|
SELEPAS
Lebaran hampir dipastikan yang saya, dan mungkin juga lainnya, lakukan ialah
pulang ke kampung halaman. Bersilaturahim dengan orangtua dan kaum kerabat. Sambil
mencicipi aneka kue yang disuguhkan dalam bentuk dan rasa nyaris sama. Kemudian
dilanjutkan acara berziarah kepada mereka yang telah mendahului kita. Tafakur,
bermunajat, dan mengirim doa sambil mengenang seluruh jejak-jejak silam yang
telah ditorehkannya ketika masih hayat.
Sepanjang jalan pergi dan pulang
dari perkuburan tidak hentinya kita ulurkan tangan dengan raut semringah kepada
yang berpapasan sambil meminta maaf sekaligus mengucap selamat Hari Raya Idul
Fitri lengkap dengan doa yang nyaris menjadi klise, yakni minal aidzin
wal-faizin taqabballohu minna waminkum. Sesekali menanyakan kabar di perantauan
atau kabar mereka yang tidak lama bersua. Kepada kawan akrab diajaknya untuk
mengobral lebih lama lagi di teras rumah.
Membincang hal ihwal. Boleh jadi
sampai larut malam ditemani kakaren (kue untuk Lebaran) tradisional khas
Lebaran dalam tradisi Sunda serupa ranginang, wajit, saroja, opak, dodol, apem,
kue ali, burayot, bugis, dapros, dan lain sebagainya.
Selepas ritus-sosial Lebaran,
biasanya seminggu setelah itu, kita kembali dalam rutinitas kerja. Kembali
bergumul dengan dunianya masingmasing. Untuk kemudian, kalau Tuhan menghendaki,
dipertemukan kembali dengan puasa dan Lebaran yang akan datang. Siklus yang
nyaris berputar terus seperti itu. Bahkan juga dari sisi hal yang negatif
tampaknya akan tetap tidak akan banyak mengalami perubahan. Peristiwa seakan
berdaur ulang. Bergerak menuju titik tuna perubahan bahkan mungkin tuna
kebenaran.
Dalam ranah sosial masih tetap
digaduhkan dengan banyak kemungkaran horizontal. Sebut saja korupsi yang nyaris
tak ubahnya lingkaran setan dengan penyelesaian yang serbatidak jelas. Yang
satu tertangkap di belakangnya menunggu ribuan koruptor masih antre dari semua
sektor layaknya negara yang dengan sempurna telah tersekap dalam sistem
kleptokrasi. Dengan banyaknya koruptor yang ditangkap KPK alihalih menumbuhkan
efek jera, tetapi seakan bangga kalau telah berhasil menggasak uang negara
dalam d jumlah yang y nyaris tak terbayangkan oleh nalar. Korupsi menjadi
endemi dan virusnya menular, menyebar, merata dari atas sampai bawah.
Politik, apalagi menghadapi 2014,
akan semakin bising dengan kerumunan manusia yang bernafsu menjadi wakil
masyarakat tak peduli kapasitas isi kepala yang dimilikinya; juga kekerasan
simbolik dan fisik yang direpresentasikan kelompok kaum radikal semakin
menunjukkan alamat negara yang kian tidak berwibawa bahkan nyaris absen. Sisi
lain ekonomi seakan tercekik dalam drama `pasar bebas', dan kita hanya menjadi
penonton di tengah kaum pemodal-kapitalis yang dengan rakus mencaplok apa pun
yang dianggapnya akan mendatangkan keuntungan finansial.
Pascapuasa
Entahlah. Boleh jadi `budaya
populer' (popular culture) itu bukan hanya menjangkiti persoalan yang dianggap
`profan' bahkan hal yang `sakral' pun tidak mampu berkelit dari pesona serbuan
budaya populer. Mungkin termasuk di dalamnya ritus puasa.
Laiknya budaya populer, di
dalamnya hanya menyisakan kedangkalan yang dirayakan dengan kemeriahan tidak
terkendali. Menyemarakkan aspek `prosedural' dan lupa akan hal `substansial'.
Mementingkan citra ketimbang kejujuran fakta. Menomorsatukan capaian pesona
jasmaniah daripada keheningan kudus rohaniah. Memburu decak kagum pujian
manusia daripada sunyi dalam martabat keagungan dari Tuhan. Menyesuaikan dengan
selera massa ketimbang menggali autentisitas diri memperoleh keuntungan (making profits).
Bolehlah kita renungkan. Betapa
tidak, selama bulan puasa kita menjadi pribadi yang sa ngat saleh. Malam
dihidupkan dengan tarawih. Alquran dibaca setiap saat dan zakat ditebar ke
berbagai pihak. Be lum lagi kalau dikaitkan dengan ideologi TV yang selama
Ramadan selalu menampilkan acaraacara religius lengkap dengan artis-artis yang
nyaris tidak bisa dibedakan dengan tampilan ustazah. Belum lagi para ustad di
layar kaca yang mengepung kita selama sebulan dengan fatwa dan humornya yang
lebih lucu dari para pelawak plus tampilannya yang modis nan wangi.
Selepas Ramadan ceritanya menjadi
berbeda berbanding terbalik. Puasa seperti tidak menyisakan jejak apa-apa
kecuali sekadar sebuah kenyataan untuk menunaikan kewajiban formalistik atau
bisa jadi benar analisis kaum antropolog bahwa masyarakat kita termasuk manusia
yang gemar melakukan upacara dan menyelenggarakan ritus. Baik ritus keagamaan
ataupun ritus kebangsaan.
Atas nama `upacara' apa pun ditinggalkan bahkan sekolah dan kantor diliburkan,
yang penting upacara itu dapat terselenggarakan. Bagaimana pesan moral di balik
upacara? Jawaban dari pertanyaan seperti ini dianggap sangat tidak penting.
Puasa menjadi sangat tidak bisa
dibedakan dengan gejala hiruk pikuk gejala umrah, animo haji yang semakin
bergairah, fesyen yang telah berubah menjadi industri busana muslim(ah).
Janganjangan di balik semua itu tersembunyi semangat `keberagamaan pasar'.
Keberagamaan yang ditaklukkan kapitalisme/kapitalisasi Islam.
Ilusi modernitas
Fenomena seperti itulah yang
dibilang Peter L Berger sebagai `ilusi-ilusi modernitas'. Kaum agamawan mengira
bahwa ritual yang telah dilakukannya akan dapat menghampiri Tuhan. Padahal,
Tuhan akan semakin menjauh justru ketika budaya populer dijadikan sebagai
haluan utama dalam altar ritus kita.
Ilusi ini yang dibahasakan
Jalaludin Rumi (1207-1273) sebagai `hijab' (penghalang). Hijab antara bumi
manusia dan langit ketuhanan. Hijab yang kemudian membuat kaum agamawan
kehilangan sensitivitas dan tidak dapat melihat arah yang harus ditempuh. Hijab
yang bikin negara kian tidak berpihak terhadap warganya karena para
pengelolanya terhalang oleh kepentingan sesaat dan nafsu degil.
Padahal justru, ujar mistikus
sekaligus penyair dari Konya itu, puasa hakiki seharusnya dapat membakar
seratus hijab agar ketika keluar dari Ramadan seseorang tak ubahnya bayi; suci,
bening, dan tulus. Keluar dari Ramadan kita menjadi para pemenang sejati karena
seluruh kesalahan dan kekhilafan terbakar (Ramadan secara semantik bermakna
membakar) dan kita baik secara personal ataupun sosial kebangsaan tidak lagi
melakukan kesalahan yang sama.
Kembali ke fitrah kesucian (Idul
Fitri) sudah seharusnya menjadi `modal sosial' untuk membangun kehidupan yang
tidak kehilangan adab, menjadi `modal kultural' untuk menciptakan masyarakat
berbudaya sekaligus `modal spiritual' dalam menggapai marwah kemanusiaan kita. ●
Tidak ada komentar:
Posting Komentar