harapan Indonesia untuk melepaskan ketergantungannya dari semen portland? Itu harus menjadi impian yang bisa terwujud. Kerja keras, kerja cepat, dan kerja sama, itu kuncinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar