|
Tanda-tanda
terjadinya pelambatan pertumbuhan ekonomi kian nyata. Holding
company terbesar di Indonesia, Astra International, baru saja mengumumkan
kinerja semester I-2013 dengan laba Rp 8,8 triliun. Turun 9 persen dari laba
semester I tahun 2012 Rp 9,7 triliun.
Penyebabnya,
menurut Presiden Direktur Prijono Sugiarto, adalah peningkatan kompetisi pada
pasar mobil, kenaikan biaya tenaga kerja, dan penurunan harga komoditas
(Kompas, 31/7). Bisnis Astra memang banyak terkait dengan otomotif dan
perkebunan. Dalam banyak hal, situasi Astra bisa dijadikan representasi
dinamika dunia usaha kita, terutama di sektor riil.
Kondisi yang
lebih kurang sama juga terjadi pada industri perbankan. Meski masih terus
meraup laba, terjadi pelambatan. Sepuluh bank terbesar mencatat pertumbuhan
laba rata-rata 15,7 persen pada semester I-2013. Lebih rendah dari pertumbuhan
20,9 persen setahun sebelumnya. Pelambatan laba ini terutama karena pelambatan
pertumbuhan kredit. Kini pertumbuhan kredit hanya 22 persen atau melambat
dibandingkan dengan 27 persen tahun lalu.
Jika ekspansi
kredit melambat, kemampuan bank mendapatkan laba juga melambat. Hal ini
sebenarnya bisa dikompensasi jika bank memiliki kemampuan mendapatkan
pendapatan dari jasa-jasa perbankan (fee
based income). Namun, sayangnya, hanya segelintir bank terbesar yang
memiliki kemampuan tersebut.
Inilah salah
satu problem terbesar industri perbankan kita. Jika saja sektor finansial sudah
memiliki kedalaman (financial deepening)
yang cukup, bank-bank tidak harus terlalu mengejar laba lewat selisih suku
bunga kredit dengan deposito. Di negara maju dan beberapa negara
tetangga, net interest margin (NIM) bisa rendah karena mereka
memiliki basis pendapatan jasa yang besar. Di Indonesia yang penduduknya belum
mencapai 50 persen yang terlayani jasa perbankan, tahap tersebut belum
tercapai.
Kenaikan
inflasi juga telah memberi tekanan besar terhadap perekonomian Indonesia.
Inflasi Juli 2013 sebesar 3,29 persen praktis memberi konfirmasi bahwa
ekspektasi inflasi 2013 tidak lagi sekitar 7 persen, tetapi menjadi minimal 8 persen.
Perhitungannya sederhana. Inflasi kalender (Januari-Juli 2013) sudah 6,75
persen. Dengan tersisa lima bulan, termasuk Desember yang berpotensi inflasi
tinggi, diperkirakan sedikitnya ada 1,5 persen inflasi. Dengan asumsi ini,
inflasi tahun 2013 akan ada pada kisaran 8 persen hingga 8,25 persen.
Tekanan inflasi
ini praktis menyebabkan bank-bank harus menaikkan suku bunga deposito menjadi
di atas 7 persen, bahkan 8 persen. Tidak peduli bahwa BI Rate masih 6,5 persen.
Bank-bank tidak mungkin memberi suku bunga deposito 6,5 persen kepada nasabah
utamanya dengan dana besar. Jika itu dilakukan, bank akan kesulitan likuiditas.
Saya duga pekan ini BI akan menaikkan BI Rate menjadi 7 persen agar lebih
realistis terhadap dinamika inflasi dan pasar uang.
Dalam situasi
kini, bank-bank diharapkan dapat menjadi aset dalam membantu perekonomian
nasional. Ketika krisis tahun 1998 meledak, bank-bank telah menjadi beban (liability) karena kelemahan fundamental
yang digerogoti kredit macet, praktik moral hazard, dan buruknya tata
kelola. Hal-hal itu kini bisa diminimalkan.
Dengan kinerja
yang kian baik itulah saya meyakini bahwa dampak krisis ekonomi global kali ini
tidak akan sampai memukul telak perekonomian Indonesia sebagaimana krisis tahun
1998. Bank tidak lagi menjadi episentrum krisis, yang ditunjukkan dengan
kecilnya kredit bermasalah (NPL) yang kini di bawah 3 persen. Juga aspek
permodalan yang kini kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) rata-rata 17
persen.
Krisis kali ini
juga masih lebih baik daripada krisis tahun 2009, ketika perekonomian Indonesia
hanya tumbuh 4,5 persen. Tahun ini saya perkirakan kredit perbankan masih
tumbuh 19 persen-20 persen. Level yang cukup mendukung pertumbuhan ekonomi
nasional 5,9 persen-6,0 persen.
Peran apa yang
kini bisa dilakukan industri perbankan? Di tengah-tengah pelemahan rupiah,
kenaikan upah, dan ketatnya likuiditas, kontribusi terbesar industri perbankan
adalah jika tetap dapat menjaga ekspansi kredit. Krisis ekonomi hanya dapat
diredam jika ekspansi kredit masih berjalan. Dengan suntikan kredit investasi
dan modal kerja dari perbankan dapat diciptakan energi pendorong pertumbuhan
ekonomi dan kesempatan kerja.
Karena itu,
sangat penting menjaga pertumbuhan kredit tetap tinggi sebagaimana masih
ditunjukkan beberapa bank besar, seperti BRI (tumbuh 28,5 persen) dan Bank
Permata (27 persen), agar momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga.
Untuk itu, perlu kebijakan yang konservatif dalam penentuan suku bunga kredit.
Sebisa mungkin bank-bank tidak terlalu elastis dalam menentukan suku bunga
kredit. Artinya, kalaupun suku bunga kredit harus naik, angkanya tidak harus
proporsional dengan kenaikan suku bunga deposito. Bank-bank perlu sedikit
melonggarkan target labanya agar tetap ekspansi kredit.
Dalam situasi
tertekan krisis, perlu perubahan paradigma bagi pemilik bank. Mereka harus
menyadari bahwa laba setinggi-tingginya bukanlah prioritas tertinggi dalam
periode turbulensi ini. Yang lebih penting harus dijaga adalah kualitas kinerja
bank yang tidak semuanya berujung pada laba. Kemampuan bank menjaga tata
kelola, memperbaiki kualitas kolektibilitas kredit, serta kemampuan menyalurkan
kredit agar membantu pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen adalah
hal krusial.
Inilah saatnya
industri perbankan ”membalas budi” kepada pemerintah yang pernah
menyelamatkannya melalui skema rekapitalisasi perbankan yang berskala masif
tahun 1998-2000. Mungkin bank-bank BUMN terbesar bisa menjadi inisiator di
baris terdepan untuk melakukan kampanye ”patriotik” ini, yang kemudian menginspirasi
bank-bank lain yang lebih kecil. Bank-bank pun ternyata bisa diajak berbagi.... ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar