Selasa, 13 Agustus 2013

Saatnya Industri Perbankan Berkontribusi

Saatnya Industri Perbankan Berkontribusi
A Tony Prasetiantono ;  Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM
KOMPAS, 12 Agustus 2013


Tanda-tanda terjadinya pelambatan pertumbuhan ekonomi kian nyata. Holding company terbesar di Indonesia, Astra International, baru saja mengumumkan kinerja semester I-2013 dengan laba Rp 8,8 triliun. Turun 9 persen dari laba semester I tahun 2012 Rp 9,7 triliun.
Penyebabnya, menurut Presiden Direktur Prijono Sugiarto, adalah peningkatan kompetisi pada pasar mobil, kenaikan biaya tenaga kerja, dan penurunan harga komoditas (Kompas, 31/7). Bisnis Astra memang banyak terkait dengan otomotif dan perkebunan. Dalam banyak hal, situasi Astra bisa dijadikan representasi dinamika dunia usaha kita, terutama di sektor riil.
Kondisi yang lebih kurang sama juga terjadi pada industri perbankan. Meski masih terus meraup laba, terjadi pelambatan. Sepuluh bank terbesar mencatat pertumbuhan laba rata-rata 15,7 persen pada semester I-2013. Lebih rendah dari pertumbuhan 20,9 persen setahun sebelumnya. Pelambatan laba ini terutama karena pelambatan pertumbuhan kredit. Kini pertumbuhan kredit hanya 22 persen atau melambat dibandingkan dengan 27 persen tahun lalu.
Jika ekspansi kredit melambat, kemampuan bank mendapatkan laba juga melambat. Hal ini sebenarnya bisa dikompensasi jika bank memiliki kemampuan mendapatkan pendapatan dari jasa-jasa perbankan (fee based income). Namun, sayangnya, hanya segelintir bank terbesar yang memiliki kemampuan tersebut.
Inilah salah satu problem terbesar industri perbankan kita. Jika saja sektor finansial sudah memiliki kedalaman (financial deepening) yang cukup, bank-bank tidak harus terlalu mengejar laba lewat selisih suku bunga kredit dengan deposito. Di negara maju dan beberapa negara tetangga, net interest margin (NIM) bisa rendah karena mereka memiliki basis pendapatan jasa yang besar. Di Indonesia yang penduduknya belum mencapai 50 persen yang terlayani jasa perbankan, tahap tersebut belum tercapai.
Kenaikan inflasi juga telah memberi tekanan besar terhadap perekonomian Indonesia. Inflasi Juli 2013 sebesar 3,29 persen praktis memberi konfirmasi bahwa ekspektasi inflasi 2013 tidak lagi sekitar 7 persen, tetapi menjadi minimal 8 persen. Perhitungannya sederhana. Inflasi kalender (Januari-Juli 2013) sudah 6,75 persen. Dengan tersisa lima bulan, termasuk Desember yang berpotensi inflasi tinggi, diperkirakan sedikitnya ada 1,5 persen inflasi. Dengan asumsi ini, inflasi tahun 2013 akan ada pada kisaran 8 persen hingga 8,25 persen.
Tekanan inflasi ini praktis menyebabkan bank-bank harus menaikkan suku bunga deposito menjadi di atas 7 persen, bahkan 8 persen. Tidak peduli bahwa BI Rate masih 6,5 persen. Bank-bank tidak mungkin memberi suku bunga deposito 6,5 persen kepada nasabah utamanya dengan dana besar. Jika itu dilakukan, bank akan kesulitan likuiditas. Saya duga pekan ini BI akan menaikkan BI Rate menjadi 7 persen agar lebih realistis terhadap dinamika inflasi dan pasar uang.
Dalam situasi kini, bank-bank diharapkan dapat menjadi aset dalam membantu perekonomian nasional. Ketika krisis tahun 1998 meledak, bank-bank telah menjadi beban (liability) karena kelemahan fundamental yang digerogoti kredit macet, praktik moral hazard, dan buruknya tata kelola. Hal-hal itu kini bisa diminimalkan.
Dengan kinerja yang kian baik itulah saya meyakini bahwa dampak krisis ekonomi global kali ini tidak akan sampai memukul telak perekonomian Indonesia sebagaimana krisis tahun 1998. Bank tidak lagi menjadi episentrum krisis, yang ditunjukkan dengan kecilnya kredit bermasalah (NPL) yang kini di bawah 3 persen. Juga aspek permodalan yang kini kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) rata-rata 17 persen.
Krisis kali ini juga masih lebih baik daripada krisis tahun 2009, ketika perekonomian Indonesia hanya tumbuh 4,5 persen. Tahun ini saya perkirakan kredit perbankan masih tumbuh 19 persen-20 persen. Level yang cukup mendukung pertumbuhan ekonomi nasional 5,9 persen-6,0 persen.
Peran apa yang kini bisa dilakukan industri perbankan? Di tengah-tengah pelemahan rupiah, kenaikan upah, dan ketatnya likuiditas, kontribusi terbesar industri perbankan adalah jika tetap dapat menjaga ekspansi kredit. Krisis ekonomi hanya dapat diredam jika ekspansi kredit masih berjalan. Dengan suntikan kredit investasi dan modal kerja dari perbankan dapat diciptakan energi pendorong pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja.
Karena itu, sangat penting menjaga pertumbuhan kredit tetap tinggi sebagaimana masih ditunjukkan beberapa bank besar, seperti BRI (tumbuh 28,5 persen) dan Bank Permata (27 persen), agar momentum pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga. Untuk itu, perlu kebijakan yang konservatif dalam penentuan suku bunga kredit. Sebisa mungkin bank-bank tidak terlalu elastis dalam menentukan suku bunga kredit. Artinya, kalaupun suku bunga kredit harus naik, angkanya tidak harus proporsional dengan kenaikan suku bunga deposito. Bank-bank perlu sedikit melonggarkan target labanya agar tetap ekspansi kredit.
Dalam situasi tertekan krisis, perlu perubahan paradigma bagi pemilik bank. Mereka harus menyadari bahwa laba setinggi-tingginya bukanlah prioritas tertinggi dalam periode turbulensi ini. Yang lebih penting harus dijaga adalah kualitas kinerja bank yang tidak semuanya berujung pada laba. Kemampuan bank menjaga tata kelola, memperbaiki kualitas kolektibilitas kredit, serta kemampuan menyalurkan kredit agar membantu pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen adalah hal krusial.
Inilah saatnya industri perbankan ”membalas budi” kepada pemerintah yang pernah menyelamatkannya melalui skema rekapitalisasi perbankan yang berskala masif tahun 1998-2000. Mungkin bank-bank BUMN terbesar bisa menjadi inisiator di baris terdepan untuk melakukan kampanye ”patriotik” ini, yang kemudian menginspirasi bank-bank lain yang lebih kecil. Bank-bank pun ternyata bisa diajak berbagi.... ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar