|
Salah satu 'penyakit' yang
senantiasa dibawa oleh para pemudik yang kembali ke Jakarta (dan kota besar
lainnya) adalah fenomena urbanisasi. Arus balik ke Jakarta biasanya diikuti
dengan kedatangan 'warga baru' yang dibawa oleh para pemudik dari daerahnya.
Masalah klasik ini hampir setiap tahun terjadi, namun solusi yang memadai,
hampir-hampir tidak pernah muncul. Desa tetap merana, sementara gemerlap dan
kemilaunya Kota Jakarta, seolah menjadi magnet tersendiri yang menyedot
perhatian banyak kalangan, termasuk para pemburu kerja angkatan muda.
Faktor ekonomi adalah yang
mendorong terjadinya arus urbanisasi besar-besaran dari desa menuju kota besar
Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung dan kota-kota lainnya. Sampai-sampai
Pemprov DKI Jakarta gregetan dengan problem tahunan yang siklikal (berulang)
ini. Akhirnya berbagai upaya digelar untuk membendung arus urbanisasi. Salah
satunya adalah dengan menggelar operasi yustisi kependudukan (OYK) di beberapa
lokasi seperti stasiun, terminal bus, hingga ke pemukiman penduduk. Upaya ini
cukup untuk membendung urbanisasi?
Jika dikaji lebih lanjut,
ketertarikan para pemburu (pencari) kerja baru dari kawasan pedesaaan (kampung)
ini setidaknya disebabkan beberapa alasan.
Pertama, terbatasnya lapangan
kerja dan kesempatan berusaha di pedesaan, mengakibatkan terjadinya ledakan
pengangguran usia muda. Sebab, pertumbuhan ketersediaan lapangan kerja di
pedesaan tidak sebanding dengan pertumbuhan yang teramat pesat dari pasar
tenaga kerja. Terjadi ketidakseimbangan antara permintaan (demand) pasar dan
pasokan (suply) tenaga kerja. Akhirnya, banyak terjadi penumpukan tenaga kerja
di kawasan pedesaan.
Otonomi daerah yang dicanangkan
sejak 2001 tampaknya belum berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan
kerja di pedesaan. Maklum, kendati sudah digulirkan bertahun-tahun, uang
beredar dan kegiatan bisnis secara nasional (hampir 70 persen) masih banyak
berkutat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Pembangunan ekonomi selama ini
masih terpusat pada kawasan perkotaan, bukan kawasan pedesaan. Tak aneh kalau
banyak angkatan muda lebih memilih mencari kerja di kota besar ketimbang
bekerja di pedesaan.
Kedua, adanya mitos bahwa hidup di
perkotaan jauh lebih enak ketimbang di desa. Hal ini banyak dipengaruhi oleh
beredarnya success story (kisah sukses) dari para pemudik yang pulang ke desa.
Pulang mudik dengan menggunakan mobil pribadi, disertai aktivitas ekonomi
kumsumtifnya, mengakibatkan banyak pemuda/i desa tertarik mengikuti jejak si
pemudik sukses ini. Padahal, belum tentu semua benda dan asesori simbol
kesuksesan mereka adalah milik pribadi. Mungkin bisa saja menyewa atau meminjam
pakai (rental) dari rekannya di Jakarta.
Mitos inilah yang mengundang minat
kelompok pemburu kerja baru untuk mengadu nasib ke kota-kota besar. Tak hanya
itu, gengsi bekerja di kota besar, tampaknya masih mewarnai pola pikir banyak
pemuda/i desa. Bahwa hidup di Jakarta (di kota besar lainnya) identik dengan
kesuksesan, modernisasi dan seterusnya. Sementara hidup dan bekerja di kawasan
pedesaan identik dengan keterbelakangan, kemunduran. Pola pikir semacam inilah yang
akhirnya memacu tingginya pendatang baru di kota-kota besar Indonesia.
Mempersolek Desa
Ada gula, ada semut. Salah satu
solusi cerdas untuk mengatasi urbanisasi adalah dengan menciptakan 'gula-gula'
di kawasan pedesaan agar 'para semut' mengerumininya. Caranya, dengan
mempersolek (mempercantik) kawasan desa dengan membangun sentra-sentra industri
(kegiatan bisnis) sesuai potensi dan local genius yang berkembang di daerah
tertentu. Misalnya, untuk kawasan sentra agroindustri buah-buahan, semestinya
dikembangkan industri agro mulai dari hulu hingga hilir. Dengan demikian,
peluang bisnis yang diciptakan dan juga penciptaan lapangan kerja akan semakin
terbuka luas.
Di kawasan pertanian perlu
diciptakan lumbung-lumbung komoditas pertanian tertentu, yang nantinya akan
mampu menyerap banyak tenaga kerja di sekitarnya. Berbagai bisnis kreatif
berbasiskan internet misalnya, perlu dikembangkan di kawasan pedesaan termasuk
jejaring bisnis antara kawasan pedesaan dan perkotaan. Konsep swasembada beras,
tebu, jagung, dan tanaman pangan lainnya, dalam skala lebih besar dan luas
perlu dipikirkan ulang agar Indonesia kelak tidak hanya mampu memasok kebutuhan
domestik, namun juga global.
Demikian pula dengan potensi
wisata, seperti Bali, Yogyakarta, Papua, serta kawasan tujuan wisata lainnya,
perlu lebih dikembangkan dari hulu hingga hilir agar mampu menyedot tenaga
kerja dalam jumlah besar. Bagaimanapun setiap daerah memiliki ciri khas
tertentu yang bisa dikembangkan sesuai potensi daerah masing-masing. Di kawasan
Gunung Kidul, yang menghasilkan singkong, sekarang sudah dikembangkan pabrik
gaplek dalam kemasan plastik, yang bisa dijual di toserba (pasar swalayan).
Petani di sana sangat bersemangat untuk menanam singkong, karena hasilnya
dipasok untuk kebutuhan pabrik tiwul berskala ekspor.
Intinya,
menciptakan lapangan kerja dalam konsep pengembangan daerah menuju kawasan
mandiri,
yang bisa menyerap tenaga kerja setempat perlu dioptimalkan. Impian
menuju swasembada pangan, atau bahkan menuju sentra lumbung pangan dunia, perlu
direalisasikan secepatnya. Nah, cita-cita luhur semacam ini harus dilakukan
untuk membuat seluas mungkin lapangan pekerjaan di kawasan pedesaan.
Hanya
dengan cara semacam ini, para pemuda/i yang selama ini mencari kerja di
kota-kota besar, akan tertarik untuk betah di desanya. Perlahan namun pasti,
desa akan lebih menarik ketimbang Jakarta. Tanpa itu semua, upaya membendung
arus urbanisasi akan menemui jalan terjal. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar